Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Episode 51



" Aku nggak suka kamu jalan sama laki-laki lain key kamu istri aku" ucap Juna.


Sontak kata yang diucapkan oleh Juna itu membuat Syah kaget tidak percaya dengan apa yang ia dengar. bagaiman bisa Juna tau sedangkan dia sendiri tidak berada di lokasi yang sama.


" Key!!! kamu masih dengar aku kan?" sambung Juna lagi karena tak kunjung mendapat respon dari Syah.


" I-iya aku masih dengar kok? maksud kamu apa?" ucap Syah pura-pura tidak mengerti yang dimaksud oleh Juna.


" Tadi pagi kamu jalan kan sama teman cowok masa SMA dulu?"


Deg... jantung Syah berdetak tak karuan.


" Ya ampun ni orang punya mata-mata kah? bagaimana dia bisa tau kalo tadi pagi gw jalan sama Riki?" ucap Syah dalam hati.


" Kalo kamu diam berarti benar kan praduga ku?"


" I-iya aku mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan marah ya?" ucap Syah dengan hati-hati.


" Tadi pagi aku tidak sengaja ketemu sama Riki, sumpah aku sungguh tidak tau kalo dia juga ada disini, aku akuin selesai jogging tadi aku ngajak Riki keluar itupun hanya untuk bercerita" jujur Syah ia takut kalo berbohong masalah akan bertambah rumit apalagi saat ini ia merasa nyaman dengan Juna.


Bisa dikatakan berapa hari jauh dari sisi Juna ada sesuatu yang beda ia rasakan, mungkin hati Syah sudah mulai menerima Juna cuman menunggu waktu yang tepat saja untuk saling mengerti.


" Darimana kamu tau kalo aku jalan sama Riki?" Syah memberanikan diri untuk bertanya balik.


" Itu hal yang mudah bagi ku, intinya aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan tu anak"


" Juna!!!" panggil Syah.


Syah memperhatikan layar ponsel nya dimana panggilan itu masih terhubung namun orang diseberang sana hanya diam.


" Juna!! kamu marah sama aku? aku sama Riki itu hanya teman biasa, sama seperti Naura dan Akilla, hello Juna!" terpancar rasa takut di Wajah Syah jika benar Juna akan marah padanya.


" Hello!! kamu masih disana kan?" ucap Syah lagi.


" Juna!!! ok kamu marah sama aku, yaudah aku matiin telpon nya sekarang" Syah mulai kesal.


" Sekarang kamu keluar dulu dari dalam rumah" memberikan instruksi pada Syah.


" Maksudnya? ngapain? sekarang sudah malam" Syah bingung namun tetap tidak bisa membantah.


" Lakuin aja apa yang aku katakan" sambung Juna.


Syah berjalan menuju halaman rumah itu.


" Nah gitu dong jadi istri itu harus nurut sama suami" kekeh Juna.


" Iss.... Anoying" menghentak kan kakinya sembari memasang wajah cemberut.


" Jangan cemberut gitu dong, gemez aku liatnya" ucap Juna.


" Heiiikkk dimana ia tahu kalo gw sedang cemberut?" ucap Syah dalam hati celingak-celinguk memperhatikan sekeliling nya.


" Nggak usah penasaran gitu, liat kesamping rumah, aku disini key" ucap Juna.


" Hehhee... jangan mengada-ada Jun, kamu lagi bohongin aku kan?" ucap Syah tak percaya.


" Aku serius key! liat kesini" pintah Juna lagi.


Syah berjalan menuju pagar besi yang jadi pembatas penginapan dirinya dengan rumah sebelah.


" Astaga..." Syah kaget dengan apa yang ada dihadapannya.


" Isss... nyebelin! aku kaget tau nggak! kenapa harus muncul dihadapan ku secara tiba-tiba" kesal Syah.


Ketika Syah mengintip dicela-cela pagar besi itu, tiba-tiba pandangannya langsung bertemu dengan Juna yang sengaja mengagetkan Syah.


" Sejak kapan kamu disini? kenapa tidak memberi tahu aku sebelum nya?" Kesal Syah karena jika Syah tau dari awal kalo tetangga ganteng yang dimaksud rekan timnya itu adalah suaminya sendiri.


