Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
BAB 12



Min ho bangkit dari duduknya untuk mengambil sebotol minuman untuk syane dan kembali duduk di samping syane setelah memberikan minuman dingin pada syane, min ho memandang wajah syane yang begitu terlihat cantik syane yang biasanya berpakain formal kini ia hanya mengenakan setelan pendek dengan rok sepaha syane terlihat seprti gadis muda pada umumnya yang tidak memiliki beban perkerjaan sebagai seorang pemilik perushaan.


syane tidak memperhatikan tatapan min ho ia sibuk dengan tutup botol minum yang di berikan min ho, ia terlihat kesusahan saat membuka tutup botol tersebut.


Min ho tersenyum lalu meraih botol dari tangan syane kemudian membukanya syane hanya diam melihat apa yang di lakukan min ho, min ho kembali memberikan botol yang sudah di buka pada syane.


"Terima kasih" ucap syane.


"Hmm" min ho.


"Syane apa nomor ku masih ada?" Tanya min ho.


"Nomor? Maksudnya nomer ponsel?"


"Iya aku pernah ngasih nomorku sama kamu"


"Iya ada meski sebelumnya sempat aku mau menghapusnya"


"Kenapa menghapusnya?"


"Habisnya aku punya nomor mu tapi kamu gak pernah nelpon aku sedangkan aku sendiri malu kalau harus nelpon kamu lebih dulu"


"Hhahahaha" min ho tertawa.


"Kamu tau menyakitkan buat aku menahan untuk tidak menelpon kamu"


Syane mengerutkan dahi mendengar ucapan min ho.


"Kenapa harus di tahan?"


"Karna yang aku tau kamu calon istri teman lamaku aku takut merusak hubungan kalian berdua" ujar min ho.


"Oh oke alasan yang masuk akal, tapi seharusnya kamu telpon aku tanya lansung" kata syane.


"Harusnya" minho.


"Terus aku mau tanya, Kenapa kamu nyuruh keluargamu ngajak aku untuk liburan di sini?"


"Sebab kalau ke tempat lain aku gak bakal ketemu kamu" kata min ho.


"Jadi kamu suka kalau ketemu aku?"


"Siapa yang gak suka ketemu sama wanita secantik kamu" goda min ho.


"Emmm terima kasih pujiannya, tapi kan yang kamu tau aku calon istri teman mu"


"Cari kesempatan sedikit gak ada salahnya?"


"Bisa saja"


"Syane kamu sangat cantik pertama kali aku melihat kamu aku menyukaimu mungkin bisa di bilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama"  kata min ho.


"Oo yaaa" ujar syane.


"Iya"


"Kamu pertama liat aku saat di indonesia waktu kan?"


"Bukan"


"Lalu?"


"Pertama kali aku melihat kamu di lokasi shooting"


"Di lokasi shooting?"


"Saat aku shooting di tengah hamparan bunga kaskus aku melihat seorang gadis cantik dari kejauhan dengan tersenyum sangat cantik, sepulang dari sana aku gak bisa tidur aku hanya terbayang wajah kamu sampai aku mencari kamu di internet tapi aku sama sekali tidak menemukan kamu sampai akhirnya aku menemukan mu di sebuah aplikasi bisnis" tutur min ho, mendengar penuturan min ho syane merasa ada kesamaan di antara mereka sama-sama saling mengagumi pada pandangan pertama di tempat yang sama.


Syane memilih untuk diam ia tak mengatakan apa yang di rasakannya meski perasaan itu sama dengan min ho, tapi saat ini syane bingung dengan perasaannya sendiri apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaannya apa syane juga sudah jatuh cinta pada aktor yang di kaguminya selama ini? syane terdiam ia tak menyangka rupanya bukan hanya syane yang merasakan rasa kagum pada aktor yang di lihatnya beberapa bulan lalu, tapi sang aktor pun mengaguminya.


"Sampai kapan kamu akan menutup diri pada setiap laki-laki?"


"Aku gak menutup diri aku hanya belum menemukan pria yang pas di hatiku"


"Laki-laki idaman kamu seperti apa?"


