
Dasarnya kehidupan tergantung bagaimana kita mampu menanggapi cerita yang kita temukan di setiap kehidupan
Sedangkan yang menjadi sandaran hidup tergantung bagaimana kita menyikapi kehidupan di segala bidang yang masuk dalam setiap bait cerita kekehidupan.
Dari hari ke hari minggu ke minggu bulan ke bulan tak terasa akhirnya satu tahun sudah rumah tangga syane dan minho mereka jalani syane memutuskan untuk tinggal di korea bersama suaminya sampai saat ini mereka belum memiliki momongan setelah satu tahun pernikahan nya, soal momongan mulai menjadi pergunjingan kaum netizen mulai menyalahkan syane yang sebagai pengusaha selalu sibuk hingga tidak menginginkan sosok keturunan, ada juga yang mengatakan kalau hubungan antara minho dan syane mulai retak pasalnya di setiap ada pertemuan atau ada acara penghargaan untuk minho, syane tak pernah hadir menyaksikan suaminya ketika menerima sebuah penghargaan.
dan banyak lagi yang mereka pergunjingkan tentang hubungan syane dan minho.
Pernah suatu hari syane meminta agar minho mau menggantikannya sebagai presiden direktur di beberapa perusahaannya sementara syane hanya akan fokus untuk menjadi istri dan mengurus suaminya serta fokus dengan rencana program kehamilan yang akan di jalani namun minho menolak dengan alasan minho masih belum siap meninggalkan dunia perfilman karna itu adalah awal dimana ia menjadi seorang manusia yang sukses dengan pencapaiannya.
Dengan alasan yang di berikan minho, syane terpaksa harus terus fokus dengan perusahaannya karna minho pun tidak pernah melarangnya untuk terus berkarir.
[●]
"Sayang dua hari lagi kita aniversary kamu mau acara yang seperti apa?" Tanya minho seraya mengusap rambutnya yang basah.
"Iya juga ya! Eemmmm kita rayakan berdua aja sayang" ujar syane kemudian pandangannya ia fokuskan kembali pada laptop di pangkuannya setelah menoleh minho sejenak.
Mendengar ucapan istrinya minho menghentikan pergerakan tangan di kepalanya.
"Kamu yakin?" Minho meyakinkan dan seolah tak percaya.
"Iya aku sekarang lagi ada masalah di perusahaan" tukas syane.
"Apa masalah itu sangat besar? hingga membuat kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu di banding pernikahan kita?!" Cetus minho, mendengar perkataan suaminya yang seolah agak kecewa dengan kepututusannya, syane beranjak dari tempat duduk setelah menurunkan laptop ke atas kasur dari pangkuannya.
"Sayang ini kan cuma aniversary kita bisa membuat acaranya setelah urusan di perusahaanku selesai" kata syane sambil membantu mengancingkan kemeja yang akan di kenakan suaminya.
"Buat kamu ini cuma, tapi orang-orang ingin mengenal lebih dekat sosok kamu" kata minho sambil mengancingkan lengan kemejanya minho yang baru saja selesai mandi terlihat sangat tampan minho mengenakan kemeja hitam yang di padukan dengan jas berwarna maroon rambutnya yang disisir rapi semakin menambah pesona seorang minho sang aktor yang sudah mendunia.
Meski dirinya sudah menikah penggemar berat minho sama sekali tak berkurang apa lagi melihat pengorbanan cinta minho untuk syane yang patut di acungi jempol, semakin membuat orang kagum.
"Oh jadi cuma itu alasannya, kamu ingin mengadakan acara pesta aniversary kita agar semua pans mu mengenalku jauh lebih dekat lagi? Kamu tenang saja sayang meski gak di acara pesta aniversary aku pasti akan mengenalkan diriku pada mereka suatu saat nanti" syane berbicara sambil berjalan menjauh dari minho dan kembali duduk di tepi kasur meraih laptop kemudian memangkunya lagi dan membukanya.
"Kapan? kita sudah satu tahun menikah tapi kamu sama sekali gak pernah muncul bersamaku di acara apapun, dan kamu tau hubungan kita sekarang sudah mulai di perbincangkan dan dipertanyakan oleh mereka" nada pembicaraan minho makin terdengar agak aneh menurut syane.
"Sayang! untuk apa kita mendengarkan mereka nyatanya hubungan kita baik-baik saja kan?" Ujar syane.
"justru itu aku ingin membuktikan kalau hubungan kita baik-baik saja" kata minho.
