
Sepulang kerja syane dan syane diner di sebuah restoran mewah yang berada di jantung kota newyork kedatangan mereka berdua di sambut hangat oleh para mengunjung restoran dan juga para waitres, tak sedikit orang yang meminta berpoto bareng dengan minho dan juga syane bahkan ada yang mendo'akan agar segera di beri keturunan.
Selesai makan mereka pulang ke rumah nenek alma.
Sampai di rumah mereka bercengkrama di ruang keluarga syane bermanja pada minho tangan syane tak lepas dari genggaman minho, sedangkan nenek alma pergi kebelakang untuk membawa makanan ringan hasil masakannya, tak lama nenek alma kembali ia tersenyum melihat cucunya kembali akur.
"Nenek senang melihat kalian selalu bersama dan bahagia nggak seperti kemarin" kata nenek alma seraya menaruh makanan yang ia bawa di atas meja.
Syane mengenyitkan alis "nenek tau kalau kemarin aku sama minho lagi bermasalah" pikir syane.
melihat kedatangan nenek alma minho melepas genggaman tangannya dari tangan syane ia merasa tidak enak jika bermesraan di depan nenek alma.
"Memangnya kemaren kita kenapa nek?" Tanya syane.
"Ya seperti kemarin-kemarin kamu disini sementara suami kamu di korea rumah tangga apa yang sibuk sendiri sendiri? Kalian itu harus selalu bersama mau dalam keadaan susah mau pun senang karna memang suami istri itu harus saling melengkapi bukan saling sibuk sendiri, kamu sebagai istri harus bisa nurut sama suami! apa yang baik yang di perintahkan suami kamu? kamu harus turuti jangan suka membantah kecuali suami kamu menyuruh kamu berbuat kejahatan, menyuruh kamu berbuat maksiat baru kamu menentangkan malah justru kamu harus bisa menyadarkan suami kamu ketika dia salah, dan kamu sebagai suami harus bisa mendidik istri kamu menjadikan dia istrimu yang sebaik-baiknya jangan karna kamu cinta sama dia mau dia berbuat apapun kamu biarkan jadikan istri kamu wanita yang soleh!. minho, nenek titip syane sama kamu jadikan dia wanita mulia, setelah nenek gak ada dia gak punya siapa-siapa lagi selain kamu, dan nenek minta setiap ada masalah jangan mengatakan kata cerai karna akan jatuh talak kamu terhadap istri kamu jika sekali saja mengucapkannya meski mengucapkannya secara tidak sengaja" nenek alma memberikan nasihat pada satu pasanv cucunya tersebut..
"Iya nek pasti aku akan selalu menjaganya"
"Nek dia minta pisah terus sama aku?" Kata syane memecah pembicaraan.
"Siapa" Nenek alma mengerutkan dahinya.
"Nggak bukan aku tapi dia" elak minho.
"Waktu di seoul" cetus syane
"Itukan kamu yang mau"
"Apaan sih? Siapa yang mau? Aku gak mau pisah sama kamu"
"Aku juga sayang, aku gak mau pisah dari kamu"
"Sudah sudah, kalian ini!" Seru nenek alma.
"Nek kalau misalnya mengucapkan pisah boleh nggak? apa itu bisa di bilang jatuh talak?" Tanya syane pada nenek alma namun bukan nenek alma yang menjawab melainkan minho.
"Nggak, kecuali aku bilang, aku menceraikan baru jatuh talak satu" kata minho.
"Sok tau"
"Tau dong sayang, ustadz pembimbing aku yang bilang"
"Emmh gitu ya" nenek alma tersenyum mendengar minho semakin dalam tentang pengetahuan agamanya.
"Sepertinya sekarang saatnya kamu yang banyak belajar agama, suami kamu sudah lebih jauh pengetahuan agamanya di banding kamu meskipun dia seorang mualaf" kata nenek alma.
"Tau tentang agama tapi masih mau memerankan adegan mesra dengan lain mahrom" gerutu syane pelan mendengar syane mengerutu minho menoleh menatap syane kemudian menarik syane ke pelukannya lalu mencium keningnya.
"Sayang itu cuma gif aslinya aku nggak menyentuh dia"
"emang aku percaya?" syane ketus sambil memanyunkan bibirnya.
"Sumpah aku sama sekali nggak menyentuhnya itu editan sayang"
"Tau ah aku mau tidur ngantuk!" Syane beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar, melihat istrinya yang terlihat kesal minho pun menyusulnya.
"Nek aku juga kekamar dulu" pamit minho.
"Loh kok pada pergi ini kue buatan nenek nggak ada yang makan"
"Nanti saja nek" ujar minho seraya berlalu pergi.
"Dasar kalian ini" kata nenek alma, ia menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah kedua cucunya.
Di kamar
Syane duduk di tepi kasur dengan muka di tekuk minho tersenyum ia duduk di samping syane kemudian memeluknya.
"Sayang kamu marah sama aku?" Minho.
"Nggak aku nggak marah cuma aku kesal kalau ingat adegan itu, kamu tau nggak saat itu aku benar-benar sedang butuh kamu tapi kamu malah sama orang lain" bulir bening dari mata syane mulai mengepung bola mata indah syane.
"Terus kalau kak lee nggak meminta untuk nggak beradegan seperti itu kamu sendiri mau" minho tertawa renyah mendengar ucapan istrinya.
"Ya nggak dong sayang, karna aku juga tau kamu nggak suka"
"Alah bilang aja mau"
"Kamu ini yang membuat aku candu" minho mencium bibir syane lalu menggendong syane membawanya keatas kasur.
"Ahh lepasin! aku masih kesal sama kamu" ucap syane manja.
"Apa tadi kata nenek? Kamu harus nurut sama suami" tukas minho.
