
Satu bulan kemudian
Syane di tawari bisnis oleh ayahnya tawaran tersebut harus nya untuk sang ayah namun sang ayah tidak berminat begitu juga wisnu meski sebenarnya tawaran itu datang dari sahabatnya di korea.
"Sayang ayah sudah memutuskan untuk menjadikan kamu pimpinan perusahaan ayah yang di korea" kata sang ayah pada syane di ruang makan ketika menikmati sarapan pagi bersama.
"Maksud ayah?" Ujar syane.
"Sayang ayah hanya mau fokus dengan perusahaan ayah di sini saatnya sekarang ayah untuk menikmati hidup" kata pak surya.
"Ayah yakin?" Tanya syane.
"Jadi gini_ ayah rencananya mau mengalihkan perusahaan ayah itu ke kamu, karna kakak kamu nggak mau dan ayah pikir kamu cocok dengan perushaan itu" kata sang ayah.
"Kan aku udah punya perusahaan sendiri" protes syane. "Kenapa nggak kak wisnu aja?" Kata syane.
"Males ah" ujar wisnu yang sedari tadi menjadi pendengar percakapan adik dan juga ayahnya.
"Kenapa?" Syane mengerut kan kedua alisnya.
"kakak gak minat aja jadi pembisnis, kakak mau fokus pada karir kaka sebagai dokter, kamu aja dek!" Usul wisnu sambil meraih makanan di depannya dengan sendok.
"Perusahaannya cukup besar loh, pembangunan apartemen 20 lantai dengan ratusan unit yang akan di rancang semewah mungkin" kata pak surya.
"Tetep aja wisnu nggak tertarik wisnu udah punya rumah sakit yang harus wisnu jalankan" tandas wisnu.
"Kenapa nggak ayah lanjutin aja?" Tanya syane.
"Kalau kalian pada nggak minat ya ayah akan melanjutkannya tapi ayah hanya mau menikmati hidup ayah di masa tua ini" tukas pak surya. Syane dan wisnu diam sejenak sebelum akhirnya syane kembali angkat bicara.
"Ya udah kalau gitu tapi beri syane waktu syane harus mengurus management prusahaan syane yang di sini dulu.?!" Jawab syane sambil memasukan makanan ke mulutnya.
"Ya udah gak apapa" pak surya.
"Bagus tuh dek cocok sama kamu, Kamu juga pintar bahasa korea" Timpal wisnu.
Syane memang pintar beberapa bahasa syane sengaja mempelajari beberapa bahasa dengan tujuan agar dia gampang berkomnikasi dengan rekan bisnisnya dari berbagai negara tak hanya itu secara kebetulan juga syane memiliki sahabat yang dari korea jadi syane sering melakukan percakapan dengan bahasa korea untuk memperlancar bahasanya.
"Ayah! Bukan kah perusahaan itu bergabung dengan perusahaan sahabat ayah?" Tanya syane.
"Iya namanya lee hyun kyu, anaknya sudah menjadi aktor ternama yang mendunia" kata pak surya namun syane tak menghiraukan ucapan ayahnya tentang anak sahabatnya karna dia tixak tertarik pada yang namanya seoranf aktor.
"Ayah kok bisa sahabatan sama orang korea?" Pertanyaan syane membuat wisnu tersenyum.
"Ya bisa dong kenapa nggak" jawab sang ayah sambil tersenyum begitu juga wisnu ia mengeleng kepala sambil tersenyum lucu mendengar pertanyaan adiknya.
"Dek dek jangan kan orang korea orang seluruh dunia jadi sahabat ayah, kamu sendiri juga kok bisa sahabatan sama yumeiko, orang jepang itu?" Celoteh wisnu.
"Ya karna aku sekolahnya di luar negri" unggah syane.
"Begitu juga ayah" sambung surya.
"Emang ayah dulu kuliah di luar negri? Bukan nya ayah kuliah di bandung ya? Kan ayah ketemu bunda katanya di bandung"
"Sayang! ayah menikahi bunda yang orang bandung dan ketemu bunda di bandung pertama kali saat bundamu masih duduk di bangku SMP kita ketemu ketika berlibur kerumah sodara nenek kebetulan bundamu masih ada hubungan sodara sama keluarga nenek, ayah ketemu lagi setelah ayah lulus kuliah dan kita di nikahkan melalui perjodohan orang tua" pak surya menuturkan perjalanan hidupnya di masa lalu.
"Kok ayah mau sih di jodohkan?" Cetus syane.
"Kalau ayah nolak di jodohkan ayah gak akan punya kamu dan kakakmu, bunda itu sangat cantik dan ayah naksir bunda saat pertama kali ayah melihatnya" kenang pak wisnu.
