
Raihan turun dari mobil hitamnya, sambil menggendong Rakan ke dalam pelukannya. Pertama kali yang ia lihat adalah Raihanah dan seorang wanita yang tidak dikenalinya. Pandangan Raihan teralihkan oleh suara berisik seorang laki-laki yang memanggil Raihanah.
Raihan memincingkan matanya, ia menatap Ryan tidak suka. Kenapa pria itu bisa berada disini? Bukankah Ryan ada di Solo. Batin Raihan dipenuhi pertanyaan yang ingin diketahuinya.
Mata Raihan dan Ryan saling bertatapan tidak suka sama lain, namun sedetik kemudian Ryan tersenyum lebar membalas tatapan Raihan. Ia tidak ingin seperti anak kecil yang berebut mainan .
"Hay kawan lama," sapa Ryan pada Raihan.
Raihan mendengus sebal, ia tidak memperdulikan sapaan Ryan. Raihan berlalu meninggalkan Ryan. Cukup sudah kehadiran Ryan menambah emosinya.
"Raihan," panggil Raihanah. Raihan menghentikan langkahnya, ingin sekali Raihan membalas panggilan itu namun melihat Ryan berada di sini membuatnya kesal. Raihan pergi tanpa membalasnya, ada sedikit perasaan bersalah.
Apalagi hubungan mereka telah membaik? Tapi sekarang dengan bodohnya Raihan merusaknya. Raihan menghela nafas panjang, Rakan yang menyadari perubahan wajah ayahnya. Rakan mendekat mencium pipi ayahnya, Raihan terkejut lalu ia tersenyum membalas ciuman anaknya.
"Alright, it's okay dad." ujar Rakan pada ayah nya menenangkan jika semuanya akan baik-baik saja.
*****
Raihanah merengut sebal ketika Ryan mengikutinya berjalan, Sinta langsung pamit meninggalkan mereka berdua untuk bertemu kepala sekolah. Lapangan sekolah sangat ramai banyak anak murid yang berlalu-lalang melewati mereka. Mereka menatap Raihanah dan Ryan penasaran.
"Sampai kapan kau akan mengikutiku," ucap Raihanah bosan dengan tingkah pria ini. Ryan terkekeh ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku hanya ingin tahu kegiatan apa yang dilakukan calon istriku," Raihanah menghembuskan nafas kasar. Ia memutar bola matanya sebal. Kenapa sikap Ryan berubah menjadi agresif seperti ini? Ia lebih menyukai sifat Ryan yang dulu.
"Kembalilah bekerja, kau tidak takut menjadi bangkrut." ujar Raihanah.
"Hahaha, tenang saja aku tidak akan bangkrut karena hanya bolos sehari. Lagipula aku ini seorang bos." ucap Ryan sambil merapikan jas hitamnya. Ia membanggakan pekerjaannya.
"Kau ini, sepertinya percuma bicara denganmu," Raihanah memalingkan wajah enggan menatap Ryan. Tanpa mereka sadari Raihan melihat semua itu dengan tatapan marah, rahangnya mengeras ia menggertakan giginya bahkan tangannya terkepal keras. Ia sudah menaruh putranya di kelas. Lalu ketika ia ingin pulang lagi-lagi ia melihat drama murahan seperti ini. Hatinya mendidih karena cemburu. Seharusnya ia yang sekarang berdua dengan Raihanah. Saling mengobrol satu sama lain dan bertukar sapa bukan Ryan.
Raihan mendongakkan wajah menatap langit, bola mata Raihan membulat melihat sebuah pot bunga yang akan jatuh dari atas gedung sekolah tiba-tiba. Pot itu bergerak menuju ke arah Raihanah. Raihan mengumpat mungkin ini arti dari ancaman Tania tadi pagi. Wanita itu benar-benar mencari ingin masalah dengannya rupanya.
"Sialan!!" umpat Raihan dalam hati.
Raihan berlari mendekat ke arah dua orang itu, ia tidak memperdulikan rasa cemburunya lagi. Raihan takut sesuatu yang buruk terjadi pada Raihanah karenanya.
Raihan bergerak menggapai tubuh Raihanah membuat mereka tersungkur jatuh ke tanah menyisakan bunyi pecahan pot yang mengenai kepala Raihan. Raihan tersenyum lega ia berhasil melindungi Raihanah. Yang terpenting Raihanah nya selamat. Ia sudah bahagia.