"iya nanti aku pasti akan memperkenalkan diriku pada mereka"
"oke baiklah" minho tersenyum kemudian menghampiri syane kemudian mencium kening syane.
"mau berangkat bersamaku?" tawar minho.
"aku belum siap kamu berangkat duluan aja nanti kamu telat kalau nungguin aku, nanti berangkat sama sopir saja" jawab syane.
"ya sudah aku berangkat duluan"
"oke hati-hati ya" syane memberikan senyuman pada minho, minho pun pergi setelah mengusap dagu bagian bawah syane.
Malam hari nya minho pulang lebih awal, sepulang shooting minho langsung mandi ia tau jika istrinya belum pulang minho merasa akhir-akhir ini syane semakin berbeda ia sering pulang telat bahkan minho sering makan malam sendiri tanpa di temani istrinya padahal sebelumnya syane selalu menjadikan suaminya prioritas utama meski ia tak bisa ikut menghadiri acara spesial minho di beberapa acara namun minho tak mempermasalahkannya karna minho mema'malumi kalau istrinya seorang pengusaha.
Dua jam setelah kepulangan minho baru syene pulang sampai di depan pintu syane di sambut para pelayan yang biasa melayani kedua majikannya.
"Suami saya sudah pulang?" Tanya syane pada sang pelayan yang membawakan tas kerja syane.
"Sudah beberapa jam yang lalu" jawab sang pelayan.
"Sudah makan malam?"
"Sudah"
Mendengar jawaban sang pelayan syane lega kalau suaminya terurus meski dia tidak ada di rumah.
Syane membuka pintu kamar ia melihat minho tengah duduk di sofa kamarnya.
"Belum tidur?" Tanya syane.
"Belum"
"Maafkan aku! Aku pulang telat tadi ada__?"
"Masalah di perusahaan?" Minho melanjutkan ucapan istrinya dengan nada menyindir.
"Maaf ya" syane menghampiri minho kemudian duduk di sebelah minho, syane memeluk minho dan meminta maaf minho mengusap rambut syane.
"Ya sudah mendingan sekarang kamu mandi terus makan!" kata minho.
"Iya makasih sayang, tapi aku sudah makan di kantor tadi" ujar syane.
"Ya sudah kalau gitu segera mandi dan kita tidur!" seru minho.
"Oke aku mandi dulu" syane mencium singkat pipi minho lalu beranjak dari duduknya.
Minho memperhatikan istrinya yang pergi menuju kamar mandi hingga pintu kamar mandi tertutup.
Karna malam sudah agak larut minho mulai menguap tanda ia harus segera tidur sebab matanya juga sudah tidak bisa di ajak kompromi untuk tetap terbuka akhirnya minho berjalan ke arah ranjang dan naik ke atas kasur untuk membaringkan tubuhnya dengan sekejap minho terbawa ka alam bawah sadar ia mulai terlelap.
Syane yang keluar dari kamar mandi melihat suaminya sudah tertidur pulas syane membiarkan dan tak mau mengganggu, setelah mengenakan pakaian tidur syane pun membaringkan tubuhnya di samping minho, syane memeluk minho sedangkan minho hanya memberikan gerakan kecil saat syane memeluknya dan akhirnya syanepun terlelap sambil memeluk suaminya.
[●]
Pagi hari
Syane mendapati minho sudah tidak ada di sampingnya sadar kalau suaminya sudah gak ada ia pun bangkit dari tempat tidur syane mencari minho kesetiap ruang dalam kamarnya termasuk kamar mandi tapi syane tak mendapati suaminya berada di dalam kamar.
Kemudian ia keluar kamar untuk mencari minho di ruang makan karna ia pikir kalau minho tengah berada di sana namun sesampainya di ruang makan syane sama sekali tak mendapati suaminya di sana ia hanya melihat seorang pelayan yang tengah membereskan meja makan.
"Pagi nyonya" sapa pelayan.
"Iya pagi, apa kamu melihat suami saya?" Tanya syane pada pelayan.
"Tuan sudah berangkat" jawab pelayan dengan mimik muka aneh mendengar syane menanyakan suaminya yang seharusnya syane tau saat suaminya pergi.
"Pergi? Kenapa dia nggak membangunkan aku?" Gerutu syane. "Ya sudah makasih ya!" Kata syane pada pelayan kemudian ia kembali kekamar dengan berjalan gontai kembali memasuki kamarnya saat sampai di kamar syane melihat sebuah benda di atas meja kamarnya syane mendekat memastikan benda tersebut.
