
Pagi yang selalu dinantikan oleh Syah dan teman-teman kowas lainnya, pagi ini mereka terbangun lebih awal dari hari biasanya. terbangun dikota yang berbeda terbangun dengan semangat yang baru untuk mengiringi kegiatan yang akan mereka jalankan nanti.
Jam menunjukkan pukul 06:00 pagi Syah berdiri didepan pintu sembari menarik nafas panjang sembari merentangkan kedua tangannya.
" Kesempatan itu seperti matahari terbit, ketika kita menunggu terlalu lama, kita akan kehilangan nya" ucap Syah sembari menengadah dan merasakan belaian udara dipagi hari.
Mia serta dua orang lainnya berdiri disamping Syah dan mengikuti apa yang dilakukan Syah.
" Kesempatan tidak datang dua kali. Jadi kalau ada kesempatan jangan disia-siakan. Raih dan lakukan yang terbaik. Dalam perjalanannya kesempatan selalu ada, namun banyak orang yang menyiakannya sehingga kesempatan itu pergi dan tak pernah kembali. Jika tidak ingin kehilangan, apabila ada kesempatan berharga, mengapa kita harus ragu untuk mengambilnya? yuk semangat demi cita-cita yang akan kita gapai demi kegiatan yang sangat hebat ini, semangat gais" ucap Syah sembari mengangkat tangan memberikan semangat kepada tim nya itu.
" Yuk semangat!" sahut yang lainnya.
" Berangkat sekarang? apa nunggu anggota cowok dulu ni?" tanya Mia pada timnya.
" Kayaknya kita tungguin mereka dulu gimna gais? biar tim kita cukup" sambung teman cewek lainnya.
" Menurut lo gimna Syah?" tanya Mia memastikan.
" Gw ngikut aja, selagi masih sempat kita tungguin tapi kalo setengah jam lagi mereka nggak nyampe mending kita duluan" sambung Syah sembari mengecek alat-alat yang akan bawah.
" Oke Syah" sambung Mia sembari tersenyum.
" Dari pada lama, mending Lo telfon aja mereka! kontak Rifki ada di gw" menyerahkan handphone nya pada Mia.
" Oke" meraih handphone Syah.
" Hallo Rifki, ini gw Mia! kalian udah siap-siap belum, jangan sampe telat ini hari pertama kita kowas loh" ujar Mia.
" Iya gw tau, ini gw sama yang lainnya otw ke ketempat kalian tungguin ya" jawab Rifki ketua tim.
" Ok"
panggilan pun terputus....
" Gimana? apa persiapan nya sudah lengkap semua? alat-alat medis dan lainnya? nggak ada yang ketinggalan kan?" ucap Rifki kepada timnya.
" Udah semua kok, yok berangkat nanti telat" ajak Syah dan di ikuti oleh anggota lainnya.
Bandara.....
" Wah semangat sekali rekan semua, yang seperti ini perlu di pupuk dan dilestarikan" ucap kepala staff bandara.
" Bisa aja si bapak, namanya juga anak baru hari pertama harus memberikan kesan yang bagus dong pak" balas Rifki diiringi dengan senyuman diwajahnya.
Mereka dibagi menjadi dua kelompok kecil untuk hari ini. Syah, Mia, serta dua orang lainnya bersiap di cabin pesawat untuk memeriksa keadaan kru serta penumpang lainnya sebelum pesawat landing.
Rifki serta tiga orang lainnya, bersiaga didalam bendara untuk memeriksa keadaan staff serta begawai bendara jika memang diminta nantinya.
Hari pertama Syah kowas berjalan dengan lancar, apalagi ia bisa pergi kesana kemari dengan pesawat secara gratis.
Tiga hari telah berlalu, hari ini Syah pulang dari pelatihan sekitar setengah tujuh malam jika dibandingkan dengan anggota cewek yang lainnya.
Sesampainya didepan penginapan, Syah kaget melihat teman setimnya itu lagi ngintip rumah sebelah. kondisi seperti itu membuat jiwa keusilan Syah sontak terpacu.
" Woiiiii" teriak Syah dari belakang mereka sembari menepuk pundak teman-teman itu.
