
" Bapak singa! kamu baik-baik aja kan?" masih dalam pelukan Juna.
" Hmmmm..." melepaskan pelukannya.
" Kamu kenapa? ada masalah? sini cerita sama aku"
" Aku baik-baik saja, sekarang tidurlah aku akan tidur disofa" ujar Juna.
" Hmmm baiklah" berjalan menuju tempat tidur.
Malam semakin larut, yang dapat didengar hanya suara jangkrik diluar sana. mungkin seluruh penghuni rumah sudah bergabung dengan mimpinya masing-masing, berbeda dengan Syah entah mengapa hari ini ia merasa ada yang berbeda dari sikap Juna.
Syah mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Juna yang sedang terlelap.
" Hyy bapak singa? sebenarnya kamu sedang memikirkan apa? kenapa nggak mau cerita sama aku?" bisik Syah sembari menatap Juna dengan tatapan yang susah untuk diartikan.
sedangkan orang yang Syah ajak bicara kelihatan nya sedang bergabung dialam mimpinya. Syah ingin kembali tidur namun matanya enggan untuk terlelap, sehingga ia memutuskan untuk mengerjakan tugas dilaptop nya.
Syah duduk dilantai tepatnya didekat Juna yang sedang tertidur. jari jemari Syah sibuk menari di atas keyboard.
sesekali ia menyandarkan kepalanya menghilangkan kekalutan yang menari-nari dalam pikirannya.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Juna tersentak dari tidurnya. Juna memperhatikan selimut yang menempel ditubuhnya seketika pandangan juna tertuju pada sosok wanita yang akhir-akhir ini berhasil membuat hati dan pikirannya selalu tertuju pada Syah.
" Kenapa keyla tidur disini apakah ia kelelahan karena membuat tugas" sembari menatap Syah.
Juna memperhatikan laptop syah masih menyala lalu mematikan nya.
Juna mengangkat tubuh Syah dengan hati-hati agar tidur Syah tidak terusik lalu merebahkan nya diatas tempat tidur.
" Hyyyy istriku, kamu sungguh cantik" merapikan rambut Syah yang menutupi wajahnya.
Sesekali Syah menggeliat kecil, entah kenapa ekspresi itu sangat lucu bagi Juna.
" imut" gumam juna sembari tersenyum.
Ketika Juna hendak beranjak dari tempat tidur itu tiba-tiba Syah menahan tangan Juna.
" Jangan pergi lagi, kehilangan mu membuat dunia ku seakan-akan terhenti" itu lah kata-kata yang diucapkan oleh Syah dengan mata yang masih tertutup.
" Aku tahu maksud mu key, aku tau kamu belum sepenuhnya melepaskan masa lalu mu, jujur aku kecewa tetapi aku tidak bisa melakukan apapun" menatap Syah sembari melepaskan tangannya.
Ketika tangan Juna berhasil terlepas namun tiba-tiba syah bangun dan memeluk Juna. sontak Juna menatap syah lekat-lekat dan membiarkan Syah memeluk nya.
" Bapak singa kamu jahat, kau hadir dalam hidup ku secara tiba-tiba namun membuat banyak perubahan dalam diriku, ku mohon bersabar lah dengan sikapku sedikit lagi" mempererat pelukannya dengan mata masih tertutup.
Kening Juna tertaut "apa maksud dari perkataan keyla barusan" gumam Juna dalam hati.
Matahari pagi mulai menyapa Syah bangun dari tidurnya.
" Kenapa gw tidur disini? Semalam gw mimpi? sehingga merangkak ke atas kasur dengan sendirinya? ehh nggak mungkin juga kan, apa jangan-jangan Juna yang memindahkan gw?" bertanya-tanya dalam hati.
" Kalo iya Juna yang memindahkan masa iya gw nggak berasa sedikitpun? hmmmm kemana dia ya" celingak-celinguk mencari keberadaan juna.
Tanpa berpikir terlalu panjang, Syah memutuskan untuk membersihkan diri. setelah itu Syah menuruni anak tangga berniat untuk membuatkan sarapan pagi untuk mama-papanya.
" Pagi bik" sapa Syah pada bik ana.
" Pagi juga non" tersenyum manis.