"Tapi aku masih kesal" syane tersenyum sambil melingkarkan tangan nya di leher minho.
Setelah beberapa jam kemudian
Minho melihat jam menunjukan kalau malam semakin larut, tubuh mereka berdua kini di penuhi ketingat meski di luar dalam ke adaan turun salju namun karna yang mereka lakukan olah raga malam berdua di atas kasur meski tanpa busana sehelai pun membuat mereka merasa sedikit lelah namun menghasilkan rasa nikmat, kenikmatan yang biasa di bilang surganya dunia.
Syane tertidur di sambil memeluk minho yang sama-sama tanpa busana.
"Kamu capek sayang?" Tanya minho kemudian mencium bibir syane, syane mempererat pelukannya hingga akhirnya tertidur lelap bersama minho.
Kumandang adzan subuh terdengar dari alarm ponsel minho, minho pun bangun ia merasakan tangannya yang pegal karna semalaman di jadikan bantal oleh syane. Minho mengusap rambut syane lalu membangunkan untuk mengajaknya sholat bersama.
Pagi mulai menyapa
Setelah sholat subuh syane pergi ka dapur membuatkan susu kebugaran untuk minho.
"Sayang ini susunya di minum ya selagi masih hangat!" Seru syane.
"Iya sayang taro aja di situ" kata minho yang duduk di tepu kasur menunjuk meja dengan memanyunkan bibirnya, karna ia sedang fokus memeriksa berkas-berkas milik syane.
"Sayang kamu gak usah pergi kerja biar aku saja aku akan mengurus semuanya" ujar minho seraya memasukan beberapa berkas yang akan di bawanya kedalam tas.
"Sayang kamu beneran bisa menghandle semuanya?" Syane masih agak ragu karna menurut syane minho tidak terbiasa mengurus perusahaan karna selama ini meski minho memeikiki perusahaan sendiri di bidang properti tapi minho hanya menerima hasilnaya ia tak pernah berkecimpung di dalamnya.
"Kamu meragukan aku? Gak usah takut aku paham dengan hal ini semua kamu kan tau aku juga seorang pengusaha yang pernah jadi saingan kamu di bidang poperti" tandas minho "dan aku juga tau bagaimana bagaimana cara kerja perusahaan kamu bukan sekali dua kali aku mengikuti setiap konsep yang kamu bicarakan dengan semua pekerja di perusahaanmu jadi aku paham bagaimana cara kerjanya yang sering kamu tanamkan pada mereka.
"Begini saja, sebaiknya hari ini kamu bekerja di rumah saja aku akan membantu kamu" usul minho.
"Ya oke" minho tersenyum memandang syane.
Sepanjang hari sepasang suami istri itu diam di rumah setelah sarapan mereka mulai bekerja keras dengan kemampuan otak luar biasa yang mereka miliki sungguh pasangan yang ideal mereka tampak serasi di segala bidang.
Syane dan minho istirahat setelah makan siang, syane duduk di kursi rooptof lantai tiga rumah nenek alma, bersantai menyilangkan kaki dengan segelas kopi tangannya memandang ke arah luas di luar sana.
Minho yang baru menemukan istrinya setelah mencarinya beberapa saat minho melihat syane dan memperhatikan istrinya dari ambang pintu menuju rooptof
"Sayang kamu disini rupanya!" Syane berbalik ke arah suaminya yang tengah berjalan mendekatinya.
"Hai sayang" syane tersenyum.
"Sedang apa di sini?" Tanya minho.
"Emmmhhh nggak apapa" ujar syane lalu menyimpan gelas yang di pegangnya di meja kemudian menaruh kepalan tangannya antara paha dan dagu.
"Aku kepikiran perushaan, yang aku bangun dari nol dan sekarang hancur hanya karna satu penghianat di perusahaanku sendiri, apa selama ini aku berbuat jahat pada seseorang hingga orang itu benci padaku dan menghnacurkan yang aku miliku, kamu tau? Aku membangaun perusahaan itu dengan bermodalkan uang dari ayah hasil laba dari stasiun televisi peninggalan ayah dan sekarang perusahaan itu hancur" kata syane sendu, minho melihat istrinya yang terlihat sedih ia meraih tangan syane kemudian menggengam nya.
"Sayang kamu tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun mereka melakukan ini padamu, aku yakin karna cemburu sudah kalah saing dengan mu, untuk kita merasa wajar kalah dalam persaiangan tapi tidak untuk mereka yang merasa iri padamu itulah sebabnya mereka melakukan ini padamu" minho berusaha menenangkan syane. "Sekarang kamu gak usah bersedih perushaan kamu bukan hanya itu saja kan?" Tukas minho, syane tersenyum manis pada suaminya
"Terima kasih sayang" ucap syane.
"Kamu sholat dzuhur dulu ya sudah mau lewat waktu! Berdoa! agar pikiran mu lebih tenang dan mengiklaskan semua yang sudah bukan lagi milikmu" seru minho sungguh kata bijak datang dari seorang mualaf yang mempersunting gadis cantik bernama syane.
"Iya aku sholat dulu ya" pamit syane. Lalu syane pun pergi untuk mendurikan sholat.
Sementara setelah syane berlalu pergi, minho masih terdiam di rooptof minho merasa kasihan pada istrinya untung dia tegar kalau tidak mungkin sudah depresi, minho jadi merasa kesal pada orang yang sudah berani membuat salah satu perusahaan istrinya hancur.
"Sialan sebenarnya siapa yang sudah berani melakukan ini aku harus segera menyelidikinya" minho merogoh ponsel dari saku celananya untuk menelpon orang bayaran agar membereskan orang yang sudah membuat istrinya terluka dan mau membongkar dengan siapa orang itu bekersama.