
Satu bulan berlalu.
Rasa cinta di antara syane dan minho semakin dalam tak ada waktu yang terlewatkan untuk saling bertemu dan saling menyapa min ho begitu mencintai syane tak ada yang paling berharga saat ini selain kekasihnya itu begitu juga syane buat syane min ho lah pemilik tahta tertinggi di hatinya.
Kedekatan syane tidak hanya dengan minho tapi juga dengan keluarga min ho sendiri, keluarga minho menyayangi syane seprti anaknya sendiri.
Tapi sampai saat ini hubungan syane belum tercium oleh media kedekatan syane hanya di ketahui sebatas keluarganya saja, berkat ke ahlian para tim agence minho yang menutupi kedekatan minho dengan syane agar tidak sampai ke telinga para penggemar minho.
Tapi suatu saat minho harus mengumumkan hubungan nya dengan syane ketika mereka memtuskan untuk menikah.
Hari ini syane kedatangan sang nenek dari amerika kedatangam yang di tunggu sebulan yang lalu, karna kesibukan sang nenek yang juga seorang pengusaha melanjutkan perushaan suaminya terpaksa harus mengundurkan niatnya menemui cucu tercinta yang kini tinggal di korea dan inilah saatnya sang nenek untuk menemui cucu semata wayangnya itu.
Syane baru sampai di apartemen setelah menjemput sang nenek yang datang bersama chika asistennya, melihat ke adaan apartemen yang menurutnya sederhana meski terbilang mewah.
"Sayang kamu tinggal di sini?" Kata sang nenek yang biasa di panggil nenek alma pandangannya menyapu seluruh ruangan apartemen yang di tinggali syane.
"Iya dimana lagi?" Ujar syane.
"Sayang kamu gak bisa nyari tempat yang lebih besar lagi?" Nenek alma bertanya ia duduk lalu menaruh tasnya di meja.
"Untuk apa?" Tanya syane.
"Kamu tinggal di tempat sekecil ini? memangnya perusahaan kamu sudah bangkrut hingga kamu gak mampu membeli rumah yang lebih besar di sini?" Celoteh nenek alma.
"Aku lebih nyaman tinggal di sini untuk apa rumah besar yang nempatin nya cuma aku sama hilda doang" syane.
"Lalu mana pelayan yang biasa kerja di sini?" Nenek alma.
"Pulang, dia kerja sampai aku balik setelah itu dia pulang"
"Terus kamu makan tiap hari dimana?"
"Di luar! kan banyak restoran"
"Apa? Kamu makan di luar? di korea kamu makan di restoran? Syane kamu tau kan di korea banyak makanan yang mengandumg daging babi? Kamu gak tau yang kamu makan itu terbuat dari apa? terkontaminasi atau enggak? Sehat atau engga? kamu ini bagaimana? Kamu jangan sembarangan! Kamu tinggal disini jangan asal hidup aja! Kamu juga harus tau bagaimana aturan dalam agama kita? jangan sampai karna suatu hal yang penting kamu melanggar apa yang di larang oleh agama, Kamu nggak tau itu iya kan?" Sang nenek mulai menceramahi.
"Sudah aku duga pasti sampai sini ceramah" kata syane dalam hati.
"Nenek! kalau memikirkan hal itu aku bakal kelaparan tinggal di sini"
"Makanya masak sendiri gak usah beli di luar"
"Tapi di sini banyak kok makanan halal"
"Kata siapa?"
"Nennek udah deh jangan memandang segalanya dari sisi pandang nenek!"
"Kamu kalau di bilangin suka ngelawan"
"Ya lagian nenek mempermasalahkan makanan! gak ada permasalahan lain apa?"
"Kamu ini, emang kamu mau masalah apa lagi?"
"Aku gak mau masalah apapun, sudah ah mendingan nenek istirahat habis perjalan jauh nenek pasti cape yuk kekamar kita istirahat" ajak syane seraya menarik tangan neneknya untuk menuju kamar.
"Ini kamar nenek?" Kata sang nenek setelah berada di kamar syane.
"Idiiiih kamar nenek!, Kamar nenek di amerika, kalau ini kamar aku tapi nenek harus tidur di sini sama aku selama nenek berada di sini" ujar syane.
"Emang nenek gak bisa tidur di kamar lain?"
"Kamar lain mana neneku sayang?"
"kamarnya cuma ini aja satu"
"Oh enggak, ada dua cuman yang satunya di pake hilda, nenek mau? tidur sama hilda?"
