My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 10



-Kau adalah satu hal yang paling aku inginkan di dunia ini, Rain-


Sebualan berlalu Raihan terus meneror dirinya dengan berbagai macam teror yang membuatnya bosan. Raihan selalu mengunjungi rumahnya, ia tidak ingin menemuinya. Jadi hanya ibu Raihanah yang menemani Raihan. Raihan juga selalu mengiriminya bunga mawar bahakan tidak pernah berhenti mengunjungi sekolahnya bahkan kampusnya, membuat Raihanah kesal setengah mati menghadapi manusia itu.


Menolak Raihan malah membuatnya dihantui oleh bayang-bayang pria itu. hari ini Raihanah terpaksa menerima ajakan Raihan untuk berbicara. Raihanah ingin cepat kelar dan bisa menyelesaikan permasalahan ini secepatnya. Raihanah ingin lepas dari Raihan, dan hidupnya bisa kembali seperti dulu. Ia bisa hidup normal seperti dulu, tanpa bayang-banyan Raihan.


Raihanah menatap Raihan tajam, pria itu sekarang berada di hadapannya. Raihanah tak habis pikir, Raihan masih berani menemuinya. Sekarang ia dan Raihan berada di ruang kerja milik Raihanah di sekolah. Raihanah ingin menolak, tapi ia tidak bisa ia takut guru-guru pada curiga. Lagi pula Raihan merupakan sosok yang disegani di sekolah ini.


"Untuk apa kemari?" Raihanah memalingkan wajah, ia tidak ingin menatap Raihan ia takut jika ia semakin mencintai Raihan. Ia takut terjatuh dalam pesona Raihan, yang tidak bisa ia tolak kehadirannya.


"Aku mau minta maaf, atas kejadian kemarin," Raihan dengan lembut berucap, setiap katanya benar-benar tulus. Membuat Raihanah sedikit tergoda, Raihanah menggeleng menyingkarkan pikiran itu. raihan mendengus melihat Raihanah menggeleng, apa sesulit itu memaafkannya.


"Jadi kau tidak memaafkan aku," lanjut Raihan.


"Aku belum menjawab," Raihanah mengelak, walau Raihanah marah. Bukan berarti Raihanah tidak ingin memaafkan Raihan. Jika ia tidak memaafkan Raihan, hatinya akan semakin sakit terbebani oleh dosa seseorang. Ia tidak ingin itu terjadi.


Raihan mengernyit bingung, ia tidak mengerti dengan ucapan Raihanah bukannya tadi Raihanah menggeleng. Karena tidak ingin memaafkan kesalahannya.


"Tapi, maksud gelengan kepalamu tadi."


Raihanah memutar bola matanya, ternyata Raihan itu bodoh. Ia menggelengkan kepala karena ia takut terpesona dengan Raihan bukan karena tidak ingin memaafkan Raihan.


"Aku memaafkanmu, tapi kau harus pergi dari kehidupanku," ucap Raihanah mengiyaratkan Raihan untuk pergi. Ia tidak ingin bertemu Raihan lagi. Ia tidak sanggup menahan gejolak di hatinya. Walau ia sangat menginginkan pria ini. Tapi ia tidak suka dengan cara Raihan yang memaksa seperti kemarin. Ia tidak suka di perlakukan seenaknya.


Raihan tertegun, ia tidak menyangka jika Raihanah akan berkata seperti itu. raihan memejamkan matanya. Apa perjuangannya berakhir untuk mendapatkan Raihanah? Hatinya seperti ditikam belati, begitu sakit dan menyasakkan. Raihanah sama sekali tidak menatapnya.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu Rain? Aku tahu kau juga mencintaiku, sama seperti aku yang mencintaimu," Raihan berusaha meyakinkan Raihanah, ia tidak ingin hidup tanpa Raihanah. Ia begitu membutuhkan wanita ini. Sampai ia berpikir hidupnya akan hampa tanpa Raihanah. Raihanah bagai udara di saat ia bernapas.


"Aku tidak mencintaimu," Raihanah berucap cepat, nadanya bergetar. Raihanah berbohong, hanya ini satu-satunya cara membuat Raihan berhenti mengikutinya dan menghilang dari kehidupan Raihanah.


"Kau bohong Raihanah," ujar Raihan yang tahu jika apa yang Raihanah ucapkan adalah kebohongan. Ia bisa merasakan jika Raihanah mencintainya sama seperti dia yang mencintai wanita itu. Mereka saling mencintai satu sama lain. Raihan yakin akan hal itu.


