Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Episode 37



Sebulan telah berlalu, hubungan pernikahan Syah dan Juna masih berjalan dengan semestinya namun sikap di antara keduanya masih jauh dari hubungan suami istri di luar sana.


Juna bergegas menemui papa mertuanya karena kebetulan hari ini Juna tidak bekerja. ia memasuki lift dan berhenti di lantai 7 dimana ruangan mertuanya berada.


Tok....


Tok....


" Silakan masuk" pintah papa


" Apa kabar pa?" sembari mencium punggung tangan mertuanya.


" Silakan duduk nak Juna"


Juna pun duduk di kursi didepan mertuanya.


" Tumben papa ngajak Juna ketemuan? ada apa pa?" tanya Juna sedikit penasaran.


" Begini Jun, papa tahu hubungan Juna dan Syah belum selayak nya pasangan suami istri di luaran sana, papa juga tidak bisa menyalahkan Juna ataupun Syah dalam hal ini karena papa tahu ini terjadi karena kehendak mama syah dan juga mama nak Juna" jelas papa serius.


Mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya, Juna terdiam karena yg mertuanya sampaikan itu semua nya benar.


" Nak Juna" sembari menepuk bahu Juna.


" I-iya pa, jadi papa ingin Juna melakukan apa?"


" Papa mau bertanya serius pada Juna, apakah Juna tidak punya sedikitpun rasa pada Syah?" menatap menantunya itu dengan serius.


" Hmmm... Juna juga tidak tahu pa" sembari menghela nafas panjang.


" Hmm baiklah, semua keputusan ada ditangan juna. jika Juna masih ingin mempertahankan pernikahan ini maka papa ingin Juna bisa bersikap tegas pada Syah, dan buat Syah menerima Juna sepenuhnya" sambung papa


" Baiklah pa, tapi bagaimana bisa Keyla menurut dengan Juna, jika anak papa itu masih terikat dengan bayang-bayang masa lalunya maka hal mustahil bagi Keyla menerima Juna pa" jelas Juna karena memang yang ia katakan benar.


" Papa yakin Juna pasti bisa, maka pikirkan lah langkah yang akan Juna ambil selanjutnya, papa tidak ingin Syah jatuh kepada orang yang salah" sembari menatap foto keluarga yang ada dihadapannya.


" Orang yang salah?" tanya Juna heran.


" Lupakan lah, intinya papa mau Juna secepatnya bisa mengendalikan putri kesayangan papa itu, harapan kami hanya ada pada Juna, papa yakin Juna bisa membuat seorang syahloni Keyla mencintai juna, Juna satu-satunya orang yang bisa kami percayai untuk menjaga Syah"


" Baiklah pa, Juna pamit dulu"


Juna memutuskan untuk pulang kerumahnya, diperjalanan pulang Juna masih terngiang-ngiang dengan ucapan mertuanya itu.


" Orang yang salah? apa maksud dari ucapan papa tadi ya?" gumam Juna dalam hati sembari masih fokus pada jalan yang ia lalui.




Pukul 16;00 Syah sudah sampai di rumah tepatnya dirumah baru Juna. entah angin apa setelah pulang dari taman kota Juna memintak izin agar Syah pulang kerumah baru mereka. dan tentunya mertuanya mengizinkan nya.



" Tumben jam segini udah nyampe rumah?'" suara Juna dari ruang tamu sembari menonton televisi.



" Bukan urusan Lo, gue pulang cepat atau lambat itu urusan gue, lagian Lo nggak pulang berminggu-minggu aja gue nggak nanya tuh" cetus Syah.



" Tentu itu menjadi urusan gue, Lo itu istri gue" sembari mendekat ke arah Syah.



" Owh ternyata Lo masih anggap gue istri, jadi apa kabarnya dengan Lo yang keluar rumah sesuka hati!" sembari mulai menaiki anak tangga.



" Syahloni Keyla!!!!!" teriak Juna dari lantai bawah dan segera berlari menyusul Syah.



" Apa mau Lo? gue mau istirahat jadi pergilah" sembari membuka pintu kamar.



" Gue mau ngomong serius!" sembari menahan gagang pintu.



