Mr. Pilot My Husband

Mr. Pilot My Husband
Episode 31



Jam telah menunjukkan pukul 23:00 Syah dan Juna segera pulang. di perjalanan pulang tidak ada sepatah katapun yang terdengar didalam mobil itu, Syah sibuk dengan pikirannya sendiri dan Juna fokus pada jalan yang dilaluinya.


Sesampainya dirumah Syah segera turun dari mobil dan berjalan mendahului Juna, sebelum Syah membuka pintu kamarnya tiba-tiba Juna menahan tangan Syah.


" Kenapa Lo menghindar dari gue Keyla? " tanya Juna karena setelah makan tadi sampai mereka pulang, Syah sedikitpun tidak berbicara dengannya.


" Gue capek gue mau istirahat " ujar Syah singkat.


" Gue cuman becanda pas bilang mau nyium lo tadi, niat gue kan baik untuk bantuin Lo" ujar Juna


" Tidak semua orang bisa nerima candaan Lo, sekarang minggir lah" kesal Syah dan segera membuka pintu.


" Cewek memang susah untuk ditebak kadang kelakuan nya manis dan dalam hitungan menit bisa berubah secara drastis" gumam Juna dalam hati sembari geleng-geleng kepala.


Tanpa berpikir lagi Juna melangkah menuju kamarnya karena hari ini terlalu menguras pikiran bahkan menghadapi satu cewek saja membuat Juna merasa letih jika dibandingkan dengan tugasnya di maskapai sebagai pilot.



Waktu telah menunjukkan pukul 5:30 pagi. Syah dikejutkan oleh suara alarm yang mulai berdenting, sesekali Syah mengerjabkan mata sebelum ia benar-benar dapat membuka matanya secara sempurna.



Dengan segera Syah menuju kamar mandi untuk berwudhu dan segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.



Sementara ditempat lain tepatnya dikamar sebelah, Juna juga sedang melaksanakan shalat selesai sholat tiba-tiba handphone di atas nakas berbunyi beberapa kali menandakan ada pesan masuk.



Kening Juna tertaut setelah membaca pesan itu, kemudian ia berlari ke kamar mandi dan segera mengganti pakaian.



Juna mengambil kunci mobil dan segera menuruni anak tangga, sesampainya dilantai satu tidak ada seorangpun disana.



" Mungkin Keyla masih tidur" pikir Juna, kemudian Juna melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah tentunya Juna pergi tanpa mengatakan apapun pada Syah.



Dipikiran Juna jika dia pamit pun Syah juga tidak akan mencium tangan nya seperti layaknya suami istri diluar sana. Junapun sadar jika pernikahan nya itu karena keterpaksaan bukan atas dasar sayang apalagi cinta.



Pukul 07:30 Syah menuruni tangga dan ia hendak kedapur untuk makan mie instan sebelum berangkat kekampus karena kebetulan hari ini Syah masuk kuliah pukul 09:00.


" Pagi non" ucap wanita paruh bayah yang sedang menyajikan makanan diatas meja.


" Pagi juga buk, maaf sebelumnya ibuk ini siapa? kenapa bisa ada didalam rumah suami saya" ujar Syah dengan sopan, karena sebelum nya Syah tidak tahu sama sekali Juna memiliki asisten rumah tangga.


" Maaf non, kenalin nama bibik bik ani pembantu baru dirumah ini, den Juna menyuruh bibik untuk membantu membersihkan rumah" ujar bik ani sopan sembari memperkenalkan diri.


" Salam kenal bik, ngomong-ngomong umur bik ani berapa?" tanya Syah


" Umur bibik 40 non" kata buk ana.


" Baiklah bik" Syah segera duduk


sementara itu bik ani segera menuju dapur.


" Mau kemana bik?" tanya Syah.


" Bibik mau kedapur non, apa ada yang non butuhkan?' tanya bik ani.


" Bik ani temanin Syah makan ya, Syah nggak biasa makan sendiri" ujar Syah.


" Ta- tapi non" kata buk ani terbata-bata.


