Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
Bab 40



Winda menyuruh pria yang memegangi syane utuk membawanya ke kursi, syane duduk di kursi kemudian windapun duduk bersebrangan dengan syane lalu ia memberikan berkas tersebut pada syane.


"Kamu tanda tangan ini!" Seru winda.


"Apa itu?"


"Ini surat penyerahan kekuasaan atas semua aset milik mu tanpa terkecuali termasuk ATV" winda kembali meminta syane menanda tangani surat tersebut.


"Mah bukannya ATV saja tujuan kita" Timpal wisnu.


"Wisnu ini urusan mamah, mamah ingin dia lebih hancur"


"Tapi mah" wisnu.


"Kamu pikir saya sudi? Saya gak akan sudi menyerahkannya pada orang jahat sepertimu" tandas syane.


"Ooohhh kamu berani melawan saya kamu mau menolak keinginanku"


"Kenapa nggak?" tandas syane.


"Masih bertanya?"


"Bawa orang tua itu!" Winda memerintah anak buahnya.


"Gorok lehernya!" Kata winda setelah nenek alma berada di depan syane.


"Anak buah winda menaruh pisau di leher nenek alma hingga leher nenek alma sedikit berdarah, syane panik mendengar winda memerintahkan anak buahnya untuk menyakiti neneknya.


"Jangan! Baik lah aku akan menandatangininya" ucap syane.


"Jangan sayang" kata nenek alma.


"Syane menoleh ke arah nenek alma ia melihat darah mengalir di leher nenek alma syane tidak bisa melihat neneknya terluka.


"Mana yang harus saya tanda tangani" syane menandatangani surat tersebut.


Winda tersenyum lalu menyambar kertas yang sudah di tandatangani syane.


"Sayang itu milikmu, kamu membangunnya dengan susah payah" kata nenek alma.


"Nek nenek lah yang berharga buatku" ujar syane, wisnu melihat kasih sayang seorang cucu pada diri syane, wisnu juga melihat syane tak sejahat yang di katakan ibunya.


"Sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau tolong lepaskan kami!" Pinta syane.


"Hahahaha kalian boleh saling berpelukan untuk yang terakhir kali"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak akan melepaskan kalian, aku tau setelah kalian bebas kalian akan melakukan sesuatu untuk membalas ku" kata winda, winda menarik syane lalu mendorongnya hingga terhempas ke lantai kepala syane terantuk pada ujung kursi hingga mengeluarkan darah.


"Mah!" Seru wisnu.


"Kenapa wisnu kamu mulau kasihan padanya? kamu mulai menyayanginya?"


"Bukan begitu mah tapi kita sudah mendapatkan yang kita mau kan?" Tandas wisnu.


"Asal kamu tau siapa yang sudah membunuh anak dan menantu kesayangan mu?" Kata winda pada nenek alma ia tak memperdulikan perkataan wisnu.


"Jangan bilang kamu yang sudah membuat mereka celaka!" Cetus nenek alma.


"Pintar, aku lah yang sudah membuat mereka meninggal dengan merusak rem mobil yan akan di gunakan surya dan juga istrinya malam itu aku pikir hanya akan istri dan anaknya yang cantik itu yang akan meninggal tapi ternyata yang selamat justru kamu" winda menunjuka syane.


"Mah mamah tidak pernah cerita kalau mamah yang sudah membuat ayahku kecelakaan" kata wisnu.


"Untuk apa mama cerita sama kamu?"


"Tapi mah? Dia juga ayahku kan?"


"Wisnu! dia dan orang-orang ini yang sudah membuat mamah menderita yang sudah membuat kamu lahir tanoa ayah bahkan tak di akui"wisnu kembali tertunduk mendengar perkataan ibunya. "Jadi mamah juga harus melenyapkan mereka" saat syane hendak di tarik untuk di paksa berdiri tiba-tiba minho masuk.


"Lepaskan istriku!" Seru Minho.


