Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
eps 63



Mobil mewah Juna berhenti sebuah direstoran yang begitu megah, Juna menggandeng istrinya itu sampai kedalam restoran yang dipersiapkan oleh orang tua Syah untuknya. mereka berjalan melewati red karpet yang terbentang sepanjang jalan pintu masuk.


Syah memperhatikan sekelilingnya dan bertanya-tanya dalam hatinya kenapa restoran semewah ini sepi pengunjung.


" Kenapa key? Tumben gak banyak tanya? Kamu sakit?" Sembari memegang dahi istrinya itu.


" Ti-dak, aku tidak apa-apa" melanjutkan langkahnya. " Jun, kenapa sepi? Bukan kah seharusnya restoran sebagus ini banyak pengunjung nya apalagi sekarang waktunya makan malam, biasanya para kolega terpandang akan memenuhi siisi ruangan ini" sambung Syah karena memang sedari tadi semakin diperhatikan ruangan demi ruangan yang sudah ia lalui itu tampak sepi.


" Mungkin mereka males keluar rumah kali" kekeh Juna.


" Isss... Masih aja becanda" dengan wajah cemberut yang membuat Juna semakin gemes.


____


Sesampainya diroothof lantai paling atas lestoran,Syah memegang erat lengan suaminya itu Dalam keadaan samar-samar Syah memperhatikan sekelilingnya namun tak satupun yang bisa Syah lihat dengan jelas.


" Jun, aku takut" itulah kata-kata yang keluar dari mulut Syah.


" Aku disini sayang kamu tak perlu takut" Juna memintak Syah untuk berjalan berapa langkah namun Syah tidak mau.


Melihat Syah yang mulai takut Juna berdehem dan seketika lampupun menyala.


" Happy birthday syahloni Keyla, anak kesayangan mama-papa" ucap orang tua Syah sembari merentangkan tangannya pada putri semata wayangnya itu. Syah berhamburan kedalam pelukan hangat mama-papa nya. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipi mulusnya.


" Hey kenapa menangis sayang? Ini hari special Syah, pokoknya mama sama papa gak mau liat Syah Kek gini" ucap mama sembari mengusap air mata Syah.


" Syah bahagia ma, makasih ma-pa" ucap Syah sembari memeluk mama papanya bergantian.


" Ehem, mama kan juga mau dipeluk sama mantu kesayangan,tapi ya sudahla" ucap mertua Syah pura-pura ngambek.


" Heheh..." Tawa yang lainnya.


" Makasih ma, makasih udah mau Nerima Syah sebagai mantu mama" ucap Syah dalam pelukan mertuanya itu.


" Sama-sama sayang, justru mama yang harusnya berterima kasih karena Syah mau menjadi istri dari seorang Arjuna yang paling nyebelin plus keras kepala ini" ucap mama Juna sembari mencubit anaknya itu.


" Heheh... Juna gak nyebelin ma, buktinya aja mantu mama sayang banget sama Juna" kekeh Juna.


" Kata siapa? Wlekkk" balas Syah. Merekapun tertawa menyaksikan perdebatan kecil antara Syah dan Juna.


Malam itu malam paling bahagia bagi Syah. ditambah lagi dengan suasana malam yang dihiasi bintang-bintang kecil yang memancarkan cahayanya diatas sana.


_____


Sesampainya di rumah.


" Makasih sayang" ucap Syah sembari memeluk suaminya itu.


" Sama-sama sayang, yok istirahat" Juna menggendong Syah ala bridal style dan menurunkan Syah diatas ranjang secara berlahan.


" Kamu kenapa?" Ucap Syah pada Juna yang selalu menatap nya.


" Kamu sangat cantik,, makasih sayang telah mau menerima ku" ucap Juna sembari mencium kening Syah.


Entah kenapa wajah Syah merona bak tomat matang mendengar rayuan dari Juna.


" Hey kenapa wajahmu merona begitu sayangku?" Bisik Juna ditelinga Syah.


Juna meraih dagu Syah, dan menatap wajah istrinya itu agak lama, angin apa yang merasuki Syah dengan spontan ia mengalungkan tangannya dipundak suaminya itu. Bak mendapat kode Juna tersenyum lalu melakukan aksinya dan malam itu menjadi saksi cinta mereka.


