
Makan malam pertama dirumah nenek Juna, walaupun makanan yang disediakan sederhana bahkan mungkin ada beberapa jenis makanan yang belum pernah Syah temui sebelumnya.
Suasana makan malam penuh dengan kehangatan, bahkan Syah merasa tersanjung karena orang-orang didalam rumah tersebut sangat perhatian pada Syah.
Mungkin bagi Syah bergaul dengan orang baru bukanlah hal yang sulit, karena memang Syah tipe yang mudah akrab.
Selesai makan malam Syah menolongTante mencuci piring walaupun sudah dilarang Syah bersikukuh untuk membantunya.
Pukul sembilan malam penghuni rumah telah masuk ke kamarnya masing-masing begitu juga dengan Syah dan Juna yang tidur satu kamar malam ini.
" Gw tidur di ranjang, Lo tidur dibawah" ujar Syah sembari melempar selimut ke arah Juna.
" Lah kenapa gw yang tidur dibawah, bukankah ini kamar gw! jadi gw berhak tidur di atas" naik keranjang.
" Ngak! pokoknya gw tidur disini Lo tidur dibawah!" mendorong tubuh Juna.
" Dorong aja sampai tenaga Lo habis" percuma Syah mendorong sedikitpun Juna tidak bergeser dari posisi nya.
Berbagai cara telah Syah lakukan agar Juna tidak tidur disamping nya, namun Juna tetap bersikukuh tidak mau pindah. perdebatan kecil itu membuat suasana didalam kamar yang biasanya hening sekarang dengan keberadaan Syah sedikit berubah dari biasanya.
Juna merasa ada yang berbeda dari dirinya jika bersama Syah, entah perasaan apa kah itu yang jelas hanya Juna yang tahu.
Melihat Juna merebahkan diri disampingnya, Syah menarik selimut kasar dan memutuskan tidur dilantai yang ber alas kayu tersebut.
" Dibawah dingin entat masuk angin" ujar Juna melirik Syah sekilas namun tak di gubris oleh Syah.
" Ternyata selain keras kepala ternyata Lo juga budek?" Juna sengaja bicara seperti itu agar Syah kembali tidur di ranjang dengan nya.
" gw nggak mau tidur disamping Lo, lagian tempat tidur itu kecil mana bisa gw tidur disana!" memalingkan wajahnya kearah lain.
" Hati Lo aja yang sempit" sembari tersenyum tipis.
Setelah perdebatan kecil akhirnya Juna mengalah ia memutuskan untuk tidur dilantai, Syah tersenyum penuh kemenangan.
Rintik hujan diluar sana berganti dengan keroyokan air yang jatuh bertubi-tubi, Syah melirik Juna sekilas seperti nya aura dingin tidak mempengaruhi ia tidur dengan nyenyak. Syah menarik nafas panjang dan merentangkan kedua tangannya di atas ranjang tersebut menatap langit-langit berharap ia akan segera tertidur.
Baru beberapa menit Syah menutup matanya, namun terbangun lagi ulah suara nyamuk seperti sedang balapan disekitar kupingnya. Syah mengibas-ngibaskan tangan agar nyamuk itu tidak mengusik nya.
Dentuman petir diiringi kilat membuat Syah takut, ia meringsut duduk dikepala ranjang sembari menutup telinganya. bahkan ketakutan Syah semakin lengkap setelah lampu di kamarnya mati mendadak.
Jantung Syah terasa berdetak tak karuan, nafasnya seakan ingin berhenti.
Juna terbangun ia menyadari lampu dikamarnya mati, ia meraih handphone nya kemudian menghidupkan flash dan mengarahkan pada Syah, Juna mendekat pada Syah dan menenangkan nya.
Syah merasakan ada cahaya yang menerangi membuka mata nya berlahan dan ia melihat sosok Juna dihadapannya ia reflek langsung memeluk Juna.
Juna mengelus kepala Syah mencoba menenangkannya.
" Ada gw disini Lo jangan takut lagi ya" mengelus pipi Syah.
Syah semakin menelusupkan kepalanya di dada Juna, ia menemui kenyamanan disana. Juna juga membalas pelukan Syah sehingga merekapun tertidur.