"Syane! syane! kamu banyak duit tinggal di tempat seperti ini, kamu kan bisa nyari apartemen yang lebih besar lagi"
"Tapi aku sukanya di sini lebih nyaman" kata syane.
"Dari dulu kamu itu gak pernah berubah" tukas nenek.
"Iya emang" timpal syane.
"Sayang sekarang kamu terlihat kurus" kata nenek, saat melihat syane membuka blazer dan kemeja yang di kenakannya, dan memperlihatkan tubuh syane yang hanya mengenakan miniset.
"Dari dulu juga aku segini-gini aja" ujar syane.
Kehadiran seorang nenek yang sangat di rindukannya meskipun terbilang bawel tapi ia membuat syane semangat menyambut waktu yang terus berputar silih berganti, seharian ini syane hanya bersama neneknya meski hari ini harusnya syane bertemu dengan rekan bisnisnya, tapi syane meminta hilda untuk mengosongkan semua jadwalnya karna ia ingin menjemput sang nenek yang datang mengunjunginya di korea.
Syane meminta hilda untuk menghandle semua pekerjaannya termasuk pertemuan dengan beberapa dewan direksi dari perusahaannya yang di jadwalkan harusnya hari ini.
Selesai makan malam bersama dengan sang nenek syane kembali kekamar untuk tidur di kamar namun belum merasakan rasa kantuk nenek tidur bersama neneknya di atas ranjang syane memeluk sang nenek dari samping yang juga tengah mendekapnya dengan tidur terlentang.
"Sayang kamu betah tinggal disini?" Tanya nenek alma
"Kenapa memangnya nek?"
"Gak apa-apa, kapan kamu akan kembali ke indonesia?"
"Gak tau"
"Kok gak tau?"
"Ya aku gak tau"
"Terus ATV gimana?"
"Aman kok"
"Kamu jangan menelantarkannya ATV itu peninggalan ayah kamu"
"Baguslah kalau begitu"
Saat syane bersama sang nenek tiba-tiba ia ingat pada minho syane tak bisa menghubungi minho di depan neneknya karna akan ada beberapa pertanyaan yang beragam dari neneknya jika sang nenek tau syane tengah berhubungan dengan seorang aktor sebab syane belum mengatakan soal hubungannya dengan minho.
Syane juga melarang minho untuk menghibunginya sementara waktu sampai syane yang lebih dulu menghubunginya sebelumnya syane memberitahu kalau hari ini nenek alma akan datang.
Tentu saja itu membuat minho merasa resah karna ia tidak bisa berlama-lama tidak bertemu syane.
Syane yang tengah memeluk neneknya ia melepaskan pelukannya lalu meraih ponsel di atas nakas.
Syane merasa kangen pada minho ia melihat beberapa photo minho di aplikasi yang di pasang minho di ponsel syane sebulan yang lalu, melihat wajah kekasihnya jantung syane berdebar kencang tak hanya di aplikasi bahkan di dalam ponsel syane banyak photo syane saat bersama minho photo dengan adegan romantis yang tidak di miliki orang lain, semua orang boleh berhayal tentang minho tapi syane dengan minho sangatlah nyata mereka berdua saling mencintai, setiap bertemu tak pernah luput dari adegan romantis yang mereka lakukan meski sampai saat ini tidak ada yang menegetahui hubungan mereka.
Nenek alma terlihat mulai mengantuk tapi syane selalu mengganggunya agar ia tetap bisa mengobrol dengan neneknya, syane memperlihatkan photo minho pada neneknya.
"Nenek coba liat ganteng banget kan?" syane memperlihatkan photo minho yang di simpan di galeri ponsel pada neneknya yang sudah memejamkan mata.
"Siapa?"
"Ini nenek liat dulu" syane kekeh ingin memperlihatkan photo minho pada neneknya dan terpaksa sang nenek dengan mata yang berat melihat photo orang di dalam ponsel cucunya.
"Oh itu"
"Ganteng banget kan?"
"Iya, dia itu si minho yang aktor korea itu kan" kata nenek alma mendengar nenenya mengenali minho syane berbalik menghadap sang nenek ia mengangkat kepala dengan di sanggah oleh tangannya.
"Nenek kenal?"
"Tuh si cika nge pans benget sama dia sampai-sampai di ponselnya aja photo dia, hampir tiap hari nonton film nya padahal udah beberapa kali dia putar masih saja di tonton"
"Masa sih? Kok gitu chika gak boleh gitu harusnya"
"Kenapa gak boleh?" Protes syane.
