Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
Bab 41



Syane terbaring tak sadarkan diri di sebuah ruangan rumah sakit di newyork syane terkena tembakan yang di lakukan kekasih masa lalu ayahnya.


Peluru yang menembus bahu syane berhasil di keluarkan tim medis namun karna terlalu banyak mengeluarkan darah di tambah lagi penganiayaan yang di lakukan winda membuat syane mengalami kondisi kritis.


syane berada di ruang ICU setelah di pindahkan dari ruang UGD. bermacam peralatan medis sengaja di pasang di tubuhnya oleh dokter yang menangani syane untuk menyelamatkan syane dan melewati masa kritisnya.


"Sayang bangunlah!" Seru minho dengan terus menggenggam tangan syane dan menciumnya minho terlihat begitu sedih kesedihan akan takut kehilangan, minho tidak pernah membayangkan wanita yang ia cintai, wanita yang begitu ia sayangi harus terbaring lemah di sebuah rumah sakit, minho tak akan pernah bisa menerima kenyataan jika ia harus kehilangan syane wanita yang teramat sangat ia kasihi entah apa yang akan terjadi padanya jika suatu saat itu sampai terjadi mungkin dirinya pun akan ikut kehilangan nyawa, nenek alma yang biasa menunggui cucunya bergiliran dengan minho hari itu minho sengaja menyuruh nenek alma pulang untuk istirahat di rumahnya minho khawatir kalau nenek alma sakit karna kurang istirahat dengan terpaksa nenek alma pun menuruti perintah cucu menantunya itu.


Di sebuah lorong rumah sakit terdengar beberapa derap langkah kaki yang berjalan kencang menuju ruang rawat ICU sampai di depan pintu langkah tersebut berhenti stelah sang pemilik kaki di minta berhenti oleh penjaga ruangan.


"Maaf anda nggak bisa masuk!" Seru penjaga ruangan yang bertugas saat itu dengan menggunakan bahasa inggris.


"Tapi saya harus bertemu menantu saya syane" ujar wanita paruh baya yang tak lain nyonya hye hoon yang datang bersama yoon.


"Maaf tapi anda nggak bisa masuk  sembarangan keruangan ini" sang penjaga kekeh.


"Baik lah kalau begitu saya telpon anak saya dulu" kemudian nyonya hye hoon mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, ia menelpon minho.


"Sayang mamah di sini! di depan pintu ruangan ICU" kata nyonya hye hoon setelah berhasil menelpon minho.


Setelah di telpon, minho pun keluar dengan wajah yang terlihat begitu gundah dan penuh kesedihan nyonya hye hoon benar-benar merasa kasihan pada minho dan juga khawatir pada menantunya.


"Sayang bagaimana syane?" Tanya nyonya hye hoon.


"Iya bagaimana ke adaannya?" Timpal yoon yang juga penasaran dan ingin segera melihat ke adaan adik iparnya.


"Syane belum sadar keadaannya kritis ma aku takut kehilangan dia!" Terlihat kesedihan dan rasa rakutnya minho mulai menjatuhkan air mata saat menceritakan ke adaan istrinya.


"Kamu yang sabar ya! mama yakin dia pasti baik-baik saja" sang ibu menenangkan anaknya.


"Apa boleh kita masuk kedalam?" Tanya yoon.


"Iya tapi giliran" ujar minho.


"Iya, aku dulu ya ma!" Kata yoon pada ibunya.


"Iya sayang" kemudian nyonya hye hoon mengajak minho untuk duduk ia ingin mendengar cerita tentang kejadian yang di alami anak sama menantunya.


Minho menceritakan semua dari awal sampai akhir kejadian yang di alami mereka.


Setelah beberapa lama yoon keluar dari ruang ICU yoon pun ikut mendengarkan penuturan minho.


Saat mereka mengobrol cukup lama tiba-tiba dokter dan perawat berlarian ke dalam ruangan ICU yang di tempati syane rupanya mereka melihat pergerakan syane dari monitor yang terhubung ke ruangan yang di tempati syane.


