
Tanpa ambil pusing dengan ucapan Juna yang tentunya hal mustahil bisa mindahin Syah kowas ketempat yang lain. Syah memutuskan untuk istirahat karena besok merupakan hari pertama bagi timnya untuk libur setelah beberapa hari mengikuti pelatihan yang lumayan menguras tenaga.
Pagi hari...
" Syahhhh bangun!!!! ikut jogging nggak?" ucap Mia sembari menyibakkan selimut dari tubuh Syah.
bukan nya Syah terbangun malah ia menarik selimut lagi tanpa menghiraukan Mia yang berisik menganggu tidurnya.
" Syah bangun dong! anak-anak udah pada nunggu tuh diluar" mengoncang-goncang tubuh Syah.
" Hemmm... ganggu tau Mia, gw malas kemana-mana" ucap Syah setengah sadar.
" Ayok la Syah! kita libur nya cuman hari ini loh, jangan buang-buang kesempatan" menarik tangan Syah.
" Hmmm... iya-iya aku bangun ni" berdiri sembari sempoyongan.
Mia tertawa kecil melihat tingkah Syah yang berjalan menuju kamar mandi seperti orang mabuk, sekali-kali ia terhenti lalu berjalan lagi.
Mia dan dua orang teman cewek lainnya saling mensuport satu sama lain, walaupun mereka tidak sering berinteraksi sebelum nya, tetapi dengan adanya kegiatan kowas ini mereka bisa mengenal satu sama lain.
Walaupun Syah jauh dari kedua sahabatnya, dengan adanya teman baru Syah membuat hari-hari tampak ceria, walaupun tentunya tidak sama persi jika dengansahabat-sahabat nya.
Mengingat dua hari yang lalu ketika Syah vidcall dengan sahabatnya itu Naura dan Akilla kelihatan semangat dengan kegiatan yang ia lakukan disana, mereka bercerita tentang banyak hal, dan yang membuat Syah pengin sekali nyusul sahabatnya itu ketika Naura memamerkan foto nya disalah satu tempat wisata yang ada di Sumatra barat tersebut.
Naura juga menceritakan hari pertama mereka sampai di Sumatra Barat mereka disambut dengan baik oleh pimpinan bandara, mereka di ajak melihat-lihat wisata terdekat dan mengenalkan anggota tim Naura dan Akilla menyicicipi berbagai macam makanan khas Sumatera Barat tersebut.
" Betapa beruntungnya kalian disana bestie" itulah kata-kata yang keluar spontan dari mulut Syah sebelum mereka mengakhiri panggilan.
" Mia! kalo gw pakai baju ini gimana? cocok nggak? ngak kebesaran di badan gw kan?" ucap Syah sembari mengenakan baju kaos berwarna hitam tersebut.
" Bagus kok Syah, serasi sama celana yang Lo pakai"
" Oke deh, yokk pergi" ucap Syah semangat.
" Yaelah tadi aja susah bangun nya sekarang happy gitu" sindir Mia pada Syah.
" Biarin wlekkk" cibir Syah yang ditanggapi tawa oleh Mia.
" Gimana? udah pada siap kan? ayok jalan" ucap Rifki ketua tim
" Ayokk" mereka pun berlari-lari kecil.
Dipertengahan mereka sudah mulai kecapean dan akhirnya berhenti dipinggir jalan.
"Kalian Mau minum nggak?" tawar Rifki pada yang lainnya.
" Mau bos" ucap salah satu rekan cowok tim nya.
" Oke, yang cewek mau minum nggak? atau mau beli makanan ringan gitu?"
" Kita ngikut aja" sahut Mia.
Kemudian Rifki menuju salah satu warung yang agak lumayan jauh dari posisi mereka.
" Syah!" panggil seseorang dibelakang Syah.
Mendengar namanya disebut syahpun menoleh ke sumber suara.
" Wahhh ini kebetulan apa gimna ni?" tanya Syah yang tidak percaya dengan apa yang ia liat.
" Astaga Syah, ini benaran Lo ternyata" mengacak-acak rambut Syah sembari tertawa.
" Isss... liat ni gara-gara Lo rambut gw berantakan" kesal Syah pada laki-laki itu.
