
Karena rasa kantuk yang melanda, Syah pun tertidur dimeja makan. selesai Juna menyantap makanan nya ia tidak tega untuk membangun kan Syah dan ia memutuskan untuk mengendong Syah menuju kamar.
Juna membaringkan tubuh Syah di atas ranjang, serta menyelimutinya.Ketika Juna hendak tidur ada seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
Juna bangun dan melihat siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini.
ceklek.... pintu kamarpun terbuka.
" Maaf Capten malam-malam begini saya mengganggu waktu istirahat Capten" ucap Arya asisten pribadi Juna.
Juna tidak ingin Syah terbangun, iapun memutuskan mengajak Arya keruang kerja yang ada didalam vila itu.
Clara villa nama yang diperuntukkan untuk villa itu. villa yang dibangun dari jerih payah Juna dan dari hasil kerja keras yang ia usahakan, villa itu hadiah pertama yang diberikan kepada mama tercinta sebagai bukti pencapaian yang telah Juna raih.
Walaupun villa itu diperuntukkan untuk mama Clara, namun mama Clara sepenuhnya memberikan tanggung jawab kepada Juna untuk menjaga villa itu, setidaknya Juna memperkerjakan sepuluh orang pegawai disana dan dibagi menjadi dua sift agar mereka tidak kewalahan.
Sesampainya diruang kerja.
" Ada apa Arya? kenapa kamu datang malam-malam begini?" tanya Juna sembari duduk dikursi kerjanya.
" Maaf Capten, saya datang kesini mau mengabari bahwa besok sekitar jam delapan kita harus pergi ke luar kota untuk memeriksa perusahaan X" tutur Arya.
" Apa terjadi masalah akhir-akhir ini?" tanya Juna karena berapa bulan belakangan ini ia sibuk melakukan penerbangan kesana kemari apalagi ditambah dengan projek barunya memikat hati istri nya sendiri, sehingga Juna tidak bisa secara keseluruhan mengontrol perusahaan papanya serta usaha yang ia bangun diberbagai kota dan luar kota.
" Maaf capten Saya dapat kabar bahwa renovasi perusahaan X terjadi musibah, rekan proyek yang menghendel proyek itu mengalami luka-luka dan dilarikan kerumah sakit" jelas Arya.
" What!!!! kok bisa? terus keadaan mereka gimana sekarang?" ucap Juna tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan musibah yang menimpah pekerjanya.
" Alhamdulillah mereka sekarang sudah mulai membaik Capten, cuman keluarga mereka menuntut perusahaan kita" jelas Arya.
" Hmmm.... Apakah kamu sudah memerintahkan orang untuk menyelidiki kasus ini? saya curiga kalo ada orang yang menyabutase kejadian tersebut"
" Saya sudah mengutus agen untuk menyelesaikan masalah tersebut Capten mereka masih butuh waktu untuk menyelidiki semuanya"
" Hm... baiklah besok kita akan berangkat kesana untuk melihat keadaan perusahaan serta meminta maaf kepada keluarga korban agar tidak memperpanjang masalah ini"
" Baiklah Capten, saya akan mempersiapkan berkas yang akan dibawa nanti" Arya pamit dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Juna.
Jam telah menunjukkan pukul lima pagi, Juna bangun lalu menuju kamar mandi selesai itu ia membangunkan Syah untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Mereka sholat secara berjamaah, selesai mengucapkan salam Juna mengulurkan tangannya pada Syah. dengan segera Syah mencium tangan Juna kemudian Juna mencium kening Syah.
" Key! kamu mandi gih jam 6 saya akan mengantarkan kamu ke penginapan agar bisa gabung sama tim kowas" ucap Juna pada Syah
" Lah... kok mendadak banget, lagian kamu udah mintak izinkan sama kepala bandara kemaren malam?" tanya Syah heran.
" Hmmm... tapi barusan kepala bandara mengabari saya kalo hari ini mereka akan melakukan penilaian kinerja rekan kowas, emang nya kamu mau mendapat nilai praktik yang jelek?" ucap Juna berbohong dengan alasan yang ia berikan.
" Hmmm... Baiklah kalo gitu aku siap-siap dulu" Syah menuju kamar mandi.
