Minho'S Love Journey Syane

Minho'S Love Journey Syane
Bab 29



Sampai di perusahaan syane terus kepikiran suaminya yang pergi dalam ke adaan marah meski sekarang minho dalam ke adaan baik-baik saja tapi syane tidak bisa melepaskan pikiran dari minho seorang aktor yang kini telah menjadi suaminy.


Menjelang sore syane pulang lebih cepat sesampainya di rumah syane tidak mendapati suaminya ada di rumah.


Karna merasa badan sangat lelah dan terasa lengket syane memutuskan untuk segera membersihkan tubuhnya dengan mengguyurnya di bawah shower, setelah selesai syane mengganti pakaiannya dengan pakaian santai kemudian turun ke dapur untuk membantu asisten rumah tangga yang tengah memasak untuk makan malam selesai masak syane kembali kekamar untuk menunggu minho pulang dan makan malam bersama.


Sampai malam menjelang minho masih belum pulang, sambil menunggu kedatangan suaminya syane duduk di sofa lalu memeriksa pekerjaannya di laptop yang biasa ia bawa ke kantor.


Namun karna ia tak lagi bisa menahan kantuknya akhirnya syane tertidur di sofa, setelah beberapa lama syane pun terbangun ia merasa pegal syane memegang tekuk lehernya yang terasa pegal karna kelamaan tidur di sofa.


Tiba-tiba pandangannya menabrak sesuatu ia melihat minho yang tertidur di atas kasur dengan pulas padahal ia tertidur di sofa karna menunggunya syane hanya tersenyum lalu mendekati suaminya.


Ia membangunkan minho dengan lembut.


"Sayang! Sayang!" Syane berusaha membangunkan suaminya.


"Hemm" gumam minho.


"kok langsung tidur!? Kita makan malam dulu yah!" Ajak syane.


"Aku udah makan" jawab minho tanpa membuka mata.


"Udah? Dimana?"


"Di luar, udah lah mendingan kamu tidur sudah malam" kata minho seraya menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Syane melihat weker di nakas samping tempat tidur syane kaget melihat jam menunjukan pukul tengah malam.


"Ya ampun sudah tengah malam" gerutu syane dalam hati.


Syane kembali memandang suaminya lalu ia pun naik ke atas tempat tidur kemudian tidur di samping minho ia memeluk minho yang membelakanginya.


"Maafkan aku" bisik syane namun tak ada jawaban dari minho tapi tiba-tiba minho membalikan badannya menghadap syane lalu mencium kening syane kemudian memeluk syane.


"Sudah malam kita tidur" kata minho, akhirnya mereka berduapun tertidur lelap padahal syane belum makan malam sedangkan minho mengira syane sudah makan di luar karna beberapa hari ini syane sangat susah untuk di ajak makan malam bersamanya.


Tak terasa pagi mulai menyingsing matahari mulai memasuki kamar yang di tempati dua sejoli syane yang sudah terbangun lebih dulu ia sibuk menyiapkan beberapa berkas perushaannga yang akan di bawanya ke kantor sedangkan minho tengah berdiri di depan cermin menyisir rambutnya.


"Sayang aku harus ke jiandong selama seminggu kamu harus ikut ya!" Ajak minho.


"Kapan?"


"Dua hari lagi"


"Dalam rangka apa?"


"Shooting, pemotretan dan sekaligus ada acara pestival penghargaan seluruh artis dan aktor kebetulan di adakan di tempat yang sama" kata minho.


"Berapa lama?" Tanya syane.


"Mungkin satu minggu" ujar minho.


"Satu minggu ya!" Syane terlihat agak bingung dengan jawaban yang akan di lontarkannya atas ajakan suaminya.


"Aku minta kamu untuk ikut karna selama ini kamu gak pernah sekalipun mengikuti kegiatan ku" tukas minho.


"Iya aku usahakan ya, tapi aku gak janji soalnya aku..." syane menghentikan ucapannya ia takut kalau suaminya memepermasalahkan lagi apa yang akan di katakannya kalau di perushaannya sedang ada masalah besar.


"Tapi kamu harus ikut!" Minho kekeh.


Syane menarik napas panjang kemudian menghampiri minho yang tengah mengalungkan dasi di lehernya syane meraih dasi lalu memasangkan dasi tersebut.


"Maafkan aku kalau selama ini aku kurang perhatian sama kamu, akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusanku sendiri tapi aku akan berusaha ikut denganmu" kata syane. Mendengar ucapan syane minho tersenyum


"Terima kasih sayang" ucap minho.


"Ya sudah ayo kita sarapan dulu" mendengar ajakan istrinya minho melihat jam yang melingkar di tangannya dan rupanya waktu jadwal kerja minho sudah sedikit telat.


