
Setelah mereka selesai jogging mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun berbeda dengan Syah ketika yang lain hendak balik Syah memutuskan menghabiskan paginya jalan-jalan bersama Riki.
Walaupun Rifki telah melarang Syah untuk pergi bersama Riki dengan alasan yang tidak masuk akal bagi Syah. Syah tetap bersikukuh sehingga Rifki mengizinkannya.
" Mukanya kok ditekuk gitu Syah" tanya Riki.
" Malas banget gue sama tuh ketua tim, nyebelin tau nggak! masak ngatur-ngatur nggak boleh ini nggak boleh itu Anoying banget" kesal Syah sembari \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* jari nya sendiri saking kesalnya.
" Hehhe... berarti dia care sama Lo, udah dong jangan ngambek lagi nanti cantiknya ilang dibawa hembusan angin" goda Riki.
" Iss... Lo juga nyebelin!" menyilangkan kedua tangan di dadanya.
" Lah kok gw? gw kan anaknya baik, pekerja keras dan ganteng, hehhe gw beneran ganteng kan Syah?"
" Kepedean" meninggalkan Riki.
" Syahh!!! tungguin gw!" berlari menyusul Syah.
" Syahh! berhenti dong lelah ni gw" menahan tangan Syah.
" Yaelah gitu aja udah capek, jadi laki kok loyo amat" ngerocos tanpa henti.
" Syah! Lo kenapa sih? dari tadi gw perhatiin nggak mood gitu?, gw ada salah ya?" berkata dengan lembut.
" Hmmm... Lo nggak salah kok cuman gw nggak suka Lo terlalu dekat sama tuh ketua kampret" ujar Syah.
" Hmmm.. yaudah duduk sini dulu, coba Lo jelasin kenapa Lo nggak suka sama tu anak?" duduk dikursi panjang ditaman.
" Lo tau nggak waktu itu dia minta contak gw"
" Terus???"
" Isss... belum juga selesai udah motong aja" tambah kesal.
" Hehhe.. sorry Syah, ini gw serius mau dengerin" menatap Syah.
" Gw nggak suka aja sama dia, gw kesal sama sikap dia yang sok pemimpin, Lo tau nggak waktu itu pas gw cek kondisi staff dibandara tiba-tiba dia bilang gini " mas maaf ya dia nggak bisa priksa mas karena dia masih perlu banyak belajar, biar aku yang gantiin dia" jelas Syah panjang lebar.
" Lo tau kan? ibarat nya tuh anak ngerendahin gw dihadapan orang lain. biasanya gw juga bantu cek kondisi cru cabin Alhamdulillah gw bisa tuh"
Dengan penuh kesabaran Riki mendengar kan setiap kata perkata yang keluar dari mulut Syah. Disaat seperti itulah Riki menjadi pendengar yang baik bagi Syah. Ia tidak mau menegur atau mengeluarkan pendapatnya ketika Syah sedang bercerita.
Riki tau bagaimana Syah sehingga ia dengan antusias mendengarkan keluh kesah dari sahabatnya itu.
" Kalo Lo jadi gw pasti Lo akan kesal juga kan?" tanya Syah.
" Hmmm.. dari cerita yang Lo sampaikan tadi gw merasa dia suka sama Lo Syah" jelas Riki.
" Isss amit-amit jangan deh, gw nggak suka sama siapapun, saat ini gw tidak mau mengenal cinta-cintaan Lo tau kan gimana gw?"
" *Mau gimana lagi Syah, nyatanya Rifki memang suka sama Lo, mungkin dia cemburu ketika Lo priksa staff cowok dibandara*" Gumam Riki dalam hati.
" Riki!!!! Lo masih dengarin gw nggak sih." memperhatikan Riki yang sedang memikirkan sesuatu.
" Ap-apa Syah?" tanya Riki gelagapan.
" Berarti Lo nggak dengar apa yang gw bilang barusan?" tanya Syah lagi.
" Gw dengar kok Syah yaudah Lo fokus sama kuliah dulu, dapatkan gelar dokter itu secepat mungkin agar Rico bangga punya kekasih kayak Lo" riki berbicara dengan entengnya.
