Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Episode 40



Setelah Mia keluar dari ruangan Syah, beberapa menit kemudian Juna masuk dalam kamar tersebut.


" Pakai baju yang sudah ada Keyla, jangan ribet lagian baju itu baru jadi belum ada yang memakainya" sembari memberikan baju yang sempat dibawa Mia keluar.


" Lo nggak liat! baju ini biasa di pakai sama ibuk-ibuk! gw nggak nyaman" melemparkan baju itu lagi pada Juna.


" Jangan protes! lagian baju Mia itu pas-pas badan, gw nggak suka liat Lo pakai baju seperti itu"


" Isss pokoknya gw nggak mau!" sembari menyilangkan kedua tangannya.


" Gw nggak terima penolakan! Lo mau pakai sendiri? apa gw yang akan memakai nya untuk Lo" ancam Juna dengan ekspresi serius.


" Iss... dasar mesum, baiklah gw ganti sendiri, pergilah dari sini sekarang juga!" kesal Syah.



15 menit telah berlalu, Syah terpaksa memakai baju itu dan berlahan melangkah demi selangkah keluar dari kamar dan memperhatikan orang-orang sekitar.



Mata Syah tertuju pada dapur yang tidak jauh dari posisi nya sekarang, Syah melihat Mia dengan seorang wanita mungkin itu ibu nya Mia.



" Tante lagi ngapain? apa boleh Syah bantu?" Syah menawarkan diri untuk membantu orang tersebut.



" Tidak perlu nak Syah, Syah mending temani nenek disana sedikit lagi Tante juga selesai, lagian kaki kamu masih sakit maka perbanyak la istirahat tidak baik berdiri terlalu lama" jelas Tante dengan ramah.



" Benar tuh kak, lagian sebentar lagi tukang urut akan datang untuk memeriksa kaki kakak" tambah mia pada Syah.



" Tukang urut?" tanya Syah bingung karena selama ini ia tidak pernah tuh di urut.



" Tukang urut itu sama kek dokter kak" kekeh Mia yang memperhatikan raut wajah Syah yang bingung sehingga Mia tambah semangat mengerjai istri kak juna nya itu.



" Nak Syah mending istirahat, nanti juga bakalan tahu jangan dengerin Mia, bocah yang satu ini usil banget" sembari mencubit pinggang Mia.



Mia meringis karena cubitan ibunya itu lumayan menyakitkan baginya, bagi Syah keluarga ini sangat lah menyenangkan karena mereka saling membantu dalam menyiapkan makanan, sehingga kedekatan satu sama lain sangat erat.



Beda dengan keluarganya bahkan berbeda juga dengan keluarga sahabatnya, tapi Syah menyadari itu mama dan papanya serta keluarga sahabatnya itu bekerja keras demi anak-anak nya, karena persaingan dikota itu sangat berat.



Di satu sisi Syah beruntung mempunyai segalanya, walaupun waktu berkumpul dengan orang tua nya hanya sedikit.



" Syah sini duduk disamping nenek" menepuk-nepuk sofa diruang tengah sembari menonton telivisi.


Syah menghampiri nenek kemudian duduk disebelahnya.


" Nek? dimana Juna?" tanya Syah karena dari tadi ia tidak melihat nya sama sekali setelah keluar dari kamar.


" Mungkin Ajun lagi keliling kampung, anak itu memang suka keliling-keliling kalau sudah sampai dikampung" sambung nenek sembari mengelus kepala Syah.


" Dengan siapa? dan sama apa nek? Syah melihat mobil Juna yang masih terparkir disana" sembari menunjuk halaman rumah.


" Mungkin Ajun mengendarai motor tua punya kakek" Sambung nenek


Nenek membelai rambut Syah sehingga Syah tertidur disofa yang ia duduki tepatnya di pangkuan nenek. Syah merasa nyaman dengan orang yang ada dirumah ini sehingga ia dengan mudah akrab dengan seisi rumah itu.



" Hello nenek ajun yang paling cantik, ini buat nenek" sembari memberikan beberapa makanan ringan yang ia beli di minimarket yang tidak jauh dari kampung itu.



" Itsss jangan berisik, istri mu sedang tidur" sembari menunjuk Syah yang sedang tertidur pulas di paha nya.



