Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Eps 62



Dikediaman Arjuna


" Assalamualaikum nak Juna, apa Syah jadi pulang ke Jakarta?kenapa ponsel Syah gak aktif Jun?kalian baik-baik aja kan?" tanya mama Syah pada Juna melalui via WhatsApp


" Waalaikumsalam mama, Alhamdulillah kita baru nyampe ma, tadi sedikit ada kendala ma, seharusnya penerbangan kita jam 6 pagi, tapi cuaca buruk makanya delay ma" balas Juna pada mertuanya itu.


" Syukurlah, nanti malam mama kesana sekalian mau ngajak Syah serta Juna ke restoran, papa sama Mama mau mengadakan acara kecil-kecilan untuk ultah Syah"


" Baik ma"


____


Juna membawa koper Syah kedalam rumah.


" Key! tadi mama chat aku nanti malam kita makan diluar sama mama papa"


" Okay" jawab Syah tersenyum manis.


" Mandi gih, habis itu istirahat ya sayang" ucap Juna sembari menaiki anak tangga.


" Iya bawel, bentar lagi ya, aku mau kabarin Akilla sama Naura dulu, udah nyampe apa belom" sembari merogoh ransel nya.


" Mandi dulu sayang, habis itu baru kabarin bff mu itu, atau__" ucap Juna dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.


" Atau apa?"


" Atau aku yang mandiin sekarang juga?" ancam Juna.


" Isss...dasar mesum" ujar Syah sembari berlari kedalam kamar dan segera menutup pintu.


Juna senyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya itu, entah kenapa setiap senyuman yang terukir diwajah Syah menjadi candu bagi Juna.


Juna segera membersihkan dirinya, kemudian mengabari asisten pribadinya untuk menghendel meeting esok hari, apalagi aktivitas Juna begitu padat akhir-akhir ini, memiliki dua profesi sekaligus sangatlah tidak mudah. Juna dituntut untuk mengabdi dan mengembangkan perusahaan papanya, mau tidak mau Juna harus mengambil alih karena perusahaan itu sangat berarti bagi mama nya, apalagi setelah kepergian papa, Juna tidak ingin mengecewakan mamanya.


Bik ana sangat senang dengan kepulangan majikannya itu, ditambah Juna dan Syah begitu bahagia, sepertinya mereka sudah mulai menerima semuanya.


" Bibi lagi apa?" tanya Syah pada bik ana yang sedang sibuk didapur.


" Itu non, bibik mau masak makanan special buat non dan juga tuan Juna" tutur bik ana sembari memotong sayur-sayuran.


" Bik___ berapa kali Syah bilang, jangan panggil Syah dengan sebutan non, bibik itu udah Syah anggap keluarga Syah sendiri" sembari meraih tangan bik ana.


" Maaf non, ehh maksud nya Syah, makasih ya nak" memeluk Syah.


" Oiya bik, hari ini bibi gak usah masak, tadi mama bilang kalo nanti malam kita akan makan diluar, Syah mau bibi ikut sama kita"


" Bibi gak usah ikut nak Syah, bibi gak biasa makan diluar"


" Nah karena bibi gak biasa makan diluar, makanya bibi harus ikut sama kita, pokoknya Syah tidak mau ada penolakan dari bibi" memeluk bibinya itu.


" Yaudah ya bik, Syah mau keatas dulu, bibi jangan lupa siap-siap nanti malam kita makan diluar" sambung Syah sembari melepaskan pelukannya.


Syah membawa dua gelas minuman ke atas, yang vanila latte untuknya, dan rasa jeruk untuk Juna.


Syah memasuki kamar Juna, tapi tak seorangpun berada disana, Syah mencari Juna kekamar nya sendiri junapun juga tidak ada, syah berpikir kayaknya Juna berada diruang kerjanya dan benar saja setelah Syah membuka gagang pintu ruangan itu orang yang ia cari sedang asik mengobrol via telpon.


Syah memperhatikan Juna yang sedang asik mengobrol, bahkan Juna tidak menyadari Syah juga berada dalam ruangan itu. Syah meletakkan minuman yang ia bawa atas nakas, kemudian ia duduk disofa didekat jendela, jari-jari Syah sibuk menari diatas ponselnya.