Waktu telah menunjukkan pukul lima pagi. Syah terbangun dari tidurnya ia melihat wajah Juna tepat dihadapan nya. Syah menatap wajah itu lekat-lekat entah apa yang ia rasakan hanya Syah la tau.
Syah memegang pipi Juna berlahan kemudian meletakkan jarinya tepat dihidung Juna.
" Hy bapak singa, ternyata wajah ini ketika terlelap lumayan juga ya, andai Lo datang pada waktu yang pas mungkin gw akan bisa menerima Lo secara berlahan. tapi sayangnya kehadiran Lo terlalu mendesak ba
bahkan ketika gw belum sepenuhnya lepas dari ketakutan gw setelah kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup ini. Gw berharap Lo sabar menghadapi tingkah gw" mengelus-elus pipi Juna.
" Kita hanya perencanaan bukan penentu, kita hanya berusaha dan tuhan yang akan membantu, dan gw percaya sama jalan yang telah digariskan oleh tuhan dalam kisah kita" ucap Juna dalam hati sebenarnya sebelum Syah terbangun ia telah bangun duluan tetapi Juna enggan untuk bangkit, ketika Syah mengerjabkan matanya berkali-kali Juna pun kembali memejam kan matanya dan ia tak menyangka kalo Syah akan menyentuh wajahnya.
" Kenapa kalo dilihat-lihat wajah Lo gemas banget sih bapak singa, pengen cubit de" ujar Syah gemas.
Entah setan apa yang merasuki Syah, sehingga ia mencium pipi Juna tidak hanya itu ia juga mencium pinggir bibir juna sekilas. ia memperhatikan Juna lagi sepertinya ia masih tertidur itu lah pikir Syah.
Juna kaget ia tidak membayangkan sebelumnya jika Syah akan melakukan itu, walau hanya sekilas tapi Juna merasakan kelembutan dari bibir Syah.
" Astaga Syah Lo kenapa melakukan itu sih, bodoh bodoh bodoh" sembari mengelap bibirnya kasar memaki dirinya sendiri setelah menyadari tindakan bodohnya.
Syah bangkit kemudian bergegas ke kamar mandi. didalam kamar mandi yang sederhana itu, ia menatap wajahnya di cermin kecil itu.
Syah meraih gayung kemudian mencuci wajah dan bibirnya berkali-kali. beberapa menit setelah itu ia keluar dan hendak menunaikan kewajiban sebagai muslim.
Syah kaget karena Juna berdiri didepan pintu.
" *Dia dengar nggak ya*" gumam Syah dalam hati.
" Sejak kapan Lo berdiri disini?"
" Barusan, emangnya kenapa?gw mau ambil wudhu" ucap Juna santai.
" Owh" balas Syah.
Setelah juna masuk dalam kamar mandi Syah segera membentang kan sajadah, ia memperhatikan sekitar tetapi ia tidak melihat ada mukena disana. mau tidak mau ia harus menunggu juna.
" Kenapa masih belum sholat?" suara seseorang dibelakang Syah yang tidak lain adalah Juna.
" Mukena nggak ada" sambung Syah.
" Bentar" berjalan keluar, tidak lama iapun kembali dengan membawa mukena ditangannya dan memberikan pada Syah.
Pagi itu untuk pertama kalinya mereka melaksanakan sholat berjamaah. setelah selesai sholat Juna menyodorkan tangannya.
" Untuk apa?"
" Masa nggak tahu" kesal Juna.
" Nggak ah Malas" ujar Syah sembari melipat sajadah nya.
Ketika Syah hendak bangkit Juna menarik tangan Syah sehingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat menimpa tubuh juna.
" Issss... apa apaan sih main tarik-tarik aja" kesal Syah segera bangkit.
" Lo sih nggak nurut tinggal Salim aja apa susahnya" memegang bahunya sendiri karena ia merasa sedikit sakit.
Syah meraih tangan Juna dan melakukan apa yang dipintahkan oleh Juna tadi.
" Udahkan?" mencium tangan Juna dan segera menjauh.
***Bersambung***.....
maaf ya reader 2 hari ini author jarang up, karena ada kesibukan di real life
selamat membaca🤗😍😘