"Kan bunda masih SMP berarti masih kecil dong kok ayah main naksir naksir aja, bunda pasti cantik waktu itu iya kan yah?"
"Iya dia itu sangat cantik dan imut seperti kamu"
Mendengar adikanya terus membrodong pertanyaan pada ayahnya, wisnu tersenyum dan kembali menggelengkan kepala.
"Hey kenapa jadi ngomongin masa lalu ayah?" Wisnu mencubit hidung syane.
"Kak wisnu sakit tau" syane mengelus hidungnya.
"Lagian kenapa jadi ngomongin percintaan ayah sama bunda!" Kata wisnu.
"Biarin dong, kan aku mau tau" syane mendelikan mata manja.
"Ahk sudah lah aku harus berangkat kerumah sakit, dari pada harus dengerin celotehan anak kecil" wisnu beranjak dari tempat duduk kemudian meraih jas dokter yang tersampir di punggung kursi yang di duduki lalu memakainya.
"Siapa yang anak kecil aku udah 24 tahun loh" protes syane memanyunkan bibirnya.
"Iya anak kecil" goda wisnu sambil berjalan, untuk berangkat kerja.
"Ayah kak wisnu tuh!" syane cemberut mangadukan kakak nya pada sang ayah.
"Sudah sudah, mendingan sekarang kamu berangkat sudah siang?" Kata pak surya dengan lembut.
"Ya udah aku berangkat" jawab syane lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Iya sayang ayah juga harus berangkat sekarang ayah ada pertemua dengan pemilik perusahaan dari malaysia" pak surya beranjak dari tempat duduknya kemudian mencium kening syane lalu mengusap pucuk kepala putri kesayangannya tersebut.
Syane berseru pada pelayan di rumahnya untuk berpamitan, syane sangat ramah dan mudah bergaul dengan siapapun bahkan ia juga kadang manja pada para pelayan dirumahnya tak jarang syane minta di temenin tidur oleh pelayan yang bernama wati tepat nya pengasuh syane sejak kecil, saat syane tinggal di turky bersama neneknya syane mengajak mba wati bersamanya, mba wati mengasuh syane sejak ibu syane masih ada.
Beberapa hari kemudian syane berpamitan pada kedua orang kesangannya dan juga pelayan yang selama ini mengurusnya untuk menjalankan bisnis ayahnya yang di serahkan padanya, setelah penyerahan kekuasaan perusahaan ayahnya di pindahkan atas nama syane dan tentu saja melalui persetujuan pihak-pihak para stap dan dewan direksi parusahaan ayahnya setelah menegadakan meeting besar.
"Sayang kamu harus bisa jaga diri di sana" kata pak surya pada syane yang tengah nge packing barang kedalam koper yang akan di bawanya ke negri ginseng.
Syane sengaja tidak mengajak mba wati karna ia pikir ayahnya akan lebih membutuhkan mba wati untuk melayani segala kebutuhan yang di perlukan ayahnya dan syane lebih percaya pada mba wati.
"Kalau sudah selesai segera pulang!" Imbuh pak surya.
"Iya ayah kecuali kalau syane dapat cowok keren kayanya syane bakalan betah di sana hahahaha" celoteh syane seraya melepas pelukannya.
"Kamu ini" pak surya mengelus kepala syane.
"Ayah kak wisnu mana?" Syane menanyakan kakaknya yang sama sekali tidak kelihatan dan muncul kekamarnya untuk mengucapkan perpisahan.
"Kakakmu semalam di telpon katanya ada pasien gawat darurat jadi terpaksa dia harus menanganinya, dan kayanya paginya langsung ke rumah sakit karna bagian parktek pagi" tutur sang ayah.
"Ya ampun kasian sekali kakak padahal kan di rumah sakit itu banyak dikter lain, lagian kak wisnu mau jadi dokter! ya udah aku kerumah sakit dulu aja buat nemuin kakak" kata syane.
"Iya temuin dulu kakak mu" pak surya.
"Ya udah aku pamit dulu yah" syane.
"Iya sayang, ingat jaga diri" pak surya.
"Sip" syane mengacungkan jempol.
Syane meraih tas selempangnya lalu keluar dari kamar dengan di buntuti pak surya sedangkan kopernya di gerek duluan sama mba wati.
Mba wati memasukan koper syane ke bagasi mobil syane pamitan sama mba wati dan pelayan yang lain.
"Non jangan lama-lama di sana ya" kata mba wati yang terlihat berkaca-kaca.
"Jangan nangis mba, tenang aja nanti kalau syane lama di sana syane bakal meminta mba untuk nyusul syane ya!" Syane menenangkan mba wati yang mengurusnya sejak bayi, biasanya kemanapun syane pergi mba wati selalu di ajak tapi kali ini syane tidak mengajaknya tentu saja membuat mba wati sangat sedih.