" Dasar bocah, ditinggal dikit malah ketiduran"



" Jangan bicara seperti itu, mungkin dia sangat lelah" bela sang nenek.



"Cucumu itu Ajun nek, bukan Keyla" cemberut Juna.



Nenek tertawa mendengar kecemburuan dari sang cucunya itu.



" Owh iya, bagaimana dengan si mbok? apa jadi dia kemari untuk mengurut istrimu?"



" Jadi nek, mungkin agak sore beliau akan datang" ujar Juna. " Apakah boleh Juna membangunkan syah" tanya Juna sedikit ragu.




" Keyla! bangun" sembari menepuk-nepuk pipi Syah pelan.



Namun seperti nya itu tidak berhasil untuk membangunkan istri kecilnya itu.



" Bentar nek, Juna cari cara lain bikin Keyla segera bangun"



Juna bergegas kedapur sembari membawa segelas air ditangannya.



" etsss... mau ngapain dengan air itu" nenek bingung dengan tingkah cucunya itu.



" Ini cara ampuh untuk membangun kan Keyla nek" sembari tersenyum licik.



Juna mulai memercikkan air tersebut kewajah syah, Syah yang merasakan wajahnya basah sesekali mulai mengerjapkan matanya berlahan.



" Astaga Juna!!!!" kesal Syah yang melihat juna dihadapannya sembari memegang gelas berisi air ditangannya.



Syah segera bangkit ingin sekali ia memaki Juna saat itu juga, tapi diurungkannya karena Syah sadar posisinya saat ini apalagi ada nenek disini.



" Ikut aku!" pintah Juna



" Kemana? kaki gw masih sakit"



" Yaudah biar gue bantu deh" sembari memapah Syah dengan hati-hati.



Juna mendudukkan Syah di kursi panjang yang beralaskan kayu di bawah pohon mangga yang berada disamping rumah tersebut.



" Gimana?" tanya Juna



" Apanya?"



" Maksud gw gimana disini? nyamankan?" sambung Juna memperhatikan suasana dihadapan nya.



" Hmmm, lumayan" sembari menarik nafas lalu membuangnya berlahan.



" Keyla! gw harap jika sedang dihadapan keluarga gw maupun keluarga Lo, jaga sikap ya. oh ya satu lagi Lo panggil gw dengan sebutan sayang atau suamiku misalnya"



" Iss lebay tau nggak! gw akan manggil Lo kakak jika itu dihadapan orang tua kita" sambung Syah tanpa menoleh pada Juna.



" Hmmm.. terserah"



Pukul 4 sore mbok tukang urut datang kerumah nenek Juna, untuk memeriksa kaki syah, ternyata kaki Syah sedikit terkilir sehingga si mbok dengan dengan hati-hati membenarkan urat kaki Syah, setengah jam telah berlalu akhirnya semuanya beres. mbok inam segera pulang.


" Heheh,, ekspresi Lo lucu tau nggak" kekeh Juna disamping Syah.


" Pokoknya besok-besok gw nggak mau lagi di urut, apapun itu. Lo kira enak apa! sakit tau!" memukul-mukul Juna dengan bantal.


" Itu namanya pengobatan tradisional, coba sekarang berdiri" pintah Juna


" Nggak mau! kaki gw rasa nya mau patah! itu semua gara-gara Lo" kesal Syah sembari menatap Juna.


Juna segera berdiri dan memegang bahu Syah agar ia segera bangkit dan mencoba untuk berjalan. Syah berusaha berjalan dengan memegang tangan Juna.


Selangkah dua langkah, Syah merasa kakinya sudah agak lumayan jika dibandingkan dengan sebelumnya. ternyata mbok inam berhasil mengobati kakinya.


Syah kegirangan tanpa menyadari ia melompat-lompat kegirangan.


" Aw...Aw...aw... sakit sakit" kembali duduk dan memegang kaki nya.


" Makanya jangan kayak bocah! kaki lo belum sepenuhnya pulih, liatkan akibatnya besok mbok inam akan kembali untuk memeriksa nya lagi" kesal Juna melihat tingkah Syah yang menyebalkan.


Bersambung.....