
Kening syah tertaut ketika ia mendengar pembicaraan antara kepala bandara dengan Juna, bagaimana bisa Juna meminta izin untuk dirinya dengan semudah itu, bagaimana bisa kepala bandara percaya begitu saja dengan orang yang sama sekali belum ditemuinya, biasanya meminta izin itu perlu mematuhi prosedur terlebih dahulu.
Berbagai pertanyaan berputar-putar dalam benak Syah, siapa sebenarnya suaminya? Apa pekerjaan nya? bahkan ketika Syah menyelidiki akun sosial media yang dimiliki Junapun tidak dengan semudah itu ia mendapat informasi.
" Ngapain natap aku sebegitu nya? baru tahu suami mu ini ganteng" kekeh Juna.
" Isss... kepedean" mengalihkan pandangannya sembari memukul-mukul kecil dada Juna.
" Awww sakit" memegang dadanya dengan satu tangan.
" Maaf aku mukulnya terlalu keras ya" Syah rasa bersalah padahal Juna hanya berpura-pura.
Kesempatan seperti ini bisa dimanfaatkan oleh Syah agar Juna melepaskan tangannya dari tubuh Syah.
" Juna maaf" memegang dada Juna dengan sebelah tangan dan memasang wajah sendu. tentu saja Juna reflek melepaskan tangan nya, karena ia tidak menyangka kalo Syah panik dengan kelakuan nya itu.
Syah segera duduk disamping Juna, dan pura-pura memeriksa nya.
" Masih sakit?" tanya Syah
" Ti-tidak" ucap Juna terbata-bata sembari memegang tangan Syah didadanya.
" Berhasil, yes...yes.. wah ternyata gw cerdik juga kalo bukan dengan cara ini pasti Juna tidak mau melepaskan tangannya" gumam Syah dalam hati.
" Oke karena tidak sakit lagi, aku mau tidur aja"
" Astaga kayaknya Keyla sengaja bertindak seperti itu agar lepas dari ku, astaga bodoh bodoh! aku juga sih ngapain pura-pura sakit segala padahal pukulan Keyla itu tidak ada apa-apanya" kutuk Juna pada dirinya sendiri.
Syah berjalan menuju sofa kecil yang ada dalam ruangan tersebut.
" Ngapain tidur disana?"
"Gak ngapa-ngapain cuman rasanya disini lebih nyaman" ucap Syah.
Syah memainkan ponsel nya dan sekali-kali ia tertawa, semua itu tidak luput dari perhatian Juna.
" Tidur key udah malam"
" Bentar, nangung nih" masih fokus menatap layar ponsel nya.
Juna yang risih karena ia menganggap Syah tidak terlalu menghiraukan nya, merebut ponsel Syah dan melihat nama yang tertera
nama yang tidak lain yaitu Riki.
" Juna kembaliin handphone aku"
" Nggak bisa, ponsel ini aku sita" balas Juna lalu kembali ketempat tidur.
" Kembaliin nggak!" dengan nada mulai meninggi.
" tidak sekali enggak tetap enggak" ucap Juna sembari mengecek ponsel Syah.
" Kamu kenapa sih bapak singa! nyebelin banget"
Untung ruang chat sudah dikunci jadi aman pikir Syah. Juna tidak bisa membuka room chat Syah karena ketika Juna merebut handphone, Syah dengan sigap menekan tombol keluar dari aplikasi chatting nya.
" Yaudah ambil tuh ponsel gw" kesal Syah.
Tanpa memperdulikan Juna, Syah tidur di atas ranjang tersebut dengan adanya guling pembatas antara mereka.
Sesekali Syah melirik Juna yang sibuk memegang ponselnya, terlihat wajah Juna agak berubah dari pada sebelumnya.
" Apa sih yang diliat bapak singa dari hp gw?" ucap Syah dalam hati ketika Juna melihat kearah nya, Syah langsung berpura-pura memejamkan mata.
Juna menaruh ponsel Syah di atas nakas, kemudian tidur menghadap Syah.
" Aku tahu kamu belum tidur key!" menyentuh pipi Syah.
Syah masih pura-pura tertidur sesekali ia menirukan suara dengkuran agar Juna percaya.
" Key liat aku, aku tahu kamu belum tidur liat aku bentar aja"
Percuma saja Syah pura-pura ternyata Juna tahu kalau dia masih belum tidur, Syah membuka matanya lalu menatap Juna.