Juna menghentikan mobilnya tepat dihalaman rumah tempat syah dan timnya kowas.
" Aku pamit ya" hendak membuka pintu mobil namun ditahan oleh Juna.
" Ada apa?" tanya Syah.
" Mungkin dalam berapa hari ini aku tidak bisa menemui kamu"
" Kenapa?"
" Okay" jawab Syah singkat.
Respon yang diberikan membuat Juna kesal terhadap Syah, ia menahan tangan Syah agar tidak membuka pintu mobil itu.
" Ihh... aku mau siap-siap nih nanti telat kamu ngapain sih nahan aku kek gini! kemaren seenaknya mintak aku izin tapi tadi pagi disuruh lagi mengikuti kegiatan sebenarnya mau kamu apa sih Juna?" balas Syah mulai kesal.
" Jaga diri baik-baik ya, jangan suka keluyuran satu lagi jangan terlalu dekat sama teman kamu itu! siapa sih namanya" sembari mencoba mengingat.
" Riki? lagian Riki itu teman aku sama seperti Naura dan Akilla, kamu cemburu?" tanya Syah.
" Iya aku cemburu, kamu itu milik aku Keyla sekarang nanti dan selamanya" balas Juna mantap.
" Aku enggak tuh" jawab Syah dengan entengnya.
" Jangan main-main key, aku nggak lagi becanda aku serius" menatap Syah dengan tajam.
" Heheh... iya-iya aku cuma becanda, yaudah ya aku keluar dulu"
" Bentar dong key" menahan tangan Syah.
" Hmmm..." menatap Juna.
" Tutup mata sekarang!" pintah Juna.
" Ngapain?"
" ikuti aja, jangan membantah"
" Hmmm" Syah pun menuruti.
Juna mengeluarkan sebuah kalung lalu menyematkan kalung itu dileher Syah. kalung yang berwarna silver berliontin berbentuk hati.
" Udah?" tanya Syah lalu membuka matanya.
" Bagus nggak?" tanya Juna antusias.
" Ini buat aku? dalam rangka apa?" memegang kalung yang ada dileher nya itu sembari melihat liontin tersebut dari pantulan kaca.
" Ini sudah lama aku persiapkan sebelum aku menikah dulu, dan sekarang kalung ini telah menemui tuannya yaitu kamu istri ku" mengecup kening Syah.
" Makasih Juna aku suka kalung nya bagus" memeluk Juna.
" Syukurlah kalo kamu menyukai nya" melepaskan pelukannya.
" Hmm... karena aku sudah memberi mu hadiah apakah kamu tidak mau membalas nya?" goda Juna.
" membalas maksudnya? jadi kamu nggak ikhlas memberi kan kalung ini pada ku?" cemberut.
Tanpa aba-aba Juna mencium bibir Syah. Syah terpaku diam dan tidak membalas nya dan tidak juga menolaknya.
" Aku ikhlas kok sayang, makasih kamu sudah mulai menerima ku secara berlahan aku sayang kamu" memeluk Syah.
" A-aku, ya-yaudah aku pamit" ucap Syah gelagapan sembari jarinya menyentuh bibirnya sendiri.
Juna tersenyum melihat Syah yang mulai salah tingkah. Syah keluar dari mobil tersebut sembari memikirkan apa yang terjadi barusan itu benar-benar nyata? ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Juna pun segera melajukan mobilnya.
" Astaga jantung gw kenapa yak? kenapa berdetak begitu kencang" memegang dadanya.
" Ehh Syah Lo kenapa baru balik?" tanya Mia yang sedang sibuk mempersiapkan peralatan yang akan dibawah nya nanti.
" g-gw barusan, gw" jawab Syah bingung.
" Aku tau Syah lo barusan pulang sama sepupu loe kan? kepala bandara memberi kabar pada kami kalo lo dijemput sepupu lo untuk ikut acara keluarga kan? makanya kemaren malam Lo nggak pamit sama kita" ujar Mia yang dijawab anggukan langsung oleh Syah.
Toh percuma juga kan, kalo Syah menjelaskan pada mereka kalo sepupu yang mereka bilang itu sebenarnya suami Syah.
Bersambung......