"brughhh..brughhh..." Suara pot pecah memenuhi Indra pendengaran orang-orang.
Raihanah terpekik kaget disaat Raihan mendorong tubuhnya hingga jatuh ke tanah, ia meringis sakit tubuh berat Raihan yang menindihinya membuatnya sesak nafas untung tangan Raihan mengadahi kepalanya sehingga tidak terbentur tanah.
Raihanah reflek memegang kepala Raihan, matanya mentatap Raihan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi, ia menatap Raihan dalam. Ia menelan ludah melihat posisi mereka yang seperti ini. Ia juga tidak melihat Raihan tadi di sekitarnya lalu tiba-tiba saja pria itu datang untuk menyelamatkan nya. Berarti Raihan dari tadi memperhatikannya dengan Ryan.
Ketika Raihanah mengangkat tangannya dari kepala Raihan ia melihat darah menyelimuti tangannya. Raihan melotot melihat darah merah itu. Kepala Raihan terkena pot yang jatuh dari atas gedung, dan potnya itu terbuat dari tanah liat yang mengeras. Raihanah menghembuskan nafas sedih.
"Astagfirulloh," Raihanah memikik, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat.
Apakah Raihan baik-baik saja? Raihanah masih bisa merasakan nafas Raihan, ia sedikit lega. Tapi apakah itu bisa menjamin Raihan akan hidup, muncul rasa takut kehilangan di hati Raihanah ia tidak bisa membayangkan jika ia kehilangan Raihan. Mata hitam Raihanah menatap sayu Raihan, di ikuti buliran airmata yang siap tumpah.
"Rai-han," Raihanah terbata-bata, ia baru sadar jika Raihan melindunginya. Raihanah menatap Raihan khawatir, ia takut terjadi apa-apa pada Raihan.
"Bertahanlah Raihan." ujar Raihanah. Ia benar-benar panik. Ia bingung harus melakukan apa. Bahkan Ryan yang berada di sana hanya diam
seperti orang bodoh.
"Ryan tolong bantu aku," ucap Raihanah panik, Ryan yang dari tadi tidak berkedip memandang aksi Raihan menyelamatkan Raihanah akhirnya ia tersadar. Ryan dengan cekatan menyingkirkan tubuh Raihan dari Raihanah lalu membawanya pergi.
"Kita harus segera membawa Raihan ke rumah sakit," kata Raihanah dengan panik.
"Aku takut terjadi apa-apa dengan Raihan." Lanjut Raihanah.
"Tenang Rai, aku akan menyelamatkan pangeranmu," balas Ryan dengan nada tidak suka.
"Berat sekali badan orang ini, makan apa saja pria ini." gerutu Ryan. Mereka langsung berlari menuju mobil milik Ryan. Ketika Ryan ingin memasukan tubuh Raihan di kursi penumpang Raihanah lebih dulu masuk kesana. Padahal Ryan ingin Raihanah duduk di depan di sampingnya.
"Kenapa kau duduk di belakang?" tanya Ryan.
"Lalu aku duduk dimana, aku tidak ingin duduk di dekat dua pria sekaligus emang aku cabe-cabean." Raihanah mengucapkan apa yang ada difikirannya dengan frontal membuat Ryan mengangkat alisnya kesal.
"Kau ini," Ryan berbalik lalu memasukkan Raihan ke kursi depan dan memasangkan seltbeatnya.
"Cepat Ryan," protes Raihanah dengan uring-ringan karena Ryan yang begitu lambat. Tak tahukah Ryan jika khawatir setengah mati.
"Kita biarkan saja Raihan mati dengan begitu kita dapat menikah," sahut Ryan asal. Raihan mengeram mendengar itu dengan reflek ia memukul kepala Ryan dengan botol air aqua yang di bawa nya.
"Jaga ucapanmu Ryan," desis Raihanah galak. Ryan tersenyum kecut, kepalanya terasa sakit akibat pukulan Raihanah. Raihanah nya ternyata bisa berubah menjadi garang, padahal Raihanah yang dikenal nya sangat lembut.
****
jangan lupa Follow Instagram Author @wgulla_ dan @gullastory_ ,♥️♥️♥️♥️
love youuuuuuuuuu 😘