
Syane sudah menemukan tempat yang nyaman untuknya tinggal bersama hilda sang asisten pribadi yang akan setia menemaninya selama tinggal di korea.
Syane tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan elit di etaewon, sebenarnya syane bisa saja mengambil salah satu unit apartemen perusahaannya namun syane lebih suka tinggal di sebuah rumah di bandingkan tinggal di apartemen.
Syane mengabari sang kakak dan juga ayahnya sejak pertama sampai di negri ginseng yang sekarang ia pijak syane juga membertahukan bagaimana keluarga lee yang begitu baik padanya dan juga syane membicarakan soal minho pada sang kakak termasuk pertemuannya dengan minho di turky kebiasaan syane sejak kecil sampai sekarang sudah dewasapun ia akan selalu mengatakan pengalaman hidup nya pada wisnu sang kakak yang begitu sayang terhadapnya apapun yang menjadi keluh kesahnya syane akan mencurahkan isi hatinya pada wisnu.
Setelah menelpon keluarganya syane merebahkan tubuhnya di atas kasur yang akan ia tempati selama berada di korea kasur yang sangat empuk dan kamar yang sangat nyaman yang di design modern dengan segala peralatan canggih yang akan memudahkan syane selama tinggal di rumah tersebut syane juga menyewa beberapa pelayan untuk melayani nya.
Syane terbayang wajah minho, syane masih ingat minho adalah seorang pria yang di lihatnya di turky.
Syane tersenyum kala mengingat dirinya tengah menabrak minho saat bermain bola pantai.
Syane melihat jaket yang tersampir di sofa kamarnya jaket minho yang sengaja ia bawa dan akan di kembalikan setelah jaket tersebut bersih.
***
Seminggu berlalu syane berada dikorea sepulang dari kantor tempat perusahaannya, syane berencana untuk mengembalikan jaket milik minho, syane meminta nomer telpon minho pada yoon setelah yoon memberikan nomer telponnya syane berusaha menghubungi minho namun sama sekali tak ada jawaban lalu syane mengirim chat ke nomer tersebut.
"tuan aktor aku mau mengembalikan jaketmu, aku harus antar kemana?" Tanya syane lewat chat tanpa basa basi.
Syane menunggu balasan chat dari minho yang tak kunjung mendapat balasan hingga akhirnya beberapa jam kemudian saat syane selesai mandi syane mendengar ponselnya berdering tanda panggilan masuk syane yang hendak mengenakan pakaian mendengar ponselnya berdering ia meraih dulu ponsel yang tergelatak di atas kasur ia melihat panggilan masuk tanpa nama namun syane kenal siapa yang menelponnya dari photo profil yang menelpon adalah minho.
"Ya hallo" sapa syane setelah panggilan tersambung.
"Ada apa?" Tanya minho.
"Aku mau mengembalikan jaketmu aku antar kemana?" Tanya syane.
"Aku berikan alamatnya" ujar minho.
"Oke, kirim alamatnya" tukas syane.
Setelah sambungan terputus syane bergeggas memakai pakaian lalu pergi ke alamat yang di berikan minho.
Bagi orang lain mungkin hal yang paling berharga memiliki nomer telpon dan mendapat chat dari aktor berkelas dunia namun tidak bagi seorang syane ia menganggap biasa saja tak ada yang menurut dia spesial karna syane bukan orang yang termasuk ke golongan pengagum drama korea yang banyak di gandrungi anak muda bahkan syane sama sekali tidak mengenali siapa saja nama-nama aktor korea maupun indonesia aktor indnesia mungkin ia tau itupun hanya segelintir saja.
Di tempat lain.
Sang aktor dunia, minho baru selesai dengan pekerjaannya menyelesaikan shooting yang menurut dia cukup memakan waktu apa lagi ketika lawan mainnya sulit memerankan adegan yang akan di perankan bersamanya itu sangat membuang waktu buat minho.
Minho duduk di kursinya lalu meminta sang asisten untuk membawakan ponselnya tak lama ponselpun berada di tangannya kemudian membuka ponsel tersebut minho melihat beberapa panggilan masuk dan juga chat masuk dan rupanya ada satu nomer yang membuat minho tersenyum ketika membacanya minho menelpon nomer tersebut ia tau nomer tersebut adalah nomer gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya yang akan mengembalikan jaket.
Minho meminta agar syane mengembalikan jaketnya langsung ke lokasi shooting.
Beberapa menit kemudian
Syane menelpon minho untuk memberi tahukan kalau dia sudah sampai di alamat yang di berikan minho karna jarak dari rumah syane ke lokasi shooting tak begitu jauh
.
