
Bunyi lonceng pintu masuk menghentikan rangkaian bunga yang sudah Raihanah tata dengan rapi. Terlihat seorang pria dengan kemeja dan celana hitam panjang berjalan mendekati Raihanah. Raihanah mendengus, lagi-lagi pria itu mendatanginya. Kapan pria itu akan bosan menemuinya?
"Assalamualaikum, apa kabar semua?" Ryan tersenyum, ia menyapa seluruh penghuni di toko bunga milik Raihanah.
"Waalaikumsalam," ucap Raihanah. Matanya mengamati gerak-gerik Ryan.
Ia adalah Ryan Prasetya, pria yang tiada henti mengajaknya menikah sejak awal mereka bertemu. Waktu itu Ryan adalah pemilik bangunan toko bunga yang ia beli ini. bisa dikatakan Ryan menyukainya sejak saat itu, bahkan ia selalu bertemu dengan Ryan disaat ia sedang kesulitan. Misalnya disaat ia ketinggalan dompet ketika berbelanja di supermarket, kebetulan Ryan ada disana dan pria itu dengan jantannya membayar seluruh belanjaannya tanpa mau diganti.
Ryan Prasetya bisa dikatakan sempurna walau ia tidak sekaya Raihan. Ryan sosok pria idaman yang diinginkan banyak wanita. Ryan tampan, baik, religious, tidak pernah menyentuhnya, ia tidak pernah memandang Raihanah seperti tatapan Raihan yaitu pandangan memuja. Bisa dibilang Ryan memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan Raihan. Ryan lebih suka menunduk jika berbicara padanya, atau memandang ke arah lain. Ia pernah berkata, jika ia takut tidak bisa menahan gejolak di hatinya. Raihanah hanya menggeleng-geleng mendengar alasan Ryan yang aneh.
Sebaik apapun Ryan di matanya, tidak mengubah fakta bahwa Raihanah mencintai Raihan. Di dalam hatinya yang paling dalam rasa suka itu masih ada dan terus membara.
"Kau tidak bekerja?" Raihanah bertanya, ia bingung dengan Ryan sepagi ini ikut membantunya merangkai bunga.
"Tidak usah bekerjapun, aku bisa menghidupi keluarga kita kelak. Aku kan pengusaha," Raihanah mendengus, ia sudah kebal dengan rayuan Ryan.
"Dasar gombal." balas Raihanah.
"Aku serius Raihanah, coba kau hitung sudah berapa kali aku melamarmu?" Ucap Ryan mencoba meluluhkan hati Raihanah.
"Dan berapa kali kau menolakku, kau tahu semakin sering kau menolakku. Maka semakin aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu. Kau tahu sudah berapa banyak dosa yang aku torehkan untuk mendapatkan cintamu," lanjut Raya seolah\-olah semua ini adalah salah Raihanah.
Raihanah diam, ia tidak menjawab. Ryan begitu pandai membuat kata\-kata. Tapi tidak ada satupun yang menorah di hatinya.
"Aku berdosa, karena mempikirkanmu, aku berdosa karena terbayang senyummu. Tak ada yang lebih berat cobaan untuk menguji keimanan seorang laki\-laki kecuali cinta," Ryan berbicara untuk membuat Raihanah bisa membuka hatinya.
Raihanah duduk di sofa dekat rangkaian bunganya, ucapan Ryan membuatnya bungkam. Dua karyawan Raihanah yang tadi sibuk memperhatikan adegan itu, memilih untuk menutup toko untuk sementara. Mereka berberes\-beres sibuk merangkai bunga, dan tak ingin mendengar perihal bosnya. Sedang Raihan ia memilih berdiri 3 meter jaraknya dari Raihanah, ia sibuk mengamati mawar merah yang cantik.
Raihanah tau akan hadist yang diucapkan Ryan, air matanya jatuh. Ia berdosa, ini semua karena cinta. cinta yang membuat semua orang menolak akal sehat mereka. Membuat mereka memilih berdosa untuk mendapatkan cinta. bukan hanya ia Raihan juga pernah mengatakannya ketika ia di dufan dan tadi Ryan juga mengatakannya ia rela berdosa hanya demi cinta. Bodohnya Raihanah masih menyimpan cinta pada pria yang pernah melecehkannya namun ia malah menolak lamaran pria baik yang mencintanya dengan tulus.
