
Setelah wanita itu memberikan bukti berupa foto dan akte kelahiran syahloni kecil, baru sepenuhnya Riki percaya dan menyerahkan syahloni kecil pada orang tuanya.
" Maaf telah meragukan mu" ujar Riki rasa bersalah karena sebelum nya dia merasa curiga terhadap mama syahloni kecil.
" Tidak masalah, justru saya berterima kasih karena kalian telah menjaga putri saya. saya tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada anak saya sekali lagi saya mintak terimakasih sebanyak banyaknya" sambil memeluk syahloni kecil dengan erat.
Syah yang memperhatikan itu membuatnya merasa terharu dan juga sedih di satu sisi syahloni kecil sudah bertemu dengan mommy nya di sisi lain Syah merasa sedih jika Syahloni kecil pergi, entah mengapa ia merasa sayang pada syahloni kecil walaupun pertemuan nya hanya sebentar.
" Boleh aku memintak nomor ponsel mu?" sambung Syah dan berharap mommy syahloni kecil memberikan no ponselnya.
" Ya tentu saja boleh" sembari meraih ponsel yang disodorkan kan Syah tadi kemudian mengetik no hpnya di sana. " Kenalin nama ku Nia Diana buana" sembari mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati Syah juga memperkenalkan dirinya. kemudian Riki juga menerima sambutan tangan dari Nia.
" Nama mu bagus sekali, bahkan sama persis dengan anak ku syahloni Keyla buana" sembari tersenyum manis pada Syah.
" Jadi kau berasal dari keluarga buana?" tanya Riki yang dijawab dengan anggukan Nia.
Riki sedikit mendengar tentang keluarga buana mereka itu orang yang berkuasa dikota ini.
" Rik Lo kenapa diam?" tanya Syah sembari menepuk pundak Riki.
" A-apa?" tanya Riki kelabakan.
" Lupakan" ujar Syah kesal.
" Mau kah kau berteman dengan ku?" ucap Syah.
" Ya tentu saja boleh, aku sangat senang jika kau mau berteman dengan ku " sambung Nia.
Dert.....dert....
Suara ponsel Nia dengan segera ia menerima panggilan tersebut.
" Maaf sebelumnya, saya harus pulang karena suami saya menelepon" sambungnya.
" Baiklah" sahut Syah dan Riki.
Setelah punggung Nia tidak terlihat lagi Riki dan Syah kembali duduk.
" Pasti tanggung jawab yang dipikul nya sangat berat, sepertinya umur dia dan kita sama, apakah Lo sepemikiran sama gue Rik?" tanya Syah.
" Seperti nya umur dia memang sama dengan kita, tapi kalo Lo berpikiran tanggung jawab yang ia pikul berat? gue rasa Lo salah besar Syah, apakah Lo tidak tahu keluarga buana itu orang terpandang dan berkuasa di kota ini"
" Lo serius? tapi yang jadi gue kepikiran itu mengapa ia memutuskan mempunyai anak di usia muda! jika dia benar-benar berasal dari keluarga berada pasti orang tuanya akan mempertimbangkan hal tersebut" sambung Syah.
" Lah mana gue tahu, kan gue bukan orang tuanya, kalo Lo pengen tahu informasi yang lebih lengkap sebaiknya Lo tanya sama orang yang bersangkutan" ucap Riki dengan santai.
" Yaelah, nggak mungkin juga gue tanya sama dia langsung dasar koplak " kesal Syah sembari menarik rambut Riki.
" Aw.... aw.... sakit syah" sembari menarik tangan Syah dari rambutnya.
" Biarin, Lo sih gue serius Lo malah becanda" sambung Syah kemudian melepaskan tangannya dari rambut riki.
" Iya... iya... gue mintak maaf, tapi Lo juga sih ngapain kepo sama kehidupan orang lain, lagi pula menikah muda atau tua bukan kah sama saja? lagian anak nya juga lucu" sambung Riki masih mengelus-elus kepala nya karena tarikan dari Syah walaupun sebenarnya tarikan Syah tidak lah benar-benar sesakit itu.
" Tau ah, gue laper mana makanan tadi?"
