
Wisnu kembali masuk keruangannya dan duduk kembali di kursi kebesarannya
Suster yang berada di ruangan wisnu sedari tadi ia mendengar dan melihat percakapan atau tingkah dua kaka adik ia merasa terharu jarang seorang kakak yang begitu memanjakan adiknya.
"Dok sepertinya anda sangat sayang sekali pada adik anda" kata suster yang menemaninya.
"Ya tentu, dia mutiara di rumah kami" ujar wisnu. "Tak hanya aku semua orang di rumah kami termasuk para pelayan mereka sangat menyayangi adiku itu"
"Memangnya di mau kemana dok?"
"Ke korea, ada perjalanan bisni"
"Wah hebat ya dok gadis manja yang masih muda sudah mau berbisnis sendiri"
"Iya, meskipun dia anak manja tapi dia mampu hidup mandiri"Kata wisnu mengagumi adiknya.
[●]
Syane berangkat ke korea dengan di temani asisten pribadinya, hilda.
Sampai di korea syane lansung di jemput orang kepercayaan tuan lee.
Syane dan hilda di ajak menuju rumah tuan lee sang sahabat ayah tercinta syane.
Syane memperkenalkan diri pada keluarga sahabat ayahnya, syane di sambut hangat oleh keluarga lee.
"Saya nggak menyangka surya memiliki putri secantik kamu" puji tuan lee.
"Terima kasih pujiannya" ujar syane. "Saya juga tidak menyangka ayah memiliki sahabat seperti kalian yang begitu ramah" syane membalas pujian tuan lee.
Syane juga di perkenalkan pada yoon anak dari pasangan yang tengah berada di hadapannnya yoon kebetulan hari itu ia tengah berkunjung ke rumah orang tuanya karna biasanya ia tinggal sendiri yoon sudah memiliki rumah sendiri dan hidup mandiri..
Mereka bercengkrama cukup lama syane yang di temani asistennya hendak pulang ke hotel yang sudah mereka pesan sebelum mereka menemukan tempat yang akan di tinggalinya selama di korea namun yoon mengajak syane untuk tinggal di rumahnya kebetulan rumah yoon cukup besar dan terbilang mewah sedangkan dia hanya tinggal sendiri kadang di temani adik laki-lakinya dan juga kadang para sahabatnya.
Syane menuruti permintaan yoon untuk tinggal di rumahnya sementara waktu.
Sampai di rumah yoon.
"Ini rumah ku" kata yoon sebuah rumah mewah bergaya modern yang memiliki beberapa ruangan yang terlihat nyaman untuk di singgahi.
Yoon mengajak syane untuk memasuki kamar yang cukup besar yang akan ditempatinya "nah ini kamar yang bisa anda tempati maad kalau kamarnya mungkin kurang nyaman" kata yoon, syane persilahkan untuk istirahat di kamar tersebut.
"Terima kasih, oh iya saya boleh panggil anda kakak?" syane.
"Tentu, saya akan senang sekali apa lagi saya tidak punya adik perempuan" ujar yoon.
"Ya sudah saya tinggal dulu nona silahkan istirahat"
"Gak usah panggil saya nona panggil nama saja" syane.
"Gak apapa?" Yoon meyakinkan.
"Nggak apapa" ujar syane.
"Baik lah selamat istirahat kalau ada apapa jangan sungkan beritahu saya atau bisa memanggil pelayan" kata yoon.
"Iya terima kasih kak" ucap syane.
"Oke selamat istirahat" yoon memberikan senyum ramah pada syane dan sepertinya yoon sangat menyukai syane.
sedangkan hilda, asisten syane yang juga ikut ke rumah yoon ia menempati kamar tamu yang juga terbilang mewah.
Malam hari
cuaca saat sangat dingin syane merasa menggigil karna ia tidak biasa dengan cuaca di sana syane juga melupakan jaket tenal untuk di bawa meski selimut dikamar itu sangat tebal entah kenapa tubuhnya masih terasa mengigil syane melihat sebuah jaket yang tergantung syane meraih jaket tersebut kemudian memakainya meski kegedean tapi setelah memakai jaket tersebut syane merasakan tubuhnya sangat nyaman hingga akhirnya terlelap sampai pagi.
Pagi pertama berada di korea karna merasa dingin syane tidak melepas jaket yang di kenakannya semalam syane keluar dari kamar menuju rooftop masih dengan jaket nya yang ke besaran yang ada di sebelah kamarnya yoon menyuruh pelayan untuk memberi syane secangkir minuman hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
Syane menyeruput minuman tersebut sambil berjalan menuju rooftop ia menikmati pemandangan yang terhampar luas beberapa pohon sakura menghiasi jalanan sejauh mata memandang syane melihat pahon sakura yang tengah berbunga dengan indah.