" gw berharap juga gitu Ki, andai saja musibah itu tidak terjadi pasti sampai sekarang Rico masih bersama kita kan? pasti Rico juga sukses kayak Lo" ucap Syah dengan mata berkaca-kaca mengingat kembali jadian beberapa tahun yang lalu.
" Syah? maafin gw ya, gw nggak bermaksud mengungkit momen itu lagi" menatap Syah rasa bersalah telah mengingatkan Syah dengan Rico.
" Tidak masalah Ki, lagian semuanya telah terjadi waktu juga tidak bisa berputar kembali kan? insyaallah gw udah ikhlas sekarang" sembari memasang senyum terpaksa.
" Enggak masalah Ki lagian gw udah ikhlas kok" tersenyum manis dihadapan Riki.
" Syukurlah, gw doain Lo dapat pengganti yang baik, karena Lo orang nya baik"
" Baru sekarang Lo nyadar kalo gw baik, kemana aja Lo selama ini" kekeh Syah sembari menepuk pundak Riki.
Riki mengantar Syah pulang ke penginapan nya, Baru saja Syah sampai di halaman rumah Mia dan kedua teman lainnya sedang sibuk membahas sesuatu apa lagi kalo bukan tetangga yang ganteng pujaan mereka, Yang beberapa hari ini selalu mereka ceritakan.
" Ngapain mereka Syah?"
" Tau tuh" mengangkat bahu
" Hmm.. gw balik dulu ya" ucap Riki.
" Oke, makasih traktiran nya" ketika mereka berjalan menuju penginapan riki membelikan ice cream untuk Syah tanpa Syah memintak nya.
" It's okey" balas Riki sembari tersenyum.
Rikipun berlalu.
" Gw masuk duluan ya gais" ucap Syah pada rekan nya itu.
" Oke Syah" jawab Syah sendiri karena teman-teman nya itu masih sibuk dengan aktivitas penguntit yang seakan-akan itu menjadi hobi baru bagi mereka.
" Nih Syah" menyodorkan bingkisan pada Syah.
" Apa itu?" menerima bingkisan itu dari Mia.
" Cobain Syah"
" Desart?" memperhatikan beberapa makanan yang ada dalam bingkisan itu.
" Coba tebak itu dari siapa?" tanya Mia sembari senyum-senyum.
" Hmmm... udah bisa ketebak, nih gw kembaliin"
" Lah kenapa? bukannya Lo suka apapun yang berbaur coklat?"
" Gw lagi nggak mood" meninggalkan Mia diruang tamu sendirian.
Bukan tanpa alasan Syah menolak desart tersebut, Syah tau kalo apapun yang bertemakan makanan pasti itu pemberian dari Rifki. orang membuat Syah kesal beberapa hari ini.
Syah tidak suka Rifki memanfaatkan jabatan nya sebagai ketua tim seenaknya melarang ini dan itu.
Ndrettt... ndrettt... suara yang berasal dari ponsel, Syah melihat nama yang tertera dilayar ponsel tersebut seketika seutas senyuman terpancar indah dibibir Syah.
" Assalamualaikum istri, lagi ngapain?" suara seorang di seberang sana siapa lagi kalo bukan suara Juna.
Entah kenapa akhir-akhir ini Syah selalu ingat dengan Juna, jika mengikuti hatinya ia ingin sekali Juna menelpon nya setiap hari atau sekedar mengirim voice note bertanya kabar atau hanya mengucapkan beberapa kalimat namun gengsi yang dimiliki Syah lebih besar dari pada menyampaikan apa yang ia rasakan.
" Waalaikumsalam suami pilihan mama, kenapa nelpon kangen sama aku ya" goda Syah.
" Hehhe... istri siapa sih ini pedenya meningkat" kekeh Juna.
" Hehhe... anggap saja apa yang aku bilang barusan itu intermezo semata" ucap Syah.
" Heheh... ngambek ya?"
" Nggak kok! ngapain juga ngambek kek bocah aja" ucap Syah.
"key!" panggil Juna.
" Hmmm" jawab Syah singkat.
" Aku kangen sama Kamu, kamu kangen sama aku juga nggak?"
" Kamu mau nya aku jawab apa?" ucap Syah santai jika ditanya hatinya Syah juga merasakan hal yang sama.
***Bersambung***.....