
Raihanah berdiri di hadapan Raihan yang terduduk. Raihan seakan sadar ada yang mengamatinya. Ia bangun dan memasang wajah dinginnya. Ia terlihat menyembunyikan yang tidak boleh Raihanah ketahui.
"Apa kau baik-baik saja?" Raihan menganguk kaku.
"Apa yang terjadi?" Raihanah kekeh ingin tahu, kesulitan Raihan.
"Tidak terjadi apa-apa," balas Raihan santai, ia melangkahkan kakinya perlahan melintasi Raihanah.
Raihanah terpaku, lidahnya kelu begitu juga dengan hatinya. Ia merasa ada yang salah, kenapa hatinya mendesak ingin tahu masalah Raihan. Dan ia seperti bukan melihat Raihan karena pria itu mengabaikan kehadirannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Raihanah lantang, membuat langkah Raihan berhenti. Tubuh mereka saling membelakangi satu sama lain.
"Apa pedulimu? Bukankah kau mengharapkan kepergiaanku."
Raihanah tercekat, ucapan Raihan benar untuk apa ia peduli. Bukannya ia yang menginginkan kepergian Raihan dari hidupnya.
"Aku Han-nya...,"
Raihan diam, ia memilih menghiraukan perkataan Raihanah. Dan membawa langkah kakinya pergi menjauh dari Raihanah. Walau ia tahu rasanya begitu perih.
Raihanah berbalik menatap punggung Raihan yang menjauh. Ada rasa sesak yang memenuhi dadanya. Hatinya seakan bisa merasakan rasa sakit Raihan. Tanpa Raihanah sadari langkah kakinya bergerak mengikuti langkah Raihan. Ia tidak sadar ada hati yang terluka di sana menatap ke duanya Nanar. Ryan rasa ini akhir dari segalanya. Raihanah tidak pernah menganggap nya ada bahkan di tempat yang terlihat sekalipun. Wanita itu tidak pernah menatapnya sama sekali.
Mereka berjalan tanpa arah menyusuri tepian trotoar dengan angin yang berhembus meniup wajah mereka. Entah apa yang mereka pikirkan selain bagaimana menghilangkan rasa sakit yang tumbuh di hati mereka.
Raihan menghentikan langkah kakinya disaat ia sadar jika ada langkah kaki yang mengikutinya. Raihan menghentikan langkahnya, ia menghentakkan tubuhnya hingga matanya bertemu dengan sosok gadis di belakangnya. Raihan sudah mengira jika Raihanah akan mengikutinya. Raihan menatap tajam Raihanah.Tatapannya seakan-akan bisa membunuh Raihanah saat itu juga. Ia tidak suka Raihanah mengikuti nya.
"Kenapa kau mengikutiku ?" tanya Raihan ada sedikit rasa senang di hatinya saat tahu Raihanah peduli padanya. Namun dengan cepat ia melenyapkannya jauh-jauh ia tidak boleh percaya lagi dengan wanita itu. Karena semua wanita sama saja mereka hanya bisa melukainya.
"Ak-ku." Raihanah tercekat karena ketahuan. Ia juga tidak tahu kenapa mengikuti pria itu. Ia hanya tidak ingin melihat Raihan sedih. Ia takut terjadi apa-apa kepada pria itu.
"Masih ingatkah kamu, ketika kamu menolakku dulu. Apa perlu kuingatkan kata-katamu yang mengisyaratkan aku untuk pergi dari kehidupan mu. Lalu kenapa kau sekarang seolah-olah peduli lalu mengikuti ku, dan seolah ingin tahu urusanku, Rain. Apa kamu akan seperti ini terus mempermainkan ku?
"Ii- tu aa-ku." Raihanah juga bingung dengan dirinya sendiri. Ia tidak tahu. Entah Apa yang membuat nya mengikuti Raihan. tapi yang ia tahu ia tidak ingin pria itu bersedih.
"Bahkan kau tidak bisa menjawab, aku tidak butuh rasa kasihanmu. Jika itu sebab kau mengikutiku," Raihan mendesis rasa marah, kecewa, benci, ia jadikan satu dan bodohnya ia meluapkan itu semua pada Raihanah.
"Bukan," sahut Raihanah, ia tidak pernah melihat Raihan semarah ini. Ada sedikit rasa takut yang timbul, ini bukan Raihannya yang dulu. Karena Raihan selalu memperlakukannya manis dan lembut.
