Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
BAB 19



Esok pagi


Syane bangun dari tidurnya ia langsung ke kamar mandi sedangkan sang nenek masih melaksakan beberapa ibadah setelah sholat subuh yang biasa di lakukannya.


Selesai mandi syane berganti pakaian dan berdandan rapi melihat cucunya yang tengah bersiap nenek alma mendekatinya.


"Kamu mau berpakaian seperti ini ke kantor?" Tanya sang nenek.


"Iya" ujar syane.


"Ganti!" Tandas nenek alma.


"Kok ganti? Ini juga bagus nek"


"Iya menurut kamu bagus kelihatan paha, tapi menurut nenek sangat buruk"


"Nenek aku sudah biasa kaya gini"


"Ganti!" Seru sang nenek kekeh.


"Aissshh" syane ngedesis kesal.


"Biar nenek carikan bajunya"


"Ya sudah terserah nenek" nenek alma berjalan ke arah lemari besar yang terbuat dari kaca tempat syane menaruh semua pakaiannya.


"Baju kamu gak ada yang bener semuanya model anak kecil seperti ini" nenek alma memilih pakaian yang akan di kenakan syane.


"Emang gitu, itu pakaian aku semua" ujar syane yang duduk di tepi kasur seraya memeriksa berkas di tangannya yang akan di bawa ke kantor.


"Sayang ini baju siapa?" Tanya sang nenek sambil menggembrengkan pakaian laki-laki yang di keluarkan dari lemari syane.


"Baju aku lah" jawab syane tanpa menoleh ia fokus dengan berkas di tangannya.


"Syane ini pakaian siapa? Nenek rasa ini bukan pakaian kamu tapi pakaian pria mana banyak benget di lemari kamu" kata nenek alma.


Mendengar pakaian pria spontan syane menoleh pada neneknya yang tengah mengebrengkan pakaian milik minho.


"Oh itu pakaiannya min ho" kata syane dengan santainya.


"Apa? Pakaian min ho, berarti dia sering tidur di sini sama kamu?"


"Iya"


"Syane kamu apapaan kalian itu belum menikah"


"Iya aku tau lagi pula aku nggak ngapa-ngapain sama dia"


"Kalian tidur bareng, kamu bilang nggak ngapa-ngapain kamu pikir nenek akan percaya?" Nenek alma menyambar berkas dari tangan syane lalu memukulkannya ke kepala cucunya.


"Nenek saayyaang...! baju minho ada di sini bukan berarti aku ngapa-ngapain sama dia, lagian kalau aku ngapa-ngapain sama minho terus tiap habis begituan dia tinggalkan bajunya di sini, lalu pulangnya minho telanjang gitu? Nenek ngaco, baju minho banyak di sini karna aku beliin dia baju baru dan yang bekasnya aku suruh soon ee untuk mencucinya setelah bersih aku suruh soon ee menyimpannya di lemariku, gitu!" Tutur syane.


"Kamu kan bisa menyuruh dia ganti baju di rumahnya gak usah disini, itu artinya kamu sudah ngapa-ngapain sama dia" sang nenek kekeh.


"Nenek!! aku nggak ngapa-ngapain sama dia cuma tidur bareng setelah ngantuk kita memejamkan mata dan tidur sampai pagi memang aku tidur selelu memeluk dia tapi dia gak pernah melakukan yang lebih dari itu" kata syane.


"Dia jantan atau nggak?"


"Maksud nenek?"


"Laki-laki jantan tidur berpelukan dengan seorang wanita di atas ranjang  masa gak meminta sesuatu! Tangannya gak merayap ke mana-mana?!" Nenek alma.


"Aduh nenek, nenek ini gimana sih pasti dia memintanya lah tapi apa aku harus memberikannya? Nggak kan? Banyak wanita yang hamil di luar nikah itu karna gitu, cowoknya minta langsung di kasih mentang-mentang cinta, kalau aku nggak meskipun aku sendiri juga mau" kata syane.


