My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 47



Tania tersenyum kecil melihat Raihan berdiri disana, Raihan masih sama seperti dulu tampan dan gagah. Namun sayang laki-laki itu mencampakkannya dan memilih menikah dengan gadis lain. Membayangkan itu membuat Tania kesal setengah mati.


"Lepaskan anakku" Raihan mendesis, ia menatap Tania tajam ia tidak senang apa yang Tania lakukan pada anaknya.


Raihan dan Ryan langsung menjatuhkan senjata mereka kelantai. Raihan menatap Tania marah, bagaimana ia tidak marah disaat ia mendengar bahwa Tania ingin menjatuhkan anaknya dari balkon. Apalagi dibawah balkon itu ada kolam renang yang dalam, jika Rakan jatuh pasti anaknya itu akan mati karena anaknya tak dapat berenang. Raihan menggelengkan kepalanya Rakan tidak boleh mati. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Rakan, Rakan yang selalu menemaninya.


Raihan mengamati Rakan intens, Rahang Raihan mengeras ia tidak terima atas apa yang ia lihat, ia melihat banyak sekali luka ditubuh Rakan dan tatapan sendu Rakan padanya membuat hatinya teriris seharusnya ia tidak membiarkan dirinya lengah hingga anaknya harus mengalami ini.


"Anakmu, dia anakku juga" ucap Tania membela diri.


"Cih.. anak kau bilang, aku yang merawatnya dari ia kecil dan kau..."


"SHIT" umpat Raihan pada wanita itu.


Raihan yang dikendalikan amarah langsung berlari kearah Tania, namun belum sempat ia sampai. Wanita bodoh itu melempar Rakan ke bawah, Raihan mengeram kesal, dengan cepat Raihan juga ikut lompat keluar menyusul anaknya. Raihan langsung meraih Rakan kedalam pelukannya. Mereka terjun bersama-sama ke bawah, hingga mereka jatuh ke dalam dasar kolam renang.


Melihat aksi nekat Raihan, Tania melotot tak percaya. Bodoh satu hal yang ada difikiran Tania saat itu. Namun ternyata kata bodoh itu tidak berlaku untuk Raihan tanpa Tania sadari tadi Ryan mengamati gerak-gerik wanita itu. Diangkatnya pistol yang jatuh dilantai itu, ditarik pelatuknya dan...


"Dort" suara pistol bergema di ruangan.


Tania tumbang seketika, luruh ke lantai tembakan itu tepat mengenai Tania. Bersama tetesan darah yang mengalir dari tubuhya karena luka tembakan tersebut.


*****


Adrian menyusuri rumah besar ini, Adrian melangkah dengan hati-hati ia berusaha melumpuhkan setiap penjaga yang ia temui dengan pistolnya begitupun juga dengan Darren. Mereka terus menembaki para penjaga yang tidak sengaja berlalu didepan mereka dengan cekatan. Tanpa ada rasa takut mereka bergerak brutal bak pemain film di film action.


Hingga mereka berhasil sampai digerbang utama dengan selamat, tanpa ada halangan sama sekali. Sekarang yang harus mereka lakukan adalah memberi kode kepada Raihan dan Ryan, disaat Adrian menarik pelatuknya untuk memberi kode. Tiba-tiba Ryan datang berlari kearahnya dengan nafas memburu. Membuat Adrian menghentikan aksinya dan menurunkan pistolnya.


"Apa yang terjadi?" Darren menatap bingung Ryan yang keluar sendirian tanpa ada Raihan dan Rakan bersamanya, ini sangat aneh.


"Raii-hhan dan Rakkan lompat dari balkon." ujar Ryan dengan terbata-bata. Mereka tidak sanggup bicara lagi karena kaget.


"APA?" Adrian dan Darren berteriak bersamaan, mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ryan.


"Lalu, bagaimana kondisi mereka?" Tanya Adrian pada Ryan.


"Sebaiknya kita periksa mereka." mereka takut terjadi apa-apa dengan Raihan dan Rakan.


*****