Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Episode 44



" Silakan ananda" seru pak Ardi


Syah dan Naura saling melirik siap-siap mengantisipasi menutup wajahnya dengan kemungkinan pertanyaan Akilla yang sudah bisa mereka tebak.


" Diindonesia terdapat 34 provinsi kan pak? jadi pertanyaan saya berapa orang dalam kelompok yang akan diposisikan dimasing-masing provinsi? terimakasih" ujar Akilla


Akhirnya Naura dan Syah bisa bernafas dengan lega.


" Sekitar delapan orang ananda, kemungkinan kalian akan bertemu cuman dua orang yang berasal dari kelas kalian selebihnya kelas lain" tutur pak Ardi.


" Terimakasih pak"


" Pak!" tanya Akila lagi.


" Iya" jawab pak Ardi


Mahasiswa lain menatap Akila dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


" Apakah waktu kowas bapak berhasil mendapatkan gebetan?" sambungnya dengan wajah tak berdosa.


Sontak ucapan Akilla itu membuat riuh suasana kelas Fk5. ada yang tertawa dengan lepas ada juga yang mencoba menahan diri agar tidak kebablasan.


" Astaga baru aja gw bisa bernafas lega dengan pertanyaan sebelumnya malah ditambah lagi dengan yang ini, malu maluin ni anak" gumam Syah pelan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Syah menoleh kearah Naura.


" Karungin tuh anak syah sebelum bertingkah lagi" menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.



Dikediaman Juna dan Syah.



Syah pulang dari kampus pukul lima sore, ia memasuki rumah dengan langkah gontai entah kenapa hari ini cukup melelahkan bagi Syah.



" Syah" panggil seseorang diruang tamu.



Syah menoleh ke sumber suara.



" Mama!" pekik Syah lalu berhamburan kepelukan mamanya, pelukan yang sangat hangat yang beberapa bulan ini jarang ia rasakan.



" Mama aja nih yang dipeluk, sama papa nggak rindu ni" ucap papa sembari pura-pura ngambek dengan putri kesayangannya itu.



" Heheh... sama papa juga rindu kok" meraih tangan papanya kemudian meletakkan kepuncak kepalanya sendiri.



" Hehehe.. anak papa tetap tidak berubah" mengelus-elus kepala Syah dengan lembut.



" Kayaknya ada yang cemberut nih, pengen dipeluk juga tuh Syah" goda mama



" Heheh... mama bisa aja, tapi kalo mau dipeluk Juna juga siap siaga menerima nya " ucap Juna sembari merentangkan kedua tangannya.



" Iss apa apaan sih suami aku, malu ada mama papa" Syah sengaja berkata seperti itu agar mama-papanya merasa senang.



" Pura-pura nggak liat aja ya kan ma" timbal papa.



Juna hanya tersenyum mendengar kan godaan dari mertuanya itu. ada rasa senang dihatinya ketika Syah melontarkan sebutan "suamiku" ada sesuatu yang berbeda tetapi ia tahu bahwa Syah melakukan itu hanya untuk menyenangkan orang tuanya.



" Ma-pa, Senin nanti Syah akan melakukan pelatihan selama tiga bulan" sambung Syah.



" Selama tiga bulan? dimana syah? apakah Syah sudah memberi tahukan juna sebelum ini?" menatap Juna.



" *Astaga mati aku, kalau sampai Juna bilang nggak bisa diomelin mama nih*" ucap Syah dalam hati sembari menatap Juna.



" Sudah kok ma, kemaren Keyla juga sudah bilang itu pada Juna, bukan begitu sayang" mencubit pipi Syah.



" *Dasar bapak singa! cari kesempatan dalam kesempitan*" memaki dalam hati.



" Iya sayangku" sembari mencubit pipi Juna sedikit keras. " *Rasain tuh*"



Bukannya kesakitan malah kesempatan itu digunakan Juna untuk menarik tangan Syah sehingga membawa tubuh Syah jatuh dipelukan Juna.




" Iya nih ma" timbal papa diiringi dengan tawa.



Seketika Syah langsung berdiri dan duduk disofa yang lain.



" *Astaga ada apa dengan jantung gw*?"



" Syah kenapa diam nak?" tanya papa yang memperhatikan anaknya tertegun.



" A-apa pa?" jawab Syah gelagapan.



