
Tak lama setelah kepergian juna, syah mandi dan berganti pakaian kemudian bergegas kerumah sakit untuk memastikan bagaimana kondisi mama sekarang.
" Assalamualaikum pa, bagaimana kondisi mama sekarang" ujar Syah ketika melihat papa nya sedang mengurus administrasi.
" Alhamdulillah operasi mama berjalan dengan lancar sekarang mama ada di ruangan no 13 oiya dimana Juna?"
Syah tidak menjawab pertanyaan papanya itu, melainkan Syah tidak sabaran menarik tangan papa keruangan rawat mama. papa yang melihat tingkah Syah yang menarik tangannya itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah putri nya itu.
" Mama masih belum sadarkan diri pa?" ucap Syah ketika melihat mama yang masih terlelap di banker rumah sakit itu.
" Mama sudah sadar sayang tadi dokter bilang mama harus istirahat, mungkin mama lagi tidur Syah kenapa balik lagi kesini? Syah udah makan?"
" Syah pengen liat kondisi mama pa, apakah boleh Syah bertanya sesuatu?" tanya Syah sambil menggenggam tangan papa
" Syah mau bertanya apa sayang?" sambil mengelus kepala Syah
" Kenapa Tante Clara bisa ada disini? dan bagaimana anaknya itu juga berada di kota ini?" tanya Syah penasaran.
" Maafin papa ya sayang, Tante Clara memang ikut kesini bareng sama mama, sekarang Juna itu suami Syah jaga sikap ya sayang" jelas papa sambil mencium puncuk kepala Syah.
" Apakah Juna memperlakukan Syah dengan baik?" tanya papa lagi.
" Andai saja papa tahu sikap asli Juna pasti papa tidak akan menjodohkan Syah dengan dia, belum sampai Syah sehari jadi istri dia, dia sudah mulai membentak Syah sesuka hatinya. tuhan kenapa engkau mengambil orang yang Syah sayang secepat itu, andaikan Rico masih ada pasti sekarang kami hidup bahagia" gumam Syah dalam hati sembari menyandarkan diri di sofa ruangan VIP itu.
" Kenapa melamun Syah?" tanya papa yang melihat putri nya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Syah nggak melamun pa, papa maukan nemanin Syah makan? Syah lapar hehehe" ucap Syah gelagapan sembari mengalihkan perhatian papa.
" Hehehehe, ada-ada aja sih anak papa ayok kita kekantin Syah. suster tolong jagain istri saya sebentar ya" ujar papa ketika seorang suster masuk dalam ruangan itu.
" Baik pak" jawab suster tersenyum ramah.
Sesampainya di kantin papa memesan makanan dan tak lama makanan yang dipesan telah dihidangkan dimeja yang diduduki Syah dan papa.
" Tadi Syah bilang lapar sekarang makanan didepan mata malah dianggurin kenapa Syah?coba jujur sama papa" tanya papa yang melihat ada perubahan pada Syah.
" Syah nggak kenapa-napa pa, Syah okey" sambil memasang senyum terpaksa.
" Apakah Syah menyesal menikah dengan Juna? papa tahu kalau Syah melakukan ini hanya untuk membuat mama senang kan?" ujar papa yang merasa kasihan dengan Syah.
" Hehehe, nggak kok pa Syah baik-baik aja, mungkin Syah belum terlalu dekat sama Juna toh keputusan ini juga Syah yang ngambil jadi Syah harus menjalani ini semua lagian nggak mungkinkan pa kalo Syah menunggu Rico datang secara ajaib dihadapan Syah"
" Uhukkk uhukkk" papa kaget mendengar ucapan Syah.
" Seandainya Rico muncul dihadapan Syah apakah Syah akan kembali padanya?" tanya papa penasaran.
Mendengar kata-kata itu papa merasa prihatin dengan Syah.
" Papa tahu hati Syah masih sepenuhnya untuk Rico tapi sekarang Juna itu suami Syah, papa berharap cobalah membuka hati untuk Juna ya sayang" papa mencoba menasehati Syah dengan sangat hati-hati.
" Insyaallah pa" ucap Syah singkat.
" Syah *tidak bisa menjanjikan bisa menerima Juna sepenuhnya pa*, *karena Syah sendiri ragu apakah pernikahan ini akan bertahan lama atau tidak, bagaimana bisa dua insan bisa bertahan dengan ikatan pernikahan tanpa perasaan itu hal yang mustahil pa*" gumam Syah
Selesai makan papa dan juga Syah kembali keruangan mama, ternyata Tante Clara sudah berada dalam ruangan itu Syah menghampiri mama kemudian memeluknya serta Salim dengan Tante Clara.
" Juna mana Syah?" tanya Tante Clara yang celingak-celinguk mencari keberadaan putranya itu.
" Mungkin ada urusan Tan, Syah juga nggak tau" ucap Syah biasa saja.
Tante Clara memaklumi ucapan Syah, karena dia sadar mungkin Syah maupun Juna masih memerlukan waktu agar mereka saling mengenal, setidaknya impian Tante Clara dan juga mama telah terwujud.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, syah merebahkan tubuhnya disofa tidak butuh waktu lama Syah terlelap begitu saja mungkin pikiran dan juga tubuhnya terlalu lelah dengan masalah yang ada.
Juna memasuki apartemen tetapi tidak ada seorangpun yang ada didalam sana, Juna memeriksa seluruh kamar dalam ruangan itu tetapi tetap saja tidak ada seorangpun.
" Nih bocah kemana lagi bikin gue pusing aja" geram Juna.
Tanpa berpikir panjang Juna pergi kerumah sakit. sesampainya disana Juna Salim dengan mertua dan juga mamanya, papa yang mengerti pikiran Juna kemudian menunjuk arah sofa yang menandakan Syah ada disana.
Juna berjalan mendekat, kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Syah. dia sibuk menatap layar ponsel yang dipegangnya sekali-kali melirik Syah entah apa yang ia pikirkan cuman dia yang tahu.
Ketika Juna mengotak Atik ponsel nya itu tiba-tiba handphone diatas meja berbunyi menandakan ada pesan yang masuk Juna melirik Syah yang masih terlelap kemudian mengambil handphone yang ada dihadapannya ketika layar ponsel Syah menyala terpampang lah walpaper utama foto Syah bersama laki-laki yang tampak sangat bahagia. foto memakai baju putih abu-abu dengan coretan warna warni mengendarai motor berwarna biru persis seperti yang ia lihat pas balapan waktu itu.
" W*ah...wah..wah... bahkan sampai sekarang Lo masih menyimpan foto cowok itu. pantesan Rendi tergila-gila sama Lo tapi kenapa cowok itu bisa meninggal*" gumam Juna yang makin penasaran dengan kisah percintaan Syah dimasa lalu.
*Bersambung*.....