Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
Bab 39



Sampai di rumah syane tak mendapati neneknya ia biasanya nenek alma tak pernah pergi keluar rumah sampai selarut itu padahal kata pelayan di rumah nya nenek alma hanya ingin membeli bahan makanan ke supermarket syane menelpon nenek alma hingga berkali-kali.


Syane mulai khwatir ia menanyakan lagi pada chika.


"Chika, beneran tadi nenek bilangnya cuma mau ke supermarket?" Tanya syane pada chika.


"Iya non katanya mau beli bahan kue doang" jawab chika.


"Tapi kenapa sekarang belum pulang juga?" Gerutu syane, syane kembali mencoba menelponnya namun sama sekali tidak di angkat.


"Kemana sih nenek? kok belum pulang" syane semakin gelisah ia merasa ada yang tidak beres. "Tadi nenek pergi sama siapa?" Tanya syane lagi pada chika.


"Sama wil non"


"Ya udah panggil wil kesini!" Seru syane.


"Wil juga belum pulang non" ujar chika.


"Kemana mereka?" Syane.


"Kamu punya nomer telpon sopir itu kan?"


"Ada non cuman saya telponin dari tadi wil juga nggak mengangkatnya"


"Aduh ada apa ini" tiba-tiba saat syane merasa gelisah ponsel chika berdering ia merogoh ponselnya dari saku celemek yang melakat di badannya.


"Non ini wil telpon"


"Iya cepet angkat!"


●chika●


"Hallo wil kamu dimana?"


●wil●


"Aku masih di parkiran supermarket"


●chika●


"Supermarket?"


●wil●


"Bilang sama nyonya saya minta maaf tadi saya ketiduran setelah di kasih makan sama ofice boy tiba-tiba aku ngantuk banget"


●syane●


"Jadi nenek sekarang tidak bersama kamu?" Tanya syane yang sedari tadi mendengarkan percakan chika yang sengaja di laudspeaker.


●wil●


"Maaf non saya tadi ketiduran saat menunggu nyonya setelah di memakan makanan yang kasih oficeboy"


●chika●


"Wil nyonya belum pulang"


●WIL●


"Apa belum pulang? Masa belum pulang"


●syane●


"Wil coba kamu cari di dalam siapa tau nenek masih di dalam"


●wil●


"Baik non"


"Nenek! kemana nenek?"ucap syane mulau sendu, syane semakin khawatir ia takut terjadi sesuatu pada neneknya, minho yang baru selesai membersihkan tubuhnya ia menghampiri syane , yang tengah berada di ruang tengah.


"Sayang nenek udah pulang?" Tanya minho, Syane memeluk minho.


"Kenapa?"


"Nenek belum pulang"


"Coba telpon sopir yang mengantar nenek!"


"Udah tapi dia juga nggak tau soalnya sopir yang mengantar nenek dia tertidur saat menunggu nenek di parkiran.


"Kenapa bisa tertidur?"


"Entah lah katanya setelah memakan kue dia langsung tertidur pulas dia juga barusan nelpon nanyai  nenek"


"Aneh, siapa yang ngasih dia makanan?"


"Katanya seorang oficeboy"


"Gawat!"


"Kenapa?"


"Sayang coba kamu pikir kalau sopir itu tertidur secara normal dia pasti gak akan sampai selama itu dan nenek pasti membangunkannya saat dia di bangunkan oleh nenek pasti dia akan terbangun, ini aneh"


"Sayang jangan bikin aku tambah kwatir dong!"


"Kita harus segera mencari nenek!" Seru minho.


"Kemana?"


"Ayok sayang?"  Dengan segera minho menarik tangan syane, syane dan minho menuju ke supermarket tempat terakhir nenek alma kunjungi.


Sampai di sana sopir nenek almapun sedang panik karna tak menemukan majikannya


"Wil mana nenek?" Turun dari mobil syane menanyakan neneknya.


"Maaf non nyonya tidak ada di dalam saya sudah mencarinya dan bertanya pada orang-orang" wil pun terlihat panik saat itu.