" Gue nggak ada waktu untuk meladani lo" menatap tajam Juna.



" Oke.. Lo nggak mau dengarin gw" sembari menarik tangan Syah masuk kamar.



" Mau apa Lo, lepasin tangan gue" menepis tangan Juna kasar. tapi sayangnya tenaga Juna lebih kuat dibandingkan dengannya.



Setelah Juna berhasil menarik Syah kemudian ia mengunci pintu kamar tersebut sehingga membuat Syah takut. tapi bukan Syah namanya kalo tidak bisa menyembunyikan takutnya pada seseorang.



" lepasin tangan Lo dari tangan gue!" pekik Syah namun Juna tidak menggubris.



" Juna!!!!!! Lo tuli apa lepasin tangan gue!" bentak Syah sekali lagi.



Akhirnya Juna melepaskan tangan syah dan menatap Syah dalam-dalam entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.



" Keyla coba la mengerti, gue pergi sampai berminggu-minggu di luar sana hanya sebatas bekerja, gue tidak melakukan hal-hal buruk seperti yang Lo pikirkan" tutur Juna sedikit merendahkan vulume suaranya.




" Tapi untuk saat ini gue mau lo harus belajar peduli sama gue, karena gue suami lo"



" Kalo gue nggak mau, Lo akan paksa gue? gue nggak takut" tantang Syah.



" Lo yakin nggak takut sama gue" sembari tersenyum tipis.



" Ya" ucap Syah tanpa ragu-ragu.



" Benarkah?" sembari mendekati Syah.



" Lo mau apa?" melangkah mundur



" Katanya nggak takut" goda Juna



" Mundur!!" sembari mengarahkan tangannya kedepan menghadang Juna.



" Mundur nggak!!!!" ancam Syah



semakin Syah memintak Juna untuk mundur maka semakin semangat Juna untuk mendekat.



Semakin dekat jarak di antara keduanya, terlihat jelas kalo Syah takut.



" Katanya nggak takut, kok Lo nggak berani natap gue" sambung Juna.



Jika Syah mundur selangkah lagi maka ia akan bentrok dengan meja belajarnya.



" Ngapain juga gue harus menatap Lo!mendorong kuat tubuh Juna" yang benar saja ternyata berhasil.



" Lo mau main-main sama gue!" kesal Juna



Syah melihat Juna seperti nya benar-benar marah karena ulah nya, dengan susah payah Syah menelan Saliva nya kasar dan berjalan mundur.



" *Ya tuhan, ni orang kenapa semakin mendekat, jika memang ini akhir dari hidup hamba maka hapuskan la dosa-dosa hamba ya tuhan. mama papa Syah mintak maaf sepertinya minantu pilihan kalian akan mengakhiri hidup anak mu ini*" gumam Syah dalam hati karena saking takutnya.



Yang benar saja, saat ini posisi Syah benar-benar bentrok dengan meja belajar sehingga ia tidak bisa mundur sedikit pun, sedangkan jarak Juna begitu dekat. saking dekatnya Syah bisa merasakan desiran nafas Juna begitupun sebaliknya.



Juna mengunci posisi Syah, dan tangannya memegang meja belajar tersebut dengan sangat kuat hingga Syah tepat berada di hadapannya.



" Keyla, dengar kan gw baik-baik, gue mau Lo bersikap selayaknya seorang istri, jika tidak gue akan\_\_\_" sembari membisikkan sesuatu ditelinga Syah.



Entah apa yang dibisikkan Juna sehingga Syah menatap Juna serius dan bersusah payah menelan ludahnya.



" Lo ngerti kan yang gue maksud?" sembari tersenyum licik.



" I-iya gue ngerti" ucap Syah saking tegangnya.



" Syukurlah... kalo gini kan enak jadi istri tuh nurut sama suami" sembari menjauh dari Syah.



" *Syukurlah la, gue kira tuh orang mau bunuh gue*" gumam Syah dalam hati sedikit rasa lega ia rasakan sembari mengelus dadanya.



***Bersambung***......



Pertanyaan Author:



( Kira-kira apa yang dibisikkan oleh Juna pada Syah ya? penasaran nggak?🤗)