
Pagi yang cerah, Syah bangun dan segera menuju balkon kamarnya. Syah merentangkan tangannya dan menarik nafas sedalam-dalamnya menikmati suasana pagi yang masih segar. Syah segera mengganti pakaiannya dengan baju olahraga ia berpikir kalo hari ini alangkah baiknya untuk berjoging di sekitar komplek rumahnya.
Syah memperhatikan situasi sekelilingnya dan melirik ke arah kamar Juna, berharap ia tidak melihat Juna dipagi yang indah ini, Syah berjalan dengan sangat pelan menuruni anak tangga dan membuka gagang pintu berlahan.
" Mau kemana? kok ngendap-ngendap seperti maling" suara seseorang dari belakang Syah.
Syah menelan ludah nya pelan, saking gugupnya.
" Gw mau jogging" sembari membalikkan badan kearah sumber suara.
" Owh" balas nya singkat.
" Yaudah, Gw pergi dulu " sambung Syah dan membuka pintu.
" Siapa yang ngizinin Lo pergi! gw belum bilang iya" sambung suara itu yang tidak lain ialah Juna.
" Dasar bapak singa nyebelin, gw cekik juga lo, Kenapa Lo ngatur-ngatur hidup gue sih!" maki Syah dalam hati tanpa ia sadari kedua tangannya mengulur kedepan seperti mau mencekik mangsanya hidup-hidup.
Ctakkkk.... satu centilan mendarat mulus di kening syah.
" Awww...." ringis Syah sembari mengelus-elus keningnya yang sakit.
" Ngapain tangannya kek gitu? nggak suka ya kalo gw ngatur hidup lo, ingat keyla gw suami Lo" sambung nya seperti paham dengan apa yang ada dalam pikiran Syah.
" Apaan sih! jadi orang kasar banget Dasar bapak singa!" sembari beranjak pergi. namun tangan Juna dengan cepat meraih pergelangan tangan Syah.
" Apa lagi?" sembari menghela napas pastrah.
" Tunggu disini sebentar! gw mau ikut" sembari melepaskan tangan Syah dan segera menaiki anak tangga.
" Sungguh sial, bapak singa sialan! bikin pagi gw berantakan aja, padahal hari ini gw ingin berolahraga dengan tenang tanpa bayang-bayang Lo!" sungut Syah sembari mengutuk suaminya itu.
Mau tidak mau Syah tetap menunggu Juna berganti pakaian, jika tidak ia takut jika Juna benar-benar bertindak sesuai dengan apa yang ia katakan waktu itu.
Sembari menunggu bapak singa turun, Syah mencoba memutar otaknya bagaimana cara agar Juna tidak lagi mengancam nya, namun sialnya Syah masih belum mendapatkan ide untuk itu.
" Jadi olahraga apa enggak! melamun Mulu, Lo tau nggak kemaren ayam teman saya sering melamun seperti Lo tadi, dua hari selanjutnya malah mati mendadak" menakut - nakuti Syah.
" Basi tau nggak! gw bukan anak kecil yang dengan mudah Lo tipu" cetus Syah
" Yaudah kalo nggak percaya" meninggalkan Syah seorang diri.
" Bapak singa kampret! tungguin" sembari berlari kecil mengejar Juna.
" Naik!" pintah Juna agar Syah masuk dalam mobil.
" Kok pakai mobil? kan gw mau jogging" dengan wajah kesal.
" Mau jogging apa enggak ni? kalo mau cepatan masuk" pintah nya lagi.
Tanpa berpikir terlalu panjang lagi Syah segera masuk, ia takut jika Juna berubah pikiran lagi, maka hari ini menjadi hari yang paling sial dalam hidupnya.
Juna memberhentikan mobilnya tepat di depan taman hijau, tanpa bertanya lagi Syah segera turun dari mobil itu.
" Mau kemana?" sembari mengeggam lengan Syah.
" Mau lari la, masa mau makan"
" Pemanasan dulu, baru jogging nanti salah urat" sembari mempraktekkan gerakan pemanasan.
" *Ribet banget sih bapak singa ini, tinggal jogging aja kebanyakkan gaya*"
Setelah pemanasan, Syah dan Juna mulai berlari-lari kecil mengelilingi taman tersebut, tidak hanya dirinya para pengunjung lain juga memanfaatkan area tersebut untuk jogging bersama rekan, keluarga bahkan ada juga yang jogging bersama kekasihnya.
