
Taman hijau yang yang terletak ditengah kota ini sangat la indah siapapun yang melihatnya pasti akan terhipnotis dengan keindahan nya, apalagi ditengah taman tersebut terdapat hamparan danau yang cukup luas dengan kapasitas air yang tenang.
Biasanya taman ini selalu ramai oleh pengunjung tepat nya pada hari Minggu karena sebagian dari pengunjung memanfaatkan area taman untuk berolahraga dipagi hari dan bersantai ria dengan keluarga.
Hal yang membuat Syah tambah terpukau dengan tempat tersebut yaitu adanya sepasang angsa putih yang berenang ditengah danau tersebut.
Syah duduk dikursi panjang yang berada di bawah pohon yang rindang sembari memejamkan matanya, rasanya sangat damai dan segala beban terasa hilang seakan dibawa angin yang berhembus.
Tiba-tiba ada tangan seseorang menutup mata Syah dari belakang sontak hal itu membuat Syah kaget, berontak dan ingin menjerit.
" Etss... mau ngapain Syah" ujar orang tersebut sambil menutup mulut syah saking paniknya jika Syah menjerit otomatis ia akan jadi amukan masa.
" Ya Allah Riki!!!!! Lo bikin jantung gue copot tahu nggak!" kesal Syah sembari memukul-mukul riki. Riki berlari-lari kecil untuk menghindari serangan Syah sehingga mereka mengitari kursi tersebut.
Tanpa disadari ada sepasang mata yang menyaksikan mereka dari kejauhan.
" Awww lepasin Syah, maaf maaf gue tidak akan seperti tadi lagi" ucap Riki kesakitan sembari melepaskan tangan Syah yang sedang mencubit pinggangnya.
" Heheh, rasain siapa suruh Lo iseng " ketawa Syah puas melihat Riki yang meringis sambil memegang pinggang nya.
" Tangan Lo terbuat dari apa Syah liat tuh pinggang gue jadi merah seperti ini" cemberut Riki.
" Yaelah lebay lo, masa gitu aja kesakitan heheh" kekeh Syah.
Sembari menunggu Akilla, dan Naura datang, Riki mengambil makanan yang dibawa nya dan memberikan kepada Syah.
" Ini buat Lo" sembari menyodorkan kresek makanan itu dihadapan Syah.
" Apaan ni?" tanya Syah memperhatikan kresek tersebut.
" Makanan, coba deh Lo makan enak tahu" Sambung Riki sembari duduk disamping Syah.
" Nanti aja deh gue makan, nungguin Naura sama Akilla dulu" Sambung Syah.
" Oke, Syah boleh gue nanya sesuatu?" tanya Riki
" Hmm" jawab Syah singkat.
" Lo jangan marah ya"
" Iyaa, tanya aja kali" sambung Syah sembari memperhatikan angsa yang sedang berenang ke sana kemari.
" Sampai kapan Lo seperti ini Syah, maksud gue sampai kapan Lo selalu menutup hati? lagi pula Rico sudah lama pergi, Lo nggak mau apa nerima orang baru?" sambung Riki.
" Andai Lo tau Rik, tapi percuma juga sih, gue memang tidak mengharapkan keberadaan orang baru di hidup gue, tapi status gue malah berubah sedangkan hati gue belum bisa menerima" gumam Syah dalam hati.
" Syah? Lo dengar gue nggak sih?" tanya Riki yang memperhatikan Syah sedang melamun.
" A-apa? gue dengar kok" sambung Syah terbata-bata.
" Serius?" tanya Riki lagi.
" I-iya gue dengar, kenapa orang-orang sekitar gue selalu mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang Lo sampaikan tadi, kenapa? kalian takut kalo gue nggak akan punya pendamping hidup satu hari nanti?" bukan nya malah menjawab tetapi Syah malah mengajukan pertanyaan balik pada Riki.
" Bukan begitu maksud gue Syah, tapi gue berharap Lo bisa memulai hubungan baru dengan seseorang" sambung riki.
" Doakan aja yang terbaik buat gue Rik, gue malas bahas begituan, gue harus mendapatkan gelar dokter secepat mungkin jika itu terjadi mungkin Riko akan senang di alam sana" ujar Syah.
Ketika mereka sedang asik bercerita tiba-tiba ada suara tangisan yang datang entah dari mana, Syah dan Riki mencoba mencari dimana sumber suara itu berasal.