"Wil pernah gak sebelum nya nenek menghilang seperti ini?" Tanya minho pada wil.


"Nggak pernah tuan, nyonya belum pikun jadi nyonya tidak pernah sampai lupa jalan pulang" jawab wil.


"Lalu kemana nenek?"


"Sayang coba kamu telpon orang suruhanmu siapa tau mereka bisa membantu kita!" Usul syane.


"Iya syang aku akan telpon mereka"


Minho menelpon orang suruhannya setelah menelpon minho dan syane kembali ke mobil syane menangis ia takut terjadi sesuatu pada neneknya.


"Sayang jangan khawatir siapa tau nenek nggak apa-apa"


"Aku takut nenek kenapa-napa" kata syane, minho melihat ponsel yang di pegang syane mendapat notif dari nomer neneknya, minho meraih ponsel dari tangan syane.


"Sayang ini pesan dari nenek" mendengar dirinya mendapat pesan dari neneknya syane pun melepas pelukannya.


^^^♢Nomer nenek alma♢^^^


^^^"Nenekmu saya sekap datang kesini dan jangan pernah mengajak suamimu yang aktor sialan itu kalau nenekmu mau selamat! Ingat datang sendiri"^^^


Isi pesan dari nomer nenek alma.


Syane menangis sejadi-jadinya mendengar neneknya di culik Syane menelpon nomer sang nenek.


●syane●


"Mana neneku?"


●sang lenculik yang menggunakan nomer nenek alma●


"Kamu mau mendengar nenekmu?"


●sang penculik●


"Ini nenek mu"


"Sayang nenek gak apapa kamu jangan khawatir!" Suara nenek alma terdengar dari balik sambungan telpon suaranya nenek terdengar lemah.


●syane●


"Nek nenek sabar ya aku akan menyelamatkan nenek, nenek jangan takut aku akan kesana menjemput nenek" kata syane sambil terus menangis. "Kumohon jangan apapakan neneku aku akan kesana dimana alamatnya?" Kata syane.


Sang penculik memberitahukan tempat mereka menyekap nenek alma dan rupanya orang suruhan minho berhasil menyadapnya,


Syane pun pergi ke alamat yang berikan sang pemculik tanpa minho sesuai keinginan sang penculik namun minho pun tidak tinggal diam ia mencari cara agar bisa menyelamatkan istri dan neneknya.


Sampai di tempat yang di maksud samar-samar syane melihat sebuah bangunan yang terbilang mewah dan cukup kokoh meski semua terlihat gelap tanpa lampu yang menyala syane dengan perlahan tapi pasti ia berjalan menuju ke arah pintu dengan jantung berdebar dan sedikit rasa rakut yang mulai menyelimutinya syane terus berjalan semua terlihat sangat sepi.


Syane berhasil membuka pintu kemudian ia masuk mencari keberadaan sang nenek.


"Nek nenek dimana? Nek aku disini nek!" Syane terus memanggil neneknya dan tiba-tiba lampu di ruangan tempat syane berdiri menyala.


"Selamat datang nona manis" kata seseorang dari arah samping syane, syane menoleh ia melihat neneknya yang di ikat  seutas tali dengan mulut di tutup kain.


"Nenek!" Ucap syane ia hendak melangkah kan kakinya untuk menghampiri sang nenek namun lengan syane di tahan dua orang pria.


"Jangan terburu-buru adiku yang manis! Kita akan bermain-main dulu sebentar" kata sang penculik, syane merasa pernah melihat orang tersebut syane ingat kalau orang itu adalah orang yang barada di photo yang syane dapat dari orang suruhan minho.


"Mau apa kamu?"


"Mau apa? Tenang saja kita akan bersenang-senang sayang" sang penculik menarik rambut syane hingga kepala syane tertengagak kebelakang nenek alma melihat cucu kesayangan nya di sakiti ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua pria bertubuh besar namun nenek alma susah untuk melepaskan diri.