"Nenek liat deh photo ini serasi nggak?" Syane menunjukan photonya saat berdua dengan minho.
"Iya serasi banget perempuannya juga cantik" syane tertawa kecil mendengar ucapan neneknya lalu mencium photo minho.
"Tunggu! tapi kaya nenek kenal perempuannya" nenek alma melebarkan penglihatannya, lalu menyambar ponsel syane yang tengah di mainkan syane seraya tidur telentang.
Nenek alam melihat beberapa photo di ponsel syane.
"Ini kamu, kamu sama aktor itu kok bisa photo berduaan gitu? Kamu ada hubungan sama dia? Sayang kamu ada hubungan sama dia?" Tanya sang nenek sambil terus menyekrol layar ponsel syane untuk melihat lagi photo-photo lainnya dan ternyata benar nenek alma menemukan photo syane dengan minho saat minho mencium bibir ayane yang di abadikan oleh minho sendiri.
"Syane apapaan ini?" Tunjuk nenek alna pada salah satu photo yang di simpan syane.
"Nenek ngapain sih ngutak-ngatik ponsel syane?" Syane merebut ponselnya dari tangan sang nenek, nenek alma yang tadinya mengantuk setelah menemukan photo syane dengan minho yang tengah berciuman rasa ngatuk yang menderannya seketika hilang.
"Syane kamu ada hubungan sama dia?" Tanya nenek alma, ia bangun dan duduk mengahadap syane.
"Iya"
"Sudah lama?"
"Baru satu bulan lebih"
"isshhh kamu ini kenapa gak bilang sama nenek?"
"Karna aku takut nenek ngelarang aku berhubungan dengan dia karna kita beda agama"
"Oh tentu nenek akan melarang kamu berhubungan dengan dia kalau dia tidak seiman dengan kita" ujar nenek alma yang keturunan turky indo sang nenek turun dari kasur.
"Tapi nek dia orangnya baik, baik banget bukan hanya dia tapi keluarganya juga mereka sangat baik sama aku dan menganggap aku sudah seperti anaknya sendiri" tandas syane.
"Sebaik apapun dia nenek gak akan merestui hubungan kalian, kamu boleh dekat dengan keluarganya tapi aku gak mau ada hubungan percintaan dengan anaknya.
"Tapi nek aku mencintainya, nenek kan tau dari dulu aku gak pernah punya hubungan dengan pria manapun karna aku gak memiliki kaemistry dengan mereka tapi dengan minho beda kita berdua seolah terikat" kata syane.
"Ya karna hubungan kamu baru seumur jagung tapi kalau sudah lama juga ada bosannya, sekarang saja kamu bilang seperti ada ikatan" nenek alma menegaskan.
"Aku rasa nggak, sampai kapan pun kami berdua akan selalu terikat karna aku sama minho mau segera menikah" tukas syane.
"Apa kamu pikir aku akan merestui kalian? sampai kapanpun nggak akan sebelum dia mau masuk islam" tandas nenek alma.
"Nenek, nenek ngedukung chika yang ngepans sama kesayangan aku itu tapi nenek menentang aku"
"Chika itu cuma ngepans bukan pacaran, lagian si minho nya juga gak bakal mau sama si chika karna dia bukan pengusaha sukses seprti kamu"
"Tapi minho mencintai aku bukan karna aku seorang pengusaha"
"Lantas apa"
"Ya dia mencintaiku apa adanya"
"Akhh kamu ini selain kecantikan kamu yang mempesona yang membuat dia jatuh cinta, dia pasti juga melihat kalau kamu seorang pengusaha sukses"
"Neennek min ho nggak seprti itu" syane kekeh.
"Kamu ini sudah di butakan oleh ketampanan dia yang membuat kamu jatuh cinta, tampan juga buat apa kalau dia tak seagama dengan kita kamu mau menjual agamamu hanya karna kamu jatuh cinta sama dia" kata nenek alma.
"Yaaa nggak gitu juga" syane cemberut.
"Lalu?" Nenek alma.
"Akh sudah ah syane ngantuk" kata syane, ia kembali membaringkan tubuhnya kemudian menarik selimut dan mulai memejamkan mata.
"Anak ini kalau di kasih tau sama orang tua suka begitu" sang nenek menggeleng kepala.
To Be Continue