
Semua yang melihat adegan syane dan min ho beberapa ekspresi yang di tunjukan oleh orang yang menyaksikannya di antara mereka kebanyakan tersenyum ketika melihat adegan min ho dan syane termasuk hye hoon.
"Kamu berani ngeledek aku?"
"Iya ampun" syane mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Minoz cium!" teriak rekan satu kerjaannya.
Min ho mendengar teriakan rekannya begitu juga syane ia mengerti apa yang di teriakan pada min ho meski menggunakan bahasa korea.
"Lepasin semua pada memperhatikan kita" tukas syane yang baru sadar kalau dia tengah berada di pelukan syane.
"Apa yang di lepas?" Min ho sengaja bertanya padahal sebenarnya dia sadar kalau sekarang dia sedang memeluk tubuh syane yang ramping.
"Tangannya!" Ujar syane.
"Tangan siapa?" Kembali min ho bertanya untuk menggoda syane.
"Minoz lepas!" Syane berusaha melepas tangan syane tapi min ho mempereratnya.
"Ibu melihat kita!" Syane menekankan.
"Ibu?"
"Ibu, lee hye hoon"
"Sejak kapan kamu manggil ibu?"
"Barusan aku sekarang jadi anak ibu berarti kamu jadi kakak aku" kata syane dengan memonyongkan bibir di akhir kalimatnya.
Min ho mempelonggarkan pelukannya, kesempatan syane untuk melepaskan diri
"Kenapa? Terlihat kaget!"
"Gak apapa cuman kayanya aku harus protes sama ibu"
"protes untuk apa? Gak suka aku jadi adik kamu?"
"Iya, karna harusnya kamu itu jadi menantu ibu"
"Hahhahahahaa, berarti aku harus nikah dulu dong sama kamu"
"IYa"
"Pacaran juga nggak, main nikah aja"
"Ayok kita pacaran!" Cetus min ho.
"Ngaco! Kamu itu semakin malam omongannya semakin aneh tau gak?" Syane.
Syane duduk kembali di kursi yang tadi sempat ia duduki.
"Min ho ajak syane ke sini kita makan sama-sama!" Seru hye hoon.
"kita kesana" ajak min ho.
Mereka berdua pun beranjak dari tempat duduk menghampiri semua yang sudah berkumpul di sebuah meja besar dan panjang penuh dengan ber macam-macam makanan syane agak sedikit takut untuk memakan makanan yang tersedia di sana ia takut kalau di antara makanan ini ada yang mengandung daging babi mengingat masyrakat korea sangat menggemari daging babi yang di haramkan dalam agama islam.
Syane yang beragama islam ia takut memakan makanan yang di haramkan oleh agamanya tanpa ragu syane bertanya.
"Ini gak ada yang mengandung daging babi kan?" Tanya syane pada chef.
"Nggak, gak ada sesuai perintah nyonya besar karna yang menyiapkan segalanya juga nyonya" jawab chef.
"Iya sayang kamu tenang saja gak ada yang mengandung daging babi dan ibu yakin gak terkontaminasi juga peralatan masaknya semua baru" timpal hye hoon.
"Terima kasih, ibu perhatian banget sama aku" ujar syane.
"Sama-sama sayang" hye hoon.
Syane duduk di kursi yang di sediakan untuknya di samping min ho.
"Kamu mau apa sayang? Biar aku ambilkan" Tanya hye hoon.
"Gak papa biar aku ambil sendiri" kata syane, syane meraih beberapa makanan ke mangkuk di depannya sedangkan min ho sudah sibuk dengan beberapa suapan ke mulutnya min ho juga beranjak dari tempat duduk untuk mengambil makanan yang tidak terjangkau olehnya lalu duduk kembali dan menyimpan makanan yang di ambilnya di meja tepat di hadapannya.
"Ini enak kamu harus coba" kata min ho seraya menyuapi syane. "Enak kan?" Tanya min ho setelah makanannya masuk kedalam mulut syane.
"Mmmm iya" syane mengangukan kepala, ke akraban mereka berdua sangat nampak malam itu lagi-lagi kebersamaan syane dan min ho jadu pusat perhatian semua yang ada d sana.
Minho selalu perhatian pada syane saat berada satu meja dengannya.
Selasai makan semuanya menikmati malam yang di hangati api unggun tapi syane dan juga min ho mereka justru pergi menikmati malam di atas karang besar tepatnya di tempat syane pertama kali melihat kehadiran minho di jeju yang membuat kaki syane terkilir.
"Kamu suka dengan pantai?" Tanya minho.
"Iya aku suka ketika aku menghirup udara pantai aku jadi ingat pada orang tuaku mereka sering mengajaku ke pantai sampai kami menghabiskan waktu seharian ketika kami berada di pantai" kata syane.
"Kenangan yang tak terlupakan?" Minho menebak.