Mendengar ucapan di akhir kalimat syane nenek alma kembali memukul kepala syane kali ini langsung dengan tangannya tanpa perantara.


"Aww sakit nek" syane cemberut ia mengusap kepalanya yang di pukul neneknya.


"Kamu jangan gatel!"


"Siapa yang gatel, kalau gatel aku tinggal garuk"


"Nih anak ya" kembali nenek alma menoyor bagian belakang kepala syane.


"Nenek lama-lama aku bisa geger otak" celoteh syane.


"Iya mendingam kamu geger otak sekalian dari pada di otak kamu cuma aa minho, minho doang, kamu itu pacaran jangan suka terlalu kaya gitu sekarang kamu nggak ngasih, terus dia gak maksa nanti bagaimana kalau dia maksa terus kamunya juga mau?"


"Ya paling aku hamil hahahahaa" syane sengaja menggoda neneknya agar tambah marah, lagi-lagi sang nenek hendak memukul syane dengan menegepalkan tangannya namun sang nenek mengurungkan niatnya karna dia tau kalau cucunya hanya bercanda.


"Dasar kamu" nenek alma mengusap pipi syane seraya memandang wajah imut cucunya itu. "Sayang kamu harus nurut apa kata nenek, nenek nggak mau kalau sampai kamu kenapa-napa karna kamu cucu nenek satu-satunya kamu harta paling berharga buat nenek kamu peninggalan anak nenek" kata nenek alma sendu.


"Iya neneku sayang" syane memeluk pinggang neneknya. "Nenek tenang saja meski aku sering tidur bareng minho tapi aku masih virgine kok kalau nenek gak percaya nenek boleh bawa aku ke dokter buat periksa keperawanan aku" kata syane.


"Iya nenek percaya, tapi kamu jangan terlalu sering tidur bareng pria apa lagi dia pacar kamu"


"Iya tapi sekali-sekali boleh dong berarti? asal jangan sering"


"Anak ini" nenek alma mencubit hidung syane.


"Kan katanya jangan keseringan berarti sekali-sekali boleh dong?" 


"Gak boleh"


"Nenek tau? apartemennya minho juga disini? di lantai sembilan" kata syane mengalihkan pembicaraan.


"Bodo amat, nenek gak ngerti sama anak jaman sekarang, pantes kamu suka tinggal di apartemen kecil seperti ini karna ada dia juga di gedung ini" tukas sang nenek seraya berjalan kembali menuju lemari syane untuk kembali memilih baju yang akan di kenakan syane.


Syane tertawa mendengar ucapan neneknya yang seolah tak mau tau tentang minho.


"Siapa tau nenek mau minta photo dia gak banyak loh yang tau kalau minho tinggal disini cuma aku aja"


"Aku nggak tergila-gila sama dia meski harus minta photo segala, nih ganti bajunya!" Seru nenek alma, sambil memberikan celana jeans panjang dengan kaos putih polos di sesertai blazer.


Syane tak bisa membantah ia langsung mengganti bajunya di depan sang nenek tanpa malu, syane membiarkan baju bekasnya teronggok di lantai bagai anak kecil


Nenek alma memungut baju syane dan membawanya ke tempat cucian kotor, setelah mengganti pakaiannya syane nampak terlihat elegant dengan pakaian yang kini ia kenakan.


"Nah gitu kan bagus" kata nenek alma pada syane soal style nenek alam tidak ketinggalan jaman, meski sudah jadi nenek tapi pengetahuan nenek alam masih kekinian.


"Hari ini kamu gak usah kemana-mana!" Kata nenek alma.


"Apa? Terus untuk apa aku ganti baju?"


"Kamu telpon kekasih kamu itu suruh dia kesini nemuin nenek!" Seru nenek alma.


"Gak bisa nek hari ini syane harus ke kantor ada pertemuan dengan pemilik perusahaan dari canada"  tolak syane.


"Batalkan!" Perintah nenek alma..


"Gak bisa nenek dia sudah ada di korea harusnya kemarin syane bertemu dia tapi kemarin aku suruh hilda menemuinnya"


"Ya sudah suruh hilda lagi menemui dia"


"Tapi nek!"