"Lalu apa !!" Raihan membentak, ia sudah tidak sanggup lagi hidup dengan orang-orang yang tidak mengharapkannya.
"Kareena aku mencintaimu," ucap Raihanah lirih. Ia tahu ini bodoh. Tidak seharusnya seorang wanita mengungkapkan perasaannya. Tapi ia tidak ingin terus-menerus berbohong dengan hatinya.
Raihan tertegun ucapan Raihanah barusan sanggup menggetarkan hatinya, tapi akal logikanya menolaknya. Ia tidak sanggup lagi terluka karena perempuan, tiba-tiba memori akan kenangan lamanya muncul. Memori yang ingin Raihan lupakan, yaitu disaat-saat ia diperkosa oleh dua laki-laki yang telah membelinya dari ibunya. Raihan terjatuh ke tanah, kedua tangannya memegang kepalanya erat, wajahnya meringis akan rasa sakit .
Raut wajah Raihanah yang semula sedih berubah menjadi khawatir, ia mendekat menghampiri Raihan. Namun baru dua langkah ia berjalan, Raihan berteriak menyuruhnya menjauh.
"Jangan mendekat !!"
"Untuk apa kau peduli keadaanku lebih baik kau pergi sekarang."
"Tap-pi,"
Suara ponsel menghentikan ucapan di antara mereka berdua Raihan mengatur nafasnya. Ia merogoh kantong celananya, tepat saat itu ponselnya kembali berbunyi. Raihan dengan cepat mengangkat panggilan itu.
"Halo," ucapnya .
"…"
"Baiklah, aku akan segera kesana Kek," ucap Raihan, di lain sisi hatinya senang atas pengakuan Raihanah tapi ada rasa kecewa bersamaan. Rasanya Raihan ingin menangis saat ini juga. Kenapa
takdir terus mempermainkannya. Sebercanda ini kah semesta padanya.
Raihanah menatap gelagat Raihan penasaran, ingin sekali ia bertanya namun ia urungkan. Ia takut emosi Raihan akan memuncak. Raihan menaruh ponselnya kembali ke kantung celananya. Lalu ia berlalu tanpa menatap Raihanah sama sekali, ada rasa kecewa ketika Raihan tidak menatapnya. Pria itu lagi-lagi mengabaikannya.
"Aku tidak percaya jika kau mencintaiku, jika kau mencintaiku seharusnya kau tidak akan pernah pergi meninggalkanku," ucap Raihan sebelum ia pergi .
Raihanah tertegun ucapan Raihan seperti menikam hatinya, kenapa ia begitu bodoh untuk menyadari perasaannya. Tubuh Raihanah ambruk di pinggir trotoar, lalu lalang mobil tidak menghentikan isak tangisnya. Ia menatap punggung Raihan yang menjauh dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku Raihan." ucap Raihanah penuh dengan rasa penyesalan. Ia merasa bersalah. Jadi begini rasanya diabaikan oleh orang yang kita cintai padahal dulu ia sering melakukan itu pada banyak laki-laki.
"Aku mencintaimu," guman Raihanah berulang-ulang, Raihanah baru menyadari rasa cintanya kepada Raihan. Raihan seperti menyimpan sebuah luka, yang membuat Raihanah ingin merawatnya dan Raihan menolak kehadirannya, ini pertama kalinya Raihanah merasakan sakit penolakan. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Raihan ketika ia menolak nya dikehidupannya.
****
Ryan terpaku mendengar ucapan Raihanah, hati nya sakit. Raihanah sukses membuat hati nya terluka berkali-kali. Apa Raihanah tidak bisa memahami rasa sakit nya? Bodoh nya ia masih bertahan untuk mencintai Raihanah. Hati nya masih mngharapkan jika
cinta Raihanah berpaling kepada nya. Tapi melihat tadi Ryan rasa harapan nya sia-sia tidak ada ruang untuk nya di hati
Raihanah.
"Bisakah kau memberikan cintamu padaku sedikit saja Raihanah?" gumam Ryan. Ia ingin sekali saja Raihanah sadar dengan perasaannya walau ia tahu cinta tidak bisa di paksa.
****
jangan lupa like ya... dan koment ♥️♥️♥️♥️
follow Instagram author @wgulla_ dan @gullastory_
love you ♥️
semoga kita semua terhindar dari corona..
aamiin.