"Iya"
Syane memandang minho lalu ia tersenyum, syane menoleh pada syane yang tengah tersenyum padanya min ho membalas pandangan syane.
"Syane kamu tau? Saat ini aku sedang jatuh cinta" kata minho dengan pandangannya beralih kembali memandang laut di depannya.
Syane memonyongkan bibirnya seolah ada kekecewaan di hati syane tapi syane penasaran pada siapa min ho jatuh cinta.
"Pada siapa?" Tanya syane.
Minho menarik sudut bibirnya mendengar pertnyaan syane.
"Yang jelas pada seorang gadis yang akhir-akhir ini sering aku temui" jawab minho.
"Mungkin lawan mainnya di film yang ia bintangi" kata syane dalam hati.
"Pasti dia sangat cantik sampai seoramg minho jatuh cinta padanya" kata syane.
"Ya dia sangat cantik, saaaangat cantik" tukas minho syane kembali memandang minho yang tengah mrmandang ke laut ia hanya terdiam hingga akhirnya syane mangajak minho untuk kembali bergabung dengan semuanya.
"Ooohhhh, ya udah kita kembali bergabung bersama mereka" kata syane ia hendak melangkahkan kakinya seolah tidak lagi mau mendengar perkataan minho yang tengah jatuh cinta pada seseorang.
Sebelum syane melangkahkan kakinya min ho meraih tangan syane lalu membawa tubuh syane kepelukannya minho memandang syane dengan jarak yang begitu dekat minho dapat melihat jelas wajah cantik syane yang hanya si terangi temaramnya lampu pantai.
"Syane aku jatuh cinta padamu" ucap minho.
"A-apa?"
"Sampai kapan kamu akan menutup hati untuk seorang pria?" Tanya minho dengan suara lembut syane diam mematung ia tidak menjawab pertanyaan minho jantung syane semakin bergejolak seolah hendak loncat keluar dari tempatnya.
Melihat syane yang hanya diam minho merasa gemas karna ia bisa melihat wajah syane dengan jarak yang sangat dekat min ho sudah tidak dapat menahan diri setelah beberapa kali menelan saliva nya ketika melihat bibir syane yang jaraknya hanya beberapa centi dari bibir minho.
"Mmmm akuu.. akuu..!" Ucap syane gugup lalu ia meraih leher minho dan mengusapnya Minho membungkam mulut syane dengan mendaratkan ciuman di bibir syane, syane merasakan sengatan dinsekujur tubuhnya saat minho mencium bibirnya namun syane pun tidak bisa menolak hasrat yang juga kini ia rasakan syane membalas ciuman minho mereka berdua menikmati malam di pulau jeju dengan penuh cinta.
Minho menikmati bibir syane di tepi pantai pulau jeju minho mengakhirinya setelah mencium kening syane.
"I love you my gilrfreand" ucap minho.
"Sayang aku benar-benar mencintaimu" kata minho ucapan yang begitu manis lalu minho mendekap syane dengan erat.
"Sayang apa kamu tau?"
"Apa?"
"Pertama kali aku mengagumimu saat pertama kali kamu mengagumiku juga"
"Hah jadi kamu juga"
"Iya sepertinya aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu di tengah hamparan bunga kaskus" ungkap syane.
"Sayang aku mencintaimu, aku mencintaimu" minho menciumi setiap lekuk wajah syane dan mengakhirinya di bagian kening beberapa kali.
"Aku juga" syane mengecup pipi minho lalu memeluknya dengan erat setelah beberapa lama syane dan minho kembali bergabung dengan semua yang tengah mengadakan api unggun.
Mereka ikut duduk di depan api unggun tersebut deburan ombak kecil terdengar merdu seolah menjadi alunan musik yang tak dapat di mainkan oleh musisi manapun..
Syane duduk di samping hilda bersama minho.
"Apa kakinya masih sakit sini aku lihat" kata minho.
"Sudah nggak terlalu" jawab syane sambil memperlihatkan kakinya pada minho, minho meraih kaki syane lalu membuka perban yang melilit di kaki syane, "sepertinyasudah nggak terlalu memar" lalu kembali min ho menutup kembali perbannya syane yang tengah duduk ia memperhatikan minho seraya menaruh dagunya di lutut yang tengah ia tekuk di hadapan minho, min ho tersenyum lalu meraih pundak syane yang terlihat kedinginan, syane menyenderkan kepalanya pada bahu minho.
semua terlihat bersenang-senang di antara mereka ada yang bernyanyi meski suaranya sama sekali tidak merdu bahkan ada yang mengadakan permainan tebak-tebakan dan juga game lainnya tetdengar suara canda dan tawa di antara mereka yang tengah mengelilingi api unggun.
Setelah beberapa lama syane menikmati api unggun syane merasa mengantuk ia tertidur di bahu minho wajah syane tenggelam dileher minho, hye hoon dan suaminya tersenyum melihat perlakuan anaknya pada syane yang begitu perhatian.