Saat syane menikmati minumannya syane mendengar seseorang menyapanya.
"siapa kamu?" Suara seorang pria bertanya di belakang syane yang tengah menyeruput minuman di tangannya, setelah menoleh syane tersedak setelah melihat wajah pria yang menyapanya.
"Hei pelan-pelan" kata sang pria yang tak lain adalah minho seorang pria yang sempat di lihatnya di turky, minho meraih tissu yang ada di meja lalu memberikannya pada syane.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya syane menggunakan bahasa korea.
"Aku yang harus nya nanya kenapa kamu ada di rumah kakaku?" Tukas minho.
"Kakakmu? Kak Yoon kakakmu?" Syane sedikit kaget.
"Iya dia kakak perempuanku" unggah minho.
Minho melihat syane mengenakan jaket miliknya.
"Ini rupanya jaket yang aku cari" minho menunjuk tubuh syane yang mengenakan jaket miliknya.
"ini jaket kamu?" Syane menatap tubuhnya sendiri yang masih mengenakan jaket yang kebesaran milik minho.
"Iya itu jaketku aku kesini mau mengambilnya" minho.
Tujuan minho kerumah yoon untuk mengambil jaket kesayangannya karna menurut minho jaket tersebut sangat nyaman ketika di kenakan.
"Maaf aku nggak tau kalau ini jaket mu, karna semalam cuacanya sangat dingin dan aku lupa membawa jaket jadi aku memakai jaket ini"
"Kenapa harus jaketku?" Protes minho.
"Karna cuma ini yang ada di kamar yang aku tempati.
Minho sampai di rumah yoon ia langsung menuju kamar yang biasa di tempatinya meski bukan di rumahnya minho memiliki kamar khusus untuknya di rumah yoon.
Saat berada di kamar minho mendapati kamarnya tidak terkunci minho juga melihat kasur berantakan seperti bekas di di tiduri minho tak terlalu perduli ia pikir mungkin kakaknya yang sengaja tidur di situ sebab kalau orang lain tidak mungkin minho melihat gantungan jaket di kamarnya tempat terakhir kali minho menggantungkan jaket miliknya namun jaket yang di maksud sama sekali tidak ada di gantungan apa mungkin pelayan di rumah itu mencucinya?.
Tak berlama-lama berada di kamar minho keluar untuk mencari yoon tapi minho tidak menemukannya saat minho melewati rooftop minho melihat seorang wanita mengenakan jaket yang sedang ia cari kemudian menghampiri sang wanita yang di lihatnya minho tidak tau siapa wanita tersebut karna ia membelakanginya minho penasaran lalu menyapa wanita tersebut.
Pertemuan yang benar-benar di luar nalar semua tak pernah di terbayangkan perjumpaan yang begitu tak di sangka.
Jantung minho mulai berdetak kencang menatap wajah cantik syane, gadis dambaan hati yang sepulang dari turky menduduki urutan teratas di hatinya, minho melihat syane di korea bukan untuk yang pertama kalinya setelah dua hari lalu minho melihat syane di bandara.
Flash back
Sepulang menghadiri acara yang di adakan di jiandong, di bandara minho melihat seorang gdis yang tengah berbicara di telpon minho menelisik dengan baik untuk meyakinkan apa yang di oleh sepasang matanya.
"Gadis itu lagi!" Batin minho seraya mengerut kan dahi merasa aneh.
Minho penasaran apakah dengan yang di lihatnya benar-benar gadis yang sama yang ia lihat di turky lalu minho mengeluarkan ponselnya memutar vidio syane yang ia ambil ketika benerapa kali melihat syane waktu di turky. "Ya benar dia gadis itu, tapi kenapa dia ada disini?" Gumam nya sambil terus memperhatikan syane yang masih melakukan percakapan dengan orang di balik sambungan ponsel milik syane, sesekali syane tersenyum saat berbicara senyum yang indah yang sering minho lihat setiap minho memutar vidio syane yang ia ambil secara diam-diam.
Setelah melihat kehadiran syane dibandara minho semakin terbayang akan gadis turky yang ia lihat di bandara inceon gadis yang sama dengan wajah yang sama senyum yang sama mata yang sama dan bibir dengan merah muda yang menarik perhatiannya benar-benar sama tak ada perbedaan, dengan melihatnya lagi membuat minho akan susah untuk memejamkan mata ketika ia hendak tidur.
Ketika syane bercakap dengan petugas bandara minho dapat mendengar jelas saat bicara syane menggunakan bahasa korea. "Apa dia asli korea" masih dalam batinnya dalam, sang manager membuyarkan lamunan minho ketika managernya mangajak minho untuk segera berangkat.
