Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Episode 39



" Apa ada yang sakit lagi?" tanya Juna


" Nggak ada"


" Kalo gitu sekarang kita pulang" sembari meraih tangan Syah.


" Telapak tangan Lo gores, gw obatin dulu" ketika menyadari tangan Syah terdapat luka.


" Nggak usah, ini cuman gores dikit" menarik tangannya.


" Jangan bandel, nanti inveksi gimana? udahlah badan kecil, tapi keras kepala" menarik paksa tangan Syah.


" Isss bapak singa! gue nggak kecil Lo aja yang ketuan" kesal Syah sembari manyun tak terima jika Juna menganggap nya kecil.


" Ingat umur Gw masih 24 itu masih muda, kalo Lo itu masih bocah masa di umur 19 tahun udah mau masuk semester 6 sebenarnya umur segitu masih SMA" ledek juna memancing Syah.


" Biarin, berarti gw pintar" ucap Syah dengan bangga.


Selesai membersihkan luka Syah, Juna memapah Syah bangkit dan segera menuju mobil yang ia parkirkan tidak jauh dari posisi mereka berada.


" Kuat nggak?" tanya Juna yang memperhatikan Syah meringis.


" Hmmm" jawab Syah.


Selangkah demi selangkah akhirnya mereka sampai didekat mobil. Juna membuka pintu, kemudian Syah berlahan menduduki kursi.


Juna melajukan mobilnya, memperhatikan jalanan yang ia lalui.


Syah yang menyadari kalo jalan yang ditempuh Juna bukanlah jalan ke rumah mereka.


" Mau kemana?" tanya nya.


" Diam jangan banyak bicara, nanti juga bakalan tahu" sembari fokus menyetir.


" Nyebelin" sembari menyilangkan kedua tangannya.


Walaupun Syah tidak bisa diam, dan mempertanyakan banyak hal, Juna tidak mengubrisnya. sehingga Syah bertambah kesal dengan raut muka yang masam.


2 jam telah berlalu, Syah semakin penasaran sebenarnya kemana bapak singa akan membawa dirinya, bahkan jalan ini tidak pernah ia temui sebelumnya.


" Juna! kita kemana sebenarnya? jalan ini sangat asing" sembari menatap Juna tajam.


" Mau ke Kampung" ujar Juna santai.


" Kampung? ngapain? gw nggak mau kesana!" bentak Syah.


" Diam lah Keyla" sembari fokus pada jalan yang berkerikil.


Setelah melalui jalan yang lumayan menantang, akhirnya mereka sampai di rumah yang agak lumayan besar dengan halaman yang begitu luas. Disamping sisi kanan dan kiri rumah terdapat hamparan sawah yang menghijau.



" Turun!" pintah nya.


" Nggak mau! ngapain kita kesini?"


" Yaudah kalo nggak mau, gue tinggal" ucap Juna santai dan segera melangkah mendekati seorang nenek-nenek yang sedang duduk dikursi panjang tepatnya di bawah pohon mangga yang rindang.


Syah memperhatikan Juna yang begitu akrab dengan nenek tersebut, banyak pertanyaan yang timbul dalam pikiran syah, siapa sebenarnya Juna.


Syah yang memperhatikan Juna dari dalam mobil, seperti nya Juna memang tidak akan menjemputnya. dengan kekesalan Syah turun secara berlahan dan mencoba berjalan dengan hati-hati.


" Apakah dia istri mu Ajun?" tanya nenek itu.


Juna menjawab dengan anggukan.


Nenek yang ditemui Juna yaitu orang tua dari papa nya, sebenarnya mama Clara sudah mencoba membujuk mertuanya itu agar tinggal bersama mereka di kota, tetapi nenek tidak mau meninggalkan desa nya, beliau berkata terlalu banyak kenangan disini bersama suaminya.


Sehingga Mama Clara tidak bisa membujuk beliau untuk tinggal bersama mereka. Apalagi semenjak anak lelakinya yaitu papa juna meninggal dunia semenjak itu juga nenek memutuskan untuk tinggal dikampung halamannya.


Sesekali Juna dan mama Clara mampir untuk menginap di rumah ini.


" Wah ternyata pilihan mama mu sangat cantik Jun, jaga dia baik-baik" sembari meraih tangan Syah.


