
Metika Syah sedang bersantai di taman belakang rumah tiba-tiba Juna menghampiri nya.
" Ngapain lo disini?" tanya Juna
" Nggak ngapa-ngapain, emang nya kenapa?" kata Syah sembari memperhatikan mainan kunci yang masih digenggamnya.
" Apaan tuh? coba liat" kata Juna penasaran.
" Bukan hal yang menarik bagi Lo, ngapain lo sekarang banyak tanya begitu, bukankah waktu itu Lo bilang jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing" kesal syah sembari menyembunyikan gantungan kunci tersebut.
Tetapi Juna tidak menggubris perkataan Syah, dia berusaha meraih benda yang ada ditangan syah tanpa sengaja Juna menjatuhkan benda tersebut.
" Jadi cuman gara-gara benda ini Lo senyum-senyum sendiri disini? yaelah ditoko mainan ma banyak benda ginian, apa yang istimewa nya dari benda kecil ini" celetuk Juna sembari memperhatikan gantungan kunci yang dipegangnya.
" Mungkin bagi Lo benda itu tidak istimewa, tapi bagi gue benda itu sangat special setelah motor gue" ujar Syah sembari merebut gantungan tersebut dari Juna.
" Apa itu dari mantan kekasih Lo itu?" tanyanya lagi.
Syah hanya diam mendengar ucapan Juna.
" Gue tahu loe nggak percaya sama gue, dan Lo menganggap kita hanya orang asing yang terikat dengan ikatan pernikahan tanpa ada perasaan satu sama lain, tapi bisakah kita menjadi seorang teman?" tanya Juna sembari menatap Syah.
" Kenapa Lo ingin berteman sama gue? bukankah waktu itu Lo bilang kalo gue masih bocah" kata Syah.
" Heheh, masalah itu udahlah lupain aja apakah sekarang kita berteman?" tanya Juna lagi.
" Hmmm" jawab Syah singkat.
" Apakah hmm yang Lo bilang pertanda iya atau tidak?" Juna mencoba memastikan.
" I-iya" jawab Syah lagi.
" Oke, karena sekarang kita berteman jadi Lo harus cerita sama gue apa yang special dari benda ini?" merebut gantungan tersebut dari tangan Syah.
" Hmmmm, sebenarnya benda itu gantungan kunci kesayangan rico semenjak kejadian itu gue selalu menyimpannya" jelas Syah.
" Key, kalo boleh gue tahu apa yang menyebabkan mantan Lo meninggal?" tanya Juna hati-hati sembari memberikan gantungan kunci Syah.
" Hmmm, kita nggak usah bahas kejadian itu ya dua tahun lebih gue tersiksa karena itu gue harap Lo mengerti" ucap Syah.
" Nggak selamanya awan itu mendung, suatu saat dia akan berubah cerah. begitu juga kebahagiaan, mungkin sekarang belum saatnya tapi jika saatnya sudah tiba, kebahagiaan itu akan menghampiri dengan sendirinya, mungkin suatu saat Lo akan menerima takdir yang diciptakan Tuhan untuk Lo" kata Juna.
Kening Syah tertaut, pandangan Syah beralih ke arah juna menatap Juna bingung.
" A**pa maksud dari perkataan nya itu?" kata Syah dalam hati.
" Karena kita berteman sekarang bagian Lo yang cerita ke gue, apakah Lo memiliki kekasih?" entah mengapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Syah.
Sekarang kening Juna yang bertaut menanggapi pertanyaan dari Syah.
" Apakah itu penting?" tanya Juna lagi.
" Kalo nggak mau jawab ya sudah gue nggak maksa" ujar Syah.
" Baiklah gue akan menjawab sebenarnya gue menganggumi seseorang" kata Juna
" Siapa?" tanya Syah antusias.
" Dia adalah teman semasa kecil waktu dikampung, umur kita terpaut tiga tahun, kulitnya bersih, mata nya juga indah, bahkan gue selalu melindungi dia dari teman-teman yang usil terhadapnya" ujar Juna sembari tersenyum membayangkan masa itu.
" Terus dimana dia sekarang?" tanya Syah.
" Hmmm, mungkin dia telah melupakan gue" sambung juna.
" Kok gitu? emangnya Lo nggak berusaha cari dia? kalo gue jadi Lo mungkin gue akan mengungkapkan perasaan yang selama ini gue pendam pada tuh orang" ujar Syah.