"Kenalkan nama saya wisnu anggara kakak mu" kata orang yang mengaku kakak syane bernama wisnu. "Wajah kamu mulus juga ya cantik adiku ini, tapi bagaimana kalau saya merobeknya?" Sang nenek yang mendengar ancaman wisnu ia kembali berontak dan berusaha mencegah wisnu.


"Kenapa neneku sayang susah untuk bicara" kata wisnu. "Buka ikatan mulutnya!" Seru wisnu.


"Tolong lepaskan cucuku tolong kalian bolah ambil nyawaku tapi tolong lepaskan cuciku" pinta nenek alma.


"Oh sesayang itukah dirimu pada wanita ini? Tidak kah kau memperlakukan  ku seperti kau meperlakuka dia?" Kara wisnu.


"Ya aku akan memperlakukan mu seperti dia tapi ku mohon lepaskan dia!" Ujar nenek alma.


"Hahahahahhaha kamu pikir saya bodoh? Mana mungkin kamu bisa memperlakukan ku sama seprti dia sementara sekarang saja kamu berteriak agar cucu kesayanganmu ini di lepaskan dasar orang tua bodoh.


"Hey kamu jangan pernah berkata kasar pada neneku!" Tandas syane ia berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman dua pria yang bertubu besar yang semakin mepererat cengkramannya membuat syane kesakitan.


"Prok prok prok" wisnu bertepuk tangan. "Waww kalian ternyata kompak ya saling melindungi, aku igin tau sebesar apa rasa sayang nenekmu terhadap mu saat melihat cucu kesayangannya merasakan sakit seperti ini plakkk" syane di tampar wisnu."Plakkkk" kembali syane di tampar wisnu hingga pipi syane memerah dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


"Bagaimana sakit?" Kata wisnu.


"Hentikan, tolong hentikan! Nenek alma berteriak ia memohon agar cucunya tidak di sakiti nenek alma menangis sambil terus memohon namun wisnu sama sekali tak memperdulikan permintaan nenek alma.


Wisnu kembali menjambak rambut syane kebelakang dan melepaskannya dengan mendorong kepala syane kebelakang.


"Awww" pekik syane.


"Kamu tau kenapa saya memperlakukan kamu seperti ini? Kenapa saya sangat membencimu? Ini karna dulu orang tuamu menyakiti saya kalian yang telah membuat ibuku menderita bertahun-tahun aku seorang anak yang tidak pernah di anggap aku seorang anak yang tidak pernah di akui keluarga ayahku malah justru kamu lah yang begitu di sanjung yanv begitu di sayangi padahal seharusnya aku karna aku anak laki-laki calon penerus semua tahta kekayaanmu tapi apa yang saya dapat? Apa? Hanya derita dan rasa malu ketika di bilang saya anak haram yang terlahir tanpa ayah" kata wisnu yang terlihat berkaca-kaca saat menceritakan masa lalunya mungkin memang sesedih itu kisah hidup wisnu selama ini pikir syane.


"Maafkan ayah dan juga kakek kalau dulu sudah menyakitimu dan juga ibumu" kata syane.


"Kamu pikir semudah itu saya akan memaafkan mu?" Tukas wisnu." Mah" syane memanggil orang yang di panggilnya mamah, yang di panggil pun datang.


"Winda!" Seru nenek alma.


"Masig ingat sama saya?" Kata winda.


"Mah apa yang mau mama lakukan padanya" kata wisnu.


"Aku ingin melihat dia hancur bahkan mati sekalian" ujar winda.


"Tak kusangka kau mejadi orang jahat winda.


"Ya aku menjadi orang jahat karna kalian yang mengajariku.


"Winda suamiku sudah meminta maaf padamu" nenek alma.


"Kamu pikir cukup hanya dengan meminta maaf? Tidak" tegas winda.


"Lalu mau anda apa?" Tanya syane.


"Mauku? kamu tanya mau ku apa? Wisnu ambil berkas yang harus dia tada tangani!" Wisnu mengambil berkas yang di maksud kemudian memberikannya pada winda.


To Be Continue