
Hari ini Syah dan Juna memutuskan untuk pulang kerumahnya, mereka sudah siap-siap untuk berangkat. nenek beserta orang tua Mia mengantarkan Juna dan Syah sampai halaman rumah.
Sebelumnya nenek telah meminta Syah agar tinggal beberapa hari lagi dirumahnya. bukan Syah tidak mau menuruti permintaan sang nenek tetapi Syah sudah satu hari bolos kuliah, mungkin Naura dan Akilla bertanya-tanya tentang keberadaannya saat ini.
Apalagi Syah tidak bisa mengabari sahabatnya itu karena handphone nya ketinggalan dirumah saat itu.
Juna melajukan mobilnya dari halaman rumah tersebut. perjalanan hari ini terasa berbeda dimana Syah dan Juna saling bercerita tentang hal-hal kecil yang membuat mereka tertawa berbeda dari yang sebelumnya.
Dua jam berlalu mereka sudah sampai dikota, sebelum mereka memutuskan pulang. Juna menghentikan mobilnya tepatnya diminimarket untuk membeli beberapa cemilan untuk nanti.
Syah enggan masuk dalam minimarket Tersebut dengan kondisi menggunakan daster. ia tidak habis pikir kenapa Juna tidak membelikan nya baju lain selain baju yang ia kenakan sekarang.
Syah memperhatikan Juna yang menenteng beberapa kresek ditangannya.
" Gw simpan dikursi belakang ya, kalo Lo mau tinggal ambil aja" menaruh barang dikursi belakang.
" Oke" balas Syah sembari tersenyum.
Sesampainya dirumah. Juna mengangkat barang belanjaan itu dan menaruh nya di atas meja makan. sedangkan Syah berlari ke kamar nya sembari mencari-cari handphone akhirnya benda yang ia cari berhasil ditemukan. Syah melongo melihat seratus panggilan tak terjawab dari sahabatnya, serta beberapa panggilan tak terjawab dari Riki, kating serta temannya yang lain.
Syah memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu setelah itu baru menghubungi sahabatnya.
Sementara itu dikamar yang lainnya, Juna menyandarkan dirinya disofa ia masih membayangkan kecupan manis dipagi hari kala itu, tanpa disadari ia tersenyum sendiri mengingat momen langkah yang ia rasakan saat itu.
Tok....
Tok.....
Tok.....
Suara ketukan dari luar. Juna berdiri dan segera membukakan pintu.
" Kenapa key?" Juna melongo melihat Syah berdiri didepan pintu kamarnya hanya mengenakan jubah mandinya.
" I-Itu aduh apa nama nya gw lupa" sembari mencoba mengingat-ingat
" Apa?" tanya Juna penasaran sembari mengalihkan pandangannya dari tubuh Syah.
" Itu dikamar gw ada kecoaknya" sembari menunjuk kamarnya.
" What!!! hanya perkara kecoak hingga Lo lupa sedang mengenakan apa sekarang" ujar Juna tak percaya
" Itsss astaga gw beneran lupa, yaudah sekarang Lo masuk kamar gw habis itu tangkap kecoak itu sampai dapat, gw akan menunggu di kamar Lo" mendorong Juna masuk kamarnya.
Syah mondar mandir dihadapan kamarnya, menunggu apakah Juna berhasil menangkap kecoak itu. beberapa menit Juna masih belum keluar dari sana, Syah memutuskan menunggu dikamar Juna.
Syah takjub dengan kerapian kamar Juna, serta barang-barang tertata dengan rapi diposisi nya.
" Waw bahkan kamar gw saja tidak Serapi ini" kagum Syah.
Syah memperhatikan rangkaian pajangan yang terpampang didinding kamar itu. matanya terfokus pada foto kedua anak kecil yang sedang bermain dengan riangnya.
" Ngapain liatin foto sampai segitunya?" suara Juna dari belakang Syah.
" Tidak kenapa-kenapa, bagaimana kecoaknya? dapatkan?" menghadap ke posisi Juna berada.
" Emang nya kenapa? apa salah nya dari jubah ini" memperhatikan jubah yang sedang ia kenakan.
" Tidak ada yang salah, tapi kalo nanti gw khilaf jangan salahkan gw" cetus Juna.