___


Dikampus.


Dengan langkah gontai Syah berjalan menuju kelasnya karena memang hari ini merupakan hari terakhir untuk mengumpulkan laporan hasil kowas yang mereka jalani selama ini.


" Akila sama Naura udah nyampe kelas belum ya, kangen banget sama tuh anak" ucap Syah dalam hati sembari membayangkan wajah sahabatnya itu.


Ketika sampai didepan kelas Rifki selaku kating kelas itu meminta syah menemui dosen pembimbing mereka diruangan dosen. Entahlah tanpa banyak bertanya mengikuti instruksi dari kating. Syah segera menuju ruangan dosen.


Tok...tok...tok.... "Permisi buk, apa boleh Syah masuk?" Ucap syah dengan sopan.


" Silakan masuk" ucap dosen pembimbing dari dalam ruangan.


Syah membuka pintu, betapa terkejutnya Syah mendapati teman-teman sekelasnya serta kedua sahabatnya juga berada diruangan itu.


" Silakan duduk Syah"


" Baik buk" syahpun segera duduk disamping sahabatnya.


" Kamu tahu apa alasan saya memanggil kamu kesini?" Tegas sang dosen.


" Ini kenapa lagi sih? Apa kelas kita berbuat kesalahan?" Bisik Syah pada Akilla dan Naura.


" Gak tau Syah, kita juga terkejut hari pertama ngampus Malah disidag kek gini" bisik Akilla


" Baik, karena semuanya sudah berkumpul disini saya akan menyampaikan bahwa saya kecewa pada ananda semua, saya sangat amat kecewa mendengar keluhan yang disampaikan oleh masyarakat khususnya disekitar tempat tinggal kegiatan kowas kalian, mereka menyayangkan kenapa tidak ada kerjasama yang terjalin antar tim, mereka juga menyampaikan bahwa kegiatan yang ananda lakukan itu asal asalan"


" Apa ada yang ingin menyampaikan sesuatu, atau bantahan bahwa kabar yang saya terima itu tidak demikian adanya?" sambung sang dosen.


" Maaf buk, izin berbicara" Syah mencoba menjelaskan bahwa kabar yang didapatkan itu adalah hoax. karena memang semua aktivitas yang mereka lakukan selama kowas sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kampus untuk kegiatan tersebut.


Bahkan kowas yang mereka jalani berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, selama kowas juga mereka tidak pernah mendapatkan komplain dari staff maupun masyarakat lingkungan mereka.


Syah berusaha menjelaskan semua kegiatan yang mereka lalui, namun dosen pembimbing tidak menerima alasan Syah, bahkan Syah dibentak oleh sang dosen karena ia merasa tim Syah tidak becus menjalankan tugas mereka.


" Terutama tim Rifki, saya sangat malu dengan tim anda" tegas dosen Pembimbing.


" Maaf buk, jika kami belum bisa memberikan yang terbaik setidaknya kami sudah berusaha" sambung Rifki dengan wajah penyesalan.


" Untuk kamu syahloni Keyla! Untuk pertama kalinya saya kehilangan respek terhadap kerja yang anda lakukan, untuk itu kamu tidak perlu datang kekampus selama satu bulan" ucap sang dosen sontak membuat Syah terkejut.


" Maaf sebelumnya buk, apa kesalahan yang telah saya perbuat? Rasanya tidak adil jika saya sendiri yang dikenai hukuman" ucap Syah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Nah ini kesalahan anda! Anda tidak pernah menerima keputusan yang sudah saya ambil" bentak sang dosen. Yang benar saja air mata yang dari tadi Syah tahan kini tak terbendung lagi dan mulai mengalir di pipi Syah.


Bahkan didalam ruangan ini masih banyak teman lainnya, kenapa sang dosen seolah-olah memojokkan diri Syah seorang, semua kekesalan dan kemarahan seakan-akan tertuju kepadanya.


" Ma-maaf jika saya melakukan kesalahan buk" ucap Syah dengan suara bergetar.


Bersambung.....