
Dua hari telah berlalu, Syah masih setia menunggu dan menemani mama dirumah sakit walaupun status Syah sebagai istri dari Juna tapi tetap saja Syah enggan diajak pulang keapartemen.
" Bagaimana kabar Naura dan Akila sekarang Syah? apakah acara yang diikuti Naura berjalan dengan lancar?" tanya mama karena sebelum mereka berangkat Syah telah memberitahukan kepada orang tuanya terlebih dahulu.
" Alhamdulillah acara yang diikuti Naura berjalan dengan lancar ma oiya ma dua hari lagi kita harus balik kekampus, jadi Syah harus balik keindonesia duluan" ujar Syah
" Syah pulang ke Indonesia sama Juna ya sayang, kan Juna itu suami Syah sekarang dia harus jagain Syah mulai detik ini dan seterusnya" imbuh papa.
" Ta-pi pa, Syah bisa pulang sendiri"
" Nggak ada tapi-tapian Syah, papa sudah bilang sama Juna kalian harus pulang bersama" sambung papa
Syah pastrah terhadap pintah papa karena Syah tahu jika menolak justru tambah runyam. Juna telah mengabari papa kalau tiket untuk besok sudah dipesan waktu penerbangan pukul 08;00 pagi.
Sesampainya di bandara tiba-tiba handphone Syah bergetar lalu Syah merogoh handbag yang dipakainya ternyata vidcall dari Naura.
" Hyyyy syahh, kita kangen sama Lo penerbangan gue dan Naura nanti sore, loe jadi balik hari ini kan?" tanya Naura
" Gue lagi di bandara bentar lagi udah lending sampai jumpa besok ya kalian hati-hati jangan lupa ole-ole buat gue heheh"
" Iya bawel kalo tentang ole-ole aman kok, btw Lo balik sendirikan?" tanya Akila
" Iya gue balik sendiri, karena papa harus jagain mama disini mungkin sekitar seminggu lagi mereka pulang ketanah air udah dulu ya gais Papayyyyyy" mengakhiri panggilan tersebut.
" Udah nelpon nya?" tanya Juna sembari memberikan sebotol air mineral
" Hmmm gue nggak haus" jawab Syah singkat kemudian menjauh dari Juna.
"*D**asar bocah*" gumam Juna kesal
Sesampainya di Indonesia Syah hendak mencari taksi tetapi Juna malah menarik tangan Syah agar mengikuti nya.
" Apa-apaan sih Lo lepasin gue" berusaha melepaskan tangan nya dari juna sayangnya tenaga Juna lebih kuat dari Syah.
" Lo bisa ikut aja nggak sih, berisik banget kek bocah" masih menarik tangan Syah.
" Dia bilang gue bocah! liat aja nanti gue pastiin loe bakal menyesal telah mengenal gue" gumam Syah dalam hati sembari menatap tak suka.
" Sekarang masuk" pintah Juna ternyata Juna memerintahkan seseorang untuk mengantarkan mobil miliknya, mobil pun melaju menyusuri keramaian ibukota.
" lah kok lewat sini? rumah gue kan di jalan Xxx" tanya Syah yang menyadari kalo jalan yang ditempuh saat ini bukanlah arah rumah mama papanya.
" Siapa bilang gue mau kerumah Lo"
" Kalo nggak niat nganter tinggalin gue disini aja, berhentiin mobilnya" ujar Syah kesal.
" Lo bisa nggak sih nurut aja, lama-lama bisa darah tinggi gue" ucap Juna yang masih fokus menyetir.
" Kalo Lo darah tinggi dan lain sebagainya itu menandakan Lo itu udah tua bukan gara-gara gue"
" Turun" pintah Juna
" Ehh ini rumah siapa?" tanya Syah heran kenapa Juna menghentikan mobilnya dirumah ini.
" Rumah baru gue, Lo sama gue akan tinggal disini" beranjak pergi
" Ta-pi" belum sempat Syah mengatakan sesuatu juna malah pergi begitu saja. Syah mengekor dibelakang sembari setengah berlari menyusul langkah kaki Juna.
" Lo bebas milih kamar manapun yang Lo mau, jika orang tua kita nanti nginap disini pandai-pandai Lo aja Lo mau jawab apa, oiya satu lagi Lo tidak boleh mencampuri urusan pribadi gue dan gue tidak akan mencampuri urusan pribadi Lo" jelas Juna.
" Baguslah" ucap Syah singkat kemudian masuk kesalah satu kamar tepatnya dilantai dua jarak kamar Syah dan Juna cuman beda satu kamar, karena dilantai dua hanya memiliki 3 kamar.
Setelah Syah beres-beres kamar kemudian ia mandi dan bergegas turun kelantai satu karena perut Syah mulai keroncongan. Syah mencari-cari sesuatu yang bisa untuk dimakan tetapi tidak satupun makanan yang ia temui di dapur.
" Apakah rumah ini baru ditempati? sehingga perabotan rumah masih diplastikin, kayaknya emang baru ditempati hari ini" berkutat dengan pikirannya sendiri.
Tanpa pikir panjang Syah bergegas keluar kemudian menaiki taksi, tempat pertama yang ia kunjungi yaitu cafe untuk mengisi perutnya. selesai makan Syah mencari supermarket terdekat untuk membeli sesuatu.
Syah memasukkan beberapa cemilan, sayuran, buah-buahan, dan barang lainnya kedalam keranjang kemudian menuju kasir.
Sampainya dirumah Syah menata barang belanjanya didalam kulkas. serta mulai membersihkan rumah dan membuang plastik yang membungkus sofa dan barang lainnya.
Tanpa disadari ternyata Juna memperhatikan Syah dari kejauhan.
" Ternyata *bocah itu rajin juga*" gumam Juna
" Huffff.... capek banget" sembari menyandarkan tubuhnya diatas sofa yang telah dibereskan.
Syah menuju kulkas dan membawa beberapa cemilan untuk dibawa kekamarnya.
" Mending gue nonton aja kali ya" sambil menyalakan tv yang ada dalam kamarnya.
Naura dan Akila telah sampai di tanah air mereka menunggu sopir yang akan menjemput mereka.
" Akhirnya nyampe juga diindonesia, padahal kita perginya cuman 5 hari tapi berasa sebulan" ujar Kila
" Alay lu heheh" ledek Naura.
" Biarin wlekkkkkk, gue nggak sabar pengen cepat-cepat nyampe rumah pen tidur di kasur empuk gue" sambung Akilla
" Tidur Mulu pikiran lo, mending kita cari makan sekitaran sini yok lapar banget gue" ajak Naura.
" Gue mager tahu" sambung Akilla yang memeluk erat kopernya.
" Mager kok dipelihara sih, ayoklah" sembari menarik tangan killa
Bersambung......