"Non janji ya!" Mba wati yang sudah menganggap syane seperti anaknya sendiri.
"Iya, syane titip ayah ya mba!" Kata syane.
"Iya non, hati-hati ya non jaga diri di sana" mba wati.
"Iya mba, ya udah syane pergi ya bye ayah syane pergi yah" syane melambaikan tangan pada ayahnya dan semua yang ada di sana kemudian ia masuk ke mobil, mobil pun melaju dan keluar dari halama rumah pak surya.
Sebelum ke bandara syane mampir kesebuah rumah sakit milik kakaknya syane berajalan menuju ruang praktek kakanya.
"Maaf sus kak wisnu ada di ruangannya nggak?" Tanya syane pada suster yang tengah memeriksa beberapa nama pasien di meja kerjanya.
"Ada non di dalam" jawab suster
"Makasih ya sus" syane.
"Iya non" suter tersebut sangat mengenal siapa syane karna syane bukan sekali ini saja datang kesana untuk menemui kakaknya.
Suter lain yan masih baru ia menatap syane tanpa berkedip melihat kecantikan syane.
"Siapa? Pacarnya dokter wisnu?" Tanya suster baru.
"Hush bukan itu adiknya"
"Cantik banget"
"Iya emang"
sampai di depan pintu syane melihat papan nama dokter wisnu andarayan, syane masuk keruangan tersebut wisnu yang tengah fokus ke layar komputer dan di temani asistennya yang tengah memeriksa data-data pasien ia menoleh k ke arah syane setelah mendengar sang adik mengeluarkan suara cemprengnya yang membuat telinga sang kakak sakit.
"Kakak" teriak syane berhambur memeluk wisnu yang tengah duduk di kursi kedokterannya.
"Sayang bisa nggak suaranya di kecilin!" Protes wisnu sambil meraih tangan adiknya yang melilit di leher sang kakak kemudian menariknya dan memegangi kedua lengan adiknya, syane yang berdiri di depan wisnu yang masih duduk di kursi kebesarannya wisnu terus memegangi lengan adiknya yang manja.
"Kamu jadi ke korea?"
"Iya makanya aku kesini habisnya kakak nggak ada nemuin aku, udah tau aku mau pergi" kata syane manja, wisnu tersenyum.
"Maafkan kakak soalnya kakak sibuk semalam ada pasien gawat darurat" ujar wisnu, wisnu mencium tangan adiknya seolah adiknya masih balita. "Jaga diri ya sayang jangan lama-lama di sana nanti kakak nggak ada teman berantem di rumah" tukas wisnu.
"Iya doain ya biar syane dapat cowok keren" celoteh syane.
"Kamu ini" wisnu mencuil hidung mancung syane. "Kalau kamu dapat cowok keren di sana nanti kamu malah betah di sana nggak mau pulang" kata wisnu.
"Iya kan biar kakak nggak berantem terus sama aku" kata syane lalu ia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Kak aku harus segera pergi takutnya aku ketinggalan pesawat"
"Iya sayang biar kakak antar ke mobil ya" tawar wisnu.
"Nggak usah kak, kasian pasien kakak nanti kelamaan nunggu dokter kesayangannya dokter wisnu andrayan yang paling tampan" puji syane wisnu tersenyum. "kakak antar syane sampai pintu aja" pinta syane.
wisnu akan merasa kehilangan adiknya sebab setelah lulus kuliah satu tahun lalu syane memutuskan untuk tinggal di indonesia bersama keluarganya kebersamaan satu tahun bersama adiknya membuat wisnu berkesan karna kemanjaannya pada wisnu dan juga ayahnya meski pun adiknya sudah dewasa tapi wisnu selalu menganggap dan memperlakukan syane seperti adik kecilnya yang masih manja.
Wisnu berjalan ke arah pintu sesuai permintaan sang adik yang sudah berjalan lebih dulu.
" hati-hati ya sayang" ucap wisnu lagi ketika sudah sampai pintu syane kembali memeluk sang kakak wisnu pun kembali mencium kening syane yang di akhiri elusan di kepala syane.
"Dah kak jangan kangen ya, kalau ada cewek yang mendekati kakak kasih tau aku ya" setelah mendapat pelukan kakaknya syane pun bergegas pergi, syane berbicara sambil berjalan mundur tanpa memperdulikan orang lain yang mendengar ucapannya pada sang kakak, wisnu tersenyum sambil terus memandangi adiknya yang berlari kecil hingga sang adik menghilang di balik tembok.
To Be Continue