
Min ho mengajak syane berjalan-jalan kelilling pulau sesekali syane membuka kaca mobilnya melihat ke indahan alam di sekeliling yang di lihatnya.
Min ho menghentkan mobilnya di sebuah jalan yang terbentang sedangkan kan di samping kanan kirinya terlihat hamparan bunga kaskus yang bermekaran dengan bunganya yang berwarna kuning cantik, syane berlari mengajak min ho ketengah hamparan bunga tersebut pagi itu belum ada banyak orang berlalu lalang jika saja pagi itu banyak orang min ho tidak akan bebas berada di sana karna akan ada banyak orang yang mengkerumuni min ho, sebagai artis min ho akan di mintai photo bareng atau apa saja yang mereka inginkan dan itu akan merepotkan min ho mengingat saat itu ia tidak bersama bodyguard.
Syane merentangkan tangan menghirup udara segar dengan aroma dari bunga kaskus syane nampak begitu cantik kulitnya yang putih berpadu dengan hamparan bunga kaskus berwarna kuning, rambutnya yang hitam pekat tergerai membuat angin leluasa meniupnya kesana kemari membuat syane sangat cantik jantung minho berdebar kencang.
Min ho mengeluarkan ponsel dari saku celananya ia mengambil beberapa gambar saat syane menikmati hamparan bunga kaskus, saat ini syane terlihat seolah bukan seorang wanita yang berkuasa atau berpengaruh dengan beberapa beban perusahaan di benaknya tapi ia nampak seperti gadis biasa yang tengah menikamati masa mudanya.
Setelah syane merasa puas dengan yang di nikmatinya syane menoleh pada min ho lalu menghampirinya.
"Boleh aku pinjam ponselnya?" Kata syane.
"Untuk apa sayang?" Tanya min ho.
"Aku lupa bawa ponsel aku cuma mau mengambil beberapa gambar untuk nanti aku kirim ke ponselku" jawab syane.
Min ho tersenyum lalu memberikan ponselnya pada syane, syane meraih ponsel yang di sodorkan min ho.
Syane mengambil beberapa gambar hamparan bunga kaskus di sekelilingnya tapi syane sama sekali tidak mengambil gambarnya sendiri syane juga mengambil beberapa gambar min ho yang tengah memandang ke arah lain saat berbalik minho melihat syane hendak mengambil gambarnya melihat kelakuan syane, minho mengambil ponsel dari tangan syane.
"Sini aku ambilkan gambar yang bagus" tukas minho seraya memeluk pinggang syane lalu mengambil gambarnya yang tengah memeluk syane.
Dari hasil pengambilan gambarnya syane dan min ho nampak begitu serasi seorang pria tampan dan wanita cantik.
"Bagus, sekali lagi" kata syane, kembali min ho mengambil gambar mereka berdua dengan posisi berbeda-beda.
Semakin lama mereka saling berada dalam satu sentuhan semakin merasakan sensasi hangat yang terasa dalam dua hati, ada cinta di sana, ada cinta yang begitu terasa, awal dari pertemuan pertama kali syane dan min ho saling menatap dan saling mengagumi hingga membawa mereka susah ketika memejamkan mata adalah di sini di tengah hamparan bunga kaskus yang tengah bermekaran seperti sekarang meski tempatnya bukan di sini tapi bunga kaskus yang mempersatukan hati mereka berdua, dua orang asing yang saling tidak mengenal namun saling mengagumi satu sama lain hingga akhirnya bersatu.
Syane menatap min ho dengan penuh cinta, syane memandangnya dengan lekat saat min ho mengambil gambar dirinya dalam tatapannya syane melihat min ho yang begitu tampan dari rambut, mata juga bibirnya syane sangat menyukainya.
Min ho sadar saat mengambil gambarnya syane menatapnya dengan minho yang tengah memeluk pinggang syane ia berbalik menatap mata syane dan kali ini min ho yang mengagumi syane yang begitu cantik min ho tersenyum manis pada syane lalu mengecup bibir syane.
"Kenapa kamu memandang ku?" Tanya min ho.
"Aku belum sarapan kita cari makan dulu" syane memegang perutnya mengalihkan pertanyaan min ho seraya melepas tangan min ho dari pinggangnya lalu pergi lebih dulu, min ho tersenyum melihat syane yang tesipu malu.
Mereka kembali menaiki mobil lalu min ho mengemudikan mobilnya dan berhenti di sebuah restoran terdekat syane memesan makanan yang di ingin kan syane, min ho menjadi pusat perhatian semua orang meski ia mengenakan masker dan topi tapi ada beberapa yang seolah mengenali min ho.
Min ho tidak ikut makan karna ia tidak mungkin untuk nya membuka masker di tempat umum mengingat saat ini min ho sedang berada di luar tanpa manager dan juga para bodyguard yang biasa mendampinginya lagi pula kebetulan min ho selesai sarapan.