"Ya sudah kalau gitu kamu gak usah berhubungan dengan pria kesayangan kamu itu" tandas nenel alma


"Lho kok gitu?"


"Iya gitu"


"Nenek"


"Apa?"


"Jam segini minho gak bakal bisa menemui nenek dia ada shooting"


"Harus bisa"


"Nenek apapaan? maksa gitu!"


"Terserah nenek"


"Peachh" syane mendecih. "Lalu ngapain aku ganti baju kalau gak boleh kemana-mana" gerutu syane.


Syane terpaksa mengeluarkan ponsel dari tas kerjanya lalu menelpon minho tak lama minho pun mengangkat panggilan masuk dari syane.


"Hallo sayang aku kangen sama kamu" kata minho di balik sambungan minho terdengar senang mendapat telpon dari syane.


"Aku juga kangen banget sama kamu" ujar syane, sang nenek yang mendengar percakapan syane ia mendelikan mata.


"Sayang hari ini kamu ada shooting gak?" Tanya syane.


"Nggak, kenapa memangnya?"


"Bisa datang ke apartemen ku?"


"Kapan?"


"Sekarang tapi kalau gak bisa juga nggak apapa, kamu lagi di apartemen kan?"


"Bisa kok sayang hari ini aku gak ada shooting cuman ada pemotretan saja nanti sore, aku kesana sekarang, memangnya ada apa sayang aku di suruh kesana? nenek masih ada kan?"


"Oya?"


"Ya udah aku kesana sekarang ya"


"Iya aku tunggu, by sayang" syane menutup sambungan telponnya.


"Uhh mesra banget kata-katanya"


"Emang nenek ngerti?"


"Ya ngerti lah barusan kamu ngobrolnya pake bahasa inggris ya pasti nenek ngerti"


"Oh iya lupa kenapa aku tadi nggak ngobrol pake bahsa korea aja ya, biar nenek bingung" celoteh syane.


"Emang kamu bisa?"


"Nggak"


"Ngaco"


"Bisa sih cuman dikit aja, aku kalau ngobrol sama minho kadang suka pake bahasa korea atau kalau nggak pake bahasa indo"


"Emang dia bisa?"


"Bisa, kan aku yang ngajarin"


"Jadi kamu tinggal di sini jadi guru bahasa juga?"


"Iya tapi muridnya khusus minho doang gak menerima murid lain cuma pria kesayangan aku aja udah"


Mendengar perkataan syane yang bucin nenek alma menggelengkan kepala.


Ketika syane ngobrol chika mengetuk pintu kamar syane.


"Masuk!" Seru syane.


"Ada apa chika"


"Maaf non saya mau mengambil cucian kotor" kata chika.


"Itu di sana" tunjuk syane.


Setelah mengambil cucian kotor chika kembali untuk meninggalkan kamar syane tapi sebelum keluar syane memerintah sesuatu pada chika.


"Chika tolong buka pintu ada tamu yang datang!"   kata syane.


"Baik bu"


"Siapa" tanya nenek alma.


"Kan nenek nyuruh minho kesini"


"Kok cepat banget nyampenya"


"Kan aku sudah bilang dia di gedung ini juga cuman dia di lantai sembilan" kata syane.


Chika yang di suruh membuka pintu ia kaget saat membuka pintu melihat sang idolanya ada di ambang pintu, minho tersenyum padanya.


"Ini minho aktor korea itu kan, aku gak salah liat apa dia cuma mirip aja" kata chika yang belum mempersilahkan minho masuk.


"Hai sayang" sapa syane dari belakang chika.


Sontak chika berbalik ia kaget mendengar cucu majikannya berkata mesra pada idolanya.


"Iya sayang" minho mencium kening syane.


"Non ini minho kan?"


"Iya, Oh iya kata nenek kamu ngepans yan sama dia?"


"Iya non"


"Ini minho"


"Sayang chika ini asisten nenek, dia salah satu penggemar kamu lho sayang"


"Oya"


"Kamu gak mau photo dulu sama minho?" Kata syane pada chika.


