Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
BAB 7



Syane yang kini sudah kembali ke apartemennya masih terbayang wajah minho yang begitu mempesona menurutnya, syane tak bisa melupakan saat minho tersenyum padanya senyuman yang membuat jantungnya berdebar sungguh membuat syane gak akan bisa tidur malam ini syane tersenyum sendiri.


Saat ia asik dengan bayangan minho yang menari-nari di benaknya hilda mengetuk pintu kamar syane.


"Bu apa saya boleh masuk?"


"Iya masuk aja" hilda pun masuk.


"Bu maaf tadi ada orang dari perusahan park hiyeok menelpon saya katanya besok dia mau bertemu ibu mau membicarakan bisnisnya yang tertunda waktu itu" kata hilda.


"Tolak aja" cetus syane.


"Tapi kenapa bu" tanya hilda.


"Aku gak mau merugikan perusahaan ku dengan bergabung dengan perusahaan itu perusahaan itu lagi down karna produknya susah untuk di akui di departemen kesehatan di sini katanya sih mengandung campuran apa lah aku gak tau" tandas syane.


"Oh gitu ya bu, ibu tau dari mana?'


"Hilda kamu kerja denganku berapa lama, masa kamu gak tau apa yang bisa aku lakukan tanpa harus turun langsung" tukas syane.


"Iya bu maaf bu, oh iya bu tadi juga ada tuan yujin datang kesini"


"Kesini?! untuk apa?"


"Katanya dia mau bertemu ibu dia sudah beberapa kali nelpon ibu tapi gak diangkat"


"Oh mungkin karna ponselnya saya silent"


"Emang ibu tadi dari mana? dari pagi baru pulang"


"Oh iya tadi kenapa saya gak ngajak kamu yah?"


"Memangnya kemana bu?"


"Gak apapa cuman tadi saya nonton konsernya minho"


"Apa?? ibu nonton konser minho gak ngajak aku? Ah ibu curang"


"Sorry saya lupa, tapi saya janji lain kali bakal ngajak kamu"


"Ah ibu" hilda cemberut.


"Hahahahaha sorry ya!" Syane tertawa melihat sekertarisnya yang merasa kecewa.


"Tau ah" hilda meninggalkan syane.


"Hahahahaha Hey jangan marah dong" teriak syane pada hilda yang sudah keluar dari kamarnya. "Kenapa aku tadi lupa ya sama hilda" gumam syane.


Syane ingat kalau tadi minho sempat memberikan nomor ponselnya pada syane, syane nyekrol layar ponsel untuk mencari nama minho yang sudah ia simpan di ponselnya syane melihat photo profil minho syane menatapnya sambil tersenyum sendiri. "Tampan, pantes banyak orang tergila-gila padanya" Gerutu syane dengan terus memandang photo profil minho.


"Apa dia bakalan nelpon aku? dia memberikan nomornya berarti dia punya tujuan kalau dia memberikan nomornya sama aku, bukan aku yang minta nomornya, aku gak bisa ngebayangin kalau sampai dia nelpon, apa yang harus aku katakan?" "gumam syane di tengah kesendirianya. "Oh tuhaaaan! sudah, sudah, sudah, syane sudah! kenapa otaku jadi kacau gara-gara dia" racau syane, lalu ia melempar ponsel nya ke atas kasur dan menjatuhkan tubuhnya di kasur tersebut dengan telentang.


Tiba-tiba ponsel syane bergetar syane melirik ponselnya. "Jangan-jangan minho" pikienya lalu dengan segera meraih ponselnya.


Tapi ternyata bukan minho yang nelpon tapi yu jin, syane kembali menaruh ponselnya ia enggan mengangkat telpon dari yujin, yu jin beberapa kali menelpon, akhirnya dengan terpaksa syane mengangkat panggilan yu jin syane bangkit dan kembali duduk di tepi kasur dengan menyilangkan kakinya.


"Ya ada apa?" Tanya syane malas setelah telpon tersambung.


"Akhirnya kamu angkat juga telpon dari aku" kata yu jin.


"Maaf tadi aku sibuk jadi aku silent ponselnya, Ada apa? Apa ada yang penting?" Syane to the point.


"Mungkin buat kamu gak penting tapi buat aku menanyakan kabar kamu setiap hari sangat penting" tukas yu jin.


"Oh terima kasih, aku baik kok" ujar syane.


"Kamu lagi ngapain?" Tanya yujin.


"Aku lagi di kamar ngobrol sama kamu di telpon" jawab syane.


"Mmmmmm udah" jawab syane bohonh karna ia tau kalau yu jin akan mengajaknya makan malam.