" Hmm"
" Kenapa masih nyimpan foto mantan mu itu?"
" Nggak sempat dihapus" ucap Syah santai.
" Nggak sempat dihapus atau nggak mau dihapus?"
" Key! aku belum selesai ngomong" memegang pundak Syah.
" Hmm.... aku lagi malas berdebat Juna, kamu mau nya apa? kamu mau aku ngapus foto Rico? aku nggak akan mau menghapusnya,
bagi ku dia kenangan yang pernah hadir dalam hidupku, lagian dia juga udah pergi yang tentunya tidak akan pernah kembali."
Mendengar apa yang disampaikan Syah, Juna pun membelakangi Syah. entahlah hubungan diantara keduanya susah untuk ditafsirkan.
" Aku tahu kamu nggak senang liat foto Rico yang masih tersimpan didalam ponselku, aku sadar posisi ku sekarang jika aku sudah bilang menerima mu foto itu tidak akan mengangantikan posisimu dan foto itu juga tidak akan merubah apa yang telah kita jalani" memeluk Juna.
Sontak Juna senang mendengar penuturan Syah. Juna memperhatikan Syah.
" Makasih sayang" mencium pipi Syah.
Dibalas senyuman oleh Syah.
" Sayang boleh aku meminta sesuatu?"
Syah bergedik ngeri mendengar ucapan Juna.
" Aku mau tidur" menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Juna tersenyum melihat tingkah Syah.
" Sayang tapi aku mau" bisik Juna dtelinga Syah.
" Isss dasar mesum" ucap Syah dari dalam selimut.
" Hehhe... Aku mikir apa sih sayang kecil-kecil pikirannya kotor" goda Juna.
Syah membuka selimut nya dan menatap Juna dengan tajam.
" Mau apa?" tanya Syah dengan sikap siap siaga.
" Mau makan mie" kekeh Juna sembari beranjak dari tempat tidur.
" Kamu pikir aku mau apa? ayok ikut " meraih tangan Syah.
" Malam Capten, apa ada yang bisa saya bantu ucap" pegawai yang bekerja di sift malam.
" Ada pak, apakah didapur utama masih ada bahan makanan atau mie instan?" tanya Juna
" Ada Capten didalam lamari penyimpanan" jawab pegawai tersebut.
" Terimakasih pak" sembari tersenyum ramah.
Didapur.
Syah tertegun melihat dapur villa yang minimalis namun estetik semua peralatan memasak tertata dengan rapi.
" Lah katanya pengen masak mie kok cuman duduk?" tanya Syah.
" Lah kan tadi udah aku bilang aku mau kamu yang masakin, sesekali makan dari masakan istri tercinta" ucap Juna sembari tersenyum.
" Nggak mau! aku nggak bisa masak" ucap Syah berbohong.
" Jadi nggak mau masak nih? hmmm... kalo aku mau yang lain boleh? nggak papa deh kalo nggak jadi masak" bisik Juna ditelinga Syah
" Isss... dasar mesum! iya iya aku masakin, kamu duduk manis aja disini" sembari menarik Juna ditempat duduk.
" Bapak singa sialan! mau nya apa sih bikin gw berspekulasi yang bukan-bukan" gumam Syah dalam hati.
Setelah mie instan yang dimasak sudah matang lalu Syah menaruh semangkok mie itu diatas meja.
" Lah kok cuman satu?" tanya Juna.
" Aku nggak biasa makan terlalu malam takutnya gemukkan" ucap Syah sembari duduk dikursi yang berhadapan dengan Juna.
" Nggak papa kali key, kalo kamu gemuk pasti tambah cute" goda Juna.
" Cute apaan kek gitu pokoknya aku nggak mau gemuk, yaudah kamu makan gih aku tungguin disini"
Syah menopang dagunya memperhatikan Juna yang sedang melahap semangkok mie tersebut, biasanya jam 12 malam seperti ini Syah sudah tertidur dengan pulas menyatu dengan mimpinya namun hari ini Syah malah nungguin Juna makan dengan mata yang mulai berat.
Bersambung....
# Maaf reader tercinta kalo beberapa hari ini author jarang up karena author lagi sibuk direal life#
# Makasih yang masih setia nungguin cerita Mr pilot My Husband ini#