Syah sengaja melambatkan langkah nya, agar Juna melaluinya. Seperti nya Juna mengetahui rencanya Syah sehingga Juna juga berlari dengan pelan, sesekali ia mendahului Syah hanya beberapa meter iapun kembali balik lagi.
" *Dasar bapak singa terkutuk! maunya apa sih*" Maki Syah dalam hati.
" lah, kok berhenti? kalo nggak sanggup jangan dipaksa" ujar Juna memperhatikan Syah.
" Siapa bilang nggak sanggup? gw sanggup kok, bagaimana kalo kita balapan lari dari sini sampai kursi sana" tantang Syah.
" Ayok siapa takut"
Syah mulai mengambil ancang-ancang agar bisa mengalahkan bapak singa nyebelin itu.
" Siap?" tanya Juna yang dibalas dengan anggukan oleh Syah.
Mereka berlari dengan semangat, ingin membuktikan kehebatan nya masing-masing.
Dipertengahan Syah tidak sengaja menginjak kulit pisang sehingga ia terjatuh.
" Aww... lutut gw" sembari memegang lututnya yang tergores.
Juna menoleh kebelakang, dan melihat Syah yang terduduk dijalan Tersebut dengan segera ia menghampiri Syah.
" Keyla Lo kenapa?" panik sembari memegang lutut Syah.
" Awww.. aw... sakit jangan dipegang" menepis tangan Juna.
" Makanya jalan tuh hati-hati"
" Ini gara-gara kulit pisang itu tuh" sembari menunjuk kulit pisang dihadapannya " siapa sih yang buang kulit pisang sembarangan, nggak tahu apa akibat ulahnya bisa saja orang-orang celaka!" sembari mendumel-dumel saking kesalnya.
" Sini gue bantu" mengulurkan tangannya agar Syah segera bangkit.
" Kaki gw sakit, nggak bisa berdiri" ringis Syah.
" Coba aja dulu" sambung Juna sembari mengulurkan tangannya lagi.
Syah meraih tangan Juna dan hendak berdiri, apa lah daya Syah belum juga sempat Syah berdiri kakinya malah tidak bisa menopang badannya sehingga Juna ikut terjatuh. malah posisi Syah tepat berada dibawah badan Juna, Juna dengan lekat melihat wajah cantik Syah.
" Isss bukan malah menolong tapi malah menambah beban" kesal Syah sembari mendorong tubuh Juna dari badannya.
" Ma-maaf, kan Lo yang menarik gw hingga terjatuh" sambung Juna terbata-bata.
" Halah banyak alasan! terus gimana sekarang? gw nggak bisa berdiri" sambung Syah.
" Gue gendong mau nggak?" tawar nya.
" Nggak mau!" balas Syah
" Yaudah kalo nggak mau, gw tinggal ni!" ancam Juna
Juna sengaja berkata seperti agar Syah menurut dengan apa yang ia katakan, Juna melangkah hendak pergi dari sana.
" I-iya gw mau!" teriak Syah
Juna menoleh, dengan segera menggendong tubuh syah, sebenarnya Syah malu karena banyak mata yang melihat nya.
" Turunin"
" Kenapa?" Juna kelihatan bingung.
" Ya turunin, gw mau istirahat di kursi itu" sembari menunjuk kursi yang tidak terlalu jauh dari mereka berada.
" Yaudah" Juna meletakkan tubuh Syah dengan berlahan dan menduduk kannya di kursi panjang yang Syah tunjuk.
" Tunggu disini, gw mau beli antiseptik dulu di minimarket sana" sembari melangkah.
" Hmm" sambung Syah.
Tidak memakan waktu yang lama, Juna kembali dengan membawa kotak P3K. Juna menawarkan dirinya untuk mengobati Syah, walaupun Syah menolak ia tetap memaksa.
dengan telaten Juna membersihkan luka dilutut Syah.
" Tahan ya, sepertinya ini agak sakit" mendongak ke arah Syah sembari menyapu obat merah dan meniup niupnya"
Syah memperhatikan Juna begitu telaten membersihkan lukanya, entah apa yang ada dalam pikiran bahkan tatapan Syah pada Juna sangat sulit untuk di artikan.
Bersambung.......
Jangan lupa like, vote, dan komennya para reader 🤗