"Sayang aku harus berangkat sekarang ini sudah telat banget nanti aku cari sarapan di jalan saja ya!" Kata minho lalu mencium kening syane.


"Tapi aku___" syane belum  meselesaikan perkataannya minho malah bergegas pergi.


"Aku berangkat dulu" pamit minho.


[●]


Sepulang shooting minho meminta sang sopir untuk mampir ke sebuah toko ritel dan meminta sang sopir untuk turun guna membeli apa yang dia inginkan sang sopir pun tidak menolak.


Sementara minho menunggu di dalam mobil minho mengeluarkan ponsel memeriksa sesuatu di layar ponselmya setelah merasa puas pandangan minho mengarah kedepan ia melihat sepasang laki-laki dan peempuan bergandengan si wanita di membawanya ke dalam mobil.


Minho kaget dengan apa yang di lihatnya minho melihat kalau yang tengah ia lihat adalah istrinya meski jarak yang agak jauh minho yakin kalau itu adalah syane istri kesayanganya.


Dan minho juga yakin kalau pria yang bersamanya adalah yujin pria yang ia kenal betul kenapa syane bisa bersama yujin? Ada apa dengan mereka? Minho terus bertanya dalam hati.


Aliran darah minho tiba-tiba terasa mendidih pikiran minho mulai kacau minho melihat mobil di depan yang membawa syane telah melaju kencang entah kemana.


"Ini tuan" sang sopir menyodorkan barang yamg di minta minho membuat minho sedikit terkejut.


"Terima kasih" ucap minho. Sang sopir kembali melajukan mobilnya. "Pak antar saya ke apartemen!" Seru minho ia meminta di antar ke apartemen yang biasa ia tempati sebelum menikah.


Sesampainya di apartemen minho duduk di sofa ruang tengah ia merebahkan punggungnya minho memejamkan mata tapi saat ia memejamkan mata tiba-tiba bayangan syane yang sedang di gandeng yujin kembali melintas.


Aliran darah minho kembali mendidih, pikirannya kacau, minho mulai membayang kan apa yang di lakukan yujin dengan syane, ia bangun dari rebahannya.


"Ahhkkkkk jadi ini kelakuan kamu di luar? Kamu bilang perusahaan kamu dalam masalah besar ahhkkkkk" teriak minho lalu melempar barang yang ada di atas meja hingga meneganai tembok bukan hanya itu minho juga semakin membabi buta ia menjungkirkan meja di depannya mengacak semua barang yang ada di dalam apartemennya hingga semuanya terlihat berantakan dan  hancur.


[●]


Malam semakin larut syane yang pulang lebih awal ia duduk di sofa ruang tengah kepalanya terasa pusing kemudian ia masuk kekamar lalu membaringkan tubunya di atas kasur.


Setelah beberapa jam berada di dalam kamar syane bangun kembali melihat ke sekeliling ruangan kamarnya terlihat gelap karna hari sudah malam sedangkan lampu kamarnya belum di nyalakan syane bangun mencari saklar lampu tak lama lampu pun menyala ia melihat jam sudah menunjukan jam sembailan malam bahkan ia lagi-lagi melewatkan makan malamnya.


"Kemana minho? Kenapa dia belum pulang?" Guman syane lalu ia meraih ponsel di atas kasur kemudian menelpon minho namun tak ada jawaban sama sekali syane duduk di tepi kasur ia memikirkan kenapa pernikahan nya sekarang jadi seperti ini padahal usia pernikahan mereka baru seumur jagung.


"Syane kembali merasakan kembali kepalanya yang pusing lalu ia mencari obat di dalam tasnya namun belum syane mengambil obat tiba-tiba pintu kamarnya di buka seseorang yang tak lain adalah suami yang tengah di tunggunya.


"Hi! sayang capek ya?" Tanya syane setelah minho masuk kedalam kamar ia terlihat kusut dan kacau.


Minho menepis tangan syane yang hendak meraih tangannya.


"Kenapa sayang, kamu pasti capek aku ambilkan air minum dulu ya"  syane hendak pergi untuk mengambil air.


"Gak usah" tolak minho.


"Ya udah aku panas kan air buat mandi ya soalnya aku lihat kamu capek banget"


"Gak usah" lagi-lagi minho menolak.


"Mau langsung makan malam?" Syane semakin bingung dengan prilaku suaminya.


"Aku sudah makan" jawab minho padahal dia belum makan sama sekali.


"Oh gitu, biar aku buka kan kemejanya" tawar syane, namun minho menepis tangan syane.


"Sudah lah kamu gak usah sok perhatian sama aku" kata minho.


"Maksud kamu apa?"