"Tadinya aku mau ngajak keluar untuk makan"


"Tapi aku udah makan sorry yah!"


"Iya gak apapa"


"Oh iya, yu jin kebetulan aku lagi ngerjain sesuatu udah dulu yah, kita sambung lagi nanti gak apapa kan?" syane ingin segera menyudahi percakapannya.


"Oh iya, gak apapa lanjut aja"


"Oke makasih" lalu syane menutup panggilan telpon dan kembali menaruh ponselnya ke kasur.


Lalu ia pergi ke ruang makan untuk makan malam syane duduk di kursi makan lalu menyantap apa yang tersedia di meja.


Merasa tidak melihat hilda ia menanyakan hilda pada pelayan yang tengah berada di ruang makan.


"Hilda kemana? Apa dia sudah makan?" Tanya syane, belum sang pelayan menjawab pertanyaan syane suara hilda terdengar dari belakang syane.


"Ada apa bu? aku di sini"


"Ohh iya saya pikir masih marah terus gak mau makan" kelakar syane.


"Mana bisa aku marah sama ibu bisa-bisa gajih ku di potong"


"Sejak kapan saya marah sama orang sampe motong gajinya?"


"Ya gak pernah sih bu, bu gimana tadi konsernya?"


"Yaa keren juga" jawab syabe sambil memasukan makanan kedalam mulutnya. "Tadi aku sempat ngobrol juga sama dia" kata syane.


"Iya pasti penampilan min ho gak pernah ada yang gagal, tapi kok bisa ibu ngobrol sama dia?" Syane lalu syane menceritakan momen yang di alaminya tadi siang pada hilda mebuat hilda semakin kagum pada bosnya.


"Bu pokonya ibu harus jadi pacar nya!"


"Ngaco mana mau dia sama saya"


"Tapi aku malah ragunya bukannya minho yang gak mau sama ibu tapi ibu yang gak mau sama dia, selama ini kan ibu selalu dingin sama laki-laki" coloteh hilda.


"Kamu bisa saja jangan mikirin saya kamu sendiri punya pacar gak?"


"Saya punya bu di kampung, mas rudi" hilda menekankan.


"Rudi yang yang bos rongsok itu? Yang orang tegal? Yang duda beranak tiga?" Tukas syane.


"Iya bu, yang mana lagi? Punya anak tiga juga dia masih keliatan ganteng lagian anaknya gak tinggal sama dia tapi sama mantan istrinya" hilda mengagumi sang kekasih yang selama ini jadi dambaannya.


"Jadi kamu masih berhubungan sama dia?"  Tanya syane seraya mengusap mulutnya dan menyudahi makannya.


"Iya bu dari pada gak ada"


"Hilda, hilda kalau aku nih mendingan gak usah punya cowok" tandas syane.


"Ibu mah gitu, jangan gitu dong bu gitu-gitu juga orang nya baik dan perhatian" cicit hilda.


"Emang sih ya! mencari pasangan itu yang penting baik dan perhatian sama kita tapi baik dan perhatiannya jangan sama kita aja, tapi harus sama keluarga juga apa lagi orang tua kamu masih ada semua, ketika sudah nikah bukan hanya tentang kita aja tapi juga menyatukan dua keluarga, ada empat orang tua yang harus kita perhatiin, kalau pilihan kamu sudah jatuh sama dia mau gimana lagi? tapiii tetep kamu harus yakin kalau dia bener-bener baik sama kamu juga sama keluarga kamu, biasanya nih ya! kalau berumah tangga dengan orang yang pernah berkeluarga apa lagi punya anak dari istri pertamanya, permasalahan yang akan di hadapi pasti soal anak tiri apa lagi ibunya masih ada istilah nya pisah cerai bukan pisah pati, biasanya si suami atau si istri bakal ada saja membanding-bandingkan dengan mantan istrinya meski tidak secara verbal yang akhirnya disana lah terjadi permasalahan itu, yang saya tau gitu" syane hanya memberikan  nasehat dari apa yang dia tau.


"Gitu ya bu?"


"Yang saya tau gitu tapi bukan berarti saya melarang kamu berhubungan sama dia, kalau kamu nyaman sama dia terserah, mungkin itu pilihan terbaik buat kamu jalanin aja tapi seperti yang aku bilang tadi jangan sampai salah pilih, oke!" kata syane dengan di akhiri menepuk pundak hilda lalu pergi setelah menyudahi makan malamnya.


Sepeninggal syane hilda menatap kepergian syane dan mulai berpikir kalau yang di katakan syane ada benarnya.


To Be Continue