
papa mengajak Syah duduk disamping pria yang sebentar lagi akan menjadi suami nya itu. pastrah begitulah yang dirasakan Syah saat ini, selama ijab qobul Syah hanya menunduk dan menunduk.
setelah ijab qobul selesai diucapkan, papa meraih tangan Syah dan mengisyaratkan agar pria disamping Syah menyematkan cincin pernikahan dijari manis Syah. betapa kagetnya syah ketika melirik sekilas wajah pria itu yang tak lain adalah Juna teman kakak kelasnya yang kebetulan tidak sengaja beberapa kali bertemu dengannya saat dimall dan ketika balapan waktu itu.
Syah masih diam tak bergeming apalagi saat pria itu mencium keningnya.
" makasih sayang... kalian resmi menjadi suami istri, Tante harap Juna bisa jagain anak Tante ya" sembari meraih tangan Syah dan menantunya itu.
Juna tersenyum tipis pada mama Clara. " Tante jangan khawatir, Juna akan jagain Keyla dengan baik, yang penting Tante harus yakin kalo Tante akan sembuh" ucap Juna
" what.... dia manggil gue apa? Keyla? wah wah wah belum sampai satu menit dia jadi suami gue, seenak jidatnya aja ganti nama panggilan gue. liat lah kedepannya gue akan bikin loe nyesal telah menikahi gue. tunggu aja saat itu datang" gumam Syah dalam hati.
"sayang mama bangga dengan syah, makasih ya sayang" ucap mama menggenggam erat tangan Syah.
Syah tersenyum dan memeluk mamanya itu.
tidak berselang waktu lama suster masuk dalam ruangan dan memberi tahukan kalo pasien akan segera dibawah kedalam ruang operasi.
" mama harus kuat, Syah yakin mama pasti sembuh, Syah sama papa masih membutuhkan mama disini" bisik Syah.
papa segera meraih tangan Syah dan memeluk putrinya itu. karena suster mulai mendorong banker mama keluar ruangan menuju ruang operasi.
" tunggu sebentar suster" pintah papa dan segera mencium kening istrinya serta membisikkan sesuatu entah apa yang dibisikkan papa cuman papa sama mama lah yang tahu.
semua orang disana masih setia mengikuti banker yang akan memasuki ruang operasi itu. setelah sampai Syah dan yang lainnya disuruh menunggu diluar.
" Syah takut pa" ucap Syah yang memegang erat tangan papanya itu.
" untuk saat ini hanya doa yang bisa kita panjatkan kepada Allah agar Operasi mama berjalan dengan lancar" ucap papa sembari mengelus kepala Syah.
pria yang berstatus suami Syah itu cuman berdiri disamping mama Tante Clara. entah apa yang ada dipikiran nya saat ini hanya dia lah yang tahu.
" Jun.... sebaiknya Juna ajak Syah keapartemen terlebih dahulu, untuk istirahat dan membersihkan diri. karena dari Syah sampai disini Syah sama sekali belum istirahat" ucap Tante Clara pada Juna.
" Syah tidak mau Tante, Syah mau disini. Syah mau nunggu mama" lirih Syah.
" sayang.... sebaiknya Syah ikut Juna ya nak, Syah mandi dulu habis itu Syah kesini lagi nanti" bujuk papa agar Syah beristirahat sejenak karena dari tadi Syah belum membersihkan diri dan belum mau makan.
Syah melirik Juna kemudian mengikuti langkah kaki Juna.
" masuk" pintah Juna pada Syah agar masuk kedalam mobil tepatnya mobil sewahan yang dia pakai selama berada disini.
" kalau gue nggak mau Lo bisa apa?" ujar Syah pada Juna.
" kalo loe nggak mau ya udah, gue tinggal" sahut Juna sembari duduk didalam mobil.
tanpa basa basi lagi Syah masuk, dan mobil pun segera melaju. dalam perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut dua insan yang berstatus suami istri ini. Syah memalingkan wajahnya, sedangkan pandangan Juna berfokus kepada jalan yang dilaluinya.
sesampainya didepan apartemen Juna membuka pintu kemudian menarik Syah keluar dari mobil.
" gue bisa sendiri, lepasin tangan gue" ujar Syah kaget ketika Juna menarik tangan nya begitu saja.
" yaudah kalo Lo sadar diri, angkat koper Lo masuk sendiri" ujar Juna sembari melangkah pergi.
" dasar cowok egois" geram Syah sembari mengeluarkan koper nya dari bagasi mobil.
*Ce*klek Syah membuka pintu kemudian menarik kopernya.
" wah wah wah... gue nggak nyangka akan menikahi gadis model kayak Lo" ujar Juna sembari berdiri di depan jendela kamar, pandangannya terfokus kearah luar.
" Lo kira gue mau sama loe? andai mama gue nggak sakit gue akan...." ucap Syah terpotong.
" akan apa...? lo akan kabur lagi seperti dihari pertunangan itu? atau lo akan kawin lari dengan pacar Lo itu? siapa nama cowok itu? Riki? apa rico" ujar Juna sembari mencoba menerka nama cowok Syah.
" diam!!!!...... jangan sekali-kali loe bawa nama Rico dalam permasalahan ini" ujar Syah yang mulai terpancing emosi.
" kenapa...? owh mungkin cowok itu nggak mau menikahi cewek kayak Lo atau hubungan kalian tidak direstui nyokap bokap lo" ujar Juna asal asalan tanpa sadar kata-kata yang ia lontarkan itu menyakiti hati Syah.
" gue bilang stop!!!! loe nggak berhak mencampuri urusan pribadi gue. asal Lo tahu andaikan cowok yang Lo bilang itu masih ada di dunia ini mungkin gue akan hidup bahagia bersama dia tanpa gue harus kenal orang seperti loe!! dan Lo bilang apa tadi? loe bilang nyokap bokap gue nggak merestui hubungan gue dan rico? hehehe loe bodoh sekali telah menilai seperti itu, orang tua gue maupun orang tua dia saling mensupport satu sama lain tapi apa? tuhan mengambil dia terlebih dahulu sebelum gue sempat memilikinya seutuhnya" jelas Syah panjang lebar diiringi air mata yang mengalir begitu saja.
" dan asal loe tahu!! gue menyesal menikah dengan cowok yang ngomong nya asal ceplos begitu saja seperti lo!!! dan loe tenang aja seandainya mama gue sudah sembuh cerai kan gue!!" ucap Syah dengan amarah yang menggebu-gebu.
" Keyla!!!!!!!! stop!!!!!" teriak Juna yang bergemuruh didalam ruangan apartemen,ia berjalan berlahan mendekat ke arah Syah yang mematung.
" kenapa? apa Lo begitu tidak sabar nya mau bercerai sama gue!!!! yaudah ceraikan gue sekarang juga" suara Syah yang semakin meninggi disertai buliran bening yang tak henti-hentinya mengalir di pipi nya.
" gue bilang stop!!!!! sekali lagi loe ucapkan kata cerai gue akan....." ujar Juna yang semakin geram mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Syah.
" loe mau nampar gue!!!! silakan tampar" ujar Syah masih menatap tajam Juna.
seketika Juna sadar dengan emosi yang menguasai dirinya lalu mengacak-acak rambutnya sendiri.
" mandilah... gue akan keluar" ucap Juna pelan kemudian keluar dari ruangan tersebut sebelum amarah menguasai dirinya lagi dan ia tidak mau jika terjadi hal-hal yang akan disesalinya satu hari nanti.
***Bersambung***...............