Marvel

Marvel
Bab 60 : Persiapan UAS



Hubungan yang kini telah dipublikasikan, membuat Siska dan Marvel kini tak lagi bersikap acuh dihadapan orang lain. Marvel selalu memberikan perhatian pada Siska bahkan sampai hal kecil, seperti membuka botol minum atau menarik kursi saat Siska akan duduk.


Siapa yang tak akan luluh diperlakukan seperti itu, Siska bahkan kini sudah terbiasa dengan tatapan iri para siswi lainnya. Tapi bukan Siska namanya jika ia tak lagi peduli akan akademiknya karena telah berpacaran, bahkan kini ia lebih perfektif mengajar Marvel untuk mendapatkan nilai bagus bersama.


Lagi – lagi sepulang sekolah mereka duduk ditaman ibukota untuk belajar mempersiapkan UAS yang tak lama lagi akan mereka hadapi. Siska dengan serius mengajari Marvel, berbeda dengan yang diajarkan, Marvel malah selalu tersenyum mencuri pandang pada Siska yang begitu cantik dimatanya.


“ Marvel fokus”. Keluh Siska mendapati Marvel yang malah sibuk memperhatikan wajahnya.


“ hem, oke – oke, Sorry”. Kilah Marvel yang mendapati tatapan tajam Siska.


Siska yang sebenarnya malu karena terlalu diperhatikan Marvel, malah menyembunyikannya dengan raut wajah kesal. Ia pun melanjutkan penjelasan materi yang didengarkan oleh Marvel, namun tak berselang lama Marvel kini kembali beralih memandangi wajah Siska.


“ jadi menurut kamu gimana?”. Tanya Siska pada Marvel tentang pendapatnya akan materi yang dijelaskan.


“ cantik”. Jawab Marvel tanpa sadar malah mendapati cubitan kecil diperutnya.


“ Marvel, kan udah dibilangin focus, tau ah kesel”. Gerutu Siska yang berubah menjadi cemberut.


“ eh iya maaf, habisnya kamu ngalihin perhatian aku, jangan cemberut dong”. Bujuk Marvel malah ditatap sinis oleh Siska.


“ jadi kamu salahin aku gitu, ya udah aku pulang duluan deh”. Ketus Siska segera membereskan buku – bukunya.


“ cil jangan {cegukan}”. Cegukan Marvel membuat Siska kini balik memperhatikannya.


“ kamu kenapa, gak usah becanda ya”. Panik Siska mendapati Marvel yang cegukan tapi berfikir itu adalah salah satu trik Marvel menjahilinya.


“ gak {cegukan} kenapa – kenapa”. Marvel pun bingung kenapa ia tiba – tiba bisa cegukan seperti ini.


“ ya udah minum dulu ni”. Utas Siska menyulurkan minuman yang telah mereka beli tadi sekali beberapa ciki untuk menenmani mereka belajar.


Marvel segera menerima minuman yang diberikan Siska dan meminumnya, namun cegukannya masih belum hilang. Ia pun kembali meminum berulang kali sampai isi air dibotol itu kandas dan cegukannya masih setia mengganguinya.


“ ya ampun kok cegukannya belum hilang juga sih, kamu lagi mikirin apa atau ada yang mikirin kamu gak sih”. Celoteh Siska akan mitos yang ia dengar penyebab cegukan.


“ kamu ngomong apa sih {cegukan}, ini hal yang biasa terjadi tau”. Marvel bahkan sempat tertawa akan pemikiran konyol pacarnya tersebut.


“ ih beneran tau, oh iya pakai cara ini aja”. Siska seketika berdiri dan menjepit hidung Marvel.


“ sekarang kamu tahan nafas sebentar, biasanya berhasil”. Siska pun mengintruksi Marvel agar mengatur nafasnya.


Setelah berselang 15 detik, Siska melepaskan jepitan tangannya dihidung Marvel bahkan sampai memerah. Marvel pun kini terengah – engah menghirup udara segar untuk memasok oksigen diparu – parunya.


“ gimana, berhasil gak?”. Tanya antusias Siska pada Marvel.


Marvel pun hanya bisa menganggukkan kepalanya setelah merasa cegukannya telah hilang, ia pun masih sibuk mengatur deru nafasnya. Setelah itu ia tertawa kecil tak percaya jika gadisnya hampir mebuat ia mati karena kehabisan oksigen.