" Sayang! maaf ya aku tidak menyadari kedatangan mu" ucap Juna sembari memperhatikan Syah yang sedang duduk disofa.


" Gak papa sayang, aku baru aja datang kok" ucap Syah sembari menatap suaminya itu.


" Apa minuman ini untukku?" memegang minuman Syah.


" Etss, bukan yang ini, tapi yang satunya lagi, ini minuman kesukaan ku jadi gak boleh ada yang meminumnya selain aku" tegas Syah sembari menukar minuman yang diambil Juna.


" Kalo aku gak mau bagaimana? setelah diperhatikan vanilla latte itu cukup menggoda"


" Itsss,, gak boleh ini punya aku" Syah segera meneguk minuman itu secepat nya agar Juna tidak merebut nya.


" Hmmm, dasar istri pelit" ucap Juna.


" Biarin, wlekk" ledek Syah.


Juna memperhatikan Syah, lalu mendekatkan wajahnya kearah Syah, sontak Syah kaget dan menjauhkan wajahnya dari tatapan Juna.


" Kamu ngapain?" ucap Syah sembari menahan Juna.


" Diamlah"


"Cup" Juna meneguk minuman yang menempel dipinggir bibir Syah Sontak membuat Syah terdiam sejenak.


" Hmmm,, manis" ucap Juna sembari menjauhkan wajahnya dari Syah serta membersihkan bekas minuman itu dengan jarinya.


" Gimana sih istriku ini, minuman aja belepotan kek gini, gimana nanti kalo kita punya anak pasti mama sama anak nya bakal belepotan" kekeh Juna.


" Isss... Nyebelin, aku gak mau punya anak karena umurku itu terlalu muda untuk menjadi seorang ibu" ceplos Syah sontak Juna langsung terdiam mendengar apa yang dituturkan Syah barusan.


Melihat wajah Juna yang tiba-tiba berubah, Syah menyadari sepertinya kata-kata yang ia keluarkan itu membuat Juna bete.


" Sayang! aku mintak maaf, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu" Syah duduk disamping suaminya sembari memegang tangan Juna. " Maafkan aku" mendongak kearah Juna.


" Hmmm.. Aku tahu kamu terlalu muda untuk itu, ya sudah aku mau lanjut dulu mengerjakan berkas ini" Juna beranjak kemeja kerjanya.


" Isss... apa yang aku lakukan, pasti Juna mikir yang bukan-bukan, pasti dia berpikir kalo aku tidak menginginkan keturunan darinya" kutuk Syah dalam hati.


" Sayang! aku mintak maaf" Syah memeluk Juna dari belakang.


" Kemarilah" Juna menarik Syah agar duduk di pahanya.


" Aku tau kamu tidak bermaksud bicara seperti tadi, dan aku sadar kamu memang terlalu muda untuk memiliki anak diusia 20 tahun, aku memaklumi itu sayang" menatap Syah dalam pangkuannya.


" Makasih sayang, tapi aku janji kalo nanti aku sudah wisuda aku mau punya anak, karena aku tidak mau pikiran ku terbagi sayang" mencium pipi Juna.


" Pipi aja nih? yang ini belum" menunjuk bibirnya.


" Isss... dasar mesum, aku gak mau" Syah mencebikkan bibirnya Juna yang melihat nya semakin gemas.


" Gak papa kali mesum sayang, udah sah juga gak bakal dosa juga" menarik Syah dalam pelukannya.


" Sayang! aku pengin___" ucapan Juna terpotong karena suara panggilan dari ponsel Syah.


" Bentar sayang" Syah berdiri meraih ponselnya.


" Hayyy Akilla, Naura, gw kangen banget sama kalian, kalian berdua baik-baik aja kan?" ucap Syah antusias karena berapa bulan mereka terpisah karena mengikuti kowas.


Berbeda dengan Syah, Juna kelihatan nya malah tampak bete mungkin Juna merasa terganggu.


" Gw juga kangen banget sama Lo Syah, Lo tau gak Killa beli oleh-oleh buanyak banget special buat Lo" ucap Naura tak kalah semangat.


Bersambung.....