Min ho hanya memperhatikan syane yang tengah menikmati sarapan nya sesekali min ho mengambil gambar syane saat menyuapkan makanan ke mulutnya, min ho tertawa kecil melihat hasil ke jailannya dengan pengambilan gambar syane ketika mangap.
Syane tak memperhatikan kelakuan min ho, ia pikir min ho tertawa karna ia sedang chatan dengan salah satu orang di kontak ponselnya.
Beberapa menit kemudian syane menyudahi sarapannya setelah min ho membayar makanan yang dimakan syane yang kini telah menjadi kekasihnya, mereka pun pergi melanjutkan perjalanan nya syane dan min ho nampak terlihat bahagia tak ada lagi ke canggungan di antara mereka berdua.
Minho mengehnlentikan mobilnya di tepi pantai yang menarik perhatian syane mereka memutuskan untuk tidak turun dari mobil hanya melihat dari dalam mobil, minho memandang syane yang tengah memandang ke arah depan syane bertanya pada minho.
"Sayang tau nggak nama daerah sini namanya apa?" Tanya syane pada minho, minho menaruh sikutnya pada kemudi untuk membuat tumpuan kepalanya yang tengah memandang syane.
"Nggak"
"Berarti lebih tau aku dari pada kamu" kata syane.
"Apa namanya?" Minho.
"Pantai geok-yu" kata syane dengan mengeja karna ia tidak terlalu paham dengan cara membaca huruf korea.
Minho kembali mengembangkan senyumnya.
"Kamu tau dari mana?"
"Ishhhh itu ada plangnya" tunjuk syane.
Minho menoleh pada plang yang di tancap di tepi pantai.
"Sedikit-sedikit" jawab syane.
"Minho merasa gemas setiap kali melihat menatap syane syane menarik tekuk leher syane lalu mencium bibir syane seperti apa yang mereka lakukan tadi malam.
Seelah beberapa menit kemudian merekapun menyudahi ciuman nya.
"Kita pulang sekarang" ajak minho.
"Iya ayok" syane menganggukan kepala akhirnya mereka kembali ke villa.
***
Selesai berkeliling pulau jeju syane dan min ho kembali ke villa minho duduk di sofa ruangan dekat kamar yang tempati syane.
"Mau minum? aku ambilkan sebentar ya!" Tidak lama syane kembali dengan membawa minuman botol dan beberapa cemilan untuk minho. "Gak apapa kalau aku tinggal mandi sebentar" kata syane pada min ho, min ho menganggukan kepala seraya tersenyum.
Hilda keluar dari kamar setelah mendengar orang ngobrol melihat min ho tengah duduk di sofa ruang depan lalu hilda menyapa syane yang melangkah menuju kamarnya.
"Ibu dari mana?" Tanya hilda.
"Aku habis jalan sama min ho" ujar syane.
"Kebiasaan ibu kalau keluar gak bawa ponsel"
"Iya lupa, aku mandi dulu ya" syane kembali melangkah menuju kamarnya.
Hilda menyapa min ho lalu duduk menemani min ho dan mengajaknya untuk ngobrol min ho sebelum syane kembali.
"Bagai mana hari ini menyenangkan?" Hilda mengawali pembicaraan.
"Baik" ujar min ho.
"Makin deket saja sama bosku" kata hilda.
Min ho tersenyum.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Kata minho.
"Iya silahkan" hilda.
"Kalau boleh tau siapa pria yang sekarang sedang dekat dengan syane?" Tanya min ho.
"Pria yang dekat dengan bos ku itu yang aku tau saat ini anda" jawab hilda.
"Selain saya?"
"Mmmmmm kayanya gak ada"
"Yu jin?"
"Yu jin??? bosku sempat dekat tapi cuma sekedar rekan bisnis yang saya lihat tuan yu jin menginginkan lebih dari itu" kata hilda.
"Maksudnya?" Tanya minho seolah penasaran.
"Yang aku lihat tuan yu jin suka sama bosku tapi bosku tidak pernah melayaninya meski dia tau tuan yu jin suka sama dirinya tapi ia gak pernah membuka hati sama siapa pun kecuali anda, mungkin"
"Hahahahahaa" min ho tertawa.
"Pria yang menjadi kekasihnya, menjadi pria paling beruntung menurut aku, karna selain dia sukses bosku itu orang nya baik mudah bergaul dengan siapa saja syane sangat perhatian pada siapa pun aku yang bertahun-tahun kerja sebagai asisten pribadinya gak pernah merasa kecewa karnanya, dia selalu memperhatikan semua karyawannya tanpa terkecuali bosku juga memeliliki beberapa rumah asuh yatim piatu dan anak kurang mampu ia menampung beberapa ratusan anak dia juga memiliki rumah singgah bagi jompo yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal dan biaya untuk itu semua bosku akan mengeluarkan biaya miliaran tiap bulannya tak hanya itu saking baik dan sabarnya dia tidak pernah memarahi orang, siapapun itu" tutur hilda, ia mengatakan pakta sebenarnya tentang syane.
To Be Continue