"Ohhh pahlawan sang princess datang juga rupanya" kata winda.


"Lepaskan istriku atau kamu yang aku lenyapkan" acam minho.


"hahahahahaha habisi dia!" Winda menyuruh anak buahnya untuk menyerang minho, minho melakukan perlawanan perkelahian pun di mulai bak di adegan film yang sering minho perankan ia telihat begitu berani melawan para pria suruhan winda minho tak sendiri ia di bantu kim bom dan yeu jiong mereka sempat mendapat pukulan beberapa kali hingga pipinya minho berdarah.






Setelah beberapa lama kemudian.


"jangan bergerak!" Beberapa polisi nenerobos masuk dan menodongkan pistol minho hendak berlari ke arah istrinya ia melihat syane yang terlihat lemah dengan darah mengucur di dahi dan sudut bibirnya.


"sayang"  minho hendak berlari ke arah syane tak hanya minho, nenek almapun yang merasa cengkraman dua orang pria betubuh besar yang sedari tadi tak mau lepas kini melepaskannya untuk mengangkat tangan.


Semua yang berada di sana kaget dengan kedatangan beberapa polisi termasuk winda dan juga wisnu semua mengangkat tangan.


"Sayang" ucap nenek alma tapi tiba-tiba winda menodongkaan pisau ke arah syane.


"Turunkan senjata kalian dan lepaskan kami kalau dia mau hidup!" Kata winda.


Semua anggota yang ada disana terdiam melihat apa yang di lakukan winda.


"Lepaskan senjata kalian kalau dia mau hidup"wind kekeh.


"Winda kumohon jangan sakiti cucuku dia tidak bersalah winda lepaskan dia, hukum saja aku winda saya mohon" pinta nenek alam sraya mengatupkan dua telapak tanganya.


"Jangan! kumohon jangan!" Seru minho.


"Turunkan senjata kalian!" Teriak winda.


Para polisi menjatuhkan pistolnya, Lalu dengan segera winda menarik syane dan membawanya pergi dari hadapan semua yang ada di sana.


Minho panik begitu juga nenek alma "syane, hey jangan bawa dia!" teriak minho, ia berusaha mengikuti winda namun di tahan kim bom.


"Jangan tuan! jangan gegabah nona syane bisa bahaya"


"Tapi istriku"


"Kita harus yakin pada mereka, mereka pasti bisa menyelamatkan nona" kim bom berusaha menenangkan.


Beberapa lama kemudian setelah syane di bawa winda, minho dan yang lain termasuk nenek alma yang berhasil di selamatkan menunggu di luar, nenek alma berusha di tenang kan oleh beberapa orang dengan menyuruhnya untuk duduk di dalam mobil sedangkan minho terus mondar-mandir penuh dengan kekawatiran ia takut terjadi hal yang buruk pada istri kesayangannya, sedangkan para anggota polisi masig di dalam mengatur strategi untuk menyelamatkan syane beberapa wartawan mulai bertadangan mereka mulai mengetahui soal pengepungan penjahat yang menyandra seorang pengusaha wanita yang tak lain istri seorang aktor korea yang sudah mendunia, beberapa media dan televisi mulai menyirkan berita tersebut hingga sampai ke korea hye hoon dan juga agence minho pun melihat berita tersebut semua menghungi minho dan juga kim bom, para awak media belom di perboleh untuk mendekati korban, mereka hanya merekam dari jarak yang jauh.


Hye hoon menangis mendengar menantu kesayangannya di sekap oleh orang jahat. Hampir satu jam lebih polisi masih berada di dalam.


Sementara syane yang masih di sekap di dalam rumah besar itu ia di duduk dikursi syane yang terlihat semakin lemas berusaha menenangkan diri.


"Dasar sialan, kurang ajar bisa-bisa nya kamu membawa polisi kemari" umpat winda.


"Tolong lepaskan aku" pinta syane.