" Ohhh atau mungkin kamu sengaja kan? datang kesini cari perhatian sama-sama cewek-cewek disini! khususnya rekan kowas aku!" Entah kenapa hal-hal aneh itu spontan keluar dari mulut Syah.


" Enough Keyla! bisa nggak bicara itu dipikir dulu jangan langsung nuduh-nuduh!" sedikit meninggikan suara nya karena terpancing emosi.


" Kenapa marah? berarti benar kan?" dengan nada suara tinggi.


Juna yang semakin kesal dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh Syah, ia langsung menghampiri Syah tanpa memikirkan jika ada orang lain melihat mereka.


" Kamu ngapain! mundur nggak!" bentak Syah.


Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Syah, Juna spontan mengendong Syah ala bridal style.


" Issss.. lepasin aku nggak!"


Syah berusaha berontak, namun kekuatan nya lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Juna.


" Diam!" ucap Juna meninggikan suara nya sontak Syah terdiam karena ini kali pertama nya Juna membentak nya.


Juna memasukkan Syah kedalam mobilnya, lalu melajukan mobil tersebut, entah apa yang ada dalam pikiran Juna saat ini.


Didalam mobil tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka Syah dengan emosi yang masih menguasai diri memalingkan wajah nya keluar jendela. sementara Juna fokus menyetir.


Setengah jam telah berlalu, akhirnya mobil Juna berhenti disalah satu villa.


" Turun!" pintah Juna namun Syah bersikukuh tidak mau turun dari mobil.


" Mau turun sendiri atau aku gendong? biar orang-orang disini pada liat kita" ancam Juna.


" Issss" Syah segera turun.


" Ikut aja jangan banyak bicara" menarik tangan Syah.




" Selamat datang Capten" ucap seorang pegawai dengan keramah- tamahannya.



" *Capten? Capten apaan? Kenapa pegawai itu memanggil Juna dengan sebutan capten*" gumam Syah dalam hati.



" Ini Kuncinya kamar Capten" ucap pegawai itu sembari memberikan kunci pada Juna.



" Terimakasih" ucap Juna sembari tersenyum.



Juna melangkah kan kakinya menuju salah satu ruangan yang agak lumayan jauh, Syah mengekori dari belakang tanpa bertanya-tanya lagi pada Juna.



" Masuk!" pintah Juna.



" Masuk? Kita menginap disini? tapi ngapain? ini sudah malam nanti teman-teman ku nyariin" ucap Syah sembari menatap Juna karena ia tidak paham apa yang sedang dipikirkan oleh Juna saat ini.



" Jangan banyak tanya" Juna masuk terlebih dahulu serta menghidupkan satu persatu lampu yang ada dalam ruangan itu.



" Isss Anoying banget si bapak singa!" geram Syah.



Syah pun mulai melangkah kan kakinya memasuki ruangan tersebut.



" Ngapain berdiri disana?" ujar Juna yang memperhatikan Syah masih terpaku di hadapan sofa.



" Jun! kita nginap disini?" Syah memberanikan diri untuk bertanya.



" Iya" itulah kata-kata yang keluar dari mulut Juna.



" Ta-tapi, Kenapa?" ucap Syah.



" Kenapa? Kamu mau aku jawab apa?" sembari tersenyum tipis.



" Stoppp jangan mendekat" sembari menahan tubuh Juna dengan kedua tangannya.



" Juna kamu ngapain! jangan bikin aku benci sama kamu" ucap Syah yang mulai ketakutan sembari mundur beberapa langkah.



" Kenapa key? bukan kah aku suami mu?"



" Juna!!! aku bilang berhenti!" masih berjalan mundur sampai mentok dihadapan dilemari pakaian berwarna putih yang lebih tinggi dari mereka.



" Kamu takut? tadi seenaknya nuduh yang bukan-bukan tentang aku" ucap Juna.



Entah mengapa jantung Syah berdetak tak karuan, jika Juna dekat dengannya, bahkan jarak diantara mereka hanya sejengkal saja.



Bersambung.....



Jangan lupa like, dan vote nya reader 🤗 agar author semangat up nya