Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
BAB 6



Pesona seseorang tak dapat di nilai dari banyaknya harta dan bagusnya wajah yang di miliki tapi kepribadian yang santun terhadap siapapun tanpa menilai siapa dan bagaimana orang di temuinya.


[●]


Syane datang ke tempat minho konser, syane di temani lani dan suaminya, syane di sambut dengan baik oleh pihak agence minho dan juga tim penyelengara dari televisi yang mengadakan acara tersebut, suami lani memperkenalkan syane pada orang disana sebagai seorang yang berpengaruh yang memiliki kerajaan bisnis di bebagai negara tapi syane tidak mengerti dengan apa yang di sampaikan suami lani pada mereka karna meski lama tinggal di korea tapi syane belum mengerti semua bahasa korea syane hanya tau beberapa kata saja, itu pun hanya yang bersangkutan dengan bisnisnya agar tak keliru.


Syane memiliki pemahaman yang baik, syane  mengerti apa yang di sampaikan suami lani pada orang disana saat syane di perlakukan istimewa disana dengan di beri room privat untuknya, sebenarnya tanpa suami lani bilang pun mereka tau siapa syane karna satu dari agence minho pernah datang ke kantor syane untuk membicarakan kerjasama dengan stasiun televisi syane makanya agence minho meminta ruangan terbaik untuk syane saat di telpon suami lani kalau pemilik ATV akan datang ke tempat minho konser.


"Mari nona saya antar" ajak orang dari agence.


"Syan ayo kita ke sana" ajak lani yang tengah berada di satu ruangan dengan syane, orang dari agence mengajak syane untuk nonton konser minho karna akan segera di mulai.


"Kamu udah di sediakan tempat khusus buat kamu nonton" kata lani.


"Aku gak perlu tempat khusus aku cukup melihat dia perform aja udah puas ko buatku"


"Yah gak seru dong, orang-orang pada teriak  kalau liat dia tampil"


"Aku teriak kaya mereka? Oh no! ngeliat dia secara nyata aja udah puasa buatku, gak perlu di liat sama dia, lagi pula kalaupun dia liat aku, siapa sih ku buat dia? Sama aja kaya mereka yang selalu berteriak menyebut namanya iya kan?" Tukas syane.


"Ah sudah lah terserah kamu, jadi, mau nonton gak?" Kata lani.


"Iya dong tapi aku gak mau duduk di paling depan" syane kekeh.


"Iya paling belakang" lani kesal.


"Oke ayok" syane.


"Heran aku sama kamu katanya mau liat konser, orang-orang maunya paling depan ini malah paling belakang" gerutu lani.


"Udah gak usah ngedumel aku denger"


"Iya pasti denger, kan aku sengaja ngomongnya kenceng biar kamu denger" selagi lani mengoceh syane berhenti mendadak di ambang pintu besar yang terbuat dari kaca studio yang mengarah langsung ke tempat minho konser, syane dengan jelas dapat melihat penampilan minho.


...


...


Mendapati syane berhenti mendadak lani menabrak punggung syane.


"Kamu kenapa sih pake berhenti?" Protes Lani.


"Mba kaya nya aku nonton di sini aja" kata syane.


"Apa? Disini?! Yang bener aja" lani kaget.


"Iya di sini juga aku dapat negliat dia dengan jelas ko" mendengar ucapan syane membuat lani lagi-lagi menepuk jidat.


"Syan! syan! dasar kamu gak gaul" syane tidak memperdulikan ocehan lani ia hanya memandang ke arah minho yang tengah tampil dengan sempurna syane tersenyum-senyum sendiri.


"Nona mari" orang dari agence mengajak syane yang berdiri di dekat pintu kaca.


"Maaf saya di sini saja" ujar syane orang agence mengerutkan alis merasa aneh.


"Mau saya ambilkan kursi?' Tawar orang agence.


"Oh gak usah saya gak akan lama ko" tolak syane.


Sebelum performnya minho selesai syane kembali ke room privatnya karna ia tau minho akan kembali ke ruangannya dengan melewati pintu tempatnya berdiri.


"Ayo mba kita pergi"


"Loh! loh! dia belum selesai nyanyinya"


"Ya udah lah terserah" syane dan lani pun kembali ke ruangannya. "Tapi dia belum selesai loh syan"


"Gak apapa yang penting aku udah liat"


"Hah cape deh" kata lani, saat syane dan lani berada ruangan yang di tempati syane dan lani pintu di ketuk seseorang dari luar.


"Lani membuka pintu tersebut karna ia pikir yang mengetuk suaminya yang sedari tadi bergabung dengan para crew di sana dan ternyata benar yang datang suaminya bersama  direktur dari agence minho.


"Sayang syane masih ada kan?" Tanya suami lani,


"Iya ada, itu" lani menunjuk syane yang tengah fokus pada layar ponselnya.


"Ada yang mau ketemu sama dia" kata suami lani.


"Siapa?" Tanya lani.


"Minho" lani baru sadar kalau ada seorang pria tampan di belakang suaminya lani kaget melihat kedatangan minho.


"Ya udah ayo masuk" lani antusias.


"Syan" panggil lani seraya mendekat ka arah syane yang tetap fokus dengan ponselnya.


"Apaan?" Ujar syane tanpa menoleh.


Lani memberikan kode pada minho untuk menyapa syane dengan matanya.


"Haii" sapa minho, jantung minho berdebar katika melihat syane berada di hadapannya.


Syane mendongakan kepala dan kaget melihat minho berada di dekatnya spontan syane langsung berdiri.


"Ah ha-i juga" ucap syane, minho tersenyum pada syane.


Lalu syane mempersilahkan minho dan sang direktur untuk duduk.


Sementara syane menikmati momen langkanya lani membawa suami nya ke luar dari ruangan ia penasaran dengan kedatangan minho yang datang ke ruangan syane.


"Sayang kok bisa si minho bertemu syane? Kamu yang minta?"


"Nggak bukan, dia sendiri yang minta ketemu sama syane, dia melihat syane saat ia perform tadi dan kebetulan menanyakan syane sama aku"


"Kok bisa sama kamu?" Lani.


"Nggak tau mungkin dia liat kamu dan tau kalau kamu istriku"


"Emang dia tau kalau aku istri kamu"


"Ya pasti lah dia tau, kamu lupa kalau aku anak dari CEO salah satu agencenya?"


"Iya juga sih, terus pak direktur kenapa ikut juga?"


"Kebetulan dia juga mau menemui syane mungkin mau sekedar silaturahmi senggaknya kan mereka pernah menjalin hubungan kerja" suami lani menuturkan apa yang ia tau.


Di ruangan yang di tempati syane.


Detak jantung syane tak hentinya berdebar ketika ia mengobrol dengan dua orang di hadapannya tapi bukan karna keduanya yang membuat jantung syane berdebar melainkan karna di sana ada seorang aktor yang akhir-akhir ini ia kagumi.


Tapi minho gak bisa berlama-lama ngobrol bersama syane karna masih harus kembali tampil kali ini minho gak mau membuang kesempatan ia memberikan nomer ponselnya pada syane lalu syane pun memberikan ke nomor ponselnya pada minho nomer syane pun muncul di ponsel minho, lalu minho kembali ke menampilkan performnya sedangkan sang direktur masih mengajak syane untuk mengobrol setelah itu sang direktur pamit keluar dari ruangan syane.


To Be Continue