
๐ lanjutanya di episode 35 gusy๐
Mentari terkejut sembari membuka mulutnya lebar-lebar saat ia melihat Pak Seto basah kuyup karena es teh yang ia siram.
"MENTARI DWI PUTRI ANDIANA!!!!!" -bentak pak Seto.
Tanpa fikir panjang lagi, Mentari memberi aba-aba pada Asteroid untuk kabur dari Pak Seto yang sedang murka.
"HEH! Jangan lari kamu!" -ujar Pak Seto meneriaki lalu mengejar Mendari dan Asteroid yang sudah berada jauh di depan.
Padahal Mentari sama sekali tidak berniat
mencari keributan hari ini. Tapi sepertinya, ia memang ditakdirkan untuk menjadi murid yang setiap harinya mendapat hukuman dari guru.
Entah karena Mentari sengaja melakukannya atau tidak. Ini semua karena Mentari terlalu serius memikirkan apa yang terjadi pada Mentari hari ini. Sampai-sampai ia terkejut ketika seseorang berbicara di belakangnya dan ia pun langsung menyiram orang tersebut dengan minuman. Dan yang paling parah adalah, orang itu adalah Pak Seto. Guru yang selalu bermasalah dengan Mentari.
Sepertinya Mentari tidak bisa menghindar lebih lama lagi dari gurunya yang satu itu. Dan ia pun pasrah jika harus menerima hukuman untuk kesekian kalinya.
**************
Mentari meregangkan otot-ototnya hingga tulang-tulangnya berbunyi. Benar-benar hukuman yang sangat melelahkan bagi
Mentari karena ia harus membersihkan toilet yang super duper jorok.
Sepertinya, setiap sekolah selalu mempunyai toilet yang kotor dan tidak terawat. Padahal dewan sekolah bisa saja mempekerjaka seseorang untuk membersihkan toilet setiap saat.
"Ini semua gara-gara Surya. Kalau aja gue gak mikirin tuh kutu kupret, gue pasti gak bakalan nyiram Pak Seto pake es teh." -batin Mentari
Mentari melirik arloji yang melingkar di
menunjukan pukul setengah lima kurang lima belas menit.
"Lama-lama gue jadi hantu penunggu sekolah," -dumel Mentari sembari melempar begitu saja alat-alat yang ia gunakan untuk membersihkan toilet.
la pun keluar dan pergi menuju kelas untuk mengambil tasnya. Sepanjang koridor ia merinding karena tak ada satupun siswa yang ia lihat. Jelas saja, bel pulang telah berbunyi hampir dua jam yang lalu. Mana mungkin masih ada kehidupan disekolah ini selain dirinya, dan juga para hantu penunggu sekolah.
Mentari menghela nafas.
"Harus gitu gue keluar nyari angkot?" -Ucap Mentari.
Mau tidak mau Mentari harus pulang naik angkot karena Nebula pasti tidak bisa menjemput-nya. Sepulang sekolah Nebula selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan Mentari memaklumi itu. Lagi pula, jika ia bertindak kekanak-kanakan dan egois terhadap Nebula, ia pasti tidak akan hidup sepertibsekarang.
Mentari bersyukur karena masih memiliki seseorang Kakak seperti Nebula, meski di masa pertumbuhannya ia tidak akan bisa mendapat kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtua-nya.
"Mentari." -panggil seseorang membuat Mentari berhenti melangkah dan menoleh ke belakang.
Dari kejauhan ia melihat Guntur yang tersenyum kearahnya sembari berlari menghampiri-nya.
"Lo belum pulang?" -tanya Mentari ketika Guntur tiba di hadapan-nya sembari tersenyum lebar.
Ada yang berbeda dari Guntur. Guntur tidak lagi menggunakan penampilan culun-nya dan cara ngomongnya pun sudah normal, tidak lagi terbata-bata. Pantas saja seisi sekolah gempar dan tak henti-henti nya membicarakan Guntur
๐ lanjutanya di episode 37 gusy๐
~Klik suka (๐), love(โค) saran and kritikan agar penulis bisa memperbaik tulisanya๐๐