"Mmmm seperti apa ya??? Untuk secara fisik Aku gak punya kriteria untuk pria yang bakal jadi idamanku tapi yang jelas orangnya harus baik dan perhatian bukan sama aku saja tapi sama keluargaku yang lain juga, itu saja" ujar syane.


"Oh oke, sudah ada orang itu?"


"Yang perhatian sama aku? Ada, tapi aku gak tau aku jatuh cinta atau nggak sama dia!"


"Siapa?" Min ho seolah penasaran terlihat dari cara duduknya yang tadinya bersandaran pada sofa stelah mendengar jawaban dari pertanyaannya min ho kangsung menarik tubuhnya memandang syane, syane tersenyum dengan membalas pandangan min ho.


"Mmmm perasaan dari tadi aku yang di introgasi mulu tapi aku belum nanya sang aktor ini apa sudah punya pacar?"  syane mengalihkan pertanyaan min ho, mendengar syane bertanya tentang dirinya ia kembali menyandarkan tubuhnya.


"Kan aku sudah pernah bilang nggak"


"Masa?" Giliran syane yeng penasaran syane yang duduk di samping min ho mengikuti min ho menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan menghadap ke min ho, min ho tersenyum.


"Aku seorang fublik figur kalau aku punya pacar netizen heboh mereka akan mencari tau wanita yang dekat denganku bahkan mereka bisa lebih tau siapa wanita yang lagi dekat sama aku dari oada aku sendiri" kata min ho.


"Wah gawat kalau gitu! Aku jadi takut dekat sama kamu"


"Kalau aku di gosipkan dekat sama wanita cantik seperti kamu aku gak bakal ngelak"


"Kok bisa?" Min ho tersenyum ia merubah cara duduknya mengukuti syane min ho memandang syane yang tengah duduk bersandaran menghadap min ho dengan menaruh lengan di bawah pipi putihnya min ho memandang wajah syane semakin dalam begitu juga syane dalam hatinya saling bersautan.


Syane sadar kalau ia terlalu lama memandang pria di hadapannya terlalu lama, lalu ia bangjit dari duduknya.


"Sudah hampir gelap aku harus kembali ke villa takutnya hilda mencariku, aku lupa bawa ponsel" syane menghindari pandangan min ho, syane hendak berdiri tapi ia merasa kakinya masih terasa sakit meski tak sesakit sebelum min ho memijatnya, min ho melihat ekspresi syane yang menahan sakit, min ho pun bangkit dari duduknya.


"Biar aku antar" min ho menawarkan diri.


"Gak usah udah gak terlalu sakit kok"


"Gak sakit bagaimana? Aku liat kamu seperti lagi kesakitan"


"Ya udah tapi aku gak mau di gendong seperti tadi" syane.


"Kenapa? Enakan di gendong"


"Nggak aku malu nanti di sangka orang apa-apa lagi!"


"Orang-orang pada mau di gendong sama aku"


"Terus kenapa gak pada di gendong?' Kelakar syane.


"Kok gendong aku mau?"


"Karna kamu gak mau di gendong"


"Aneh"


"Ya udah mau di gendong? atau bagaimana?"


"Aku pegangan aja boleh kan?"


"Jangan kan di pegang dk peluk juga gak apapa"


"Ih ngaco masa jalan sambil pelukan!"


"Enak tau, mau coba?" Goda minho.


"Nggak, apaan sih?"


"Hahahaaa, ya udah ayok" ajak min ho, saat min ho hendak mengantar syane pulang min ho ponsel min ho berdering karna sang ibu yang menelponnya.


"Sebentar aku angkat telpon dulu" ijin min ho, syane menganggukan kepala.


"Ya bu ada apa?" Tanya min ho pada sang ibu di balik sambungan.


"Min ho kamu di mana?" Sang ibu balik bertanya.


"Aku di cotage" jawab min ho.


"Kamu liat syane gak? Ibu lagi di  cotagenya tapi  Kata asistennya dari sore dia pergi dan belum kembali ibu jadi khwatir sama dia" kata sang ibu.