Malam semakin larut api unggun hampir padam semua berniat untuk mengakhirinya dan pergi ke kamar masing-masing setelah memadamkan api sampai benar-benar padam agar tidak terjadi kebakaran yang besar saat mereka tertidur pulas syane yang sudah terbangun ia pun hendak pergi ke kamarnya syane yang masih terlihat mengantuk berjalan gontai sambil memegang tangan minho, min hopun menggenggam erat tangan syane.
Sampai di villa minho melepas genggaman tangannya ia membiarkan syane masuk kekamar yang di tempati syane.
"Goodnight" ucap minho.
"Iya, malam juga sayang" kata syane lalu masuk kekamar dan membaringkan tubuhnya di atas kasur hingga akhirnya terlelap.
Esok pagi
Matahari di pulau jeju sangat terasa hangat cuaca yang dingin bercampur dengan hangatnya matahari yang baru menyebarkan kehangatannya membuat tubuh terasa segar sungguh kuasa tuhan yang begitu sempurna.
Sebelum mandi syane pergi ke rooptop ia melihat pemandangan dari atas sana menghirup udara segar dengan merentangkan tangannya.
Berdiri di rooptop memandangi lautan, syane melihat pemandangan yang indah dengan beberapa bangunan modern berjejer di pinggiran pantainya.
Min ho yang sengaja ingin menemui syane ia melihat syane yang tengah berdiri di rooptop lalu menghampirinya dan memeluk syane dari belakang.
"Heii! Selamat pagi sayang" Sapa syane pada min ho seraya membalikan tubuhnya menhadap minho.
"Sedang apa di sini?" Tanya min ho.
"Aku suka melihat pemandangan di sana" kata syane.
"Mau aku ajak untuk keliling pulau jeju"
"Hah? yakin? Pake apa? Jalan kaki? Engga ah" Tanye syane.
"Pake mobil propertiku" ujar min ho.
"Emang gak shooting?"
"Nggak kemarin hari terakhir makanya semalam kita merayakannya"
"Ohhh gitu, boleh aku tau yang mana lawan main mu? ada gak di sini?"
"Aku bukan shooting film tapi shooting iklan"
" iklan apa"
"Minuman yang semalam kita minum"
"Oooohhhh"
"Kalau shooting iklan prosesnya lama gak?"
"Tergantung cara proses pembuatan iklannya"
"Terus kemarin berapa hari?"
"Kita sudah satu minggu di sini"
"Berarti cepat ya"
"Tergantung pemilik perusahaan produk yang kerja sama dengan kami"
"Emmmh ribet juga ya" kata syane.
"Kalau kamu sebagai pemilik perushaan gak bakal tau sesulit apa yang kita lakukan taunya tinggal beres dengan hasil memuaskan iya kan?"
"Ya iya lah soalnya yang mengurus periklanan bukan aku ada bagian nya sendiri prusahaan tinggal ngasih modal saja, aku gak pernah tau menahu soal iklan aku tau nya semua selesai dan sudah jadi, kalau soal cara kerja para artis dan managent nya aku selalu terima beres sebab jika semuanya tidak sesuai ekspektasiku aku gak bakal menyalahkan kalian tapi aku menyalahkan pihak management di perusahaanku sendiri" kata syane.
"Iya itu lah enak nya seorang pemilik perusahaan" kata minho.
"Gak juga, banyak juga kesulitan yang kadang membuat aku lelah tapi itu gak membuat aku menyerah justru kesulitan itu aku jadikan sebagai motivasi sekaligus tantangan bagaimana caranya aku bisa menyelasaikan permasalahan dalam kesulitan yang aku hadapi itu, Tapi yang aku tau kamu juga seorang owner?"
"Kata siapa?"
"Aku tau, aku tau siapa saja pengusaha dari korea selatan khususnya yang berasal dari gangnam, nama kamu terdaftar di sana, Sebenarnya kamu pesaing bisnis aku di bidang properti" syane.
"Oya?"
"Iya"
"Aku nggak tau"
"Karna kamu nggak terlalu serius menjalani bisnis kamu kalau kamu tanya semua ketua difisi di perushaan kamu mereka pasti tau kalau aku pesaing kamu"
"Hahahahaa bisa begitu Ya? sudah lah aku nggak peduli kamu saingan bisnisku atau bukan yang jelas aku nggak pernah merasa tersaingi olehmu, mendingan sekarang kita jalan" ajak minho seraya menarik tangan syane.
"Kemana?"
"Katanya mau keliling pulau jeju!"
"Tapi aku belum mandi" kata syane yang masih menggunakan pakaian tidur.
"Tapi kamu cantik sayang meskipun belum mandi" ujar minho.
"Hooohhhh kamu sekarang sudah mulai pintar menggodaku" kata syane.
"Hahahahahaha kenapa nggak, kamu kekasihku"
"Iya iya ya udah kita pergi sekarang?"
"Iya ayok" ujar minho.
To Be Continue