Syane melihat beberapa mobil terparkir di sekitar halaman rumah yang di gunakan shooting terlihat dari juga beberapa orang mondar mandir dengan membawa properti yang biasa di gunakan saat shooting.
Tak lama minho menemui syane ia melihat sang gadis begitu terlihat cantik meski saat itu keadaan di malam hari hanya lampu yang ikut menerangi wajah cantik syane, syane terlihat menenteng handbag di tangannya namun ia belum menyadari ke datangan minho, minho tersenyum dari jauh ketika melihat syane lalu ia menghampirinya.
"Ada apa?" Sapa minho. Syane menoleh ke arah minho.
"Ini aku hanya ingin mengembalikan jaket" syane menyodorkan handbag yang di bawanya.
"Tapi sekarang aku lagi nggak butuh" ujar minho.
"Hah lalu kenapa kamu nyuruh aku membawanya kesini? Menyebalkan" protes syane.
"Emang kamu pikir aku mau menerima barang yang sudah di pakai orang lain?" Celoteh minho.
"Hey tuan kenapa nggak ngomong dari tadi! Tau gitu aku gak akan datang kesini" Tandas syane, minho tersenyum seraya memandang wajah syane yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan dengan wajah cemberutnya.
"Baiklah aku akan menerima jaketnya kalau kamu mau menemani aku makan malam" kata minho.
"Makan malam?! serumit itukah cuma mengembalikan jaket doang?" Gerutu syane.
"Kamu sama siapa kesini?" Tanya minho sambil melirik ke sana kemari mencari mobil atau apapun yang di tumpangi syane.
"Aku naik taksi" jawab syane.
"Naik taksi!?" Minho seolah kaget dan juga terlihat kecemasan di wajahnya ketika mendengar syane menemuinya dengan naik taksi.
"Kenapa nggak minta di antar sopir?" Protes minho.
"Sopirnya sudah pulang dia minta pulang cepat karna anaknya lagi sakit" ujar syane.
"Tau gitu aku gak akan nyuruh kamu kesini, bahaya! apa lagi kamu belum tau kota ini kalau sampai kesasar bagaimna" kata minho.
"Jangan kwatir gak akan terjadi apa-apa" imbuh syane.
"Kita masuk dulu nanti aku akan mengantar kamu pulang" ajak minho.
"Aku bisa pulang sendiri" ujar syane.
"Aku akan antar kamu nanti, kita masuk dulu aku harus mengambil sesuatu dulu di dalam" minho kekeh lalu menarik tangan syane untuk membawanya kedalam syane menurutinya akhirnya syane ikut dengan minho kedalam rumah tempat minho shooting.
Setelah berada di dalam syane di persilahkan oleh minho untuk duduk sejenak di rungan istirahat minho.
"Tunggu sebentar aku harus menemui orang dulu di sana!" seru minho, syane hanya menganggukan kepala orang yang dekat dengan minho yang juga seorang aktor dan artis mereka berani bertanya pada minho mengenai kehadiran syane.
"Siapa dia? cantik banget" tanya salah satu rekan minho, minho tersenyum tanpa menjawab sambil berjalan menghampiri managernya untuk membicarakan sesuatu.
Selesai dengan urusanya minho kembali ketempat dimana syane tengah menunggunya, minho melihat syane tengah duduk sambil membungkukan kepalanya di meja sedangkan tangannya sibuk memainkan ponsel di atas meja minho tersenyum melihat kelakuan syane lalu menghampirinya.
"Kita pulang sekarang!" Ajak minho, mendengar minho syane menoleh kemudian menarik kepalanya dari atas meja.
"Apa pekerjaan mu selesai," tanya syane.
"Sudah" ujar minho.
"Lalu bagaimana dengan ini?" Syane mengacungkan handbag berisikan jaket yang akan di kembalikannya pada minho yang sebelumnya ia taruh di sampingnya, minho tersenyum.
"Temani aku makan malam dulu" minho kekeh.
"Ahkk baik lah ayok" syane menyetujui, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan tempat shooting minho, orang melihat minho saat mengajak syane pergi mereka menduga macam-macam dari yang mengira syane adalah pans nya minho ada juga yang menduga syane adalah pacar baru minho dan masih ada lagi dugaan lainnya beberapa di antara mereka juga ada yang merekam kebersamaan minho dan juga mengambil photo minho bersama syane sebab sangat jarang minho bersama seorang wanita asing saat di lokasi shooting apalagi sampai membawanya ke ruangan khusus tempat minho beristirahaan ketika break shooting.
Minho mengajak syane ke sebuah restoran mewah setelah sebelumnya melakukan reservasi terlebih dahulu, minho mengenakan syal untuk menutupi setengah muka nya dengan ia juga mengenakan topi saat turun dari mobil agar tak banyak orang yang mengenalinya .