“ kok kamu malah ketawa sih”. Siska malah bingung mendapati Marvel yang tertawa.


“ Marvel lepasin, gak bisa nafas”. Sontak Marvel pun melepaskan dan kemudian menaik turunkan alisnya seakan bertanya bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.


“ ih orang aku ngebatuin kamu, dan buktinya berhasil”. Ketus Siska mengerti Maksud Marvel melakukan hal itu padanya.


“ lagian aku cegukan gara – gara mikirin masa depan kita kalo kamu dekat terus sama aku”. Ujar Marvel sebenarnya tak percaya akan alasan ia cegukan karena sedari tadi ia elalu memikirkan kisahnya bersama Siska kedepannya.


“ idih pakek mikirin masa depan segala, kecepatan, nih mikirin UAS dulu baru mikr masa depan”. Sahut Siska bergidik ngeri mendengar penuturan Marvel.


“ berarti kalo UASnya berhasil boleh dong”. Tukas Marvel mendekatkan wajahnya pada Siska.


“ apaan sih, sana ih jauh – jauh, ngeselin banget jadi orang”. Siska memalingkan wajahnya dari tatapan Marvel dan tersenyum dalam hatinya.


“ udah gak usah sok jutek, senyumin aja kali, gak usah ditahan”. Usil Marvel yang sudah menjadi hobinya mengusili Siska.


“ gak ya, gak usah kepedean”. Ucap Siska masih tak mau menatap Marvel.


“ ck, kalo dijutekin gak jadi deh aku ajak ke suatu tempat”. Pancing Marvel kini juga mengadahkan wajahnya ke langit seray mencuri pandang kearah Siska untuk melihat reaksi gadis itu.


“ heh kemana?”. Respon Siska dengan cepat menelisik wajah Marvel yang kini malah mengacuhkannya.


“ gak jadi ah, kan tadi kamu minta pulang”. Ucap Marvel masih berniat menjahili Siska.


“ ih Marvel serius”. Ujar Siska yang kini malah menggoyang – goyangkan tubuh Marvel agar mendapati jawaban dari pertanyaanya.


“ cih yaudah deh kalo maksa, ayo”. Marvel tak sanggup menahan gelak tawanya saat ia mendapati tingkah Siska yang konyol dan lucu baginya, ia pun segera mebawa Siska ketempat yang ia katakan.


Mungkin ini saatnya ia harus berani kesana, karena Siska merupakan sumber keberanian dan kebahagiaannya sekarang. Jika ia sedang bersama Siska, entah kenapa dunia serasa berpihak padanya, Siska seolah hadir untuk mengubah takdirnya dan membuat ia bahagia.


“ serius?”. Kini Siska yang malah ragu mengikuti Marvel.


“ udah gak usah mikir lama, ayok cepetan”. Ajak Marvel seraya segera memberekan buku dan sisa makanan mereka untuk dibuang.


Diatas motor Siska malah sibuk berfikir dan bertanya kemana Marvel akan membawanya, dan guratan penasaran itu pun terpantul di spion yang dapat dilirik oleh Marvel. Marvel pun hanya bisa tersenyum dan tak mengubris pertanyaan Siska, ia malah semakin menderukan motornya dan membuat Siska kini diam dan bersandar dibahunya karena takut.


Setlah membelah jalanan, Marvel kini telah memarkirkan sepeda motornya. Ia pun menatap sendu akan bangunan yang ada dihadapannya itu. Dengan menyembunyikan kegugupannya, Marvel menghembuskan nafasnya dan melirik Siska yang ikut bingung kenapa ia dibawa kesana.


“ Vel, ngapain kita kesini, kamu sakit?”. Tanya Siska yang masih tak mengerti kenapa Marvel membawanya kerumah sakit besar yang ada disana.


Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Marvel segera menggandeng tangan pacarnya dan menggenggam erat untuk memberikannya sumber keberanian untuk melangkahkan kainya masuk dan menuju salah satu ruang yang sudah lama ia ingin bertamu kesana.


Jangan lupa like, vote and giftnya,


Mohon Share dan promosiin juga ya


Terimakasih