
Hilda yang di suruh mengambil air minum melihat syane tersenyum-senyum sendiri ia merasa aneh dengan bosnya karna tidak seperti biasanya bosnya seperti itu.
"Kayanya ada yang sedang buucin nih" kata hilda seraya menyodorkan air minum pada syane.
Syane meraih gelas berisi air yang di sodorkan hilda tapi syane tidak segera meminumnya syane hanya memegang gelas tersebut dengan kedua tangangnya dan menaruhnya di pangkuan.
"Katanya haus kok gak di minum" ucap hilda dalam hati. "Ini si bos kayanya beneran lagi bucin" ucap hilda lagi masih dalam hati.
"Bu! Ibu habis dari mana sama min ho?" Tanya hilda.
"Hah? gak dari mana-mana" jawab syane.
"Tapi kok bisa terkilir gitu? Ibu hati-hati dong aku gak mau terjadi sesuatu sama ibu" tukas hilda.
"Iya, hilda kamu tau gak? Ternyata min ho orang nya perhatian" kata syane sembari menaruh gelas di meja. "Itu air kasian banget gak jadi kali ya di minumnya?" Gumam hilda.
"Memangnya kenapa bu? Aku mau dong denger ceritanya" hilda.
"Jadi gini tadi aku ke tepi pantai kan, saat aku duduk di kursi pantai aku merasa ada seseorang yang ikut duduk di samping ku lalu aku nenoleh daaaan saat aku menoleh ke samping ternyata min ho ada di sampingku" syane.
"Terus hubungannya sama kaki ibu kenapa?"
"Dengerin dulu, jadi saat aku liat min ho ada di sampingku aku kaget aku ngejerit dan lansung berdiri tiba -tiba kaki aku kaya ke pelitek gitu tapi untungnya min ho dengan segera mengkapku saat mau jatuh" tutur syane.
"Huahahahahaaaa hahahaaa" hilda tertawa terbahak mendengar syane cerita syane yang kaget ketika melihat min ho di samping nya.
"Puas ketawanya?"
"Ibu lucu masa liat min ho pake kaget segala sampe kepelitek segala tuh kaki!"
"Ya aku kaget lah, aku pikir hantu atau orang jahat makanya aku kaget, dia datang tiba-tiba aku kira dia ga ikut ke sini rupanya dia sudah lebih dulu kesini dan kamu tau? dia juga yang menyuruh keluarganya untuk ngajak aku liburan ke sini karna dia lagi ada shooting di dekat sini dan kamu tau dia nenggendongku dan membawaku ke cotage yang di tempatinya untung di sini sepi mungkin karna tempatnya terbilang privat banget jadi gak ada orang yang bisa keluar masuk kawasan ini" tutur syane.
"O ya wah so sweet banget"
"Dia sangat tampan dan aku rasa dia perhatian sekali dan kenapa ya? setiap aku ketemu atau menyebut namanya saja jantungku selalu berdebar kennceeeng banget" kata syane.
"Itu namanya jatuh cinta" cetus hilda.
"Apa jatuh cinta?"
"Iya jatuh cinta aku sih gak aneh, ibu gak sadar kalau ibu jatuh cinta sama sang aktor min ho itu?!" Syane diam sejenak memikirkan ucapan hilda.
"Jatuh cinta? Aku jatuh cinta!"
"Aku aneh sama bosku ini dia jatuh cinta tapi gak sadar" gumam hilda.
"Hilda kamu tau gak ternyata yu jin bilang sama min ho kalau aku calon istrinya pantes minho gak pernah nelpon aku padahal dia sendiri yang ngasih nomor telponnya waktu itu"
"Tuan yu jin ngaku ibu calon istrinya? Nomor telpn?? emang sejak kapan ibu punya nomor min ho?" Hilda aneh dengan ungkapan syane karna selama ini syane tidak banyak cerita tentang min ho.
Lalu syane nenceritakan denga detail bagaimana syane dan min ho bertemu dan yujin mengenalkan syane pada min ho sebagai calon istrinya dan bagaimana pula syane sampai meniliki nomor min ho, mendengar perkataan syane, hilda menyarankan untuk bertanya lansung pada yu jin kenapa dia mengakui syane sebagai calon istrinya.
___
Selesai ngobrol dengan hilda, syane pergi mandi lalu berpakaian rapi hendak menghadiri acara api unggun yang di adaka keluarga lee di tepi syane dan hilda pergi kesana dengan memakai jaket tebal mengingat udara di pantai jeju sangat dingin sampai di sana syane melihat min ho duduk di kursi bersama kaka iparnya syane juga melihat yoon tengah bercanda dengan kedua anaknya yang belum tidur sedangkan sang ibu sibuk membantu chef yang akan membuat kambing bakar dan rupanya di sana juga nampak para crew dan orang dari agence min ho menyiapkan api unggun.
Melihat kedatangan syane dan hilda semua yang belum pernah melihat syane nampak terpelongo dan mengagumi kecantikan syane.
