My Beloved Duda

My Beloved Duda
Bab 41



Raihanah duduk berhadapan dengan wanita cantik bernama Tania, wanita ini memakai dress pendek berwarna merah menyala dan rambut panjangnya ia biarkan digerai. Melihat itu Raihanah tersenyum sinis bisa-bisanya Raihan dulu menikah dengan wanita seperti ini lihat saja penampilan wanita itu dipenuhi barang-barang brandid yang tentu saja harganya mahal.


Mereka berdua duduk disebuah apertemen ternama di Jakarta, awal mulanya Raihanah tidak berminat untuk menemui Tania namun disaat ia mendengar bahwa Rakan ada bersama Tania. Hatinya merasa khawatir, karena dari kepulangannya bulan madu bersama Raihan. Tania menghubunginya bahwa ia membawa Rakan, sedangkan Raihan ada urusan mendadak di kantornya. Raihanah pergi kesini tanpa pamit oleh Raihan walaupun ia tahu ia salah tapi Raihanah telah sepakat dengan Tania untuk datang sendiri. Dan saat ini Raihanah langsung bertemu dengan penculiknya. Raihanah khawatir ia takut terjadi apa-apa dengan Rakan anaknya.


"Jadi dimana kau sembunyikan Rakan?"


Tania tersenyum sinis mendengarnya, wanita bodoh batin Tania. Tak mungkin Tania akan memberikan Rakan semudah itu kepada wanita ini. Wanita ini harus merasakan rasa sakit yang pernah ia rasakan, karena ia dulu diceraikan secara tidak terhormat oleh Raihan dan bodohnya Tania masih mencintai Raihan. Beribu cara dilakukan oleh Tania agar Raihan kembali kedalam pelukannya namun Raihan malah menolaknya mentah-mentah dan merendahkannya. Dan yang paling membuat Tania murka adalah disaat ia tahu Raihan menikah dengan gadis ini, ditambah lagi Rakan anak kandungnya tidak menyukai dirinya.


"Cepat dimana Rakan" ulang Raihanah.


"Ikuti aku"


Tania berdiri dari duduknya, Tania memberikan isyarat kepada Raihanah untuk mengikutinya. Raihanah melangkah mengikuti Tania entah kenapa hatinya tidak enak, ia merasa ada yang salah. Langkah mereka berhenti didepan sebuah pintu kamar yang terletak 2 meter dari jarak ruang tamu tadi. Tania mengeluarkan sebuah kunci untuk membuka pintunya, lalu mereka memasuki ruangan itu. Ruangan itu begitu gelap mencengkam tidak ada nyala lampu didalamnya. Hal itu membuat raihanah merinding ketakutan , matanya sibuk mencari dimana keberadaan Rakan anaknya.


Mata Raihanah tersentak kaget tak kala melihat pemandangan mengenaskan itu Rakan diikat disebuah kursi, ada banyak bekas goresan pisau ditubuh Rakan. Rakan menatapnya sendu, tatapan rakan seolah meminta untuk dibebaskan. Raihanah menatap semua itu tak percaya jika wanita ular ini akan melakukan hal sekejam itu kepada Rakan. Demi Allah, Rakan ini anak wanita itu dan wanita ini dengan tega melukai anaknya sendiri. Ibu macam apa dia? Melukai anaknya sendiri.


"HAHAHAHA, aku hanya sedikit bermain-main" balas wanita gila itu.


Raihanah bergerak untuk menjangkau Rakan, Raihanah ingin menyelamatkan anaknya namun baru beberapa langkah Raihanah berjalan tangannya ditarik oleh Tania.


"Apa yang kamu lakukan ******!!!"


Tania mencengkram tangan Raihanah kuat-kuat seakan tak ingin melepaskannya. Hal itu membuat Raihanah menahan rasa sakit dipergelangan tangannya, Raihanah rasa wanita ini positif gila.


"Siapa yang memberimu izin untuk mendekati Rakan?"


"Kamu tahu tidak apa alasan aku mengundangmu kemari?"  tersenyum misterius tak kala mengucapkan kalimat itu.


Raihanah menggeleng tidak mengerti, ada rasa takut dihatinya melihat senyum Tania itu. Ia merasa Tania akan memperlakukannya sama seperti Raihan membayangkan itu membuat hati Raihanah nyeri, bukan karena ia takut dengan Tania tapi karena anaknya Rakan dibuat tak berdaya oleh wanita ular itu.