" Bik ani tidak usah sungkan dengan Syah, anggap saja Syah anak bik ani toh dengan adanya bik Ani Bekerja disini Syah ada yang nemenin" kata Syah sembari menutun bik Ani segera duduk dikursi sebelahnya.


" Ma-makasih non" ucap bik Ani tersanjung karena ditempat kerja sebelumnya majikan bik Ani selalu melarang nya untuk makan bersama, bik Ani bersyukur mendapatkan majikan seperti Syah dan tuan Juna.


" Bibik kenapa menangis?" tanya Syah ketika memperhatikan bik Ani meneteskan air mata.


" Ti-tidak kenapa-kenapa non, bibik terharu memiliki majikan seperti non, orang nya cantik hatinya juga bersih" ucap bik Ani terharu.


" Bik Ani bisa aja, entar Syah terbang nih" ujar Syah ketika mendengar bik Ani memujinya.


Bik Ani tersenyum mendengar majikannya itu setelah selesai makan, Syah membantu bik Ani membereskan meja makan dan menaruh piring kotor kewastafel walaupun sebenarnya bik Ani telah melarang Syah untuk membantu pekerjaan nya tetapi Syah bilang bik Ani tidak boleh menolak bantuan nya.


" Oiya, Juna ada bilang kemana nggak bik?" tanya Syah.


" Maaf non, bibik kurang tahu karena den Juna bilang bibik harus nemenin non Syah dirumah ini" ucap bik Ani.


" Begitu ya bik, baiklah bik Syah ke atas dulu ya mau siap-siap mau kekampus" ucap Syah.


" Baik non Syah" ucap bik Ani sembari tersenyum.


Syah kembali ke kamar dan mempersiapkan materi apa saja yang akan dibawah kekampus nanti.





" Lama banget nyampe nya, hampir belumut kita nunggu disini" ujar Akilla



" La kenapa gue yang disalahin, siapa juga yang nyuruh kalian nunggu diparkiran" ledek Syah.



" Ya nggak ada sih heheh" ujar Akilla karena yang dikatakan Syah ada benarnya.



" Bentar gais, kalian tunggu disini ya" kata Naura sembari menuju mobilnya, ya hari ini Naura mengendarai mobil tanpa supir.



" Kemana tuh anak?" ujar Akila



" Mana gue tahu" kata Syah sembari mengangkat bahunya.



Tidak lama setelah itu Naura kembali dan membawa sesuatu tetapi disembunyikan dibelakang nya.



" Apaan tuh? coba liat" Kata Akila celinguk-celinguk saking pengen tahunya.



" Sabar atu" ujar Syah.



kemudian Naura menyuruh sahabatnya itu untuk menutup mata, mereka juga menuruti instruksi dari Naura.



" Sekarang kalian boleh buka mata" kata Naura sembari membuka kotak perhiasan dihadapan sahabatnya itu.



" Ini sungguh indah Naura" kata Syah dan Akilla bersamaan.



" Ini gue beli khusus untuk sahabat-sahabat gue yang selama ini selalu ada disaat gue dalam keadaan susah bahkan disaat kondisi keuangan perusahaan keluarga gue terpuruk sekalipun kalian berdua tidak sedikitpun berniat meninggalkan gue" jelas Naura ketika mengingat 4 tahun yang dimana kondisi keuangan perusahaan orang tuanya mulai bangkrut tanpa berpikir panjang keluarga Syah dan Akilla malah menyuntikkan dana begitu besar dan mengambil resiko yang begitu besar.



Mendengar apa yang dikatakan Naura mereka saling berpelukan.



" Gue berharap kita akan selalu seperti ini" kata Syah.



" Udah ih sedih nya, nanti make-up gue luntur tahu" celetuk Akilla sontak kata-kata Akilla membuat Syah dan Naura tertawa.



Naura memasangkan gelang itu silih berganti kepada sahabatnya.



" Wah treeple dong" ujar Syah senang sambil memperhatikan gelang yang mereka pakai itu sama.



" Makasih Naura cayank" ujar Naura sambil senyum-senyum manis.



" Makasih sahabat ku, your the best la pokoknya" kata Syah.



***Bersambung***......



jangan lupa vote, like dan koment nya kak.



Makasih udah mau mampir 🤗