Riki memberikan makanan tersebut pada Syah, tanpa basa basi lagi Syah makan dengan lahapnya.
" Gue yang bawa malah nggak dikasih sedikit pun" gumam Riki sembari memperhatikan Syah.
" Setiap barang yang dikasih berarti itu bukan hak Lo lagi" sambung Syah sembari mengunyah makanan tersebut.
" Tidak baik bicara sambil makan, liat tuh mulut Lo penuh kek gitu, pipi kembang-kembang kek bakpau" kekeh Riki.
" Riki!!!!!!!" kesal Syah sembari menatap Riki tajam. kemudian melahap kembali makanan tersebut.
" Buk...huk.. Rik air" ucap Syah karena ia merasa tersedak.
Riki segera menyodorkan air tersebut sembari menepuk-nepuk pundak Syah pelan.
" Apa gue bilang, Lo sih nggak dengerin gue makanya kesedak kan. gimana udah baikan belom?" sembari memperhatikan Syah.
" Udah" ujar Syah sembari mengambil nafas dalam dan mengeluarkan nya.
Juna, Rendi, Akilla, dan Naura telah sampai di taman hijau tersebut, setelah melihat orang yang dicarinya kemudian menghampiri Syah dan Riki berada.
" Mata Lo kenapa merah Syah?" tanya Naura.
" Nggak kenapa-napa gue hanya kesedak" jawab Syah.
" Sekarang udah nggak apa-apa kak, kalian tenang aja" sambung nya.
Juna yang berdiri di samping akila hanya memperhatikan Syah sekilas, ia tahu jika bertanya pun Syah juga tidak akan menjawab nya.
" Apa Lo liat-liat! dasar biawak kucrut"
" Siapa juga yang liat Lo! jangan kepedean deh Lo dasar kutilang!" balas Riki
" Hmm... kambuh lagi penyakit kalian berdua" sahut Naura jika Riki dan Akilla bertemu pasti ada saja hal sepele yang akan membuat mereka bertengkar.
" Btw mana anak yang kalian maksud tadi?" sambung Naura yang celingak-celinguk mencari keberadaan anak kecil yang ia lihat dari layar ponsel tadi.
" Owh itu, anak tadi sudah bertemu sama mommy nya" ucap Riki santai
" Padahal gue udah sayang sama tuh anak, bahkan gue membayangkan anak tadi tuh sebagai gambaran keluarga kecil gw dengan Syah" sambung nya.
" Huk... Huk" entah mengapa ucapan Riki membuat Juna sampai terbatuk karena kaget.
Riki sengaja berbicara seperti itu hanya ingin melihat bagaimana reaksi teman-teman nya itu. bagi Riki itu cuman becanda tanpa Riki sadari ucapan nya tersebut memancing Rendi dan Juna.
" Lo kenapa bro?" tanya Rendi
" Nggak kenapa-napa" ucap Juna singkat.
" Jangan mimpi deh, Syah nggak akan mau sama Lo" sambung Akilla.
" Kok Lo yang sewot, Syah diam aja nggak sewot sama sekali dasar kutilang "
Syah tahu kalo yang di ucapkan Riki itu hanya becanda. lagian kalo berdebat sama Riki juga percuma.
" Kenapa dia santai aja? apa benar dia menyukai Riki" gumam Juna dalam hati.
" Kak Rendi kenapa memperhatikan Riki seperti ingin memangsa?" ucap Naura yang menyadari dari tadi Rendi menatap ke arah Riki seperti orang tidak suka.
" Nggak apa-apa" ujar Rendi kemudian memalingkan arah.
" Kalian pasti menganggap ucapan Riki tadi serius ya, Riki orang nya memang seperti itu dia memang suka becanda" bela Naura.
" Heheheh, cuman Naura yang paham" kekeh Riki.
" Mau ucapan Lo serius atau enggak bodoh amat, lagian dulu Lo juga pernah suka sama Syah tapi Syah lebih memilih Riko, wlekkk" ledek Akilla.
" Ada suara tapi nggak ada orang" ucap Riki sinis.
**Bersambung**....