Ternyata suara itu berasal dari bangku yang agak lumayan jauh dari posisi mereka, Syah kaget ternyata suara itu berasal dari anak kecil yang menggemaskan. Syah mencoba mendekati nya tetapi anak tersebut seperti nya takut.
" Hey cantik jangan menangis lagi, dimana orang tua mu?" ujar Syah sembari mulai mendekat.
" Sepertinya anak itu terpisah dari orang tuanya" ucap Riki yang baru menghampiri Syah.
" Kayaknya gitu, kasihan dia kalau disini sendirian kalo dia kenapa-kenapa gimana coba" ujar Syah
" Hyyyy anak cantik, sini sama om kamu nggak usah takut om sama Tante nggak akan jahat sama kamu" bujuk Riki.
Berlahan-lahan Riki mendekati anak tersebut dan mencoba menggendong nya, seperti nya anak tersebut sudah mulai luluh.
" Gue juga mau gendong dia sini berikan pada gue" kata Syah tetapi anak itu semakin mempererat pelukannya pada Riki.
" Kayaknya dia takut sama Lo, heheh" ledek Riki sembari berjalan dan membawa anak tersebut dikursi yang ia duduki sebelum nya.
Seketika raut wajah Syah berubah menjadi manyun.
" Yaudah kita tunggu aja disini"
" Cante kenapa cedih?" kata anak tersebut.
" Heyy kayaknya dia sudah mulai menyukai mu" ucap Riki.
Syah sangat senang karena anak kecil itu mulai berbicara dengannya.
" Tante nggak sedih kok, apakah kamu mau duduk disini" ucap Syah menepuk-nepuk pelan paha nya berharap anak itu menuruti.
" Iya cante, issa mahu" ucap nya
" Apakah namamu Isa?" kata Riki
tetapi anak itu menggeleng.
" Ica?" sambung Syah
ia tetap menggeleng
"Caca?" sambung Riki menerka-nerka karena yang dibilang anak itu kurang jelas mungkin karena umurnya masih kisaran 3 tahun.
" Bagaimana kita mencari orang tua nya Syah, sedangkan nama dia saja kita belum tahu" Sambung Riki.
Ketika Riki mengucapkan nama Syah anak itu langsung girang.
" Nggak mungkin kan kalo nama dia Syah?" ujar Syah.
" Cante cante itcu nama cu" ujar anak itu senang sembari bertepuk-tepuk tangan.
" Syah? jadi namamu syah?" sambung Riki sembari mencubit pelan pipi anak kecil itu.
Anak kecil itu mengangguk. Syah mengernyitkan dahinya tidak percaya kalo nama nya sama dengan anak kecil itu.
" Apakah namu mu syahloni Keyla?" Syah mencoba bertanya lagi.
" Iya cante, nama cu itcu" ucap nya sembari mengangguk.
Syah melongo tak percaya bagaimana mungkin nama nya sama persis dengan anak itu.
" Seperti nya nama Lo punya daya tarik tersendiri sehingga ada orang tua yang memberikan nama anaknya persis dengan nama Lo" kata Riki.
" Hmmm, kebetulan aja kali ya" sambung Syah.
" Cantik apakah kamu mau makan sesuatu? kamu duduk disini sama Tante dulu ya, om akan kembali" ujar Riki sembari berjalan.
" Kemana Rik?" teriak Syah.
" Bentar, Lo jagain dia dulu" sambung Riki.
Tidak lama setelah itu Riki kembali dengan membawa permen kapas dan membawa susu coklat untuk anak tersebut.
" Ini khusus buat kamu dari om" ujar Riki.
" Buat dia aja nih? gue nggak dibeliin" ujar Syah cemberut.
" Hehehe, Lo mau juga?" tanya Riki sembari mengelus kepala Syah kecil dan Syah.
" Nggak jadi deh, udah gak mood gue" ucap Syah.
" Wah anak kalian cantik sekali, gemesz lagi mirip sama mama papanya" ujar ibuk-ibuk yang kebetulan juga sedang bersantai disana.
Syah mengernyitkan keningnya mendengar perkataan ibuk tersebut.
" Heheh iya dong buk, mama nya aja cantik" goda Riki.
" Rikiiiiii" ucap Syah menatap Riki.
" Heheh" tawa Riki bahagia melihat wajah kesal Syah.
Bersambung......