" Yaelah maaf, betewe kenapa Lo sampai sini?" ucap orang itu yang tidak lain adalah Riki.
" Gw kowas di bandara internasional Sultan Iskandar muda, oiya kenalin ini rekan-rekan gw utusan dari kampus" ucap Syah sembari memperkenalkan teman-teman nya.
Kemudian Riki mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan teman-teman Syah.
" Siapa Syah, ganteng juga" bisik salah satu teman cewek Syah.
" Naura sama Kutilang mana Syah?" celingak-celinguk memperhatikan sekeliling nya.
" Enggak. Naura sama Akila ditempatkan di provinsi Sumatra Barat, jadi gw disini ya sama mereka" ujar Syah.
" Owh baguslah"
" Maksudnya?" tanya Syah heran.
" Ya bagus aja, berarti gw bisa hemat tenaga untuk menghadapi kutilang" kekeh Riki.
" Isss... Riki!!!! kutilang-kutilang kepala lu peang, gimanapun Akilla itu sahabat gw, gw nggak suka Lo manggil kek gitu lagi" kesal Syah sembari menepuk lengan Syah.
" Hehehe... sorry sorry, gw nggak bisa janji ya Syah, kalo ketemu sama Akilla itu nggak lengkap rasanya kalo nggak adu bacot" kekeh Riki.
" Terserah Lo deh"
" Nih minum" menyodorkan sebotol mineral pada Syah.
" Makasih" mengambil minuman tersebut.
" Kok nggak Lo minum?" Riki tampak heran ketika Syah hanya memain-mainkan botol minuman tersebut.
" Nunggu minuman yg lain datang dulu baru gw minum, nggak enak tau minum sendiri" jelas Syah.
Akhirnya Rifki datang membawa kantong kresek ditangannya lalu memberikan minuman itu pada rekan timnya.
" Oiya Riki kenalin ini Rifki ketua tim kita"
" Salam kenal bro, gw Rifki " mengulurkan tangannya kemudian langsung disambut oleh Riki.
Riki serta anak cowok lainnya berbincang sembari tertawa, begitulah cowok tidak perlu waktu yang banyak untuk akrab.
" Gw perhatiin Lo kayaknya dekat sama Syah, apa kalian memiliki hubungan spesial?" tanya Rifki pada Riki.
" Hmmm... kita cuman teman seperti pada umumnya bro, karena gw sadar seandainya gw menaruh harapan pada Syah itu hanya hal yang sia-sia" terus terang Riki.
" Sia-sia maksudnya bro? tapi gw liat Lo kayaknya care banget sama Syah, nggak mungkin kan kalo cowok perhatian berlebihan dia tidak memiliki perasaan sama tuh cewek" sambung Rifki.
" Dulu gw pernah mengutarakan perasaan gw sama Syah bro"
" Terus ditolak?" tanya Rifki antusias.
" Bisa dibilang gitu bro, semenjak kekasih Syah meninggal ketika acara perpisahan SMA waktu itu, Syah selalu menyalahkan dirinya, sehingga ia menutup perasaan nya pada orang baru"
" Kok bisa bro? pantesan gw perhatiin Syah tidak terlalu merespon team cowok, jujur ya bro gw pertama liat Syah ada sesuatu yang berada dari dalam diri gw, kayaknya gw suka sama dia" terus terang Rifki.
" Hmmm... gw pesan satu hal sama Lo bro, kalo seandainya Lo benar-benar tulus sama Syah, Lo coba deh deketin dia. gw dukung kok kayaknya Lo memang orang baik" jelas Riki.
" Benar nih bro? Lo dukung gw? tapi perasaan Lo gimana bro?" tanya Rifki lagi.
" Gw sama Syah hanya sebatas teman, dan gw yakin Syah menganggap gw juga seperti itu, gw hanya ingin melihat Syah bahagia, apalagi sekarang gw nggak bisa nemanin dia lagi" jelas Riki.
" Oke bro, mudah-mudahan Syah bisa luluh sama gw" ucap Rifki dengan keyakinan yang mantap.
" Gw percaya sama Lo bro, pokoknya Lo nggak boleh nyakitin hati Syah" menepuk-nepuk pundak Rifki.
***Bersambung***.....