
Dua Minggu telah berlalu, seiring berjalannya waktu makin hari Syah serta timnya sibuk dengan pelatihan mereka, waktu untuk beristirahat pun berkurang.
" Pulang yok gais" ajak Mia pada Syah dan dua orang rekan lainnya.
" Ayok" ucap lainnya.
Namun berbeda dengan Syah biasanya ia selalu ceria tiba-tiba sekarang mendadak jadi pendiam, tampak jelas dari wajah Syah kalau ia sedang tidak enak badan Mia menghampiri Syah.
" Astaga Syah! Badan Lo kok panas banget" menaruh telapak tangannya dikening Syah.
" gw baik-baik aja gais, mungkin cuman kecapean" ucap Syah pelan.
" Ini bukan kecapean lagi Syah tubuh Lo juga panas kayaknya Lo demam" ucap Mia panik.
Mia memanggil teman lainnya untuk meminta pertolongan.
" Syah kenapa Mia?" Ucap Rani tak kala paniknya.
" Syah!!! Lo bisa dengar kita kan?" Panggil Rani sembari menepuk-nepuk pipi Syah. Namun Syah tak kunjung merespon. Mia menghubungi Rifki untuk meminta pertolongan namun Rifki tidak menjawab telponnya.
" Aduhh! Gimana ni gais, Bagaimana caranya agar kita bisa membawa Syah pulang kepenginapan?" Panik Mia sembari mencoba membangun kan Syah.
Syah bisa mendengar suara dari teman-teman nya, namun ia tidak bisa merespon bahkan untuk berbicara saja ia tidak bisa, tubuh Syah mulai lemas sampai akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.
Dirumah sakit.
" Hmmm..." Syah terbangun dan memperhatikan sekelilingnya.
" Syah Lo udah bangun, Syukurlah gw panik tau nggak! Lain kali jangan gini lagi Syah" suara lelaki berseragam yang duduk disamping Syah.
" Alhamdulillah Lo udah bangun Syah" ucap Mia tersenyum senang karena keadaan Syah sudah membaik.
" G-gw dimana?" Tanya Syah.
" Lo dirumah sakit Syah, kita yang bawa Lo kesini dengan bantuan teman Lo" ujar Rani.
" Ngapain kerumah sakit sih gais? Gw baik-baik aja kok lagian kenapa nggak kalian aja yang meriksa gw" sambung Syah sembari memegang kepalanya.
" Niat nya juga gitu Syah, tapi kata kakak ganteng itu" setengah berbisik dan memberi kode ke arah lelaki yang menolong Syah, siapa lagi kalo bukan Riki. " Kata kak Riki Lo harus mendapatkan penanganan yang tepat oleh ahlinya, sedangkan kita masih jauh dari kata profesional Syah" sambung Mia.
" Hmmm... Makasih gais, maaf gw udah nyusahin kalian" sambung Syah.
" Sama-sama" kata Mia dan Rani.
" Udah Lo nggak usah banyak bicara dulu, Lo harus makan biar gw yang nyuapain" sembari mengambil semangkok bubur diatas meja kecil.
" Gw nggak lapar Rik" ucap Syah sembari mencoba duduk.
" Lo nggak boleh banyak gerak dulu" Riki membantu Syah duduk dan meletakkan bantal dibelakang Syah sebagai penganjal.
" Ya Allah Riki! Gw baik-baik aja perlakuan Lo itu berlebihan banget Rik, kayak gw sakit parah aja" kesal Syah.
" Mau Lo sakit ringan kek pokoknya Lo nggak boleh bantah, makan dulu! gw suapin nggak ada penolakan titik" Riki bersekukuh nyuapin Syah.
Dengan terpaksa Syah mengikuti pintah Riki, sedangkan Mia,Rani dan temannya yang satu lagi terheran-heran melihat Riki yang begitu perhatian pada Syah. Mereka bertanya-tanya ada hubungan apa antara Syah dan Riki.
" Nanti kalo Syah bandel nggak mau dibilangin makan atau apa lah itu, kalian bisa memberitahu kan pada saya" ucap Riki pada teman-teman Syah.