" Kenapa Syah?" memegang bahu putri nya itu.



" Nggak kenapa-napa kok ma, Syah mandi dulu ya ma,pa"



" Okay sayang"



Mama dan papa memutuskan untuk tidur dirumah Syah sampai besok hari.


Sehingga mau tidak mau Syah dan Juna harus tidur sekamar lagi. Juna sengaja mengunci pintu kamarnya dan memilih tidur dikamar Syah jika tidur dikamarnya otomatis Syah akan kerepotan menimbang bajunya didalam kamarnya.


Juna menarik nafas panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya disofa kamar Syah, ia melihat Syah yang sibuk menghadap laptop di balkon.


" Keyla!" panggil Juna sembari duduk dikursi yang berhadapan dengan Syah.


" Hmmm" jawab Syah dengan pandangan nya masih terfokus menghadap laptop.


" Kenapa nggak didalam kamar saja ngerjain tugasnya, disini dingin nanti masuk angin"


" Udah biasa kok, kamu tidur duluan aja"


" Belum ngantuk" memainkan benda pipi yang ada ditangannya.


Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka masih berada dibalkon dengan aktivitas masing-masing.


Sekilas Syah memperhatikan Juna yang sedang sibuk mengetik sesuatu entah apa yang ia ketik dan sama siapa ia berbalas pesan sehingga sekali-kali ia tersenyum dan melupakan ada seseorang yang lagi memperhati kannya.


" Kalo mau chattingan jangan disini! ganggu tau nggak" ujar Syah.


" Masa iya ganggu? perasaan aku hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun" menatap Syah sekilas kemudian kembali dengan gawainya.


" Suara ketikan itu berisik tau nggak, pergi Sono" mengusir Juna.


" Aku mau nemenin kamu buat tugas, dibandingkan dengan ketikan gawai ini lebih berisik suara ketikan dilaptop itu"


Apa yang dikatakan Juna itu ada benarnya juga. sehingga Syah memutuskan untuk fokus pada tugasnya, tetapi tetap saja ketika Syah melihat Juna senyum-senyum ada rasa yang dia sendiri susah untuk mengontrol. Tanpa aba-aba Syah merebut ponsel Juna.


" Kalo mau nemenin tuh duduk diam disini bukan malah senyum-senyum nggak jelas ngadap ponsel" kesal Syah.


Juna mengernyitkan dahinya heran, ia merasa tidak sedikitpun mengganggu Syah.


Juna memasang wajah datarnya, kemudian melangkah masuk dalam kamar.


" Isss... nyebelin tuh orang katanya mau nemenin sekarang malah ditinggal" dengus Syah.


Syah mematikan laptop nya kemudian menyusul Juna.


" Kamu marah gara-gara ponsel ini aku ambil?" memberikan ponsel tersebut pada Juna.


Bukan menjawab Juna malah diam, kemudian menyandarkan dirinya disofa.


" Juna!!!!" teriak Syah.


" Hmmmm..."


" Lo marah sama gw?" tanya Syah memastikan.


" Bukankah kita telah sepakat kalo kamu tidak akan memanggil Lo gw lagi?" sembari memejamkan matanya.


" Iya-iyaaaaa aku lupa, kamu kenapa sih? tadi banyak tanya sekarang malah diam"


" Aku capek key, oiya kenapa kamu tidak memberi tahu ku awal-awal kalo kamu akan mengadakan pelatihan selama tiga bulan kedepan?"


" Maaf, Aku aja baru tau itupun karena tadi sore dosen memberikan informasi pada kami semua" berkata pelan.


" Terus kenapa kamu diam? hanya karena ponsel ini" sambung Syah masih kesal.


Syah duduk disamping Juna, karena tak kunjung mendapat respon Syah mendengus kesal.


tanpa aba-aba Juna memeluk Syah, seketika Syah mau berontak.


" Diam lah Keyla, biarkan seperti ini sebentar saja, aku lelah" bisik Juna.


mendengarkan penuturan itu syah hanya pastrah tanpa membalas pelukan itu.


" Syahloni Keyla aku tidak tahu pernikahan kita akan bertahan lama atau tidak, yang pasti aku telah menyukaimu entah kapan perasaan itu datang aku juga tidak tahu pasti, aku takut jika kehadirannya membuatmu melupakan ku" gumam Juna dalam hati.


Bersambung.....