"Ohh dia lagi sama aku" ujar min ho.


"Sama kamu kok bisa?"


"Kakinya memar dia terkilir sedikit jadi aku bawa ke sini untuk di obati"


"Gimana ceritanya bisa terkilir?"


"Nanti saja lah ceritanya aku mau emngantar dia pulang sekarang"


"Pulang? Pulang kemana?"


"Maksudku kembali ke sana ke villa"


"Oh ya udah kalau gitu, tapi kamu hati-hati bawa nya kasian kalau kakinya sakit, ibu tunggu di sini ya"


"Iya sudah dulu bu"


"Iya oke, hati-hati jangan sampai dia sakit"


"Iya ibuuu"  min ho memutus sambungan.


"Kenapa?" tanya syane.


"Ibu sama asisten kamu khawatir karna kamu belum pulang dari tadi sore" kata min ho.


"Tuh kan, ya udah aku pulang sekarang"


"Iya ayo" min ho memegang lengan syane untuk memapahnya.


Sampai di villa syane di sambut hilda dan juga nyonya hye hoon dan yoon yang juga ada di sana.


"Bu!" Hilda yang melihat syane tengah di papah oleh min ho dengan segera menghampiri syane memapahnya ke dalam.


"Aku telponin dari tadi ibu gak angkat" kata hilda.


"Ponselku di kamar aku lupa bawa ponsel, aku gak papa kok udah di obatin oleh sang pangeran" kata syane, min ho dan yang lain tidak akan mengerti dengan apa yang di ucapkan syane karna menggunakan bahasa indonsia.


"Ya ampun sayang kamu gak apapa?" Tanya nyonya hye hoon terlihat panik ketika melihat syane dengan kakinya yang di perban.


"Gak apapa kok" ujar syane.


"Minoz bagaimana ini bisa terjadi? Ibu telpon dokter yah!" Tanya nyonya hye hoon terlihat sedikit marah pada min ho.


"Gak apapa tadi aku cuma kepleset sedikit" jawab syane.


"Tadi dia liat hantu makanya kaget sampai kepleset" kata min ho.


"Apa? hantu?" Yoon.


"Ada apa? Kenapa semuanya kumpul di sini?" Tanya syane yang sudah duduk di kursi yang tersedia di sana.


"Kita mau ngajak makan malam bersama kita ada acara bakar kambing di tepi pantai dan kami juga mau ngadain api unggun, tapi saat aku menanyakan anda, nona hilda sedang panik katanya anda tidak kembali sejak sore tadi" tutur yoon.


"Oohhh aku gak apapa kok, acara api unggun nya jam berapa?" Syane.


"Nanti malam" ujar yoon.


"Ya sudah nanti aku kesana"  syane.


"Tapi anda lagi sakit"


"Gak papa?" Kata syane.


"Ya sudah kalau gitu kita tunggu di sana aku dan yang lain mau menyiapkannya dulu, hati-hati dengan kakinya! Kalau butuh sesuatu bisa telpon saya" kata yoon.


"Iya, terima kasih" syane.


Melihat ibu dan kakanya pergi min ho pun berpamitan untuk kembali.


"Aku juga pergi dulu?" Min ho.


"Iya terima kasih ya" ucap syane.


"Min ho tersenyum lalu keluar dari villa syane pun tersenyum pada minho.


"Cieeee ibu makin deket aja sama aktor min hhoooo" hilda menekan perkataannya.


"Apaan sih? Ambilin aku minum cepetan aku haus!" Seru syane pada hilda.


"Okkeee"


Sepeninggal hilda syane kembali teringat akan min ho bagaimana min ho memperlakukannya dengan baik saat kakinya terluka? syane juga ingat saat min ho menggendongnya min ho terlihat begitu tampan bagaikan pangeran berkuda yang datang dengan gagah untuk menjemputnya dengan menaiki kuda putih, ketampanan minho bagaikan pangeran di negri dongeng, pangeran berkuda putih yang sering didengarnya ketika syane masih kecil saat sang bunda menceritakannya ketika hendak tidur.


To Be Continue