" Astaga Syah! untung gw nggak ada riwayat sakit jantung kalo ada udah lewat gw" ucap Mia sembari memegang dadanya karena terkejut.
" Kalian pada ngapain sih? udah kek maling aja"
" Ini lebih gawat dari pada maling Syah" ucap salah teman yang satunya lagi.
" Maling hati" sahut yang lain sembari cengar cengir.
Syah mengernyitkan kening tidak paham apa yang dikatakan oleh timnya itu.
" Bucin Mulu kalian, kowas yang benar!" ucap Syah dan hendak melangkah menuju pintu.
" Lo nggak mau tau Syah siapa yang kita pantau barusan?" tanya Mia meyakinkan.
" Emang nya siapa? anak muda atau udah tua? jangan bilang kalian mau sama-sama om-om" sembari membalikkan badannya menghadap rekan-rekan nya itu.
" Amit-amit cabang babu, ya enggaklah mana mungkin kita menyukai om-om, benar nggak gais?" ujar Mia.
" Betul sekali Mia" sambung yang lainnya.
" Semenjak dua hari yang lalu" sambil senyum-senyum.
" Dua hari yang lalu?" tanya Syah lagi.
" iya Syah, sehari setelah kita tinggal disini lalu sore harinya gw liat ada orang baru nginap disebelah, pokoknya ganteng banget deh cocok banget jadi calon imam untuk masa depan" sahut Tina rekan setim Syah.
" Serah kalian deh, gw mau masuk dulu pengen mandi habis itu pengen bobok-bobok cantik deh" sambung Syah.
" Lo nggak mau liat dulu orangnya? nanti nyesel Loh" goda Tina lagi.
" enggak ah malas gw" berlalu Pergi.
" Kira-kira tuh orang udah nikah apa belum gais" sambung Mia sembari duduk dikursi panjang tidak jauh dari posisi mereka mengintip.
" Kayaknya nggak deh gais, lagian dulu dia juga pernah kan kekampus kita? gw yakin seratus persen dia masih lajang" ucap Mia penuh semangat.
Sementara itu didalam kamar Syah duduk dikepala tempat ditidurnya sembari mendengarkan musik favorit nya.
Ndrettt.... ndrettt..... suara handphone di atas nakas. Syah meraih handphone tersebut lalu mendengar suara laki-laki diseberang sana.
" Assalamualaikum istriku" suara orang tersebut siapa lagi kalo bukan Juna.
" Waalaikumsalam suami pilihan mama" bisik Syah dilayar handphone itu.
" Gimana kabarnya? kowasnya lancar nggak?"
" Alhamdulillah baik, kowas nya juga berjalan dengan lancar kok, kamu gimana kabarnya?"
" Aku juga baik Key, akhir-akhir ini kamu pulang nya malam terus ya? semangat ya sayang, segala sesuatu jika dijalani dengan ikhlas pasti akan mendapatkan buah yang baik" jelas Juna.
" *Dari mana Juna tau kalo akhir-akhir ini gw pulang malam*" gumam Syah dalam hati.
" Key!!! Keyla!!!" panggil Juna
" Ngapain ngelamun sayang? capek ya?" tanya Juna lagi.
" A-apa? " ucap Syah gelagapan.
" Kenapa ngelamun? kerjaannya berat ya? apa mau pindah dari sana?" tanya Juna lagi.
" Wehhh enak aja nyuruh aku pindah, emangnya kalo aku bilang capek kamu bisa mindahin aku ke lokasi yang aku mau? bandara yang ada di Sumatra barat gitu biar bisa ketemu sama sahabatku?" ucap Syah.
" Kalo kamu mau aku bisa bantuin pindah, tapi ya enggak kesumatra barat juga kali, makin jauh aja nantinya" sambung Juna.
" Jangan becanda deh Jun, lagian mana mungkin kamu bisa mintak kepala bandara agar aku bisa pindah dari sana, wlekkk" ledek Syah.
" Hehehe.... kalo kamu mau aku bisa usahin tentang itu"
" *Maksud Juna apaan sih? emang nya dia siapa bisa mindahin anggota kowas begitu saja*?" ucap Syah dalam hati.
**Bersambung**.....