" Dasar mesum" bergedik takut mendengar apa yang dilontarkan Juna.
Dengan segera Syah berlalu dari kamar Juna.
Sekarang Syah sudah mengganti bajunya dengan baju biasa dipakainya. ia merapikan rambutnya meraih jedai lalu memakainya.
Tut.... Tut...... Tut.....
handphone Syah bergetar menandakan ada panggilan masuk Syah meraih handphone tersebut lalu mengangkat nya.
" Hello Syah Lo dimana? kenapa dari kemaren gw telpon nggak diangkat? Lo nggak mikir apa! kalo gw dan akilla cemas mikirin Lo" pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh orang di seberang sana.
" Nanti gw ceritain, sekarang kalian dimana?"
" Gw lagi di rumah, kita ada jadwal sore ini nanti gw tunggu Lo diparkiran" sambung Naura
" Baiklah" sambung Syah.
Panggilan pun di akhiri, Syah berjalan menuju taman belakang rumah. Syah mengernyitkan dahinya ketika melihat kursi ayunan ditengah taman tersebut.
" Sejak kapan disini ada ayunan? gw nggak liat sebelumnya" gumam Syah dalam hati.
Iapun memutuskan untuk bersantai disana. Syah menyandarkan tubuhnya menikmati setiap embusan angin yang menerpanya dengan lembut.
Tut.... Tut.... Tut.....
" Siapa sih ganggu aja" melihat handphone nya.
" Tumben nih anak vidcall gw" lalu menekan tombol hijau dilayarnya.
" Akhirnya Lo angkat juga, kemana aja Syah?" suara laki-laki diseberang sana.
" Tumben Lo vidcall gw? Ada apa?" sambung Syah.
" Nggak ada"
" Trus?? tunggu-tunggu sejak kapan Lo pakai seragam pilot kek gitu mau cosplay yak?" kekeh Syah ketika menyadari Riki memakai seragam.
" Isss Becanda Mulu" kesal Riki
" Sebenarnya satu tahun yang lalu gw diam-diam ngambil sekolah penerbangan dan Alhamdulillah sekarang gw lulus ya walaupun masih co-pilot bar satu sih tapi nggak ada salahnya bukan?" sambung Riki.
" Bar satu maksudnya?" heran karena ia memang tidak terlalu paham dengan dunia penerbangan.
" Contohnya gini ditempat kerja gw untuk bar satu akan digunakan Co-pilot dengan jam terbang mulai dari 0-500 jam untuk penerbangan berikutnya diambil alih oleh bar dua. kadang kalau diluar negri ada juga yang menggunakan bar satu sebagai pramugara" sambung Riki.
" Owh... selamat ya rik semoga sukses dan mudah-mudahan dengan berjalan nya waktu Lo bisa jadi capten"
" Makasih Syah, tapi Lo bantu gw rahasiain ini semua ya dari teman-teman kita" sambung Riki.
" Lah kenapa? bukankah bagus jika anak-anak lain tahu keberhasilan Lo" sambung syah.
" Nggak perlu" menarik nafas panjang " biarkan mereka tahu sendiri lagian gw baru memulainya" sambung Riki.
" Baiklah, terus kita jarang ketemu dong?, bengkel Lo siapa yang ngurusin?"
" Nanti kalo gw libur Lo orang pertama yang bakalan gw temuin, kalau masalah bengkel gw udah mempercayakan semuanya pada sepupu gw bahkan jauh sebelum gw lulus di dunia penerbangan ini, motor Lo juga bakal dia urus dengan baik kok" sambung Riki.
" Hmmm... semoga sukses" ujar Syah sembari mengangkat satu tangannya memberi semangat.
" Makasih syah"
Panggilan vidcall berakhir.
" Nggak nyangka tuh anak diam nya ternyata emas" kekeh Syah
" Ngapain senyum-senyum sendiri?" suara Juna tepat dihadapan Syah.
" Astaga bapak singa Lo ngagetin gw tau nggak!" memukul lengan Juna.
" Lo sih duduk sendiri disini lalu senyum - senyum kek gitu kesambet baru tahu rasa" sambung Juna lalu duduk disamping Syah.
Bersambung......