
Dua hari minho berada di jakarta lalu ia kembali ke korea sepulang dari indonesia minho merasa sangat tak ingin berpisah dengan syane minho semakin memantapkan hatinya untuk masuk islam dan akan menikahi syane lalu membawanya kembali ke korea pengetahuan dan pemahaman tentang islam membuatnya semakin yakin untuk masuk islam, hingga akhirnya beberapa minggu kemudian minho menemui ustad di masjid central seoul untuk membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan di dampingi keluarganya tak ada larangan dari keluarga minho meski sebelumnya sang ayah sempat tak menentang keputusan anaknya tersebut, namun akhirnya sang ayah luluh setelah sang ibu meyakinkannya.
Soal minho masuk islam dirinya belum memberitahukan siapapun selain sang manager dan juga keluarganya minho dan keluarga sengaja menutupinya dulu karna selain terikat kontrak pekerjaan, minho juga berencana memberitahukan syane saat melamarnya di acara ulang tahun syane yang ke 27 tahun satu bulan lagi.
Satu bulan berlalu
Syane yang berada di jakarta berusaha menghubungi minho yang beberapa hari ini sangat susah di hubungi tak ada chat satu pun dari minho bahkan chat yang di kirim syane pun sama sekali tak mendapat balasan hanya centang dua tanpa berubah warna menjadi biru sebagai tanda chat sudah di baca syane bertanya pada semua orang terdekat minho semua mengatakan kalau minho baik-baik saja dan tengah ada shooting di luar kota seoul.
Syane yang berada di ruang kerjanya tengah memikirkan sang kekasih yang tak ada kabar tiba-tiba pintu ruangan nya di ketuk oleh seseorang.
"Masuk!" Seru syane.
Orang yang mengetuk pintupun muncul setelah membuka pintu dan rupanya sekertaris kantor yang bernama hesti ingin memberitahukan kalau ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Ada apa?" Tanya syane.
"maaf bu tamu dari ATV sudah datang" jawab hesti.
"Oh iya suruh masuk!" Seru syane
"Baik bu" hesti kembali untuk menemui tamu yang menunggu di ruang tunggu khusus.
Tak lama orang dari ATV masuk ke ruangan syane.
Pak gunawan selaku direktur ATV nyonya herma selaku produser lapangan dan juga pak ivan selaku editing kedatangan mereka untuk membicrakan soal acara konser yang akan di adakan oleh stasiun televisi peninggalan ayah syane tersebut.
"Selamat siang non" sapa pak gunawan
"Iya selamat siang, silahkan masuk! Dan silahkan duduk" syane mempersilahkan ketiga orang yang kini sudah berada di ruangannya, syane pun beranjak ari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa yang di tunjuknya untuk para tamu.
Kemudian syane meminta Office boy untuk membawakan minuman dan makanan keruangannya untuk ketiga tamunya.
"Terima kasih non" ujar bu herma.
Ketiga orang tersebut adalah orang kepercayaan ATV sejak ayah syane masih ada ketika syane belum memegang ATV mereka yang menghandle semuanya mereka yang menjalankan ATV mereka mengenal anak bosnya sejak masih kecil saat syane masih selalu bermanja pada ayahnya dan sering menemui ayahnya ketika tengah bekerja dan selalu merengek pada sang ayah jika menginginkan sesuatu, sebelum nya ada lima orang yang menjadi kepercayaan ayah syane yang bernama surya anggara tersebut namun yang satu meminta pensiun karna faktor usia sedangkan satunya lagi meninggal dunia karna riwayat penyakit jantung yang di deritanya.
"Kami datang kemari untuk membicarakan soal konser yang di adakan nanti malam" pak gunawan memulai pembicaraan.
"Oh iya bagaimana pak gak ada kendala kan? Soal boyband yang dari korea itu bagaimana?" Tanya syane.
"Nggak ada masalah non" jawab pak gunawan. "Kedatangan kami kemari cuman mau memberikan laporan kerja kami dan ini laporannya" pak gunawan memberikan beberapa berkas pada syane.