Min ho yang melihat kedatangan syane, ia tersenyum manis di bawah temaram nya lampu yang tak begitu terang syane membalas senyum yang terpancar dari bibir min ho namun syane tak menghampiri min ho, syane lebih memilih untuk menghampiri nyonya hye hoon ia membantu menyiapkan beberapa bumbu dan yang lainnya meski nyonya hye hoon sudah melarangnya namun syane memaksa untuk ikut berkecimpung dengan nyonya hye hoon.
Selesai membantu nyonya hye hoon syane menghampiri yoon yang tengah menimang anak bungsunya yang berusia empat tahun agar segera tidur.
"Bagaimana kakinya masih sakit?" Tanya yoon.
"Nggak terlalu sakit, hai ketemu lagi" syane menyapa anak kedua yoon yang berusia enam tahun.
"Nona syane anda boleh panggil saya kakak dan panggil ibu dengan sebutan ibu anggap saja kami ini keluarga mu kalau anda mau" kata yoon.
"Iya nona panggil saja ibu dengan sebutan ibu, ibu akan merasa sangat senang sekali dan kalau butuh apapun kami sekeluarga siap untuk membantu jangan pernah canggung anggap saja kami ini keluargamu" timpal hye hoon yang datang menghampiri dengan membawa beberapa makanan dan minuman untuk syane yang tengah ngobrol bersama yoon.
"Terima kasih sudah mau menganggapku bagian dari keluarga kalian, tapi aku juga minta jangan panggil saya nona panggil saya syane saja" kata syane.
Hye hoon dan yoon saling menatap.
"Kenapa?" Tanya syane memandang dua orang di hadapannya.
"Gak apapa cuman aneh saja kalau kita manggil nona dengan menyebut nama saja" ujar yoon dan hye hoon bersamaan syane tersenyum sebelum kembali berkata.
"Katanya aku boleh menganggap kalian sebagai keluarga akkuu" syane.
"Ya baik lah ibu panggil sayang gak apapa kan?" Hye hoon.
"Terima kasih sudah menyayangiku, tentu aku senang di panggil sayang sama ibuku" syane memeluk hye hoon, hye hoon membalas peluka. Syane.
"Ya udah kalau gitu aku juga panggil sayang juga boleh?" Yoon.
"Kenapa nggak, berarti mereka panggil aku aonty ya"
"Iya dong harus, sayang mulai sekarang panggil dia aonty ya oke?" Kata yoon pada anak pertamanya.
"Oke" ujar rae hyun seraya mengacungkan kedua jempolnya syane merasa sangat senang, selama ini tidak memiliki keluarga di korea selain lani dengan adanya keluarga min ho membuat syane merasa dirinya seolah memiliki keluarga.
"Aku tinggal dulu sebentar mau menidurkan anaku dulu" kata yoon.
"Iya kak silah kan" kini hanya hye hoon dan syane mereka berdua duduk di kursi yang berada di sana, kursi dan meja terbuat dari kayu, meja berbentuk kotak yang di kelilingi kursi lipat yang juga terbuat dari kayu berada di halaman yang luas dan ada beberapa set di halaman terbuka yang mereka tempati saat syane dan hye hoon duduk berdua hye hoon di panggil chef yang tengah membakar satu ekor kambing.
"Sayang ibu kesana dulu gak apapa kan ibu tinggal?"
"Gak papa silahkan" kata syane, setelah hye hoon pergi menghampiri chef syane duduk sendiri sambil menikmati minuman hangat di tangannya syane menyisir pemandangan di depannya syane melihat hilda yang tengah ngobrol dengan salah satu pria dari agence min ho, syane tersenyum.
"Mungkin lebih baik dari pada rudi, ya ampun kenapa aku jadi banding-bandingin orang aku sendiri juga belum tentu baik" gumam syane dalam hati.
Min ho yang sedari tadi duduk terhalang dua meja dengan syane menghampiri syane saat ia melihat syane hanya duduk sendiri.
Syane tersenyum pada min ho.
"Boleh aku duduk?" Kata min ho.
"Silahkan" syane mempersilahkan min ho untuk duduk, min ho menarik kursi yang akan dudukinya.
"Bagaimana kakinya masih sakit?" Tanya min ho.
"Masih sedikit, kayanya kamu punya ke ahlian lain selain jadi aktor dan penyanyi kamu juga ahli dalam urusan urut mengurut bagus tuh peluang banget" celoteh syane.
"Peluang apa?" Min ho mengerutkan dahi.
kalau sudah gak laku jadi artis bisa jadi tukang urut" kelakar syane.
"Apa??? Kamu ngeledek aku hah" min ho menyambar tubuh syane untuk menggelitiknya.
Syane tertawa terpingkal karna menahan geli syane berusaha menghindar dari min ho, syane henak lari namun kakinya masih terasa sakit min ho kembali menangkap syane yang sudah berdiri lalu kembali menggelitiknya.
"Min ho geli!" kata syane, min ho menangkap syane tanpa sadar min ho memeluknya.
Yoon yang kembali ingin menemani syane setelah menidurkan anak bungsunya mengurungkan niatnya karna melihat adegan min ho yang tengah memeluk syane.
Sedangkan min ho dan syane tak menyadari kalau mereka tengah di perhatikan semua yang ada di sana bahkan ada yang sampai mengabadikan adegan langka mereka seperti yang di lakukan hilda ia tak ingin melewatkan momen tersebut.
To Be Continue