" Andai semudah itu" gumam Juna.
" Yaelah jadi cowok tu harus gantle dong, kalo Lo cinta sama dia buktiin ke dia kalo Lo emang pantas jadi pendamping dia" ujar Syah menyemangati Juna.
" Bagaimana kalo dia mencintai pria lain? apakah gue harus memaksakan perasaannya?" tanya Juna
" Hmmm, ternyata kisah percintaan Lo serumit jalur rolling coster" kekeh Syah.
" Mumpung Lo lagi bahas roller coster bagaimana kalo malam nanti kita kepasar malam? kan waktu itu Lo bilang pengen kesana" ajak Juna
" Lo serius? emang nya Lo sudah pernah kepasar malam?" tanya Syah menyelidik.
" Pernah sih, mungkin dua sampai tiga kali" jawab Juna sembari mengingat
" Emangnya ada ya roller coster dipasar malam?" tanya Syah lagi.
" Yang Kw nya ada, hehehe" kekeh Juna.
Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Syah telah bersiap-siap untuk pergi dengan semangat syah menuruni anak tangga kemudian memanggil manggil Juna tetapi Juna tidak berada disana.
Syah berlari menaiki anak tangga kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar Juna, masih belum ada tanggapan dari dalam tanpa menunggu lagi Syah membuka pintu kamar tersebut.
" Lah kenapa nggak ketuk pintu dulu" kata Juna yang kaget karena Syah.

" Gue udah ngetuk pintu, Lo aja yang tua makanya pendengaran Lo mungkin sedikit bermasalah" ledek Syah. "cepatan Juna! katanya tadi mau kepasar malam" sambil menarik tangan Juna agar segera berangkat.
Juna yang melihat tingkah Syah seperti itu, ia merasa lucu ingin sekali mencubit pipi Syah gemes tetapi diurungkan takut kalo Syah akan menjauhi nya.
Lebih kurang setengah jam akhirnya mereka sampai ditempat yang mereka tuju
" Waw.... indah sekali" ucap Syah kagum, karena ini pertama kalinya dia kepasar malam.
" Jangan planga plongo aja, yuk kesana" ujar Juna sembari mengajak Syah mengelilingi tempat itu.
" Ayok" ujar Syah bersemangat.
" Ehh, bentar gue lupa membawa sesuatu" ujar Juna sembari berlari ke arah mobilnya.
Tidak lama setelah itu Juna kembali dengan membawa camera ditangannya.
" Buat apa?" tanya Syah
" Buat foto-foto la, masa mau dimakan" ujar Juna sembari memotret beberapa objek yang menarik perhatian nya.
" Bagus kan?" kata Juna sembari memperlihatkan hasil jepretan nya itu.
" Bagus" ujar Syah singkat.
Berapa saat Syah memperhatikan sekeliling nya, mata Syah tertuju pada permainan yang sedang ramai dikerubuni orang-orang.
" Juna kita kesana yuk" ucap Syah menarik-narik baju Juna.
" Kemana?" tanya Juna
" Gue mau main itu" ucap Syah antusias
" Apa Lo yakin?" tanya Juna tidak percaya dengan wahana yang ditunjuk Syah.
" Emangnya ada yang salah kalo gue mau main itu" ujar Syah sedikit cemberut.
" Yaudah kita kesana" ucap Juna pasrah
" Apakah ini sikap Lo yang sesungguhnya Keyla? kadang keras kepala, dan terkadang seperti anak-anak" gumam Juna dalam hati entah kenapa dia tertawa melihat Syah yang berlari menuju wahana pancing ikan untuk anak-anak itu.
" Maaf pak, apakah boleh saya ikut bermain ini?" ucap Syah sopan kepada Bapak penjaga wahana tersebut.
" Boleh mbak silakan beli tiket terlebih dahulu" kata bapak itu
Junapun memberikan tiket agar Syah ikut bermain.
" Apakah dia kekasih mu anak muda?" tanya si bapak yang memperhatikan Juna.
" Heheh, dia istri saya pak maaf jika dia sedikit bertingkah" kata Juna sedikit malu.
Bersambung.......
jangan lupa like nya reader, karena semakin banyak yang like semakin menentukan apakah karya ini harus lanjut atau tidak.
terimakasih 🤗🤗