" Bik! apa bibik melihat juna?" tanya Syah ragu-ragu.
" Tuan Juna sepertinya sedang lari pagi non, emang nya non nggak tau?"
" Hmm.. Syah ketiduran bik heheh" kekeh Syah " Syah bantuin ya bik" sambungnya
" Nggak usah non, mending non duduk manis aja" goda bik ana.
" isss bibik, Syah ngambek nih?" pura cemberut.
" Hehehe,, memang benar yang tuan Juna katakan kalo non cemberut seperti itu jatuhnya lebih ke imut non Syah" kekeh bik ana.
" Heheh... bibik bisa aja" wajah Syah merona karena malu.
" Tapi tetap aja Syah mau bantuin bibik, bibik nggak boleh nolak"
Bik ana tersenyum dan membiarkan Syah mau membantu nya.
Sebelum Syah membalikkan badan, ternyata mama papanya sudah berada dibelakangnya.
" Wahh rajin sekali anak mama, pagi-pagi gini udah bangun" kekeh mama.
" Iss mama, biasanya Syah kan juga selalu bangun pagi" memasang wajah cemberut.
" Heheh, anak papa sudah banyak mengalami perubahan ya" mengelus kepala Syah.
" Juna mana sayang?" tanya mama yang memperhatikan menantunya itu masih belum berada dimeja makan.
" Juna pergi jogging pa-ma"
" Owh" sembari duduk.
" Assalamualaikum pa, ma" ucap Juna yang baru masuk lalu mencium punggung tangan mertuanya itu.
" Mandi gih Jun, biar kita bisa makan bareng" ucap mama.
" Mama sama papa sarapan duluan aja ya ma, nanti kalo nungguin Juna mandinya kelamaan" kekeh juna
" Ngampus jam berapa key?" tanya Juna.
" Satu jam lagi seharusnya aku udah masuk kelas, tapi tugas yang kemaren malam belum kelar" ucap Syah sembari mengambil laptop nya.
" Yaudah siap-siap gih, biar aku anterin agar nggak telat" ucap Juna sembari mengecek kamera yang biasa ia bawa.
" Serius kamu mau anter aku ke kampus? berarti aku bisa ngetik di mobil nanti makasih suami pilihan mama" ucap Syah kegirangan.
Suami pilihan mama ada sedikit rasa yang berbeda dari panggilan tersebut.
" Suami pilihan mama? hmm baiklah" ucap Juna datar.
" Lah kenapa ekspresi nya begitu? jadi nggak nih nganter ke kampusnya?"
" Iya jadi"
" Makasih suami ku" bisik Syah berlalu yang tentunya masih bisa didengar oleh Juna.
" Hehe... sama-sama istri kecil ku"
Didalam mobil.
" Kamu nggak kerja?" melirik Juna sekilas kemudian menatap layar laptopnya semula.
" Emang nya kenapa?" menatap Syah.
" Nggak ada cuman nanya aja"
" oiya key, pakailah kartu ini untuk kebutuhan mu" mengeluarkan black card dari dompetnya dan menyerahkan pada Syah.
" Buat apa? aku masih punya uang untuk memenuhi kebutuhan ku" tanpa menoleh.
" Key! ini hak mu, yang perlu kamu ingat aku adalah suami mu itu berarti semua kebutuhan mu aku yang harus menanggung nya karena itu tanggung jawab ku"
Syah melongo tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.
" Ini untukku?"
" Iya itu untukmu, emangnya aku mempunyai istri lainnya?" ucap Juna kemudian fokus menyetir.
" Waw black card? sungguh ini Blac card?" memperhatikan kartu yang sedang ia pegang.
" Kenapa planga plongo begitu?" tanya juna.
" Ini sungguh untukku?" menunjuk dirinya sendiri.
" Iya itu untuk mu, kamu pikir aku tidak bisa memenuhi kebutuhan mu?"
" Hmmm... sebenarnya kamu kerja apa?" menatap Juna serius.
" Rahasia" jawab Juna dengan santai.
" Issss aku ngambek ni" sembari cemberut.
" Heheh... rahasia key, nanti kamu juga bakal tahu dengan sendirinya" mengelus kepala Syah dengan satu tangan dan tangan yang satunya masih fokus nyetir.
Bersambung.....