"Aku tidak peduli, aku rasa walau kita saling mencintai juga tidak ada gunanya kita bersama," balas Raihanah berusaha untuk tidak peduli.


"Lebih baik kita hidup seperti dulu, hidupku tanpa dirimu dan hidupmu tanpa diriku," Raihanah terisak, ia tahu rasanya berat untuk pergi dari kehidupan Raihan. Tapi ini adalah jalan terbaik untuknya. Ia harus memulai hidup baru tanpa Raihan, ia tidak mungkin bertahan dengan laki-laki yang tidak memperjelas hubungan mereka, malah telah melecehkannya. Raihanah tidak sanggup bertahan dengan laki-laki seperti Raihan. Ia butuh pria matang yang mau berkomitmen bukan hanya pria yang menggantungkan cintanya.


"Lebih baik anda pergi sekarang," Raihanah bangkit dari kursi, ia membungkuk mempersilahkan Raihan pergi.


"Tapi Rain aku-,"


"Pergi sekarang!!" Raihanah membentak Raihan, ia tidak ingin mendengar lanjutan ucapan Raihan. Ia sudah muak dengan apapun yang berhubungan dengan Raihan.


"Baik, kalau itu maumu. Aku akan pergi dari sini. Tapi ingat Raih aku akan tetap mengejar kamu Rain, sampai kamu menjadi milikku," Raihan berucap dengan nada tajam ucapannya membuat Raihanah merinding.


Raihanah memalingkan wajah, ia tidak peduli dengan ucapan Raihan. Walau ada sedikit rasa takut jika ucapan itu benar-benar terjadi. Karena di dalam hatinya masih menyimpan cinta yang begitu besar untuk Raihan.


Raihan menatap Raihanah, ia belum sanggup kehilangan Raihanah. Tapi ia harus pergi sebelum Raihanah tambah marah kepadanya. Suatu saat nanti Raihan pasti punya cara untuk membuat Raihanah jatuh cinta kepadanya. Raihan pergi meninggalkan Raihanah, ia menghilang di balik pintu meninggalkan Raihanah yang termenung di sofa kerja miliknya.


****


Raihan tidak menyerah, walau kemaren Raihanah menolaknya kali ini Raihan tidak akan seperti kemarin hanya diam. Raihan membawa paket bunga beserta cincin, ia ingin melamar Raihanah sekarang. Ia akan buktikan pada Raihanah jika dirinya serius. Ia akan mengikat Raihanah dengan ikatan pernikahan. Ia tidak peduli lagi dengan traumanya akan pernikahan, ia yakin pernikahannya dengan Raihanah akan lebih baik dari pernikahannya sebelumnya.


Raihan melangkah menuju ruangan Raihanah, baru ia akan mengetuk pintu tersebut. Ada wanita yang menghentikannya.


"Maaf, bapak mencari Raihanah," tebak seorang wanita, kira-kira usianya 27 tahun. Wanita itu menghampiri Raihan yang berada di depan ruangan Raihanah.


"Iya,"


"Raihanah sudah resign pak, ia bilang ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri," jelas Sonya, Raihan sempat melihat name tag yang berada di baju wanita itu.


"Terimakasih," Raihan menghela nafas panjang, Raihanah tidak ingin menemuinya lagi. bahkan gadis itu memilih pergi dari kehidupannya. Apa tidak ada kesempatan kedua untukknya? Raihan benar-benar mencintai Raihanah dengan tulus, bahkan ia berani memimpikan sebuah pernikahan bersama gadis itu.


Tekad dalam hati Raihan begitu kuat jika Raihanah serius dengan ucapannya untuk menjauh dari kehidupannya. Maka Raihan harus membuktikan ucapan terakhirnya pada Raihanah jika ia tidak akan melepas Raihanah, ia akan mengikat Raihanah dengan ikatan pernikahan. Raihan meremas jas yang di kenakannya. ia akan mencari dimana keberadaan Raihanah, ia memiliki uang dan kekuasaan. Ia tidak akan menyia-nyiakan itu.


"Aku akan menemukanmu Raihanah, aku tidak akan berhenti mencarimu sampai aku benar-benar lenyap dari dunia ini," Raihan berjanji dengan perkataannya.


*****


follow Instagram @wgulla_