"Dari mana kamu tadi?" Tanya minho.


"Aku? Aku ada pertemuan dengan rekan bisnisku" jawab syane.


"Rekan bisnis?"


"Iya kenapa?"


"Rekan bisnis yang suka mengandeng istri orang?!"


"Minho aku gak ngerti maksud kamu apa?"


"Sudaj lah syane kamu gak usah pura-pura polos, aku tanya sejak kapan kamu berhubungan dengan yujin?" Minho kekeh.


"Yujin kenapa tanya soal yujin"


"Jawab saja pertanyaan aku"


"Aku gak ngerti maksud ucapan kamu sama yujin hanya rekan bisnis kamu tau sendirikan? Sebelum aku kenal kamu yujin sudah menjadi rekan bisnisku"


"Ya aku tau tapi bukan berarti kamu kenal lebih dia sebelum aku, kamu bisa bebas kencan sama dia"


"Minho aku ngerti maksud kamu, siapa yang kencan sama yujin" syane


"Kamu pikir aku gak tau kalau tadi siang kamu ketemuan sama dia dan pergi kencan sama dia iya kan?"


"Apa? Siapa yang kencan sama yujin, ya tadi siang aku memang ketemu sama yujin tapi aku tidak kencan sama dia, lagipula dia sudah mau nikah, tadi aku pergi sama yujin dan dia mengantar aku ke___"  minho memotong apa yang akan di katakan syane.


"Sudah lah syane aku gak mau mendengar penjelasan apapun lagi, aku tau sekarang kamu sudah mulai bosan dengan pernikahan kita kan? dan aku rasa kamu semakin jauh dari aku kamu lebih mementingkan urusanmu di bandingkan pernikahan kita" tukas minho.


Syane terdiam mendengar ucapan suaminya, seolah kehabisan kata untuk menjelaskan semua yang terjadi padanya belakangan ini dan seolah percuma untuk menjelaskan apapun karna minho tak akan mau dengar.


"Maafkan aku" hanya kata maaf yang dapat di ucapkan syane.


"Maaf! maaf! maaf! Mau berapa puluh kali lagi kamu minta maaf? Sudahlah aku capek kalau kamu bosan dengan hubungan kita silahkan kamu ajukan gugatan cerai" kata minho dengan nada tinggi, mendengar minho berkata demikian syane seolah tersambar petir karna bukan hal itu yang ia harapkan dalam pernikahannya.


"Minho apa maksudmu? Siapa yang mau cerai? aku gak mau kita cerai!"


"Lalu apa yang kamu inginkan?" Minho, masih dengan nada tinggi.


"Aku ingin kita selalu bersama" syane mulai menangis.


"Bersama? untuk apa kalau hatimu sudah bukan lagi untuku?!"


"Hatiku selalu untuk kamu, aku gak pernah mencintai laki-laki lain" tukas syane.


"tapi sayang nya yang aku lihat enggak" minho kekeh.


"Minho! aku rasa kamu salah paham" syane berusaha meyakinkan.


"Semua sudah jelas, kalau kamu susah untuk mengajukan gugatan biar aku yang mengajukannya" tandas minho, seraya pergi keluar kamar ia membanting pintu dengan keras membuat semua pelayan di rumah itu kaget.


Sepeninggal minho syane terduduk lemas di lantai kamarnya ia tak menyangka suaminya akan sekasar itu.


Para pelayan yang mendengar denttuman pintu yang di banting mereka yakin kalau kedua majikannya sedang dalam  pertengkaran hebat apalagi salah satu dari mereka melihat minho masuk ke kamar tamu.


Tak lama minho keluar dari kamar dengan memakai jaket tebal karna diluar tengah turun salju.


Salah satu pelayan yang cukup dekat dengan syane menyapanya.


"Maaf tuan mau kemana?" Tanya sang pelayan.


"Mau keluar" jawab minho dengan nada dingin.


"Gak sebaiknya tuan ajak non syane untuk makan malam dulu" sang pelayan memberanikan diri sebab yang ia tau syane belum makan malam karna menunggu minho.


"Dia bisa makan sendiri gak usah aku ajak, lagi pula ini sudah malam dia pasti sudah makan" protes minho sambil melangkahkan kakinya untuk pergi tapi sang pelayan menghentikan langkahnya.


"Tapi tuan, saya rasa non belum makan! karna tadi non pulang lebih awal dia juga nunggu tuan pulang karna ingin makan malam sama tuan katanya seperti kemarin malam" kata sang pelayan. Mendengar ucapan pelayan minho mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Ya sudah kamu siapkan makan malamnya!" Seru minho.


"Sudah dari tadi tuan" sang pelayan tersenyum lalu bergegas kembali ke belakang.


To Be Continue