Minho dan keluaganya kaget melihat para perawat dan dokte berlari ke ruangan istrinya dengan segera minho pun ikut masuk keruangan tersebut.


Saat tiba di dalam minho melihat syane membuka matanya namun nampak masih lemas dan tidak merespon orang di sekelilingnya.


"Sayang" sapa minho sambil menggenggam tangan syane.


"Istri anda sudah melewati masa kritisnya hanya saja non syane belum bisa merespon sepenuhnya besok kami akan melakukan CT scan takutnya ada gumpalan darah yang naik ke jaringan otak dan bisa merusak sistim otak" saran dokter.


"Iya dok, baik dok" ujar minho.


"Baik lah saya tinggal dulu" pamit dokter.


"Iya silahkan terima kasih dok!" Sang dokter menganggukan kepala lalu keluar dari ruangan syane.


Sepeninggal dokter.


"Sayang ini aku minho suami kamu" kata minho menatap nanar mata syane, syane menoleh pelan ke arah minho yang tengah menggenggam tangannya.


"A_ku dimana?" Tanya syane yang masih terlihat lemah.


"Di rumah sakit sayang, syukurlah kamu selamat sayang" kata minho.


Syane berusaha mengingat yang terjadi padanya beberapa hari lalu tiba-tiba syane menanyakan nenek alma.


"Nenek pulang sayang, aku menyuruhnya pulang untuk istirahat di rumah" jawab minho. syane mengangkat sebelah tangannya kemudian meraba pipi minho yang masih terbungkus plester putih karna luka yang dia alaminya.


"Maafkan aku" ucap syane ia menangis kemudian menggenngam tangan minho dan menciumnya.


"Sayang, maaf untuk apa?"


"Karna aku kamu jadi terluka kamu harus terlibat pada permasahan ku"


"Sayang aku nggak apapa, ini cuma luka kecil dan sekarang juga sudah mau sembuh, kamu gak usah banyak pikiran dan lagi pula ini bukan karna kamu" minho menenangkan, minho menatap syane dengan penuh kebahagian karna istrinya sudah siuman minho mencium kening syane.


[●]


Esok paginya dokter malakukan CT scan pada syane dan hasilnya bagus setelah dinyatakan membaik syane di pindah kan keruang rawat VVIP untuk mendapat perawatan lebih lanjut.


Nyonya hye hoon dan juga nenek alma ikut merawat syane selama minho menghandle semua pekerjaan syane pulang bekerja minho langsung menemui istrinya sedangkan yoon kembali ke seoul setelah dua hari ikut menjaga syane.


Beberapa hari kemudian syane di nyatakan sehat syane di perbolehkan untuk pulang dan harus istirahat di rumah mengingat luka bekas tembak dai bahunya belum seratus persen sembuh.


Sementara minho dalam masa bahagia dengan kesembuhan syane di tempat lain seorang pria duduk di sudut ruangan yang di kelilingi jeruji besi dengan menganakan pakaian tahanan ia duduk dengan penuh penyesalan karna ia bisa berbuat jahat pada seorang wanita yang tak lain adiknya sendiri.


Wisnu seorang pria yang selalu di intimidasi ibu kandungnya yang di penuhi rasa dendam dan terobsesi untuk merebut kekayaan yang di miliki syane namun kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebenaran selama ini wisnu menganggap syane seorang wanita jahat sama seperti ayahnya yang sudah meninggalkan ibunya dan tidak mau mengakui wisnu sebagai anaknya namun kenyataannya lain, rupanya winda selama ini sengaja mencuci otak wisnu memanfaatkan wisnu agar ia benci pada keluarganya sendiri.


Wisnu sendiri sempar ragu kalau dirinya anak dari tuan andrayan atau bukan namun setelah beberapa hari lalu nenek alma datang menemui wisnu ketempat di mana wisnu di tahan dan mengatakan kalau dirinya memang keturunan andrayan setelah nene alna melakukan tes DNA.