Minho di persilahkan untuk memasuki ruang vip di restoran tersebut ruangannya cukup tertutup jadi tak banyak orang yang melihat saat dirinya menikmati makan malam bersama syane gadis cantik yang kini bersamanya.
"Tuan aktor kenapa kamu sangat ingin aku menemanimu makan malam?" Syane.
"Nggak apapa aku cuma merasa bosan jika makan sendiri kebetulan ada kamu jadi aku pikir gak ada salahnya aku mengajakmu makan malam untuk menemaniku" jawab minho.
"Aneh! kan bisa ajak temanmu atau kekasihmu" protes syane.
Minho tertawa kecil mendengar ucapan syane mengenai kekasih.
"Kenapa tertawa?" Syane.
Sebelum minho menjawab pelayan yang membawa makanan yang mereka pesan datang.
"Kita makan dulu" minho meraih makanan di depannya ia mulai melahap makanan yang di sediakan sesuai pesanan begitu juga syane.
"Bagaimana rasanya tinggal di korea?" Tanya minho seraya memasukan makanan kedalam mulut
"Emhh dingin" celoteh syane.
"Mungkin karna kamu sudah terbiasa cuaca indonesia yang panas" kata minho.
"Iya bisa jadi" jawab syane dengan mulut penuh makanan.
"Apa kamu punya idola aktor korea?" Tanya Minho.
"Enggak" jawab syane.
"Kenapa?" Minho.
"Ya karna aku nggak suka nonton drama korea" syane.
"Kenapa nggak suka?" Minho seolah penasran.
"Menurut aku nggak menarik, jangankan aktor korea aktor indonesia aja aku nggak banyak tau"
"Bisa gitu?" Minho menyatukan kedua dahinya ia merasa aneh biasanya gadis seumuran syane mereka sangat menyukai drama-drama ramantis drama percintaan, entahlah apa yang selama ini syane gemari?.
Syane tersenyum melihat ekspresi wajah minho ketika mendengar jawaban syane ia tak menjawab pertanyaan minho.
Mereka mulai makan dengan kidmat setelah beberapa lama syane melihat minho sibuk dengan layar ponselnya dan sudah berhenti makan lalu ia mengajak minho untuk pulang karna merasa perutnyapun sudah terisi penuh.
"Kita pulang!" Ajak syane, minho menoleh ke arah syane
"Sudah selesai makannya?" Tanya minho.
"Sudah aku sudah cukup kenyang" ujar syane sambil mrngusap perutnya yang rata.
"Ya sudah ayo kita pulang!" Ajak minho.
"Ini jaketnya aku sudah menemanimu makan malam" kata syane, sambil menyodorkan handbag yang di bawanya, minho mengambil handbag yang di berikan syane lalu mengambil jaket di dalamnya minho menatap tubuh syane yang hanya mengenakan dres mahal berwarna putih selutut dengan lengan pendek.
"Ayok kita pulang" ajak syane seraya beranjak dari tempat duduknya setelah minho mengambil jaket dari dalam handbag yang di berikan syane.
Minho pun berdiri mengikuti syane kemudian menghampiri syane minho berdiri di depan syane, syane merasa ada yang aneh dengan minho yang tiba-tiba menghampirinya dan berdiri di depannya.
Minho memakaikan jaket pada syane.
"Katanya di korea sangat dingin kenapa memakai pakaian pendek seperti ini masih belum membeli jaket?" Kata minho sambil memakaikan jaketnya pada syane. saat minho memakaikan jaketnya syane dapat mencium aroma maskulin dari tubuh minho yang begitu dekat dengannya syane tak menolak dengan apa yang di lakukan pria tampan di hadapannya syane merasa pria ini tengah perhatian padanya syane menatap mata minho tanpa minho sadari tatapan gadis di depannya, tapi akhirnya minho pun menyadari tatapan syane minho membalas tatapan syane mata yang begitu indah yang belum pernah minho lihat sebelumnya jantung dua insan yang saling bertemu mata ini mulai berdetak kencang tak hanya minho yang mengagumi syane, untuk yang pertama kalinya syane mengagumi wajah seorang pria "tampan" batin syane.
Tapi tiba-tiba syane sadar dengan apa yang tengah ia lakukan syane gugup setelah menyadari kalau dirinya terlalu lama memandang wajah tampan minho, lalu dengan segera syane mengajak minho untuk pulang.
"Sudah larut malam ayok kita pulang!" Ajak syane yang masih gugup berjalan meninggalkan minho, minho tersenyum lalu ia pun berjalan menyusul syane seperti biasa syal yang di pakenya ia gunakan untuk menutupi setengah wajahnya.
To Be Continue