"Melepaskanmu? Hhh bodoh kalau aku sampai melepaskanmu" ujar winda, wisnu duduk di sebrang kursi yang di duduki syane ia memandang syane ada rasa iba di hati wisnu melihat syane terlihat lemas penuh dengan darah yang mengucur dari dahinya, kali ini wisnu melihat ibunya begitu brutal padahal sebelumnya wisnu memandang winda sebagai ibu yang penyabar tapi kali ini kenapa seperti ini bahkan wisnu tidak menyangkan kalau ibunya berbuat jahat dengan membuat surya dan istrinya meninggal wisnu merasa aneh ia pikir hanya dirinay yang kejam, wisnu menyekap nenek alma agar syane mau menandatangani surat penyrahan kepemilikan ATV padanya tapi justru winda meminta semua aset syane.


Winda lagi-lagi mengacungkan pisau hendak melukai syane namun wisnu mencegahnya.


"Mah sudah mah!" Seru wisnu seraya mengambi pisau yang di pegang ibunya kemudian melempar pisau tersebut.


"Wisnu apapaan kamu? Biar aku membunuhnya" winda.


"Tidak mah dia adiku" mendengar wisnu mengakui syane sebagai adiknya membuat winda semakin murka. "Mah kumohon mah" ucap wisnu lagi.


"Ohh Kamu juga sudah mulai sayang sama dia? Kamu nggak ingat perjuangan mamah bagaimana? Karna di hina oleh keluarganya dulu!" Bentak winda.


"Mah tapi dia tidak bersalah bukan dia yang menghina mamah" kata wisnu.


"Angakat tangan" tiba-tiba polisi kembali datang setelah melihat dari kejauhan pisau yang di pegang winda berhasil di rebut wisnu dan dilemparnya.


Syane yang sedang duduk di tarik salah satu anggota polisi dan menyuruhnya untuk keluar syane pun berjalan keluar sedangkan wisnu dan winda berhasil di bekuk para anggota winda berontak berusaha melepaskan diri dari petugas.


Minho yang terus mondar mandir menung sang istri berhasil di selamatkan ia mengehentikan kakinya ia menatap syane lalu minho berlari ke arah syane yang berjalan sempoyongan dengan di penuhi darah.


Winda yang tengah di bawa anggota polisi melihat syane berjalan mengahmpiri suaminya winda tiba-tiba melepaskan diri kemudian merebut pistol dari tangan petugas dan "dorrrr" winda menembak bahu di bagian atas syane.


Minho kaget ia berhenti sejenak "tidakkkk" teriak minho melihat istrinya tertembak lalu kemudian memepercepat langkahnya dan berhasil menangkap syane yang sudah tak sadarkan diri, syane berusaha menyadarkan syane.


"Sayang! Bangun sayang" minho terus berusaha agar syane sadar dengan tangan gemetar minho terus mengusap rambut istrinya dan membersihkan darah dari pipi syane dan bibirnya sambil terus menangis minho membelai syane dan  berusaha agar syane bangun kembali.


Minho sesuatu yang hangat mengalir ketangannya dari bahu syane ternyata darah segar yang mengalir dari bahu syane.


Tak hanya minho nenek alma pun terlihat gemetar saat anak nya tak sadarkan diri dengan luka tembak di tubuhnya.


"Bos sebaiknya ayok kita bawa nona ke dalam ambulance!" Seru kim bom, degan gemetar minho mengendong syane kemudian di bawanya ke dalam ambulance untuk di bawa keumah sakit kebetulan saat penyergapan dinas kepolisian meminta ambulance untuk datang ketempat kejadian untuk berjaga-jaga kalau-kala ada yang terluka.


Winda membabi buta berusaha menembak para anggota polisi hingga akhirnya winda pun di lumpuhkan dengan beberapa tembakan kemudian perugas merebut pistol yang dipegangnya winda pun akhirnya terkapar.


To Be Continue