'Ya Allah ampuni aku, aku benar-benar jatuh. Aku gagal dalam ujianmu, aku jatuh kedalam dosa yang bernamakan cinta.' batin Raihanah.
Raihanah merasa menjadi wanita bodoh. Kenapa ia menolak Ryan? Ryan laki-laki baik jauh lebih baik dari pada Raihan. Apa karena di hati Raihanah masih ada Raihan? Jujur Raihanah masih memendam cinta untuk Raihan, jantungnya hanya berpacu di dekat Raihan. Matanya perih, ia sudah jauh-jauh ke Solo untuk melupakan Raihan. Namun sebaliknya bukannya ia melupakan Raihan, ia malah semakin terpikat dengan Raihan. Raihanah terisak, tubuhnya bergetar hebat. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mempikirkan cinta hanya membuatnya menderita. Ia kira dengan berjalannya waktu akan mengobati lukanya, namun berjalannya waktu hanya mengingatkannya akan lara.
"Rai, apa kau tidak mendengar ucapanku?" Ryan bersuara, ia menatap punggung Raihanah. Ia melihat Raihanah terisak. Sedari tadi Raihanah diam, tanpa menyela perkataanya. Itu membuat Ryan khawatir, ia takut jika lamaran terkesan memaksa kepada Raihanah. Karena Ryan tidak ingin jika Raihanah menerima lamarannya secara terpaksa.
"Kau kenapa menangis? Apa karena lamaranku begitu memberatkan hatimu. Jika ia abaikan saja lamaranku, namun jika kau berubah pikiran. Datanglah padaku."
"Tidak, aku hanya tidak tahu harus menjawab apa tentang lamaranmu. Kau tahu bukan aku pernah mencintai seseorang dan sampai saat ini aku masih mengingatnya. Aku tidak ingin menikah namun masih terbayang-bayang dengan sosoknya," dengan nada bergetar Raihanah mengutarakannya.
Ryan menarik nafas panjang, ia sudah mengira dengan jawaban Raihanah. Akan sangat sulit untuk menaklukan hati Raihanah, ia bukan Al-fatih sang penakluk Kontantinopel. Ia hanya seorang Ryan Prasetya yang terus mencoba agar bisa menaklukkan hati seorang Raihanah. Yang nyatanya lebih berat untuk ditaklukan.
"Kalau begitu aku pamit dulu Rai, Assalamualaikum," Ryan melangkahkan kaki keluar toko, pagi yang cerah namun nyatanya tak secerah harinya. Penolakan akan cinta menyakiti hatinya, tapi kenapa ia tetap bertahan.
"Waalaikumsalam," guman Raihanah ia langsung terisak dengan keras. Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi, ia masih mencintai Raihan dengan seluruh raganya. Cintanya masih tersimpan rapi, Raihan Salman Al-fatih pria tampan yang bisa menaklukkan hatinya. Namun pria itu juga yang bisa membuatnya menangis secara bersamaan. Ia yang meminta Raihan pergi dari hidupnya, padahal mereka saling mencintai.
Namun kenapa mereka tak bisa bersama, Raihanah takut untuk menerima kepribadian Raihan yang lain, ia takut Raihan menyimpan hal yang buruk yang nantinya akan membuat ia terluka.
Raihanah tidak pernah bisa membayangkan hidup dengan pria lain selain Raihan. Ia tidak bisa mencintai pria lain, hatinya terkunci untuk Raihan seorang. Tapi ia memilih untuk menjauh dari kehidupan Raihan, tanpa ia sadari kepergiannya malah membuat Raihanah mengerti akan rasa rindu yang menyakiti relung hatinya.
"Aku merindukanmu Raihan Salman Al-fatih, aku merindukan kamu bahkan disaat kamu sudah menyakitiku begitu dalam," Raihanah terisak, air matanya turun begitu derasnya mengalir membasahi pipinya. Lagi-lagi harinya akan berakhir seperti ini. Merindukan duda tampan beranak satu itu.
*****
Ini kesimpulan tentang hatiku,
Rasa yang begitu hebat
Rindu yang semakin menggeliat
Dan kamu yang makin membuatku terpikat
-Afaf Raihanah-
****
jangan lupa like ya... dan koment
follow Instagram author @wgulla_