"Oke, baiklah pak gun" syane menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar lalu meraih berkas yang di sodorkan pak gunawan. "Sebenarnya saya males harus mengurus ini tapi ya sudahlah" kata syane sambil mengacungkan berkasnya sejajar dengan mukanya lalu menaruh berkas tersebut di meja. "Silahkan di minum dulu" tawar syane pada ketiga tamunya setelah office boy datang membawa kopi dan teh panas keruangan syane sesuai permintaan.
"Terima kasih" bu herma meraih secangkir teh lalu menyeruputnya.
Syane memanggil hilda untuk datang keruangannya melalui intercom. Tak lama hildapun masuk.
"Ibu memanggil saya" tanya hilda.
"Iya, tolong kamu suruh pak hendra untuk memeriksa semua berkas ini dan saya tunggu laporannya" perintah syane, syane menyuruh manager perusahaannya untuk memeriksa berkas yang di bawa pak gunawan dan timnya melalui hilda
"Baik bu" ujar hilda lalu kembali keluar dari ruangan syane.
Banyak yang di obrolkan oleh syane dan orang dari ATV hingga akhirnya setelah labih dari satu jam mereka pun ijin untuk kembali dengan pekerjaannya masing-masing di ATV sekepergian para tamunya syane membereskan beberapa berkas yang berserakan di meja kerjanya setelah selesai membereskannya syane pun keluar dari ruangan lalu pergi berniat untuk pulang meski jam belum menunjukan waktunya seperti biasa ia pulang. Tapi sebagai pemilik perusahaan tak ada yang melarang syane untuk pulang.
Syane menyampaikan pesan lewat chat pada hilda bahwa dirinya akan pulang lebih awal.
Sepulang dari kantor syane langsung menuju rumahnya sampai di rumah syane langsung masuk kamar ia menyusupkan tangan kedalam tas untuk mencari ponsel disana setelah merasa tangannya menyentuh barang yang ia maksud lalu syane mengeluarkannya dan berniat kembali menelpon sang kekasih yang tidak ada kabar sama sekali selam hampir lima hari semua kata manis dan ke khawatiran sudah syane keluarkan semua lewat chat yang syane yakin kalau chatnya pasti akan di baca oleh minho syane berusaha menghibungi mnager dan juga asisten pribadi minho tapi sama tak ada yang bisa di hubungi seolah mereka sepakat meninggalkan ponsel karna tidak mau di ganggu.
Syane melempar ponselnya ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya sampai akhirnya syane terlelap dengan masih menggunakan pakaian kerjanya.
Saat ia bangun syane merasa pandangannya agak sedikit gelap rupanya hari sudah gelap lalu ia menggerakan tangannya untuk mencari ponsel yang ia ingat ia melemparnya kekasur sebelum akhirnya tertidur, syane menyalakan layar ponselnya dan melihat jam manunjukan kalau hari sudah melewati waktu shalat magrib syane mengerjapkan mata ia melihat keseleuruh ruangannya yang nampak gelap kemudian syane bangun dan berjalan menuju saklar lampu untuk menyalakannya.
Syane baru sadar kalau dirinya masih mengenakan baju kerja, kemudian syane membuka semua pakaianya dan pergi kamar mandi setelah badan nya di rasa bersih ia berganti pakaian dengan menggunakan tentop dan hotpant yang di biasa di kenakan saat tidur karna cuaca di indonesia sangat panas berbeda ketika ia tinggal di korea.
Syane duduk di tepi kasur pikirannya kembali tertuju pada minho hatinya mulai merasa perih dan seperti seolah ada sebilah senjata yang akan menghujamnya saat ia memikirkan kalau minho akan melupakannya.
Saat syane masih meracau dengan pikirannya tiba-tiba pintu kamar syane di ketuk seseorang.
"Bu apa ibu ada di dalam?" Tanya seorang pelayan dari belik pintu.