"Iya non tapi nanti saja"


"Kenapa nggak sekrang?"


"Nanti aja non pekerjaan saya belum selesai"


"Ya sudah tolong ambilkan minum dan makanan kesini" kata syane pada chika seraya tersenyum manis pada chika syane mengajak minho untuk duduk di sofa.


"Mana neneknya" tanya minho.


"Itu dia" kebetulan nenek alma hendak berjalan menuju ruangan di mana syane dan minho tengah duduk berdua minho berdiri memberikan salam pada minho.


"Silahkan duduk!" nenek alma mempersilahkan minho untuk duduk kembali.


"Terima kasih" ujar minho.


"Oh ini rupanya pria yang mencuri hati cucuku" kata nenek, min ho tersenyum, minho terlihat begitu berwibawa di hadapan nenek alma.


"Maaf saya sudah menyuruh kamu untuk datang kemari tidak mengganggu kan?" kata nenek alma.


"Tidak apa-apa, kebetulan saya juga sedang off" ujar minho.


"Pantas banyak orang tergila-gila sama kamu termasuk cucu saya" nenek alma, sementara nenek alma ngajak min ho ngobrol syane sibuk dengan berkas di tangannya yang di ambil dari hilda yang masih di kamar.


"Kalau boleh tau kamu benar-benar mencintai cucu saya?" Nenek alma.


"Iya saya sangat menyayanginya dia sangat istimewa" kata minho.


"Ya dia sangat istimewa dia kesayangan saya satu satunya, jadi apa rencana kamu untuk hubungan kamu dengan cucu saya?" Mendengar bertanya pada minho syane menjawab pertanyaan yang tujukan untuk minho syane menaruh berkas yang pegangnya di atas meja.


"Nek tujuan min ho sudah pasti mau hubungan kita sampai ke jenjang yang lebih serius" ujar syane.


"Itu menurut kamu" tandas nenek alma.


"Saya ingin secepatnya menikahi syane" jawab minho.


"Kamu ingin menikahi cucu saya? Kamu sudah siap dengan segalanya?"


"Iya saya siap" minho.


"Apa yang sudah kamu persiapkan" tanya nenek alma.


"Nekk!" Syane.


"Kamu tau kalian beda agama, saya gak akan mengijinkan cucu saya menikah dengan pria beda agama" tadas nenek alma.


"Iya saya tau itu"


"Lantas?"


"Saya akan membicarakan ini lebih dulu dengan keluarga saya" ujar minho.


"Kalau keluargamu tidak setuju dan saya yakin keluargamu tidak akan setuju" nenek alma.


"Kalau semua orang menentang hubungan aku sama minho dan tidak mengijinkan kami menikah itu artinya aku sama minho gak akan menikah kami akan pacaran seumur hidup" syane kekeh.


"Syane!"


"Iya nenek itu pasti" kata syane lagi.


"Baiklah kamu boleh bicarakan dulu soal ini pada keluargamu" nenek alma kembali bicara pada minho.


"Iya itu pasti, tapi sebelumnya saya juga sudah membicarakan hal ini pada keluarga saya karna syane pernah bilang sama saya kalau anda gak akan mengijinkan kami menikah karna perbedaan agama" minho.


"Lalu apa tanggapan mereka?"


"Belum ada jawaban apapun"


"Ya sudah kalau kamu benar-benar mencintai anak saya kamu akan mendapat keputusan dari keluargamu secepatnya kalau kalian memang ingin menikah"


"Iya saya pasti akan membicarakannya lagi dengan keluarga saya"


"Kamu punya berapa saudara?"


"Saya punya satu kakak perempuan, saya anak bungsu"


"Ohh oke baiklah kalau gitu saya rasa obrolan sudah cukup kalau kamu mau ngobrol dengan syane silahkan saya tinggal dulu" kata nenek alma ia pergi menuju kamar syane.


"Iya terima kasih" setelah kepergian nenek alma minho menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


To Be Continue