" lu itu ya nggak bisa liat yang bening dikit langsung deh keluar sikap nya" senggol Rani.
" Sekali-kali nggak papa dong" kekeh Mia.
" Yaudah kalo gitu, yang penting tetangga kita punya gw" ucap Rani yang diiringi tawaan oleh Mia dan yang lainnya kecuali Syah. ia hanya diam mendengarkan ocehan dari temannya.
" Rik!"
"Iya Syah" memperhatikan Syah.
" Lo kenapa bisa berada dibandara? bukannya Lo cuma seminggu disini?" tanya Syah.
" Kontrak gw diperpanjang disini Syah, mungkin dalam jangka 5 bulan"
" Gw janji akan jagain Lo, biar kejadian ini tidak terulang lagi. gw sayang sama Lo Syah" sambung Riki.
" Hm.... Ki gw mau istirahat di penginapan aja, kalo disini bukan nya malah sehat tapi gw tambah sakit"
" Okay boss kita pulang biar gw yang anter"
Setelah Riki berlalu pergi teman-teman Syah pada heboh nanyain banyak hal yang berurusan dengan Riki.
" Ternyata dia pilot? nggak nyangka gw, udahlah ganteng tubuh atletis pilot muda, wahhh idaman gw banget deh pokoknya" ucap Mia sembari senyum-senyum sendiri.
" Lo suka sama dia?" tanya Syah.
" Buanget Syah, bukan suka lagi tapi gw tertarik banget sama dia, dia itu kriteria jodoh impian gw banget" sambung Mia sembari menopang kedua pipinya.
" Kalo Lo suka sama dia cari tau dong info tentang pribadinya" sambung Syah santai.
" Hmmm.... Tapi kan Syah, kalo gw liat dari cara dia Mandang Lo, memperlakukan Lo kayaknya dia naksir sama Lo deh, emangnya Lo nggak suka sama dia?" tanya Mia mencari jawaban dari Syah.
" Hehehe... gw suka sama dia? yakali! ya enggaklah Mia sayangggg... masa iya gw suka sama dia, kalo gw suka mungkin udah dari dulu kali gw terima, asal kalian tau ya gais gw sama Riki itu emang dekat dari masa SMA bisa dikatakan dia sahabat gw, jadi kalo kalian dengar dia bilang sayang sama gw ya pasti lah dia sayang sebagai sahabatnya" jelas Syah.
" Gw berharap apa yang Lo sampaikan itu benar Syah" selidik Mia.
"Hmm... ya terserah kalian kalo nggak percaya, gw mau istirahat dulu" Syah menuju kamarnya.
Rifki yang baru dapat informasi kalo Syah sakit ia segera menuju penginapan tim cewek.
Tok..... tok... tok....
" Siapa sih yang bertamu malam-malam. nggak tau apa orang mau istirahat" gumam Mia sembari menuju pintu.
" Mia!! Syah mana? Syah baik-baik aja kan?"
" Hmm... Syah baik-baik aja kok, Lo kemana sih pas kita butuh bantuan? untung tadi ada kak Riki yang nolongin Syah, kalo enggak gw nggak bisa bayangin apa yang terjadi lagi" balas Mia.
" Gw minta maaf, tadi pekerjaan gw lumayan banyak apalagi yang ditempatkan dicabin cowok semua"
" Gitu.. yaudah ayok masuk" Mia mempersilakan Rifki dan anggota masuk kedalam rumah.
" Silakan duduk dulu, gw mau panggilin Syah dulu"
" Okay Mia" ucap anak-anak lainnya.
" Lo kenapa panik banget bro?" ujap salah satu rekan Rifki.
" Yaelah bro, Lo nggak tau aja kalo ketua kita lagi jatuh cinta" sambung yang lainnya.
Rifki menatap tajam kearah mereka.
"Hehe.... sorry bro gw cuman becanda"
" Kalian tau kan kalo kita satu tim, seandainya terjadi apa-apa sama salah satu anggota kita, gw juga yang bakal disalahkan dengan tuduhan ketua yang tidak becus menjaga rekan timnya" ujar Rifki.
" Iya-iya,, sorry bro" menepuk-nepuk pundak Rifki.
Bersambung.....