"Iya ada apa?" Syane balik bertanya.
"Ibu belum makan malam, apa mau makan malam sekarang?" Kata sang pelayan.
"Iya sebentar lagi saya turun" jawab syane.
"Baik bu" lalu sang pelayan kembali dari depan pintu kamar syane.
Tapi beberapa detik kemudian pintu kamar syane kembali di ketuk.
"Ada apa lagi?" Tanya syane.
"Ini gw silla" dan kali ini rupanya bukan pelayan yang datang melainkan sila sang sahabat yang sempat ikut ke korea dua tahun lalu.
Hampir lupa dengan silla, silla setelah pulang ke indonesia dan memutuskan utuk tidak ikut dengan syane korea karna ayah nya sakit beberapa hari kemudian setelah silla pulang ayah silla meninggal namun silla tidak kembali ke korea karna di minta syane untuk mengurus perushaan syane yang di indonesia sebagai manager di perusahaannya silla sudah tau tentang hubungan syane selain dari hilda yang memberitahukan nya tapi sila juga tau dari mulut syane sendiri yang curhat padanya namun syane me wanti-wanti agar tidak di ketahui orang tentang hubungannya dengan minho.
"Masuk aja!" Seru syane. "Ada apa sil?" Tanya syane saat silla sudah berada di kamarnya dan rupanya silla tidak sendiri ia datang bersama hilda.
"San kita nonton konser yu?" Ajak silla
"Konser apaan?" Syane.
"Lah kok bisa lupa kan stasiun TV lo!" Tandas silla seraya menghenyangkan pantanya di tepi sofa kamar syane.
"Nggak lah males" tolak syane, silla dan hilda saling melirik saat mendapat penolakan dari syane.
"San ayok dong!" Ajak silla lagi.
"Iya bu ayok bu!" Timpal hilda.
"Kalian aja pergi kenapa mesti ngajak aku?" Tukas syane.
"Tapi syan kita maunya sama lo" silla kekeh.
"Aku males, kamu tau aku lagi mikirin minho dia gak ada kabar udah beberapa hari aku chat juga nggak aktif" kata syane.
"Udah telpon managernya?" Tanya hilda.
"Udah tapi sama dia nggak aktif, aku telpon mama untuk nanyain mama bilang minho ada dia nggak apapa katanya lagi shooting di luar kota, aku juga tanya orang-orang terdekatnya mereka nggak tau aku takut terjadi sesuatu sama dia" tutur syane cairan bening mulai jatuh membasahi pipi putihnya.
"Lalu kemana dia?" Kata silla.
"Mungkin aja benar tuan minho lagi di luar kota dan nggak ada sinyal" hilda berusaha menenangkan syane.
"Nggak tau lah, tapi aku sangat khawatir sama dia aku takut terjadi hal yang buruk sama dia hik hik hik" syane menangis ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada kekasihnya.
Sedangkan dua orang yang tengah berada di kamarnya mereka berdua pun terlihat sedih melihat bosnya terlihat murung dan sedih karna selama mereka bekerja pada syane tak pernah syane selemah ini.
"Ya sudah lah syan gak usah di pikirkan mendingan kita liat konser siapa tau kamu bisa melupakan pikiran burukmu sejenak" silla kembali berusaha mengajak syane, syane diam sejenak hingga akhirnya ia setuju dengan ajakan silla ia pikir mungkin bisa terhibur dengan menonton konser meski hanya sejenak.
"Katanya kamu belum makan, kita makan di luar ya!" Silla mencari kesempatan yang memang kebiasaan silla.
"Ya" ucap syane silla dan hilda pun tersenyum.
Syane mengambil celana jean's panjang lalu mengganti celananya sedangkan atasannya ia ganti dengan kaos street pendek berwarna putih lalu sebelum pergi syane juga mengenakan jaket panjang selutut yang dia biarkan terbuka tanpa mengancingkannya.
To Be continue