Lalu syane meraihnya ia mendapati sebuah kotak yang berisi jam tangan berlapis berlian yang di design elegan syane melihat spucuk surat yang tertindih setangkai bunga mawar syane membukanya kemudian dibaca rupanya surat tersebut terdapat sebuah ucapan aniversary satu tahunnya pernikahan mereka berdua minho juga menghadiahkan jam tangan untuk syane di hari aniversary nya.
Sedangkan syane sendiri ia lupa dengan hari jadi satu tahun pernikahan nya itu.
"Ya ampun aku lupa kalau hari ini ualng tahun pernikahan kita, aku harus menelpon minho" syane mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur ia mulai mengsecrol ponselnya mencari nama suaminya tapi baru saja syane hendak menelpon minho tiba-tiba ponselnya mendapat panggilan masuk dari orang di perushaannya.
Syane menggeser tombol navigasi panggilan masuk untuk menerimanya panggilan tersebut.
●syane●
"Hallo ada apa?"
●orang perusahaan●
"Maaf bu sepertinya anda harus segera kemari"
●syane●
"Ada apa memangnya?"
●orang perusahaan●
"Gawat bu"
●syane●
"Gawat kenapa"
●orang perusahaan●
"Sebaiknya kita bicara di kantor bu, saya minta ibu segera ke kantor"
●syane●
"Baik lah saya segera kesana sekarang"
●orang perusahaan●
"Iya bu kami tunggu"
Panggilan telpon pun terputus syane dengan segera pergi mandi setelah mandi ia bergegas untuk kekantor.
Sementara itu minho di pertemuan dengan tim agencenya berharap mendapat telpon atau chat dari sang istri ia terlihat beberapa kali melihat layar ponselnya.
Namun sampai waktu kembali pulangpun minho tak mendapati telpon atau chat dari syane minho pulang kerumah sore hari dengan harapan syane sudah pulang namun saat sampai di rumah minho tidak melihat mobil syane terparkir yang tandanya syane belum pulang.
Minho memasuki rumah dan langsung naik ke lantai dua berjalan gontai saat menapaki anak tangga dengan raut wajah lelah.
Saat malam syane pulang setelah minho tertidur pulas syane tidak sempat mengobrol ataupun makan malam dengan minho dan paginya syane kembali bergegas untuk pergi ke kantor lagi ia terlihat tergesa-gesa bahkan ketika sarapan pun syane sempat melupakan nya saking terburu-buru minho memperhatikan gerak-gerik istrinya.
"Kamu gak sarapan dulu?" Tanya minho.
"Nanti aja di kantor aku buru-buru" jawab syane.
"Sarapan dulu temani aku!" Seru minho.
"Sayang aku buru-buru" syane kekeh.
"Aku mau bicara" kata minho.
"Bicara apa? Nanti saja ya pulang kerja"
"Gak bisa" tukas minho.
"Tapi sayang"
"Syane" bentak minho, mendengar suaminya mengaluarkan nada tinggi syane keget.
"Kamu membentaku?" syane protes.
"Aku membentak kamu karna kamu susah untuk aku ajak bicara dan beberapa hari ini sikap kamu berubah aku gak suka dengan perubahan kamu ini" sungut minho.
"Maaf kan aku tapi aku lagi ada masalah di perusahaan" ujar syane.
"Selalu itu, perusahaan yang kamu utamakan kapan kamu akan mengutamakan pernikahan kita? Kamu selalu bilang ada masalah di perusahaan tanpa kamu berpikir kalau dengan cara kamu seperti ini bukan hanya perushaan mu yeng bermasalah tapi juga hubungan kita, karna makin kesini kamu makin jauh, bukan lagi syane yang aku kenal" kata minho.
"Maaf kan aku" syane meraih tangan minho.
"Sudah lah" minho menepis tangan syane kemudian minho pergi meninggalkan syane.
"Sayang" panggil syane, ia mengejar minho yang menuju keluar rumah, minho menaiki mobil yang biasa ia gunakan dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
"Minho" syane meninggikan suaranya melihat minho mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi membuat syane khawatir ia hendak mengejar minho namun lagi lagi syane mendapat telpon dari perusahaannya meminta ia untuk segera datang ke perusahaan.
Syane mengurungkan niatnya untuk mengejar minho dan meminta para bodyguard untuk mengejar minho kemudian syane pun pergi.
To Be Continue