Flash back off
Syane masih di rooftop bersama minho.
"Baiklah aku kembalikan jaketnya" syane hendak membuka jaket yang pakainya untuk memberikannya pada sang pemilik.
"Nggak usah kamu pikir aku mau memakainya setelah kena tumahan air dan juga mungkin jaket nya jadi bau karna sudah kamu bawa tidur tidur" celoteh minho.
"Aishh! Tuan, kamu pikir tubuhku bau? lagian kalau aku bawa tidur kenapa? aku nggak ileran kok coba aja cium ni" tanpa sadar syane berjalan mendekati minho lalu menyodorkan bahunya untuk di cium minho, membuat jarak antara syane dan minho begitu dekat aroma wangi tubuh syane benar tercium hidung mancung minho membuat jatung minho berdetak kencang sama sekali tidak ada aroma bau dari tubuh gadis yang kini mendekati nya.
Minho memandang lekat wajah cantik di depannya.
"Ada apa" tanya yoon yang muncul di balik punggung minho.
Mendengar suara kakaknya minho berbalik.
"Kak siapa yang nyuruh kamarku di tempati dia?" Tanya minho.
"Aku" ujar yoon.
"Pantes" minho ketus.
"ini syane anak dari sahabat ayah yang dari indonesia dia pemegang perusahaan ayahnya yang bergabung dengan perusahaan properti ayah" kata yoon minho tersenyum syane menatap minho.
"Maaf aku nggak tau kalau itu kamar mu" kata syane.
"Nggak usah minta maaf" kata yoon pada syane."minho aku yang minta syane untuk menempati kamarmu" yoon pada minho.
"Nanti aku akan kembalikan jaketnya kalau sudah bersih" syane menatap minho, yoon baru sadar kalau syane memakai jaket adiknya yang kebesaran.
"Hahahahaha kamu lucu pake jaket itu, kenapa bisa pake jaket kedean gitu?" Tanya yoon.
"Semalam udaranya sangat dingin kebetulan aku melihat jaket ini, ya udah aku pake aja, setelah aku pake jaket ini baru aku bisa tidur" tutur syane.
"Padahal kan ada penghangat ruangan kenapa nggak di nyalain" yoon.
"Oh iya kenapa aku bisa lupa" ujar syane seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan jarinya yang terbungkus lengan jaket minho.
"Ya sudah kita sarapan dulu yuk pelayan sudah menyiap kan makanan untuk sarapan" ajak yoon pada syane dengan menarik tangan syane.
Minho masih manatap syane, syane melewati minho yang masih berdiri kemudian tersenyum minho tak membalas senyuman syane.
Minho masih berdiri terlihat bingung apa dia benar-benar gadis yang sama yang dilihatnya benerapa bulan lalu?.
"Ada Di turky, di korea tapi dia orang indonesia?!" Kembali Batin minho mengerutu bingung, ia memarik sudut bibirnya tersenyum sambil memijat keningnya dengan pelan kemudian minho pun pergi mengikuti yoon dan syane ke ruang makan.
Minho bergabung ia duduk di kursi makan di samping yoon sebrang syane dan hillda yang juga sudah ada di ruang makan, hilda yang mengenali minho ia merasa kaget melihat sang aktor ada di rumah itu meski hilda tidak mengodalakan minho tapi hilda tau siapa aktor di depannya karna hilda juga sering nonton film yang di bintangi minho.
"Ini minho kan?" Bisik hilda pada syane di sebelahnya.
"Kamu kenal?" Syane balik bertanya dengan matanya menoleh ke arah minho yang lagi mengaduk makanan yang akan di makannya dengan sumpit.
"Siapa sih yang nggak kenal? dia aktor korea yang sudah mendunia" kata hilda.
Minho dan juga yoon yang mendengar percakapan mereka berdua hanya diam karna syane dan hilda berbicara menggunakan bahasa indonesia yang sama sekali tidak di mengerti yoon dan juga minho.
"Oya?" Syane menatap hilda.
"Iya" ujar hilda seraya memasukan sesendok makanan ke mulutnya.
"Jadi gimana rencananya hari ini?" Tanya yoon pada syane.
"Hari ini aku mau cari tempat dulu untuk kami tinggal selama di sini" jawab syane. y sambil fokus dengan makanan di depannya.
"Kenapa nggak tinggal disini saja?" Tanya.
"Nggak kak terimah kasih aku bisa cari tempat nanti aku nggak enak kalau harus tinggal di sini" tandas syane.
"Ya sudah kalau kamu maunya gitu tapi kalau ada apapa jangan ragu untuk menghubungi kita" kata yoon.
"Iya kak pasti, makasih kak yoon sudah begitu baik sama kita berdua" ucap syane.
"
To Be Continue