" Makasih nek" ucap Syah malu karena ia telah dipuji.


" Kenapa dengan kaki mu nak?" tanya nenek ketika melihat lutut Syah di plaster.


" Oh ini, tadi cuman jatuh nek makanya kegores dikit"


" Owh begitu, Ajun bawa istri mu masuk" pintah nenek sembari berjalan memasuki rumahnya.


Syah mengekor nenek dari belakang dengan langkah yang kecil karena kakinya masih nyut-nyutan. Juna yang memperhatikan itu tanpa bertanya langsung menggendong Syah.


" Lepas nggak!" geram Syah


" Diam lah!" sembari menatap mata Syah.



" Sepertinya Istrimu sangat lelah Jun, langsung bawa ke kamar aja biar istrimu istirahat sebentar" pintah nenek.



" Baik nek" masih menggendong Syah menuju kamar paling ujung.




Syah memperhatikan sekelilingnya.



" Kenapa?" Juna yang menyadari sepertinya Syah tidak terlalu nyaman dengan ruangan tersebut.



" Nggak ada kamar yang lain? " tanya Syah ragu-ragu.



" Tidak ada! disini cuman ada 4 kamar, kamar yang ke 2-3 dipakai sama Tante saya dan anaknya, kamar 4 dipakai nenek" jelas Juna.



" Owh, ngapain kita kemari?" karena Syah masih tampak bingung apa alasan Juna mengajak nya kesini.



" Kaki lo masih sakit, makanya gw ajak kesini"



" Hubungan kerumah nenek sama kaki gw yang sakit apa?" tanyanya lagi.



" Mau ber urut, biar kaki lo cepat pulih dan bisa berjalan seperti biasa"



" ber urut?" tanya Syah tidak paham.



" Jangan banyak tanya, nanti Lo juga bakalan tahu"



" Tapi juna\_\_\_" belum sempat Syah menyampaikan apa yang ingin ia katakan Juna malah keluar dari kamar.



" Dasar bapak singa nggak sopan!" kesal syah karena ia merasa di cuekin.



Setelah beberapa menit anak Tante Juna masuk kedalam kamar Syah sembari membawa baju ditangan nya.


" Hy kak? " sapanya ramah.


" Hy" jawab Syah sembari tersenyum manis.


" Kakak sungguh cantik, pasti kak Ajun sangat beruntung bisa menikahi kakak" pujinya.


Syah tersenyum mendengar apa yang telah di sampaikan gadis tersebut. kira-kira umur antara Syah dan juga gadis itu beda 2 tahun.


" Kenalin kak, aku Mia" sembari mengulurkan tangannya.


" Aku Syah" meraih tangan Mia.


" Betewe Mia kelas berapa?" tanya Syah antusias.


" Mia masih SMA kak tepatnya kelas 2, kalo kakak sendiri? Mia perhatikan kakak jauh lebih muda dari pada kak Ajun"


" Umur kakak 19 tahun." sembari tersenyum.


" Wawww... Pantesan wajah kakak masih imut" goda Mia.


" Udah ih Mia, nanti kakak terbang loh dipuji Mulu" ucap Syah malu-malu.


" Tapi itu fakta loh kak, ini pakaian ganti kak" sembari memberikan baju pada Syah.


Syah mengernyitkan dahinya setelah memperhatikan baju yang ada ditangannya.


" Apa tidak ada baju ganti yang lain?" tanya Syah sungkan.


" Kenapa kak? apa bajunya tidak bagus?" tanya Mia.


" Ba-bagus kok Mia, Mia keluar dulu ya biar kakak ganti dulu" Syah sungkan untuk berkata kalo baju yang diberikan oleh Mia itu tidak sesuai dengan tipenya. Bukan Syah terlalu memilih tetapi baju ditangan nya itu daster dan itu yang membuat Syah tidak nyaman.


Ketika Mia hendak keluar dari kamar itu Syah bertanya sekali lagi.


" Apakah boleh kakak memakai pakaian mu? nanti kalo kakak balik lagi kesini kakak akan belikan baju yang banyak untuk Mia" ucap Syah malu jika ia benar-benar memakai daster Tersebut.


Bersambung....