Flash back.


Dua minggu lalu di ruang besuk tahanan penjara kantor polisi kota newyork.


"Saya harap kamu jangan mengganggu cucu saya lagi! Kamu tau sampai sekarang cucu saya masih terbaring di rumah sakit, dia belum sadar akibat perbuatan ibu kamu!" Tukas nenek alma pada wisnu.


"Maaf kan saya nek!" Ucap wisnu.


"Maaf?! Untuk apa kamu minta maaf pada saya minta maaflah pada syane cucu saya! Kamu sudah tega menganiaya malaikat kecil miliku, selama ini saya merawatnya, menjaganya dari apapun ada luka sedikit saya yang menggores tubuhnya maka saya akan menghancurkan apapun yang melukai cucu saya tapi apa yang kamu lakukan terhadap cucu saya? kamu dengan gagahnya menampar cucu saya kamu tau syane cucu saya? hatinya bagaikan malaikat dia tidak pernah menyakiti siapapun dia selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuannya, semarah apapun dia pada orang dia takan pernah menunjukan kemarahannya tapi kamu sudah membuat dia marah  dan juga menangis tersedu dan meminta pada mu agar melepaskan nenek tua ini" tandas nenek alma.


"Maaf kan saya nek sekali lagi saya minta maaf" wisnu mengatup kan dua telapak tangannya di depan nenek alma.


"Jangan pernah kamu memanggil saya nenek karna belum tentu kamu cucu saya, lagi pula seorang cucu tidak akan mungkin menyakiti neneknya sendiri" tandas nenek alma.


"Apa maksudnya? saya ini cucumu anak dari tuan andrayan" protes wisnu.


"Kamu tau kenapa anak saya surya dulu meninggalkan ibumu?"


"Kenapa" wisnu penasaran.


"Anak saya surya melihat ibumu berhubungan intim dengan pria lain itulah sebabnya surya meragukan kamu sebagai anaknya"


"Apa?"


"Kenapa? Ibu mu tidak pernah cerita ini kan sama kamu? Ya itu pasti ibumu tidak pernah menceritakan kejelekannya sendiri karna di ingin memanfaatkan kamu untuk membalaskan dendamnya"


Mendengar penuturan nenek alma wisnu hanya diam terpaku ia tidak bisa berkata apapun lagi.


Melihat wisnu yang hanya diam seolah mengakhiri percakapan nya nenek alma pun beranjak dari tempat duduknya.


"Baiklah kalau begitu saya harus pergi karna saya nggak bisa berlama-lama di tempat ini" wisnu tidak merespon ucapan nenek alma. "Oh iya wisnu untuk membuktikan kamu cucu saya atau bukan saya minta sampel rambut kamu kalau memang DNA kamu cocok dengan keluarga andrayan saya akan mengijinkan kamu untuk memanggil saya nenek kalau tidak cocok tidak ada hak kamu memanggil sebutan yang biasa di pakai malaikat kecilku" nenek alma membuka tas yang di jinjingnya kemudian meraih sebilah gunting kecil dari dalam tas lalu menyodorkannya pada wisnu.


"Ini potong lah sedikit rambutmu untuk melakukam tes DNA" wisnu menatap nenek alma ia tak langsung meraih gunting yang di sodorkan nenek alma wisni nampak ragu. "Ini cepat lah! Aku nggak mau lama-lama di sini aku ada urusan lain" tukas nenek alma.


Wisnu meraih gunting yang di berikan nenek alma ia pun menuruti permintaan nenek alma wisnu memotong sedikit rambutnya dengan gunting yang di berikan nenek alma kemudian memberikannya pada nenek alma, nenek alma memasukan potongan rambut wisnu kedalam kantong kecil lalu memasukannya kedalam tas.


"Baik lah kalau begitu saya pergi dulu"


kata nenek alma mengakhiri percakapannya lalu ia pun akhirnya pulang.


To Be Continue